Tentang Penulis
Dr. Kaelany HD., MA, lahir di Putihdoh, Lampung, 21 Juni 1953. Ia adalah Direktur Midada Center dan Presiden Direktur Media Opportunity. Sejak tahun 1986 diangkat menjadi staf pengajar (kini Lektor Kepala, IV/c) mata kuliah Agama Islam di FIB, FKM, FMIPA, FT, FISIP, FIK, FK, Fasilkom UI Depok. Dia juga mengajar Fikih Mu’amalah pada Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam UI Salemba. Sebelumnya pernah bekerja sebagai Guru SMP-SMA di Semarang (1976-83); Bagian Telex dan Radio Operator PT BHPI Belitung; Subbag Allergi-Immunologi RSCM, dan Wartawan Bisnis Indonesia.
Gelar Doktor diperoleh di UIN Jakarta (2001) dengan disertasi: “Pariwisata dalam Perspektif Islam”. Alumnus Gontor (1975) ini menyelesaikan sarjana (1982) di Fakultas Syari’ah IAIN Semarang dengan skripsi: “Prinsip-prinsip Islam dalam Masalah Kependudukan”. Waktu bersamaan ia mengikuti kuliah sore di Akademi Publisistik Pembangunan Dipanagara (APPD) selesai tahun 1981 dengan skripsi “Kedudukan Make up Foto pada Harian Suara Merdeka Semarang”.
Pemenang ke-3 Lomba Menulis Tingkat Nasional Depag (2001) ini giat menulis baik di surat kabar maupun berbentuk buku. Buku karangannya yang telah terbit ada sekitar 20 buku untuk tingkat SD sampai SMA. Sedang tulisan untuk mahasiswa dan umum antara lain: “Kependudukan di Indonesia dan Berbagai Aspeknya (Mutiara, Jakarta,1981); “Peluang di Bidang Priwisata” (Mutiara, Jakarta, 1986); “Islam dan Aspek-Aspek Kemasyarakatan, (Bumi Aksara, Jkt, 1992, cet. ke-2, 2000); “Islam, Kependudukan dan Lingkungan Hidup” (Renika Cipta, Jakarta, 1996); “Islam Iman dan Amal Shalih” (Renika Cipta, Jakarta, 1997); “Pandangan Islam tentang Priwisata” (Misaka Galiza, Jakarta, 2002);“Gontor dan Kemandirian” (Bina Utama, Jakarta, 2002); “Islam Kasih dan Damai bagi Alam” (Restu Agung, 2004); “Islam Agama Universal” (Midada Rahma Press, Jakarta, 2006); “Kisah-Kisah Perjalanan” (Midada Rahma Press, Jakarta, 2006); “Alam Terkembang sebagai Guru” (MRP, Jakarta, 2006); “Studi Mengabdi dan Berprestasi”, (Biografi Prof. Dr. Jimly Ash-shiddiqie, MRP, 2006). “Semarang dalam Kenangan” (MRP, 2008), Hujan, Hutan dan Kehidupan (MRP, 2008). Pribadi Muslim (MRP, 2009). Beberapa lagi sedang sedang dalam proses penerbitan.
Kaelany HD
Terbit
di Balik
Bukit
Perpusakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Kaelany HD.
Tebit di Balik Bukit
Kaelany HD. -- Jakarta: Midada Rahma Press, 2009.
89 hlm.: 21cm
Bibliografi, vi+89
Penerbit:
Midada Rahma Press, Jakarta
Cet. 1, Sep 2009
Kata Pengantar
Di alam desa yang indah, kehijauan, keramahan dan kemakmuran yang melimpah, mengapa seorang bocah tak betah dan pergi?
Bukan demikian, tetapi dia ingin sekolah, meraih ilmu setinggi mungkin, hendak mengubah persepsi lama, “tak selamanya sekolah tak berhasil”.
Hatinya tergetar, darahnya terbakar, semangatnya berkobar ketika disaksikannya surya di balik bukit. Cahaya itu mesti dijemput, pikirnya, takkan nampak bila tidur.
Semangatnya itu kian menjadi, bergelora, tak ter-bendung, panas, bak besi yang dipanggang di dalam bara.
Kisah selengkapnya silakan baca buku kecil ini, “Terbit di Balik Bukit.” Kalau ada salah-salah, keliru, mohon maaf, memang diakui, kita tak pernah menulis kalau harus sempurna.
Wassalam,
Jakarta, 12 September 2009
(Sepekan menjelang Lebaran),
Pengarang
Terbit di Balik Bukit
Kudaki belakang kampung
Tebing di kaki gunung
Meski dini masih gelap
Meski penghuni masih lelap
Ketika burung berkicau
Ketika pohon menghijau
Ketika daun berselimut embun
Sepagi ini
Di puncak bukit
Kuseka pluh di dahi
Di balik ladang
Kupandang
cahaya
Bendrang surya
Ku ingin menggapainya
Darahku mendidih
Bergetar
Merah laksana bara besi yang ditempa
Menyala-nyala menjadi api
Berpijar-pijar
Berkobar-kobar
Daftar Isi
Halaman KDT ii
Kata Pengatariii
Terbit di Balik Bukitiv
Daftar Isi v
Kampungku1
1. Mereka yang Kukenang9
Ayah Ibuku 10
Kakek dan Nenek 16
Saudar-saudaraku 18
Pamanku 23
2. Kemakmuran yang Melimpah29
3. Cengkeh dan Kecongkakan33
4. Kehidupan Beragama 45
5. Adat Istiadat51
6. Sekolah Rakyat (SR) 55
7. Sekolah Agama65
Belajar Mengaji65
Majelis Pelajar Islam (MPI) 65
PIGRI 67
8. Ramadhan di Ladang73
9. Semangat yang Membara81
10. Pergi85
11. Kamu ke Gontor Saja 97
Lampiran: Para Sarjana di Kampungku 105
Midada Center 108
Tentang Penulis 109
KAMPUNGKU
Anda, sebelum tahun 1980-an akan sia-sia mencarinya di peta. Kampungku yang terpencil ini begitu kecil untuk menjadi penting di mata dunia. Malah ada kawan yang berseloroh, kampung yang sesungguhnya telah ada jauh sebelum zaman Belanda ini, dan merupakan kecamatan tua, adalah suatu daerah yang paling terbelakang di jagat raya. Ah, yang benar?
Ya, ada benarnya juga seloroh kawanku itu jika diukur dengan beberapa ukuran. Ada penduduk umpamanya yang selama hidupnya belum pernah melihat mobil. Mengapa? Karena dia tak pernah pergi ke kota, sedang di kampung kami belum ada jalan darat, belum ada roda empat. Ya, tapi tidak juga sebenarnya, kalau dia mau susah sedikit, bila tak malu, atau kalau heran benar dengan mobil, ada jugalah mobil di sini, sebuah mobil yang tergeletak di pinggir rumah Pak Haji Abdur-Rahim, dia yang punya. Kami anak-anak kecil yang masih heran dengan mobil di tahun 1960-an, ketika hendak sekolah, sering datang ke sini menaiki mobil sevrolet buntung ini. Setirnya masih mengkilat, rodanya kempis yang sebagian telah tertimbun tanah dan rumput, beberapa bagian peralatannya sudah berkarat.
Sejak kapan mobil itu telah berada di situ, saya tak tahu, tak pernah pula menyaksikannya berjalan. Kabarnya sekitar tahun 1955-an. Konon, mobil ini diangkut dengan perahu motor, dan dirakit kembali di kampung. Beberapa lama bertahan sebagai pengangkut barang, dan ada beberapa orang yang dengan mobil itu belajar nyetir. Tapi mungkin, karena mobil bekas itu sering mogok, akhirnya digeletakkan saja di samping rumah sebagai pengobat heran kami di desa.
Kalau jalan darat menjadi ukuran, memang demi-kianlah adanya. Peta-peta yang dibuat dan dicetak ulang tanpa melihat perkembangan, akan terus melu-kiskan desa kami itu hutan dan perbukitan belaka, kawasan yang diwarnai hijau atau kuning tua.
Pada zaman Belanda sampai Jepang, kampung kami sudah dikenal dengan hasil bumi dan kekayaan budaya. Daerah ini menjadi bagian dari Kewedanaan Kotaagung. Jalan darat yang rumit dengan lereng batu yang menimpa laut yang terjal dikerjakan penjajah setengah hati. Ada bekas-bekas pecahan dengan dinamit, yang meruntuhkan lereng batu yang keras, berserakan saja di sisi tebing. Jalan karenanya hanya setapak, tak dapat dilalui kendaraan, grobak pun tidak. Di zaman Soekarno, sejak merdeka 1945 sampai 1965, yang disi-bukkan oleh slogan revolusi, tak ada sentuhan pembangunan. Barulah zaman Soeharto, dengan program segala masuk desanya, tahun 1980-an tembuslah jalan darat. Kalau Anda melihat dalam peta cetakan terbaru, nampaklah di sana titik kecil kampung kami itu.
Ya, kampung kami, Putih namanya. Seperti riwayat terjadinya kampung-kampung pada umumnya, didirikan oleh penduduk di pinggir kali. Mulanya hanya satu-dua, lalu penduduk itu beranak pinak sampai ke anak cucu. Rumah-rumah makin lama makin banyak, berjejer-jejer memanjang dari hilir ke ulu. Yang paling awal tentu lebih senang paling dekat dengan pantai. Dalam bahasa daerah, ilir disebut “doh”, dan ulu disebut “unggak”. Karena kampung kami paling ilir, dekat dengan pantai, maka disebut Putihdoh (Putih Ilir).
Di pantai ini ada teluk kecil, sering disebut Laut Teluk. Hubungan ke sini, sebelum ada jalan darat, sebelum Orde Baru, di bawah tahun 1980-an, hanya dihubungkan oleh jalan laut, dengan motorboot (perahu motor). Motorboot di sini banyak, di antaranya: kepunyaan seorang saudagar muda, Tarmizi, antara lain: Seri Putih, Seri Kuning, Himalaya, Tampomas. Setelah dia pulang dari Haji mem-buat lagi perahu motor yang lebih besar: Sahara, kemudian Zamzam.
Tiga orang saudagar muda berkongsi membuat sebuah motor dinamakan Muharasi (singkatan dari nama mereka: Mochtar, Harmain, dan Sirajuddin). Perahu motor lain kepunyaan Haji Yusuf: Semarang, dan Bandung, adalagi Bornio. Sebelumnya banyak pula, tapi saya tak ingat semua nama-namanya. Malah di zaman Belanda sampai awal merdeka masih memakai perahu layar ada yang disebut kulik, baik untuk pribadi, maupun untuk penumpang dan barang.
Motor-motor itu dengan mesin tempel yang dipasang di belakang perahu berbahan bakar bensin. Pada masa berikutnya ada yang memakai mesin diesel yang dikenal di sini sebagai mesin duduk, karena di pasang (didudukkan) di perahu tidak dicopot-copot lagi. Perahu dengan mesin diesel lebih praktis, selain lebih kuat, lebih hemat sebab berbahan bakar solar.
Orang-orang yang baru datang ke sini, sesampainya perahu motor di pelabuhan, akan melihat beberapa rumah di balik pohon-pohon nyiur yang melambai di pantai. Latar belakangnya hijau pepohonan yang membentuk garis memanjang dari barat ke timur dan gunung-gemunung dari kaki Bukit Barisan paling selatan Sumatera, nampak begitu anggun mencakar langit, biru cerah dari kejauhan. Dan puncaknya kadang diliputi oleh awan yang membentang di upuk utara.
Putihdoh, mulai batasnya yang paling ilir, dari pantai sampai ke perbatasan kampung berikutnya panjangnya sekitar dua kilometer. Berjejer-jejer rumah-rumah panggung besar dan rapat. Kecuali yang berhadap-hadapan ke jalan raya, banyak pula rumah-rumah yang melimpah ke atas dan ke bawah, sampai ke kaki-kaki bukit dan ke sisi-sisi sawah.
Rumah di sini, meski saya tak pernah menghitungnya, saya kira tak kurang dari seribu. Paling pantai disebut Lambokh. Terasa asing memang kalau dicari asal katanya dalam bahasa Lampung. Ada yang mengatakan dari kata “lembur”. Bahasa apa dan artinya? Taulah! Yang jelas bagian kampung terilir ini selalu ramai karena tempat berlabuhnya perahu motor pengangkut penumpang, jukung-jukung nelayan, orang menjala, memancing, dan tak sedikit pula penduduk yang ke kuala untuk membeli ikan atau akan berangkat ke kota dengan perahu motor.
Di ujung bagian pantai kampung Lambokh ini terdapat kuburan yang berserakan di sebelah kanan muara sampai ke tepi-tepi pantai Pabukaian. Kuburan-kuburan ini begitu banyak dan tak terurus, hanya ditandai oleh batu-batu nisan tak bernama. Sebagian telah ditutupi semak-semak, dan banyak lagi yang telah terkikis oleh sungai. Sering nampak tulang-tulang berserakan. Kuburan, seperti biasa ahli sejarah mencari bukti, kadang diperlukan. Di sini meski tak jelas asal usulnya, memperlihatkan betapa banyak orang telah hidup dan meninggal, baik penduduk asli maupun pendatang.
Di pantai, mulai dari Pematang Humakha sampai ke ujung Cukuhkibau, membentuk teluk kecil yang indah. Di waktu musim tenang, ombak mungil hanya memecah ringan. Lautnya menyenangkan, rata, tiada gelombang. Anak-anak mandi bermain pasir dan bersenda dengan ombak yang lunglai. Perahu motor berlabuh, memuat hasil petani atau membongkar barang dagangan dibantu oleh sampan kuli laut, lalu disambut grobak kuli darat. Di sini ramai pula jukung-jukung nelayan pergi melaut atau pulang merapat.
Menghadap ke kuburan ada kantor Syahbandar, tem-pat para agen mencatat keluar masuknya muatan perahu motor. Di sampingnya agak menghadap ke Jalan raya, ada Warung Solo, yang menjual nasi, jajanan, pisang goreng, putu, apam, rempeyek dsb. Orang-orang yang hendak ke kota, sering makan terlebih dahulu di warung ini sebelum berangkat.
Di depan warung ada bangku panjang terbuat dari bambu, tempat para lelaki, tuan haji berbincang dan berkelakar. Saya sekali-sekali mendengar percakapan mere-ka yang keras dan lantang, terkadang tertawa lepas dan menyumpah-nyumpah. Yang menarik ketika kudengar ada Tuan Haji yang bercerita tentang pengalamannya di Klaten dan Solo, waktu dia membeli tembako. Ada juga yang bercerita ketika dia di Palembang, Bombaru, waktu meng-antar dan menjemput jamaah haji. Yang lain bercerita ketika di Jakarta, Surabaya dan Madura. Kudengar tempat-tempat itu begitu asing dan jauh, padahal ada anak mereka yang sekolah di Jawa. Saya kagum, rasanya kuingin terbang ke tempat itu, alangkah bahagianya, kalau bisa sekolah juga di sana.
Di depan warung Solo itu ada jalan besar, yang dilapisi batu-batu kerikil belum beraspal membelah barisan rumah-rumah, dari hilir sampai ke mudik. Beberapa meter ke arah Timur, ada Kantor Negeri, yaitu tempat Kepala Negeri berkantor. Di Putihdoh ada dua kantor Pemerintah, satu Kantor Negeri sebagai pusat Pemerintahan Marga (Adat) dan satu lagi Kantor Kecamatan, pusat Pemerintahan (Negara RI tingkat Kecamatan).
Camat atau Asisten Wedana waktu itu adalah AR Kusuma, yang ganteng dan berwibawa. Di tangannya, Kecamatan Cukuhbalak yang beribukota di Putihdoh ini aman dan makmur. Keamanan ditandai dengan ketenangan. Meski beribu-ribu pendatang, jarang terjadi percekcokan. Tapi, sekali-sekali tentulah ada juga orang berulah, beberapa kali terjadi perampokan di jalan-jalan yang sunyi antara Putihdoh dan Pertiwi, antara Putihdoh dengan Badak. Yang jempolan, beberapa lama, malah beberapa bulan kemudian, orang-orang yang merampok itu tertangkap juga, karena Camat dan perangkat kepolisian tak henti menuntaskan keamanan.
Tidak dapat dilupakan pula kedamaian dan keamanan karena kepemimpinan adat, Kepala Negeri, kebetulan juga dipegang oleh Haji Moh. Soto’, Pangeran Marga Putih. Dia membiarkan tanahnya dari bawah Kedaloman sampai ke utara Jembatan Batuajar sepanjang tak kurang dari 500m untuk ditempati para pendatang, tanpa dipungut bayar. Dan kalau ada yang cekcok, mungkin sekedar adu mulut, atau hanya baku tinju, segera didamaikan pada tingkat keru-kunan warga, atau diselesaikan tingkat adat, tidak sampai ke polisi.
Kantor Negeri itu berada persis di sudut pertigaan jalan. Jalan menyiku ke kiri, ke arah barat berhadap-hadapan, berjejer rumah-rumah. Yang sebelah barat meng-hadap ke timur membelakangi pesisir Laut Teluk.
Di depan Kantor Negeri banyak pula rumah-rumah petak membelakangi sungai. Di sini ada warung-warung Cina, dan warung Pak Sarbini, seperti yang akan kuceritakan tempat kami menjual kelapa, atau membeli pisang goreng dan jajanan.
Hal-hal kecil ini mengapa perlu kuceritakan, karena bukti-buktinya takkan kita temukan lagi sekarang ini. Rumah-rumah petak itu telah habis dimakan banjir yang bertubi-tubi. Pada peristiwa banjir besar di tahun l987 sebagian desa Lambokh, termasuk Kantor Negeri terkuras oleh air. Pohon limus yang tinggi di sisi sungai itu pun kini tak ada lagi. Dan karenanya jalan yang menghubungkan kampung Putihdoh dengan pelabuhan juga terputus.
Kampung ini diapit dua bukit, membujur dari selatan ke utara. Di antara keduanya terletak lembah sempit yang berliku-liku menurut aliran sungai; sebuah besar dan sebuah lagi kecil. Sungai yang kecil, lebih cocok disebut kali, memi-sahkan jalan besar yang bertingkat, kemudian memotong lagi jalan itu di sebelah bawah. Sungai yang besar, disebut Waybalak (Kali Besar). Mengalir airnya pada dasar dan sisi-sisi yang berbatu, dangkal, arus, dan sejuk. Kecuali pada beberapa lubuk, airnya dalam, nampak hitam dan tenang.
Dari hilir ke hulu, di sepanjang sisi sebelah utara sungai berderet-deret rumah penduduk menghadap jalan. Jalan itu lurus dari pelabuhan sekitar 500 meter kemudian bercabang dua. Ke kiri dan kanan. Yang ke kanan melintas pasar, melewati Pekon Sambekhangan, Pasar Johar Baru, Pekon Sabah, dan Pekontumbai. Kemudian terus ke utara, sepanjang tak kurang dari 6 km melalui kampung-kampung: Tanjung-betuah, Banjarmanis, Sikapukha, Pampangan dan Kolones.
Jalan yang ke kiri agak menanjak sebentar pada jalan yang menyempit terdapat Lawang (semacam pintu istana), bangunan sederhana, yang konon menurut cerita adalah pintu yang membatasi kawasan istana adat. Menghadap Lawang itu, sebelah timurnya adalah Kedaloman (mungkin diambil dari kata “dalam”, penghuni inti istana), sebagai pusat pemerintahan Adat Kebandaran Putih. Di sini bersemayam Pangeran, yang tadi kusebutkan (H. M. Soto’, pimpinan tertinggi Adat saya lupa gelarnya, sekaligus sebagai Kepala Negeri). Dan persis di sebelah baratnya, menghadap ke Lawang itu pula adalah Luahlawang (Luar Lawang, luar pintu), sebutan bagi Rumah Adat Panyimbang Suku. Dipisah oleh jalan, di sebelah utara Kedaloman ada lapangan kecil, yang biasa dipakai untuk pertunjukan pencak
silat di waktu lebaran Idulfitri atau Idulqurban.
Sekitar 100 meter dari Kedaloman berdiri Masjid Agung. Gubahnya menjulang tinggi berwarna oranye, nampak dari berbagai arah di kampung, malah dari laut juga terlihat. Lantainya dari porselin berwarna putih yang bersih dan mengkilat. Menurut cerita, masjid ini dibangun permanen sekitar tahun 1955. Orang-orang tua mengatakan musim cengkeh besar terjadi di tahun-tahun pembangunan masjid ini. Oleh karena itu kampung di sini selain disebut Padajaya, dikenal juga dengan Kampung Masjid. Meski daerahnya di dataran tinggi, air melimpah karena dialirkan dari sumber air, Waygahugah.
Berhadapan dengan masjid, dipisah oleh jalan terdapat rumah adat Sabatin Pekontengah, bercat putih dan megah. Jalan terus ke barat dilapisi koral, dan sekitar 400m dari masjid ke barat terdapat Rumah Adat Sabatin Gedung. Tepat di depannya, adalah rumah Radensyah, suatu sub kepala adat di bawah Sabatin Gedung. Lalu jalan menyiku ke kanan, pada hampir belokan berdiri rumah adat Raja Mahmud (Raja Aisar), sub Kepala Adat di bawah Sabatin Bandakh.
Setelah belokan ini sekitar 200 meter terdapat jalan pertigaan, yang ke kiri jalan ke Bolok dan ke Kotaagung, sedangkan yang lurus ke utara disebut Pekon Panyandingan. Di sini terdapat rumah kepala Adat Sabatin Mandawasa. Panjang pekon bagian atas ini sekitar 500 meter kemudian menurun ke Pekon Sinarjaya, yang lebih dikenal dengan Pekontuku, karena tempatnya agak menyudut. Persis di turunan pertemuan Panyandingan dan Sinarjaya, terdapat madrasah tempat kami sekolah-mengaji, PIGRI.
Dari panyandingan ke Pekon Sambekhangan, dan ke Pasar Joharbaru, ada juga jalan menurun, melewati jembatan kecil di Waysikhing. Jalan kecil ini kemudian setelah ditata dan diperbaiki jembatannya, 20 tahun kemudian dapat dilewati mobil dan diberi nama Jalan Pramuka. Di barat jembatan kecil itu, yang dulu ada beberapa pohon duku, kelapa, dan pandan berduri, angker dan gelap, beberapa tahun kemudian dibabat, dan didirikanlah di sini Madrasah ‘Aliyah.
MEREKA YANG KUKENANG
Darmawi, berbisik-bisik kepada kami beberapa anak yang lebih kecil.
“Itulah...,” katanya.
“Apa?” tanya kami sambil menyudut ke pinggir pagar.
“Itulah Soekarno!” sambil menunjuk ke arah seseorang berbadan gendut, pendek dan berdasi.
“Benar?” kami menguping dengan heran.
“Ya,” katanya meyakinkan.
Benarkah dia, Presiden RI, yang amat tersohor itu? Kami mengamati orang gendut itu, yang sedang sibuk. Mungkin dia pengawas dari Kewedanaan. Lalu menghilang di kerumunan orang yang berjejal di depan Kantor Marga Putihdoh, Cukuhbalak, Lampung. Kantor Marga yang pada tahun 1960-an dibongkar mulanya terletak di Pertigaan Pekontumbai. Di tempat itu kemudian didirikan rumah seorang saudagar, Haji Syukur. Dan Kantor Marga dipindah ke Lambokh seperti yang kuceritakan tadi, diganti dengan Kantor Negeri.
Umbul-umbul berwarna-warni nampak terpancang di mana-mana di berbagai sudut kampung. Saya tak tahu, apa saja gambar-gambar itu, karena belum bisa tulis-baca.
Keramaian yang kusaksikan itu, di kemudian hari baru kuketahui adalah Pemilu Pertama. Peristiwa itu jelas dalam ingatanku. Tapi, mulai kapankah orang ingat waktu kecilnya? Saya tak ingat waktu lahirku, di mana dan kapan? Ayahku tak pandai menulis, ibuku juga. Jadi tak ada catatan. Kudengar sepintas, menurut Ibu, malam Jum’at bulan Hajji. Tahun berapa?
Juga, hanya terbayang seingatan, kupakai baju baru, naik turun di depan gubukkku, di atas punggung bukit Sukhkung. Ketika mega jingga menyepuh hutan dan lautan menjelang maghrib, para kuli pemetik cengkeh mengejekku, “Alangkah gantengku memakai baju baru, di tempat sesepi itu.” Berapakah umurku?
Kalau Pemilu Pertama itu tahun 1955, dan anak mulai ingat di umur 4tahun, maka mungkin saya lahir 4 tahun sebelum Pemilu Pertama itu. Orang-orang kampung yang pandai menulis, mencatat kelahiran anaknya di dinding rumah dengan arang. Saiful dicatatkan ayahnya dalam buku, tahun 1951. Kami sebaya.
Ayah-Ibuku
Ibuku bernama Sa’diyah. Ayahku Zuhdi, kemudian ayahku berganti nama Haji Daud setelah menunaikan Ibadah haji. Hari apa, tanggal dan tahun berapa keduanya dilahirkan tidak terdapat catatan maupun keterangan. Pendidikan keduanyapun saya tak tahu. Yang jelas kedua-nya buta huruf aksara Latin, tapi lancar membaca Al-Qur’an dan dapat membaca tulisan aksara Arab berbahasa Melayu. Waktu itu memang tulisan Melayu merupakan media yang populer di kalangan masyarakat, terutama di daerah-daerah yang menganut agama Islam. Disamping itu mereka juga mahir tulis-baca beraksara Lampung.
Ayah ibuku adalah petani. Keterampilan ayah sebagai petani meliputi cara-cara menebang kayu, bagaimana menjatuhkan satu pohon yang besar agar menimpa pohon-pohon yang lebih kecil sehingga tidak perlu menebangnya semua. Setelah pohon-pohon di hutan ditebangi, semak-semak dibabat sampai rumput-rumputnya bersih, lalu ditumpuk di sekitar batang-batang yang telah roboh. Dan ketika rumput-rumput agak mengering, biasanya menanti hari tidak turun hujan, rumput-rumput itu dibakar. Ayah memperhatikan arah angin, dari mana bertiup, dari sanalah ia mulai membakar rumput. Angin yang bertiup kencang menjalarkan api ke segenap tumpukan dan membakar batang-batang kayu.
Dari tingkap gubuk, saya yang belum sekolah bersama adikku Arbaiyah, menyaksikan ayah membakar bakal huma. Saya terkejut dan merasa khawatir ketika si jago merah itu demikian besar, setinggi pohon bambu, menjilat-jilat tumpukan ranting dan daun kering. Tapi, saya juga senang mendengar dentuman nyaring dari ruas bambu-bambu yang terbakar. Suaranya keras seperti suara bedil yang meletup berulang-ulang, dan bahkan terkadang mengelegar bagai meriam.
Setelah segala semak dan ranting-ranting kering terbakar, tampillah di sela kehijauan dedaunan belantara hutan itu, tanah gundul berwarna coklat. Pemandangan di tempat itu begitu indah. Tebing-tebing curam dan landai, memperlihatkan ruas-ruas tanah yang luas dan bebas. Nun di bawah ada kali kecil yang bening airnya masih terjaga di bawah rimbunan semak dan pohon-pohon yang sengaja tak ditebang.
Ibu, tatkala tanah serupa ini, sibuklah ia menanam bibit. Biji sawi, bayam, rampai, cabe, disebarkan dengan sesukanya ke segenap tanah. Tapi biji men-timun, labu dan gambas ditanamnya pada pokok-pokok kayu atau di tumpukan abu. Ke berbagai arah dari gubuk dibuatlah koridor yang dibatasi dengan meletakkan sisa-sisa dahan kayu di sebelah menyebelahnya. Pada sisi-sisi koridor itulah ibu dengan rajin menanaminya dengan jagung dan kacang panjang.
Pada waktu yang telah ditentukan, biasanya tatkala hari telah turun hujan, padi mulai ditanam. Di masa menanam hatiku gembira, karena banyak saudara-saudara yang datang menolong. Tentulah tidak ketinggalan petani-petani yang berladang dari sekitar ramai bergotong-royong. Anak-anak sebayaku datang pula dengan ibunya yang membantu masak. Sementara ibu-ibu di dapur dan bapak-bapak menanam padi, kami asyik mencari ikan di kali kecil, atau mengejar belalang yang terbang di sekitar ladang.
Masa-masa enam bulan tidak bersawah-ladang, ka-dang diselingi dengan musim cengkeh. Kalau tidak, yang disebut juga masa pacaklik, ayah biasa menjala atau memancing. Ayah dapat membuat jala mulai dari yang kecil sampai yang besar. Jala dibuat dari benang kemudian diwanter dengan kejil, sejenis bahan celup yang berwana coklat diambil dari kulit kayu. Pewarna itu membuat benang menjadi kuat dan berwarna pekat, lagi tak membuat ikan lari waktu jala dilempar. Jala yang kecil untuk menjala ikan kecil dan udang di pantai, di kuala atau di sungai. Sedang jala besar dilempar dengan perahu jukung di teluk yang tenang dan berdasar pasir. Hasil menjala itu kadang banyak dan terkadang, kalau laut rajuh ikan yang didapat hanya sedikit. Selebih dari kecukupan lauk sehari-hari, biasa pula ayah menjualnya. Orang suka membeli, karena kecuali ikan masih segar, juga ayah menjual dengan harga murah. Dari hasil menjual ikan itu cukuplah ayah membeli tembako, bisa pula teh dan gula.
Kalau tak menjala, ayah juga gemar dan mahir memancing. Saya kadang diajaknya menjala, dan kadang pula dibawanya memancing. Hatiku gembira ketika dibawa ke tengah lautan yang bebas. Bagi ayah tentu pula ini merupakan pendidikan untuk anaknya agar nantinya dapat hidup mandiri menjadi petani dan nelayan. Perahu kecil itu buatan ayah sendiri dari pohon kayu yang dikeruk di tengahnya dengan kampak sehingga berbentuk perahu kecil atau jukung. Di kiri kanan jukung itu dibuatkan dua katir yang sama panjangnya untuk menambah tekanan pada jukung agar mengambang di permukaan air.
Ayah sangat peka terhadap kondisi laut. Diambilnya seciduk air, dirasakannya di tangan lalu ia bergumam, pantas ikan kurang menyahut umpan. Saya tidak begitu tertarik untuk mempelajari lebih jauh ilmu Ayah ini. Tapi yang saya kagumi, dan ini sudah menjadi ilmu para nelayan, adalah bagaimana menentukan tempat yang tepat peman-cingan di tengah lautan luas. Setelah penat menda-yung, ayah mereka-reka dengan matanya secara awas. Sebuah puncak bukit ditariknya garis lurus dengan pan-dangan mata ke suatu puncak bukit lain yang lebih jauh. Tiga titik yang ditarik dengan garis lurus pandangan.
“Ah, tepat di sini,” katanya. Ia mulai menjatuhkan jangkar terbuat dari pohon pinang dan bandul dua buah batu. Diturunkannya tali pancing yang terbuat dari kenur atau senar. Di dekat pancing terdapat bandulan dibuat dari timah, dan sebuah lingkaran silender sebesar jempol kaki terbuat dari tanduk untuk mengirim pesan kepada ikan-ikan. Kepala ikan ditumbuk dan dimasukkan ke dalam selender kecil itu, setelah pancing diturunkan beberapa meter, ayah dengan sigap menarik-nariknya ke atas, sehingga lumatan kepala-kepala ikan itu berpencar di dasar lautan. Tentulah ikan-ikan yang bekeliaran berkumpul berebut makanan. Kalau beberapa menit kemudian pancing ayah berhasil menarik ikan, ayah berhenti di sana sampai beberapa lama. Akan tetapi kalau tidak, ayah me-ngangkat jangkar dan berputar-putar sebentar dengan dayung, mencari ukuran yang lebih tepat seperti yang dilakukan semula.
Ayah memiliki pula ilmu cuaca tradisional. Isyarat-isyarat yang tersebar di langit dan ufuk dapat dibaca ayah dengan cepat. Bila jauh di sana sudah nampak awan tebal berwarna abu-abu dan kehitaman umpamanya, segeralah diangkatnya jangkar dan buru-buru mendayung ke darat.
Keterampilan ayah yang lain adalah membuat gubuk. Gubuk, baik di ladang maupun di umbulan (kebun) terbuat dari tiang kayu atau bambu. berdinding bambu yang dianyam dan beratap daun rumbia. Bentuk gubuk itu bertingkat, separo tingkat agak tinggi yang dibuat untuk tidur, dan di bawahnya untuk dapur. Sedang bagian lain agak rendah dibuat untuk menerima tamu dan sekaligus tempat tidur.
Masa anak-anak dan remaja ayah tak banyak yang kuketahui. Tapi yang pernah kudengar dari famili dan sahabat-sahabatnya, bahwa di masa muda ayah menjadi Kepala Bujang. Suatu posisi yang diemban oleh orang yang harus memiliki keistimewaan, terutama dalam soal kebe-ranian dan kebijaksanaan. Keberanian, karena Kepala Bujang harus tegas menjalankan tugas, melindungi dan mengayomi beratus-ratus bujang dan gadis di bawah pimpinannya. Keberanian, umpamanya dalam menjatuhkan sanksi kalau ada pelanggaran. Yang terpenting harus pula berani menghadapi bujang yang nakal, mengacau, atau bujang yang suka berantam. Bijaksana dalam mengatur dan menerima bujang-bujang pendatang dari kampung lain. Dalam hal-hal tertentu, disamping keberanian, diperlukan juga kebijaksanaan yang penuh wibawa.
Inilah ketrampilan ayah yang kuketahui. Bersama ibu keduanya memulai kehidupan yang pahit. Sedang ketram-pilan ibu, sebagai petani, yang utama seperti telah kusebut terdahulu adalah berbagai pengetahuan bertani untuk membantu ayah. Yang istimewa bagi ibu adalah keteram-pilan menjahit berbagai bentuk pakaian wanita, mulai dari baju kebaya sampai pakaian anak-anak, dan pengetahuan menyulam beraneka macam hiasan sarung bantal, hordeng serta menganyam tikar dari pandan, kelingi dan bambu untuk keranjang. Dalam masak memasak tentulah menjadi keterampilan yang lazim dimiliki oleh setiap wanita di kampung. Ibu dengan tangkas memasak bermacam-macam masakan di bulan puasa, begitu juga beraneka macam makanan dan beraneka jenis kue kering, kue basah, bolu, darsap, kalpon, jejorong, lemper, dll.
Saya dengar sekilas cerita-cerita bahwa untuk memasak di ladang, Ayah dan Ibu bersama keluarga Pak Balak M. Yusuf, abang dari ayah, harus sabar menanti bergantian meminjam sebuah periuk besi yang tidak begitu baik menghantar panas, sehingga untuk memasak agak lamban tidak seperti halnya periuk dari aluminium. Untuk tempat minum cukup dengan ruas bambu yang dipotong pendek serupa cangkir, begitu pula gayung dibuat dari bahan yang sama. Sedang untuk sendok bisa dibuat dari kayu atau bambu. Piring untuk tempat makan dibuat dari buah bernuk semacam buah maja atau batok kelapa.
Bertahun-tahun dua keluarga ini hidup di Sukhkung (sebuah punggung bukit) yang berjarak kira-kira 4 km ke arah tenggara kampung Putihdoh, ayah ibu dan keluarga Pak Balak M. Yusuf mulai membuka hutan dan membuat kebun. Pada permulaan yang sulit itu, tidak jarang kalau sehari-hari mereka harus berpuasa dan menahan lapar.
Di Sukhkung (Puncak bukit) ini udaranya sejuk dengan kali kecil yang berair jernih membuat hidup di sini amat menyenangkan. Bertahun-tahun ayah-ibu bertani membuat lading. Setelah padi diketam, tanahnya ditanami lada, kopi atau cengkeh. Lalu membuka hutan kembali untuk ditanami padi dan kemudian tanaman keras. Ayah dan Pak Balak, setiap hari Jum’at pulang kampung untuk melaksanakan shalat Jum’at.
Dari hasil panen cengkeh, ayah dapat membeli sebidang sawah di Waybangik, sebuah dusun di pinggir pantai, 4 km di arah barat Putihdoh. Sejak itu ayah-ibu mulai mengerjakan sawah dan kadang-kadang membuka ladang. Meski sudah menyawah, dari hasil panen cengkeh tidak lupa Ayah membeli padi untuk disimpan dilumbung menambah hasil ladang. Dan dibelinya pula berkarung-karung beras. Kalau beras sudah habis, dalam masa-masa pacaklik barulah padi di lumbung dikeluarkan untuk ditumbuk.
Setelah panen di sawah, batang padi didiamkan sampai membusuk. Masa membajak sampai mengetam biasanya memakan waktu 6 bulan. Jenis padi ketika itu bepohon tinggi, dan berbuah panjang. Padi diikat-ikat (satu sengol) dihitung empat-empat. Tiap empat ikat disebut “sepucung” yang kalau ditumbuk tiap pucung menghasilkan sekaleng beras (sekitar 16 kg).
Sejak kecil, saya sering mendengar ayah membaca wirid yang panjang, mulai dari maghrib sampai isya’. Di dalam wiridnya itu mungkin tersirat pula permohonannya untuk bermacam-macam cita-cita baik untuk dunia maupun untuk kehidupan abadi di akhirat nanti. Cita-cita ayah yang tertinggi, seperti halnya juga cita-cita kebanyakan orang di kampungku, adalah pergi hajji. Pada tahun 1961 ayah bersama tak kurang dari 70-an jamaah haji dari kampungku pergi menunaikan rukun Islam yang kelima. Enam bulan kemudian alhamdulillah, ayah kembali dari Tanah Suci dengan keadaan selamat, dan dari namanya semula Zuhdi, seperti halnya kebanyakan orang kampung yang pergi hajji ketika itu, ayah juga berganti nama menjadi Haji Daud. dan Pak Balakku berganti nama dari M. Yusuf menjadi Haji Abdul Hamid.
Cita-cita ibu untuk pergi hajji tak tercapai. Sebetulnya, bisalah ia pergi haji karena di suatu musim cengkeh dapat dihasilkan uang yang cukup untuk pergi hajji. Ketika ditimbang-timbangnya, apakah pergi hajji atau membuat rumah lebih dahulu, ia memutuskan yang lebih mendesak adalah membuat rumah lagi. Maklum, dalam rumah lama, setelah abangku berkeluarga, rasanya tak muat lagi untuk menampung keluarga kami yang besar. Diharapkan untuk tahun-tahun berikutnya, mudah-mudahan mendapat rezeki dan cita-cita menunaikan rukun Islam kelima itu dapat dilaksanakan. Namun garis Ilahi menuliskan lain, ibu menderita sakit, bermula dari pendarahan, diikuti sakit yang panjang, akhirnya berpulang ke rahmatullah pada tahun 1979 dan belum sempat menunaikan ibadah hajji.
Sedang ayah, 6 tahun kemudian, setelah menderita sakit perut dan buang-buang air kira-kira dua minggu, pada bulan Ramadhan di tahun 1985 juga menyusul ibu kembali ke hadrat Ilahi: “inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”.
Kakek dan Nenek
Kakek dari pihak Ayah bernama Haji Abdul Wahid. Ia adalah tertua dari empat saudara. Adik-adiknya bernama: Haji Zaenab, Ibrahim dan Ahmad Thahir. Haji Abdul Wahid mempunyai anak-anak, yang tertua Haji Abdul Hamid, kemudian Abdurrahman, Haji Daud (Ayahku) yang mempu-nyai dua adik perempuan yaitu Zuhriyah dan Jasimah.
Haji Zaenab diperisterikan oleh Haji Hasan yang memiliki 2 anak yaitu M. Sari dan Muhshanah. Setelah Haji Hasan beristeri lagi, nenek Hajjah Zaenab ini, agak tak terurus, maka oleh Kakek Haji Abdulwahid, dia dibawa pergi melaksanakan haji dan meninggal di Makkah. Ibrahim mempunyai anak: Kamsan, dua perempuan dan Haji Syairazi. Ahmad Thahir menikah di Kotadalom Wayawi dan memilik anak yang cukup banyak, yaitu: M. Sera’ie, Rohaiyah, Umaiyah, Masithah, Suryanah, Ramli, Nur’aini, Thahiri, dan Khadijah. Anak-anak dari Ahmad Thahir ini tersebar di daerah Wayawi dan sekitarnya yang termasuk Kecamatan Waylima.
Setelah Nenek, ibu dari ayah meninggal dunia, Kakek Haji Abdul Wahid beristeri lagi bernama Badisah (bergelar Ngakhibang). Kakek, menurut cerita sering terpengaruh oleh hasud dan pikiran nenek ini, sehingga kakek terkadang berlaku tidak baik terhadap anak-anaknya. Setelah terjadi banyak ketegangan, suatu hari Ayah dan Bapak Balak M. Yusuf memohon bantuan kepada pamannya, Ibrahim dan Ahmad Thahir serta beberapa orang terkemuka di kampung untuk mendamaikan masalah keluarga ini. Kedatangan mereka ke rumah Kakek yang tidak dengan pemberitahuan terlebih dahulu ini membuat Kakek Haji Abdul Wahid berang. Terjadi pertengkaran hebat. Kakek Ibrahim dan Ahmad Thahir yang masing-masing konon sebagai pendekar dan kebal senjata tajam menyerang Kakek Abdul Wahid dengan berbagai tantangan. Niat semula untuk menda-maikan tidak berhasil. Malah keributan memuncak menjadi hiruk pikuk dan sumpah serapah. Puncaknya, konon Kakek melontarkan kata tidak mengakui Ayah dan Pak Balak M. Yusuf sebagai anaknya lagi.
Kakek Ibrahim dan Ahmad Thahir balik menghujat Kakek Abdul Wahid dengan berbagai kata dengan puncak-nya menyita sebagian harta Kakek dengan alasan sebagai ahli waris pengganti Ayah dan Pak Balak M. Yusuf yang telah diusir.
Ayah dan Pak Balak M. Yusuf yang terusir tidak mempunyai tempat tinggal dan tempat berteduh. H. M. Ilyas saudara sepupu dari pihak nenek, mengambil inisiatif dengan sangat jitu. Keduanya, berikut keluarga mereka ditampung di bawah kolong rumah dengan bantuan beberapa perlengkapan seadanya. Sejak itu Pak Balak M. Yusuf dan Ayah berangkat ke Sukhkung sebagai telah keuceritakan terdahulu.
Masa-masa panjang telah dilalui, akhirnya dengan semangat kerja yang keras mereka berhasil membangun rumah. Pak Balak Haji Abdul Hamid berhasil membangun 4 rumah untuk anak-anaknya. Pertama di tahun 1951, dan yang lain beberapa tahun kemudian. Demikianlah, nikmat pun datang setelah bersusah payah menanam sekitar 4000 pohon cengkeh. Dan Ayah-Ibu juga dapat membangun 2 rumah dan pergi haji.
Saya tidak begitu banyak mendengar cerita tentang hubungan kakek dengan anak-anaknya ini. Tapi yang saya saksikan adalah hubungan intim dan mesra. Bagaimanapun pedasnya pertentangan ayah dan anak itu akhirnya kembali rujuk. Anak-anak yang terusir itu, takkan membiarkan Kakek hidup dalam kesulitan. Saya masih dapat menikmati rasa kasih sayang kakek. Setelah mengurutnya sebentar umpamanya, saya merengek minta uang. “Untuk apa”, tanyanya. “Untuk beli bendera, harganya Rp3,50,-” jawabku. Waktu itu bendera merah putih terbuat dari kertas. Dan seko-lahan menganjurkan kami membeli bendera mungil terbuat dari kain seharga yang kukatakan tadi.
Meski demikian dari ibu terkadang masih kudengar cerita betapa luka, begitu pedih akibat ulah nenek (ibu tiri ayah) yang kukenal dengan namanya “Ngakhibang” itu.
Ketika saya pulang dari sekolah, waktu itu saya duduk di kelas 2 SR, tahun 1959, Ibu mengatakan bahwa Kakek telah berpulang ke Rahmatullah. Saya ke rumah Pak Balak M. Yusuf tempat Kakek disemayamkan. Kulihat ia terbujur kaku, di kelilingi anak cucu yang bertangisan. Kusaksikan Pak Balak M. Sari, keponakannya menangisinya dengan menyebut-nyebut jasanya. Ibu dari M. Sari ini sebagai kuceriterakan di atas adalah Hajah Zaenab adik Kakek yang konon dibawa Kakek ke Mekkah dan meninggal di sana.
Saudara-Saudaraku
Saya adalah anak yang kedua dari tujuh bersaudara. Yang tertua bernama Tamlihan HD, dan yang ketiga bernama Arbaiyah, kemudian Muhtashor, Hafazoh, Baroroh dan Zainab.
Abangku Tamlihan lahir sekitar tahun 1945 memper-oleh pendidikan setelah mengaji Al-Qur’an dan SR kelas III, melanjutkan ke sekolah madrasah PIGRI (Pendidikan Islam Gabungan Republik Indonesia) pimpinan Al-Ustadz M. Siddik kemudian setelah menunaikan ibadah hajji dipanggil sebagai K.H. Muflih Ilyas. Beberapa tahun di sana ia pindah ke Madrasah MPI (Majlis Pelajar Islam) yang dipimpin oleh K.H. Zahruddin Dahlan. Semua pendidikan ini ditempuhnya di Putihdoh.
Pelajaran yang diperoleh di kedua pendidikan ini pada garis besarnya berkisar pada pelajaran nahu, sharaf, fiqih, tauhid, faraid, tafsir dan hadits. Di PIGRI ada tambahan latihan berpidato dan menggambar. Dari dasar-dasar pelajaran itu, rasanya cukup dan mampu untuk berkembang dan menjadi pemuka masyarakat untuk kapasitas kampung dan sekitarnya. Apalagi Abangku ini senang membeli buku-buku baik yang berbahasa Arab, dan kebanyakan berbahasa Indonesia bila ia pergi ke kota. Kesenangannya membeli buku sampai ia memesan lewat pos ke Medan, Padang, Jakarta dan Surabaya.
Buku-bukunya itu banyak yang saya baca ketika saya duduk di SR, umpamanya: Tenggelamnya Kapal Vaderweyk, Magdalena, Salah Asuhan, Di Bawah Lin-dungan Ka’bah, dan bahkan beberapa buku yang belum pantas saya baca dengan mencuri-curi. Kesenanganku membaca yang dimulai dari membaca komik meningkat pada buku-buku novel, buku-buku agama, seperti Agama Islam oleh Hamka, Tafsir Mahmud Yunus, terjemahan hadits Shahih Bukhari dan Muslim, dan Kitab-Kitab beraksara Melayu dsb. Semua itu dapat saya baca dari koleksi abangku itu. Sayang buku-buku koleksinya itu banyak yang hilang karena kalau sudah dipinjam orang banyak yang tidak kembali.
Di masa remaja, abangku ini pernah menjadi Kepala Bujang, dan tampil di berbagai kegiatan di kampung, umpamanya sebagai pembicara. Caranya berdiplomasi dalam urusan-urusan adat, kadang membuat orang lain tersudut, dan memendam rasa dengki dan hasud.
Ketika dia bujang saya saksikan kemakmurannya sebagai anak sulung. Bajunya yang dipajang di atas ranjang pernah kuhitung tak kurang dari lima belas dari bahan dasar yang halus. Celana terbuat dari wool cap bendera made in USA, sarung sutra dari Samarinda, Tajung Palembang dan sarung Bugis yang halus dapat dilipat ke dalam botol.
Hubungan saya dengan abangku ini senantiasa berjalan baik dan tidak pernah terjadi kontra, sampai kami berumur dewasa senantiasa timbal balik hubungan mesra antara yang tua dihormati dan yang muda disayangi.
Abangku bukan tak memperhatikan, sewaktu-waktu saya dabawanya ke penjait membuat dua stel baju yang bagus. Tapi saya, di masa menginjak remaja, ketika abangku telah menikah, zaman transisi Orla dan Orba, semua sandang amat mahal. Saya merasakan benar ketinggalan penampilan. Baju dan sarung palekat yang karena tak ada gantian sering bolong di sana sini.
Sebagai anak sulung di kampung, abangku ini telah menempati dan menepati adat kebiasaan. Adat panyim-bang meletakkan anak sulung sebagai ahli waris utama. Ketika dia menikah, ayah seolah pengsiun, harta dan tanggungjawab dibebankan kepadanya. Kami adik-adiknya melihat dan merasakan tanggungjawabnya yang hebat. Membimbing kami yang ramai sampai kami semua menikah. Dia bersama pamanku Haji Syarifuddin dan didukung oleh Ayah Ibu telah mem-biayaiku sekolah ke Gonor sampai ke Perguruan Tinggi. Kukatakan hebat, karena tidak semua anak sulung menempatkan diri sebagai panyimbang. Dia mau menerima harta orangtuanya saja, tapi tanggung jawab tidak, sehingga sering terjadi kerusuhan antara orang tua dan anak sulung. Yang tua tak mau menyerahkan seluruh harta, dan yang muda tak ingin bertanggungjawab (me-ngambil alih tanggungjawab orang tuanya untuk mengasuh dan membimbing adik-adiknya).
Antaraku dan Abangku ini masih diselingi oleh beberapa kakak (p) dan abang (l) yang meninggal waktu kecil, antara lain, menurut ayah-ibuku mereka bernama Ahmad Khairi dan Qathiyah. Adikku Arbaiyah mungkin lebih muda dariku 2 atau 3 tahun, karena tahun kelahirannya tidak tercatat. Yang kuingat selamaku kecil baik di umbulan (Sukhkung) maupun di kampung selalu bersama adikku ini sebelum adik-adik yang lebih muda lahir. Tapi ketika adik-adik masih kecil, sementara abangku meningkat remaja sayalah menjadi tulang punggung ibu. Banyak pekerjaan perempuan yang saya turut kerjakan seperti mencuci piring, mengunjal air minum dari sumur tetangga karena kami beberapa kali membuat sumur, airnya kebetulan tak bagus. Ibu juga sering membawa saya mencari kayu api, atau mengambil dahan-dahan kayu untuk junjungan tanaman kacang panjang dsb. Pekerjaan-peker-jaan itu saya lakukan sampai pada masa-masa saya telah malu pada gadis-gadis kecil. Dan yang paling memalukan perasaan adalah ketika saya menolong ibu menumbuk padi. Di sini, menumbuk padi bukanlah pekerjaan lelaki.
Saya rasakan menumbuk padi mulai dari gabah sampai menjadi beras adalah puncaknya kepayahan bertani. Menumbuknya dengan alu, menjadi gabah, merekah, menampi dan memisah kulit sari sampai nampak berwarna putih. Meski memerlukan tenaga ekstra, pekerjaan ini khusus dikerjakan kaum perempuan, tidak biasa lelaki melakukannya. Itulah sebabnya saya begitu malu ketika saya disaksikan gadis kecil menolong ibu menumbuk padi. Tapi dengan demikian saya kasihan ibu, menumbuk padi, mengubahnya menjadi beras, seolah puncak kepayahan bertani. Untunglah kemudian setelah saya tamat SR adikku Arbaiyah telah gadis. Dialah yang kemudian penolong ibu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan perempuan. Adikku ini hanya sampai sekolah SR kelas IV, selain diajari ibu sendiri memasak dan menjait, ia juga dimasukkan kursus yang sama.
Adikku laki-laki bernama Muhtashor HD. Pendi-dikannya disamping belajar mengaji, sekolah SR hanya sampai kelas V. Menurut ayah, ia telah berikrar tidak mau melanjutkan sekolah karena akan memusatkan bertani. Ketika ia telah memiliki beberapa anak, terungkap pernyataannya yang tulus bahwa ia sangat menyesal tidak sekolah, karena ternyata bertani bukan main banyak kesulitannya. Ia mengatakan bahwa bagaimanapun sulitnya, ia akan biayai anak-anaknya setinggi mungkin menuntut ilmu? Memang pada mulanya, ketika cengkeh masih berjaya, harganya mahal dan menjanjikan, kehidupannya agak baik. Tapi ketika harga cengkeh jatuh di Zaman Tommy Suharto yang memonopoli tataniaga cengkeh itu, ekonominya turut tersungkur. Hal itu diikuti kemudian beberapa kali tekor ketika ia coba-coba berjualan durian, kemudian kelapa ke Jakarta.
Kerugian juga menimpanya ketika ia coba-coba membuka tambang emas sehingga ia pernah terjerat rintenir. Tatkala ia sulit memperoleh dana dalam rangka menggali tambang emas itu, ia terpaksa meminjam uang panas kepada salah seorang yang terhitung memiliki uang di kampung. Ia meminjam kepadanya uang sebesar satu juta dengan perjanjian bunga 10% sebulan selama belum terbayar penuh, karena tidak boleh dicicil. Setelah tiga belas kali membayar uang sebesar satu juta tiga ratus ribu rupiah, dia menekan adikku itu agar membayar keseluruhan pinjaman atau tanah adikku akan disita. Akhirnya Muhtashor terpaksa menjual tanah sawah untuk melunasi hutang berikut bunganya
sebesar satu juta tujuh ratus ribu rupiah untuk pinjaman jangka tujuh belas bulan, tidak termasuk uang-uang yang telah dicicilnya perbulan sebelumnya.
Berikutnya adikku Hafazoh dan Baroroh yang lahir kembar di tahun 1961, setahun sebelum ayahku pergi haji. Waktu itu anak-anak yang lahir kembar masih langka. Kira-kira beberapa bulan sebelum itu dikabarkan di kampung lahir anak kembar perempuan. Saya tidak percaya dan berdebat dengan anak-anak, bahwa tak mungkin ada anak lahir kembar. Alangkah tersipunya saya kepada kawan-kawan, ketika tahun berikutnya, ternyata adikku sendiri lahir kembar.
Kelahiran kedua adikku menambah lagi kerepotan ibu. Tentulah saya menjadi tulang punggung ibu yang setia. Kecuali membantunya berbagai pekerjaan rumah tangga, juga mengasuh adik-adik. Sehingga kemana saja saya bermain dengan kawan-kawan sepermainan, tidak boleh lupa sambil menggendong adik. Yang merepotkan kalau di tengah bermain-main itu adik buang air, kecuali repot juga malu.
Pendidikan keduanya selain SD, mengaji Al-Qur-’an, juga sekolah di madrasah. Untuk kehidupan di kampung, pendidikan yang demikian cukuplah, karena targetnya, asal bisa membaca dan menghitung sedikit. Dan yang perlu sekali adalah mengerti dasar-dasar ajaran agama agar tidak buta dalam menjalankan ibadah.
Adik yang terakhir bernama Zaenab. Ia lahir 2 tahun kemudian. Pendidikan dan keterampilannya sama dengan kakak-kakaknya.
Panen raya pada tahun 1974, sebenarnya rencana Ibu akan menunaikan Ibadah haji akan terlaksana, tapi dengan berbagai pertimbangan, akhirnya diputuskan untuk mem-buat rumah dahulu. Rumah kami yang lama tak dapat menampung kami yang ramai, apalagi setelah kelahiran keponakan-keponakan anak abangku. Anak pertama lahir tahun 1969 bernama Ahmad Barkhia. Barkhia, diambil dari nama seorang ilmuwan di zaman Nabi Sulaiman, yang sanggup memindahkan singgasana Ratu Bilqis dari Yaman ke Palestina sekejap mata. Lalu lahir lagi Zarkasyi, mungkin diambil dari nama Kiyai Gontor yang tersohor itu.
Pamanku
Kecuali, ayah, ibu dan abangku, adalah pamanku, yang tak dapat kulupakan selama-lamanya. Mereka telah berjasa. Yang lain-lain tentu juga ada, kepada Tuhan dan Rasul-Nya, kepada guru-guruku, adalah hal lain yang spesial. Tapi mereka berempat ini, yang telah kusebut yang lain di awal, telah mengukirkan tinta emas dalam sanubariku
Pamanku ini namanya ditambah Haji setelah ke Mekah, aslinya Syarifuddin. Ia adalah adik dari ibuku. Yang pertama, Haji Bahri, kemudian Ibuku, M. Said, dua perempuan lagi, dan terakhir pamanku ini, yang bungsu. Sebagai anak laki-laki yang bukan anak sulung, di Lampung masa ini seakan tak terhitung, ibarat timun bungkuk, ada dan tidaknya tidak mengurangi atau menambah yang telah ada.
Anak laki-laki yang begini, dalam keluarga seakan tersisih, dia mesti pergi, dengan semanda mencari bini, tidak diharap benar untuk kawin ngakuk atau mengambil isteri. Dengan cara samanda, dia diambil pihak isteri menjadi suami. Maka, dia terlepas dari keluarganya dan sekaligus tidak mendapat warisan. Itulah adat kewarisan yang berlaku, yang oleh seorang kepala adat dikatakan sebagai kewarisan zalim. Memang dengan cara samanda ini, ia bersama isterinya memperoleh warisan dari ayah isterinya, tapi dengan kelemahan kedudukannya, kalau terjadi perceraian dia sebagai pendatang yang tak membawa sesuatu, biarlah pergi tanpa membawa apa pun.
Pamanku yang berkedudukan demikian seakan menjadi anak terbuang, lama saja ia membujang. Badannya kekar dan hitam, berperawakan sedang dan berisi, memuat tenaga banteng bila berkelahi. Ia tak gentar berhadapan dengan orang yang telah siap dengan gada.
Suatu ketika, cerita kawannya, seseorang menantinya dengan dahan pohon kopi di tangannya. Saat gada itu diayunkan kepadanya, ia tenang saja. Tiba-tiba secepat kilat belati dengan sarungnya telah labuh di dada penggada itu. Musuhnya terjatuh, dan gadanya balik menjadi senjata makan tuan.
Ibu menyayangi paman, acuh kalau dia tersia-sia, tapi dengan cara ini, kepada ibu konon, ada yang benci, dengki kalau paman ada yang peduli. Sesungguhnya, di balik perilakunya yang memperlihatkan kenakalan re-maja itu, tersimpan rasa kasih sayang yang tinggi, terutama kepada anak-anak keponakannya. Pada musim-musim kenaikan kelas dia membeli berpak-pak buku dan pensil lalu dibagikannya ke segenap anak keponakannya. Sewaktu-waktu dia membeli sebal bahan baju, lalu anak-kepo-nakannya dibuatkan masing-masing sestel. Dan sarung juga dia beli sekodi dibagikan juga untuk anak-anak abang atau kakaknya.
Dia banyak sekali sahabat, tidak mengenal suku, Lampung, Padang, Banten, Cirebon, Cina dsb. Pergaulannya luas, hampir semua orang terpikat dan segera akrab bila berhubungan dengan dia. Caranya bicara, dan kekayaan cerita yang mengandung humor selalu mengundang orang terpingkal-pingkal mendengarnya. Tidak ada cerita orang dalam percakapan lepas, ngobrol, yang tidak disambutnya dengan cerita lain yang senada, yang pasti mengandung kelucuan.
Dia di masa muda, sering bepergian, ke desa-desa di Lampung dari selatan sampai ke utara, dari barat sampai ke timur. Dan tidak sedikit pula daerah-daerah yang dikun-junginya di Jawa dari barat, tengah sampai timur. Yang agak istimewa mungkin caranya berkenalan. Di bus, kapal, hotel dia suka bercakap-cakap dan segera akrab.
Maka di rumahnya, setelah dia berkeluarga selalu ramai dengan tamu-tamu, entah dari mana-mana tamunya itu. Dan kebanyakan tamu-tamu dari luar kampung bermalam semalam atau lebih lama di rumahnya.
Yang istimewa pula, bagaimana pamanku ini menata persaudaraan dengan sahabat karibnya. Sampai sekarang, setelah dia almarhum, ikatan persaudaraan anak-anaknya masih langgeng dengan anak-cucu sahabatnya. Dengan Mamak Sera’i di Kotaagung umpamanya persaudaraan itu masih berlangsung. Ada beberapa anak paman yang namanya mengambil dari nama anak Mamak Sera’i, seperti: Zaitun, Yunzaida, dan lain-lain. Persahabatannya yang masih berlangsung sebagai saudara sampai sekarang juga ialah dengan Bapak Mursani, seorang pengsiunan polisi di Putihdoh, yang anak cucunya sekarang tinggal di Kaliawi, Tan-jungkarang.
Pendidikan paman saya tak tahu persis. Tentu pernah belajar mengaji, meski tidak lama. Tapi ketauhidannya tinggi. Dia paling anti tahaiyul, dengan percaya umpamanya kepada kuburan atau menyembah-nyembah setan dengan mema-sang sesaji. Sekolahnya, ya mungkin paling tinggi kelas 3 SR, karena rata-rata orang yang melek huruf dan bisa membaca di kampung kami ini hanya sekolah sampai kelas 3. Atau kalau melihat tulisannya paling kelas 2 saja. Namun masalah berhitung seperti mengali, menambah dan membagi, dia cerdas, bisa menerka di luar kepala. Cara mengali dilengkapinya dengan teori menimbang. Dibuatnya tanda tambah (+) di atas kertas, kemudian dijumlahkan angka-angka yang dikali. Di bawah adalah hasil jumlah dari hasil perkalian. Saya tak ingat lagi caranya, sehingga kalau jumlah kiri dan kanan sama, berarti perkalian itu benar, tapi kalau tidak berarti salah.
Dengan kelihaiannya berhitung itu dialah, menúrut ceritanya, ketika masih bujang, yang mula-mula membeli cengkeh atau menjadi cingkau. Dia mengambil modal dari H. Wawi, seorang toke yang kaya. Dia keliling membawa timbangan kecil, membeli dari ibu-ibu atau gadis-gadis dengan harga selisih dari harga toke. Hanya beberapa rumah jaraknya dari warung H. Wawi, karungnya sudah penuh. Bukankah ibu-ibu apalagi gadis-gadis segan dan malu membawa cengkehnya ke warung kalau hanya sekilo-dua, jadi peluang ini yang ditemukan paman. Dia jemput dari rumah si gadis, atau ibu-ibu. Untungnya lumayan sehinga dia selain banyak uang, juga dapat membeli sebidang tanah tepat di pusat pasar.
Kegiatannya yang jempolan ini, meski mulanya ditertawakan orang-orang, apalagi oleh bujang-bujang anak yang biasa manja, akhirnya ada juga yang turut meniru, mulanya satu-dua, akhirnya banyak juga.
Keterampilannya yang hebat lagi adalah menaksir bunga cengkeh. Dia mulanya tak mempunyai kebon, tapi tiap musim biasa memborong atau menebas. Sebuah kebon umpamanya diborong sekian uang atau sekian kuintal cengkeh, yang dibayar sebagian di depan dan sebagian lagi setelah usai panen. Dia melihat satu persatu pohon yang hendak diborong, pohon ini hasilnya sekian, yang ini sekian, total semua sekian kuintal. Setelah memperhitungkan berapa hasilnya, berapa biaya-biaya petik dsb, ah pikirnya, sekian! Dan ternyata, taksiranya selalau tepat. Untungnya lumayan, sepertinya, dia selalu dikejar keberuntungan.
Saya, yang tak berani minta uang kepada ayah, kalau rambut sudah panjang, yang kuandalkan adalah paman. Dengan mengendap-endap saya mencari paman minta uang untuk cukur. Kepada ayah, kecuali tak akan diberi, malah kepalaku akan dicukurnya botak. Saya malu, kalau diejek kawan, “botak!”
Akhirnya paman beristeri. Sebagai laki-laki, meski saudara-saudaranya tidak setuju, juga keluarga besar, dia tetap bertekad mengambil (ngakuk) isteri, bukan diambil sebagai suami (samanda). Ina, panggilanku kepada isteri pamanku ini, adalah Siti Masrohan, seorang wanita yang berkulit bersih dan cantik. Tahun perkwinannya itu kalau tak salah 1959 atau 1960, karena saya sering mampir di rumah tumpangannya setelah mengaji di Guru Haji Hadhori, di Kampung Masjid.
Paman bersama isteri yang turut pula Mak Kolot (Hj. Siti Amnah) ibu mertua, dan adik Ina, Aminah, menumpang di rumah Haji Usman. Di satu rumah itu juga menumpang penganten baru lain, masih saudara dari Haji Usman, Khami’in namanya.
Tanah yang paman beli sejak dia masih bujang itu, amat strategis, di pusat pasar. Sementara ini dipakai, entah disewa atau hanya ditempati sukarela oleh pedagang mie goreng. Mungkin tak sampai setahun menumpang di rumah Haji Usman itu, paman mulai membangun rumah. Ukuran-nya sekitar 10 kali 25 meter. Berdinding papan dan berlantai semen floor.
Lahir pertama anak paman bernama Qaishor, kemudian berturut-turut kelahiran yang ramai: Sahliana, Yarisuni, Khaibar, Helyanti, Yunzaida, Zulfaqar, Multazam, Linda, Khandak, Rizka dan terakhir Shofa. Dari Ina Zuhro, isterinya yang lain, lahir Helda, Itun, Baitul Mal (alm).
KEMAKMURAN YANG MELIMPAH
Zuhmin, tetangga dan kawanku sebaya, mengajak saya ke muara. Di jalan setapak yang becek di Halangan kami menemukan kelapa. Bukan sebuah, sebagaimana kelapa yang sudah tua kalau lama tak dipetik akan jatuh. Ini satu tandan yang berisi sekitar 7 buah. Nampaknya sudah lama di situ, tergeletak saja yang terbalut oleh semak dan rumput. Hanya selangkah dari jalan tempat orang-orang berlalu lalang, tak ada yang mungut? Buat apa? Kalau dijual hanya setengah rupiah sebuah. Tapi kami, sebagai anak-anak meski malu-malu, memikulnya menyeberang kali ke warung Pak Sarbini. Kami tukarkan kelapa-kelapa itu dengan jajanan kecil sebuah kelapa dengan sekeping rempe-yek atau sebuah pisang goreng. Sambil memakan jajanan itu kami ke muara memancing.
Kelapa tak berharga, untuk sekedar makan kelapa muda umpamanya, ambil saja, punya siapa pun di sepanjang sisi pesisir, sudah menjadi kebiasaan tak mengapa. Tapi sesungguhnya bukan hanya kelapa, sayur mayur kita boleh ambil dari kebun, belukar di bukit-bukit. Tak adakah pemiliknya? Pemiliknya sendiri tak akan kekurangan kalau orang hanya mengambil sekedar untuk sayur-mayur. Maka sudah biasa ibu-ibu pergi ke atas bukit di belakang perkam-pungan mencari umpamanya melinju, jengkol, kuwau, tekukak, putak, rebung dan humbuk.
Terkadang, melinju yang telah memerah banyak yang berjatuhan, sayang, mubazzir saja tak ada yang mengambil. Jengkol juga demikian, maka dengan senang, si pemilik merelakan siapa saja yang memetik. Demikian adat kebia-saan zaman ini, zaman dimana orang terbiasa meminta dan memberi, dikasih dan menerima, tidak menjual dan mem-beli.
Padi dan beras tidak diperjual-belikan. Sawah-sawah dikerjakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri, setahun sekali. Setelah diketam, jerami dibiarkan selama 6 bulan sampai busuk dan menyatu dengan tanah. Kemudian dibajak kembali, tanpa membubuhi pupuk. Jerami itulah yang mungkin pengganti pupuk, yang dari tahun ke tahun sawah tetap subur, menghasilkan padi yang cukup untuk setahun.
Buah-buahan juga makmur. Durian misalnya, kalau musim, tinggal tunggu di bawah pohonnya. Siapa saja yang punya, telah rela membiarkan orang memungut yang jatuh. Tidak semua orang punya pohonnya, tapi pohon-pohon yang ada seperti repong (kebun buah) kepunyaan Raja Utama, ratusan jumlah pohonnya. Repongnya Haji Hasan, Haji Abas, dan pohon-pohon yang tersebar di sela pohon-pohon ceng-keh atau di pinggir belukar. Dulu para petani menanam agar anak cucunya menjadi makmur. Prinsip mereka, “Kami telah makan apa yang nenek moyang kami tanam, dan kini kami menanam agar anak cucu memakan apa yang kami tanam.”
Durian kalau sudah musim melimpah tak termakan. Daging-daging durian yang berlebihan dilucuti dari bijinya, bila tak dibuat dodol atau gula durian, ditaruh saja di dalam toples setelah ditaburi garam secukupnya. Nah, itulah yang disebut “tempoyak” (semacam taucho) yang tahan bertahun-tahun untuk bahan sambel dan pepes ikan.
Musim durian, terkadang bersamaan atau diikuti musim duku. Warna buah ini berubah dari mulai berisi yang terasa pahit sampai manisnya seperti madu. Mulanya hijau, lalu kuning, dan kemudian putih gading atau putih keme-rahan. Malah warna itu ada pula yang sudah berubah menjadi kehitaman di dekat tangkainya karena telah disarangi semut. Duku juga melimpah, tak ada pula yang menjual, atau membeli. Tetangga-tetangga diajak oleh pemi-lik pohon yang jauh dari kampung, memetik bersama buah yang sudah ranum. Daripada dibiarkan dimakan kalong lebih baik kita unduh beramai-ramai, ajaknya.
Penduduk berpikir keras bagaimana mengawetkannya. Tak ada cara, kecuali memakan sekenyang-kenyangnya. Buah duku digelar saja di lantai agar lebih awet. Tapi yang dekat dengan kampung, atau yang dekat rumah, sengaja memetiknya agak kemudian, Di atas pohon dipasangnya blek kosong dan ditautkannya dengan tali ke rumah. Malam-malam, tali disentuh beberapa kali. terdengar suara krontang… kerontang…, yang mengejutkan kalong-kalong yang berterbangan dari pohon. Duku-duku yang seperti ini sangat nikmat, manis dan tak ada efek sampingnya meski dimakan sampai kenyang, malah pagi-pagi sebelum makan nasi pun dimakan tak membuat mulas di perut.
Buah-buahan lain sambung-menyambung mengalami musim: cempedak, langsat, ketupan, tupak, manggis, limus, kweni, dsb. Di Putihdoh buah tak ku-rang, tapi pusat buah-buahan adalah Putih Unggak, malah mulai dari Tanjung-betuah, apalagi Banjarmanis, Sikapura dan Pam-pangan.
Keistimewaan di Putihdoh musim buah dan sayur mayur diselingi dengan musim ikan. Ketika laut tenang, di Laut Teluk, secara berkala datang musim ikan, mekhala, tamban, pepirang, tanghulu atau lemuru. Tamban yang sangat banyak mendekati pantai, nyaris melompat ke darat. Orang-orang segera berlari mem-bawa jala. Sekali tebar penuh, dan orang-orang yang menjala dibantu anak-anak melepasnya dari jala. Sambil menolong, segera memisahkan sedikit bagian sendiri, sebagai penolong. Lemuru, agak di tengah laut, jadi dijala dengan perahu. Juga kadang datang pula musim udang, rebon dan cumi.
Di pantai sepanjang sekitar 2 km dari Pematang Humakha sampai ke Cukuh Ketapang, dari barat ke timur membentang hamparan karang. Kalau pasang surut, ber-warna coklat yang di sana segala siput bisa didapat. Warna coklat itu adalah warna agar-agar alami yang tumbuh liar, siapa saja yang mau boleh ambil sesukanya. Ibu-ibu biasa mengambil dengan arit atau sabit, lalu merendamnya dengan air dan menjemurnya beberapa hari. Kulit rumput yang coklat akan terkelupas dan tinggallah warnanya yang putih seperti gumpalan sabut kelapa. Lalu disimpan dan awet dalam waktu lama. Sewaktu-waktu kalau perlu, dire-bus dan dibuat bermacam-macam ragam agar-agar.
Yang menyenangkan lagi adalah bila musim tanihai (sebangsa rebun ikan makhala). Di malam hari orang-orang membawa petromak dan menyiduk begitu saja kumpulan ikan-ikan kecil itu. Pada waktu bersamaan atau berbeda, datang pula musim siput yang sangat nikmat rasanya, orang di sini menyebutnya “sioh nilam”, sejenis siput yang memiliki tanduk. Di waktu siang wanita-wanita yang memungutnya, tapi di waktu malam para pria.
Seorang Kiyai, Haji Idris dari Sikapura, Putih Unggak, gudangnya buah-buahan, konon, kalau ke ilir, ke Putihdoh, dia mampir ke rumah Penghulu, Haji Moh. Siraj. Dia berseloroh, “Sudahkah musim ikan? Hati-hati, kalau tak datang, adalah tanggungjawab Pak penghulu.” Mengapa dia mengatakan demikian, karena menurutnya, terhentinya musim menandakan iman dan ibadah kita mulai kendur, jadi ini tanggungjawab Pak Penghulu, sebagai Pemuka dan Pembina agama di dekat pantai. “Bila tak datang musim buah, duku atau durian, tanggungjawab saya,” katanya, “karenanya kita tak boleh berhenti memohon, meningkatkan iman dan ibadah serta bersyukur atas nikmat kemakmuran yang senantiasa dilimpahkan kepada kita,” tambahnya.
CENGKEH DAN KECONGKAKAN
Ibu menyuruh saya dan Kakak Salsiyah (Hj. Siti Raudhoh) ke kebun. Kami dapati di bawah pohon yang sudah dibersihkan rumputnya itu nyaris tak tampak tanahnya. Semua menjadi kuning tertutup oleh bunga cengkeh yang berguguran. Bukan main, tak ada yang mungut? Padahal, 1 kg cengkeh harganya setara dengan segeram emas.
Untuk apa memungut yang di bawah, yang di atas pohon saja nyaris tak terpetik. Bunga cengkeh yang harum itu memenuhi setiap pucuk daun, lebat sekali dari puncaknya sampai dahannya meleleh ke tanah, sehingga anak-anak kecil pun dapat memetiknya sambil duduk atau berdiri di bawah pohonnya.
Musim besar, inilah istilah musim yang sesungguhnya. Segala musim: buah-buahan, ikan, siput dan sebagainya tak dianggap sebagai musim. Yang pantas disebut musim hanya musim cengkeh, yang biasa dijual-belikan hanya cengkeh. Cengkehlah lambang ke-mewahan, lambang kekayaan.
Hasil utama kebandaran Putih dalam jangka panjang beganti-ganti dari masa ke masa. Mula-mula padi, kemudian kopra, lada dan kopi. Sekitar tahun 1930-an penduduk mulai menanam cengkeh. Sebelum Jepang masuk dikabarkan harganya cukup berimbang, sebab Belanda memerlukan cengkeh. Tapi pada zaman Jepang, cengkeh berlimpah-limpah, dan tak ada harganya. Rupanya Jepang tak memerlukannya. Yang penting bagi mereka adalah segala kebutuhan mendesak untuk bekal perang. Sebab itu diperintahkan kepada penduduk agar menebangi cengkeh dan menggantinya dengan pohon jarak. Buah jarak diperlu-kan minyaknya untuk bahan pelumas kapal terbang.
Banyak sudah tanaman cengkeh yang terlanjur dite-bang untuk mematuhi instruksi Jepang. Banyak pula bunga cengkeh tak dipetik karena tak berharga, apa gunanya? Tapi untung juga, pohon-pohon yang jauh dari kampung tak ikut tertebang, sehingga saat Jepang telah kabur dari persada ini, pohon-pohon yang tertinggal tetap anggun segar. Karena melihat harganya mulai membaik, penduduk cepat-cepat mengganti jarak dengan cengkeh kembali.
Rata-rata setiap keluarga memiliki sekurang-kurang-nya 100 pohon, sedangkan yang gesit dapat menanam sampai ribuan pohon. Pohon-pohon cengkeh besar, yang berumur 20 tahun ke atas, yang tingginya sampai mencapai 12 depa, atau sekitar 15m dapat menghasilkan 50 kg, sedangkan pohon-pohon baru, yang umurnya 7 tahun-an dapat menghasilkan 1-2 kg. Musim cengkeh selalu dapat dipastikan datang setiap tahun sekali. Musim besar diselingi musim kecil (panyelang).
Pendatang-pendatang datang dan menetap. Mulanya menumpang pada pendatang lama, terasa enak dan untung mereka juga ikut mendirikan gubuk. Para pendatang dari Banten mendirikan gubuk-gubuk bertumpuk dan meman-jang di sisi kali. Meski di pinggir kali, karena di ulu sungai hutan masih lestari, hampir tak pernah terjadi banjir sampai ke perkampungan mereka. Mereka mendirikan suatu kawasan perkampungan di lahan kebon kelapa. Kampung mereka ini dikenal dengan kampung “Brukbuk”. Pada malam-malam tertentu dengan penerangan petromak, diadakan pencak silat, diselingi ludruk. Meski tindak tanduk para pemain nampak lucu, tapi kami anak-anak penonton, sering tak mengerti bahasa mereka. Lama-kelamaan penda-tang makin banyak. Pendatang dari Cirebon membuat perkampungan di bawah pohon kelapa di sisi kali, sekitar 500m arah utara dari kampung Brukbuk yang dikenal dengan Kampung “Cirebon”.
Kelompok pendatang lain berasal dari Minang. mereka sudah setengah menetap, dan mendirikan suatu perkam-pungan di perbatasan Putihdoh dengan Tanjungbetuah. Seperti biasanya mereka datang dengan membawa adat isitadat. Ada guru ngaji, ada pendekar silat, ada guru tari, dan sebagainya. Mereka beranak-pinak di sini dengan aneka pekerjaan yang utama adalah berdagang, mulai dari jualan kelontong, restoran, tukang emas, penjait dan malah ada yang bertani. Anak-anak orang Minang ini, sekolah dan membaur dengan anak-anak di kampung, sehingga mereka lancar berbicara bahasa Lampung. Saya sendiri memiliki banyak kawan anak Padang, di antaranya: Bontet, As-wir, Aswin, Nasrul, Khaidir, Junafri, Sahminan, Arnis, Asni, Kes, Rusmaliar, dan yang paling akrab adalah Sapril (alm). Dari suku-suku lain ada kawan-kawanku Sarman Ali, Rukyani, Ramli dan lain-lain.
Kaum Cina yang cedik dan pandai, selalu berhidung bisnis. Kelompok ini cepat mengendus rezki. Di mana ada kemakmuran di situ dia datang berdagang. Saya tak ingat lagi nama-nama mereka yang ramai, tapi seingat saya di kampung Putihdoh banyak. Malah dulu sekali, di zaman Belanda, mereka sudah datang ke Tengor, suatu pantai teluk sekitar 3 km arah timur Putihdoh. Di Putihdoh kalau seingat saya ada di antaranya: Ting Sun, Cindai, Gu Wan, Sui, Epong, Bo-kiang, dan lain-lain. Saking ramainya Cina, pada hari Imlek mereka mengadakan pawai ke pantai dengan me-nabuh gendrang, dan arak-arakan. Mereka membuat warung berpecar-pencar, ada yang di Lambokh, ada yang di Pekontumbai, dan yang paling banyak di warung panjang Haji Hasan, dekat pasar. Selain menjual kelontong, juga membeli hasil bumi. Ada tukang lukis di atas kaca, membuat nama pemesan sesuai selera. Malah ada yang berdagang di Banjarmanis, jaraknya sekitar 3 km arah utara. Padahal, belum ada kendaraan. Jadi pakai apa dia mengangkut dagangannya dari kuala. Tapi, itulah Cina, dia pasti tak kehabisan akal.
Kecuali pendatang yang telah menetap, ada pula pendatang-pendatang musiman yang tak terhitung banyaknya sebagai pemetik cengkeh, pemborong, pedagang, dan kuli-kuli, baik pria maupun wanita.
Belum lagi hasil panen tahun ini habis, sudah muncul lagi bunga cengkeh yang baru. Tentu saja orang-orang pendatang tak mau baranjak dari sini bila merasakan betapa mudahnya mencari uang. Sebutan orang “cengkeh adalah emas hijau”. Memang waktu itu 1 kg cengkeh dapat dibelikan satu gram emas. Sebab itulah penduduk banyak sekali menyimpang emas. Rata-rata setiap tahun satu keluarga dapat menghasilkan sekitar 500kg cengkeh atau seharga 500 gram emas.
Harga-harga itu berimbang. Sebagai misal dalam tahun 1950-an harga cengkeh berkisar sekitar Rp40,-, beras 1 kg Rp2. Jadi dengan 5 kg cengkeh dapat dibeli 1 kuintal beras. Untuk mencukupi kebutuhan setahun biasanya orang menyimpan padi di lambung. Umpamanya dengan 1/2 kuintal cengkeh dapat disimpan 2 ton padi atau 1 ton beras. Gula harganya 1 kg Rp 4,- sehingga dengan 1 kg cengkeh dapat dibeli gula 10 kg atau lebih. Di tahun 1960-an Abang Haji Tarmizi menawarkan, siapa yang mau membeli 1 drum minyak tanah (sekitar 200 liter) diambil sekarang, dan dibayar 2 bulan kemudian (ketika musim nanti) hanya dengan 5kg cengkeh.
Pada musim besar pernah dicatat di Syahbandar Putihdoh kurang lebih 1.500 ton, sedangkan penduduk tak lebih dari 1.000 KK. Jadi rata-rata pendapatan per kapita 11/2 kg emas per tahun. Ini yang tercatat di Syahbandar, tapi tidak terhitung yang masih tersimpan di masing-masing penduduk.
Harga yang cukup tinggi itu tidaklah sampai menghalangi orang-orang pendatang memungut di bawah pohon. Tanah-tanah di bawah pohon dibabat rumputnya sehingga bersih. Tanah coklat yang bersih itu setiap paginya pada waktu musim tampak menguning dipenuhi cengkeh yang berjatuhan.
Ibu-ibu dan anak-anak yang tidak begitu pandai memanjat mempergunakan kesempatan yang baik ini, memungut cengkeh-cengkeh yang berjatuhan. Yang cepat memungut dapatlah dari pagi sampai sekitar zuhur mengumpulkan setengah sampai satu kilogram. Ibu-ibu tukang masak, sambil memasakkan kuli-kuli pemetik cengkeh, juga mendapat kesempatan memu-ngut dari bawah pohon.
Mencari uang demikian mudah: keadaan waktu musim seperti hujan uang, seakan-akan uang dibuang-buang. Bukankah kalau teledor sedikit saja cengkeh yang berjatuhan akan busuk atau kering, dan berarti terbuang tak berguna? Bila cengkeh diundur-undur waktu memetiknya, akan menyebabkan ia berangsur mekar. Bunga-bunga yang di atas pucuk pohon atau dalam ranting-ranting yang tak tampak oleh mata akan menjadi mekar bila pada waktunya tidak segera diambil. Cengkeh yang mekar akan menjadi kurang mutunya, enteng timbangannya dan murah harganya, lebih-lebih kalau sampai menjadi buah.
Pokoknya asal tidak malas, berjalanlah sedikit menanjak bukit di belakang rumah. Di sana di bawah-bawah pohon bertebaran emas hijau yang segera bisa diuangkan kalau mau. Biasanya anak-anak dapat mengumpulkan satu sampai dua kaleng susu. Kemudian mereka lari ke tukang tadah untuk menjualnya selagi mentah. Ini cara cepat untuk mendapat uang. Tak perlu banyak, yang penting bisa lepas jajan sekali sore, dan besok pagi cari lagi. Memang harganya lebih murah dibandingkan dengan dijual sudah kering. Tetapi anak-anak perlu uang hari ini, bukan besok atau lusa. Untuk jajan apa saja di pasar: mie, bubur, soto, bakso, toge rebus, pisang goreng, kumbu-kumbu, martabak, jeruk, es, cendol dan sebagainya.
Ada juga anak-anak yang malas, tapi mereka perlu jajan. Minta kepada ayah dan ibu bisa saja. Namun, waktu musim cengkeh, kalau anak tak ada uang jajan, berarti malas benarlah dia. Cocoklah kalau ia dikatakan, “Seperti anak ayam di dalam lumbung padi mati kelaparan.” Anak-anak seperti ini bisa mengambil saja dengan diam-diam kepunyaan ayahnya. Bukankah tidak akan ketahuan jika hanya mengambil satu dua kaleng susu dari tumpukkan. Cengkeh basah sama dengan seperlima belas dari harga satu gram emas. Sebab dari tiap-tiap 15 kaleng susu cengkeh basah dapat diperoleh 1 kilogram cengkeh kering. Barangkali bisa sedikit miring harganya karena dijual kepada penadah.
Keadaan di kebun cengkeh amatlah menye-nangkan. Tangga segita yang digunakan untuk memetik cengkeh ditopang puncaknya dengan tongkat yang sama panjang dengan tangga sehingga dengan demikian tangga bertahan, tidak roboh. Tingginya ada yang sampai 10 atau 12 depa, atau sekitar 15 meter. Dari ketinggian itu dapat dipandang laut dengan pan-tai-pantainya yang indah. Pada sisi lain terbentang pematang dan bukit-bukit yang penuh dengan tanaman cengkeh sampai sesayup-sayup mata memandang. Di atas dan di bawah pohonnya orang-orang sangat ramai. Sekali-sekali terdengar pekik melengking orang verte-riak dengan suara: “uuu....!” yang demikian nyaring. Suara itu sambung-menyambung berkepanjangan. Kuli-kuli pemetik cengkeh ingin saja membuat gaduh. Umpamanya selain bernyanyi dan menembang juga memekik-mekik. Untuk membangkitkan kegaduhan terkadang ada yang iseng menjatuhkan kaleng wadah cengkeh. Bunyi kaleng jatuh itu menimbulkan suara gemuruh. Mendengarnya, orang meme-kik. Pekikan yang dimulai dari suatu kebun akan merambat jauh entah beberapa kilometer ke berbagai arah. Alangkah ramainya di kebun, dan masing-masing merasa girang. Bekerja sambil berdendang, bernyanyi atau menem-bang.
Orang yang disebut kaya, diukur dari berapa karung ia dapat menyimpan cengkeh. Cengkeh juga sangat berharga, segala orang mau beli, karena pasti untungnya. Emas misalnya, pada tengah malam mungkin tak ada yang beli, tapi cengkeh, pada pukul tiga dini hari saja, kalau ada yang mau jual pasti ada yang mau beli.
Waktu itu jarang orang mengenal bank, apalagi di kampung. Di kampung Putih yang jauh dari kota ini, orang memerlukan uang kontan, terutama untuk membeli cengkeh dari penduduk. Maka dibawalah uang dengan perahu, bukan pakai tas, tapi dengan goni, sampai ada yang membawanya tiga karung.
Dalam musim cengkeh seolah-olah kampung Putih bagai besi berani yang menarik benda-benda yang mengan-dung besi. Kampung Putih yang terpencil itu waktu musim cengkeh alangkah ramainya. Orang-orang berdatangan lewat darat dan laut. Yang lewat darat tentu jalan kaki, karena belum ada mobil, sedang yang lewat laut dengan perahu motor. Ada yang ingin jadi pemetik, atau pemborong. Tapi yang terbanyak adalah pedagang.
Di waktu malam ada pasar. Bermacam-macam jualan digelar di jalan sepanjang sekitar 600 meter. Sangat ramai dan sesak, sampai-sampai kita tak bisa lewat. Semua memakai lampu petromak sebagai pene-rang. Tentu saja berbagai jualan tersedia, mulai dari beraneka makanan, pakaian pria wanita, anak-anak dan dewasa, pecah-belah, sarung, jam tangan, perhiasan, buku, alat ibadah, kacamata, batu cincin, dan sebagainya. Juga tersedia aneka makanan: mie goreng, nasi goreng, bubur, bakso, pisang goreng, martabak, dll. Tak ketinggalan aneka macam mainan anak-anak menyemarakkan suasana. Penjualnya bisa menggem-birakan anak-anak, tapi kadang-kadang men-jengkelkan orang tua. Sebab kalau tak dibelikan anak-anak akan menangis dan meronta-ronta.
Yang sangat menarik perhatian adalah tukang obat. Ada tukang obat yang memakai jas, yang cas-cis-cus berbicara. Bahasanya kadang tak bisa dimengerti, bahasa sandi, diselingi bahasa asing, Inggeris, Belanda, Jerman, Cina, Arab, dan entah apalagi. Kami anak-anak menonton dengan serius, meski tak paham apa yang diucapkan. Yang kami tunggu, terutama ingin menyaksikan sulapnya. Katanya, dia tak perlu uang, dia hanya ingin menolong orang dewasa, karena itu anak-anak disuruh minggir.
Tontonan silih berganti yang membuat banyak khalayak terpesona. Pernah datang tukang obat yang menyebut namanya Bung Yana. Kecekatannya memakai sepeda satu roda memukau penonton. Kami anak-anak, hampir tak mengejapkan mata, terperangah dan tersulap. Mulanya dia membagikan hadiah berupa handuk kecil dan sapu tangan bagi sepuluh pembeli pertama. Tapi setelah ramai orang membeli isi hadiahnya hanya korek api. Dan yang berhari-hari memasang tenda, adalah Bomo Sakti, yang sakti mengobati berbagai penyakit. Ternyata ujung-ujungnya jual obat. Ujung-ujungnya juga duit.
Saya agak terheran-heran bagaimana susahnya penjual es membawa balok es dari kota dengan menempuh laut berjam-jam. Tapi ada saja orang mau bersusah-susah, karena pasti untungnya, dan pasti lakunya. Maka di kampung yang terpencil ini kami anak-anak mulai menyak-sikan hal yang aneh-aneh, umpamanya bagaimana membuat es putar, membuat es lilin, membuat cincau, berondong jagung, bagaimana membuat sutra manis, dan yang aneh lagi, balon yang dapat terbang. Semua mesin produksinya dibawa berpayah-payah dari kota melalui laut.
Uang berlimpah. Dan ada yang membantingnya kalau sedang marah. Jika terjadi selisih paham, debat sudah memuncak, ada yang menantang, mari kita menggantang uang. Siapa yang lebih banyak?
Bagi orang yang tak pandai menggunakan uang segala jualan yang dilihatnya menjadi kebutuhan. Oleh sebab itu mereka berlomba membeli apa saja, selagi uang ada: pakaian-pakaian mewah: sarung, celana, baju, sepatu, sandal, jam tangan, radio, perhiasan, tas jinjing Ecolak dan sebagainya. Harganya pun tidak tanggung-tanggung. Semua berusaha supaya apa yang dibelinya tidak lebih murah daripada yang dibeli orang lain. Paling hebat dan wah! Yang murahan jangan dibeli! Gengsi! Oleh karena itu para pedagang pun tahu diri, mengetahui situasi. Mereka datang membawa barang-barang mahal.
Di sini martabat seseorang nampak diukur dengan penampilan; pakaian yang dikenakan: jam Rolex, Mido, Rado, Seiko, sarung sutra Tajung, Samarinda dan Bugis. Bukan kepalang, segala serba baru. Bukankah sehelai sarung Samarinda harganya sama dengan sepuluh sampai lima belas sarung plekat? Tapi orang di sini lebih suka beli satu yang mahal daripada sepuluh yang murahan. Yang mahal tentu baik mutunya.
Para pemuda memamerkan kemewahan dengan pakaian: celana dari bahan woll, sarung Samarinda atau tajung sutera made in Palembang. Dipadu dengan kopiah, jam tangan Mido atau Rado, cincin emas bermata kecubung, zamrud, atau merah delima. Dan di kantong bajunya yang berbahan transparan, yang dikenal dengan anti gosok, terselip uang, yang paling depan yang nampak dari luar, lembaran kertas paling besar sepuluh ribuan. Sedang di bagian dalam ratusan atau ribuan saja. Kantongnya itu nampak begitu penuh, ditambah lagi dengan pulpen yang kuning keemasan, sedikitnya dua buah. Lenggang pun sudah tak lagi seperti biasa, kalau perlu dibuat-buat. Untuk lebih mempertinggi gengsi, sarung Samarinda yang mahal dipakai untuk tiduran di langgar atau di amben warung dan memakai saja jam tangan otomatis yang anti air waktu mandi.
Gadis-gadis tak ketinggalan, memborong bahan-bahan pakaian kebaya dengan nama-nama jenis kain yang diberikan oleh angku-angku penjual seperti Pagar Irian, Impala, dan entah apa lagi namanya. Selendang sutera, dan sarung atau kebat (jarik) batik dari Solo. Semua yang berkualitas bagus. Yang tak bagus tak laku. Prinsip bujang gadis di sini, biar satu biji, asal dapat dipuji, “wah!”
Ibu-bu lain pula, kecuali menumpuk-numpuk perhias-an, dan bahan-bahan baju, selendang, dan sarung, juga memborong alat-alat dapur yang lengkap: piring, gelas, talam, periuk dan wajan dari yang terkecil sampai yang bergaris tengah semeter. Gengsi ibu-ibu tak boleh kalah, pecah-belah dan alat dapur harus komplit. Jangan sampai meminjam kalau hanya mengadakan pesta kecil. Akan tampak harga diri bila suatu ketika mengadakan pesta besar, mau membuat juadah atau wajik, kuali besar tak perlu pinjam. Atau lebih terpuji dapat meminjamkan kepada orang yang memerlukannya.
Pesta atau ngamin, merupakan suatu kebanggaan di samping pergi haji berkali-kali. Si anu pesta menyembelih 1 ekor kerbau, si anu menyembelih 3 ekor, si anu 7 ekor, dan yang paling hebat si anu, Raden Anu, Raja Anu menyembelih 12 ekor. Pesta perkawinan, sunatan, membuat orang banyak berbahagia. Di sini saatnya memamerkan kekayaan, dan sarana naik pangkat para pemuka adat: dari mas, kimmas, raden, minak, raja, dalom, batin, sampai pangeran.
Kemakmuran yang luar biasa ini terkadang menya-darkan orang-orang yang berpikiran luas, jangan-jangan ini adalah cobaan, tes Tuhan, apakah penduduk mau bersyukur atau kufur? Karena, dilihat dari cara penduduk bertani mengurus tanaman cengkeh umpamanya, kalau tak boleh dikatakan malas, hanya dikerjakan setengah hati. Cobalah kita pergi ke kebun cengkeh ketika tak sedang musim. Kita akan melihat semak-semak dan akar “seruni laut” menyelimuti pohon, bukan hanya sampai ke pokok pohon, malah sudah melilit sampai ke puncaknya. Si empunya baru memeriksa ketika mulai melihat bunganya, barulah dia panggil pekerja untuk membabat rumput. Kalau melihat caranya, mengapa cengkeh masih juga berbunga? Agaknya tidaklah sesuai dengan anugerah Tuhan yang berlimpah-limpah itu.
Kemakmuran buah-buah-an dan sayur mayur juga bukanlah sepenuhnya hasil jerih payah si empunya. Keba-nyakan si petani menerima warisan dari ayahnya, ayahnya menerima dari kakeknya. Pohon-pohon durian atau duku mengapa hanya tumbuh sepohon, dua pohon di pinggir kebun cengkeh? Mungkin dulu ketika berladang, ada biji yang dilempar di situ dan tumbuh, tidak sengaja ditanam. Tidak seperti repong, kebun buah yang sengaja ditanam untuk anak cucu.
Orang-orang yang pandai menggunakan uang, tidaklah begitu ceroboh. Dibelinya barang-barang atau keperluan-keperluan mendesak. Sedang barang-barang yang kurang penting ditangguhkannya. Pada waktu musim cengkeh memang segala jualan tersedia. Akan tetapi kebiasaan itu dapat mencekik batang leher sendiri bila datang peceklik. Musim yang datang setahun sekali harus melewati masa ini. Beberapa bulan lepas musim, cengkeh sudah habis terjual. Malah ada yang sudah habis ketika musim masih berlang-sung, padahal harganya murah karena cengkeh banyak tersedia.
Pada saat-saat prihatin inilah kebutuhan mendesak datang mengancam. Tidak boleh tidak, umpamanya untuk kebutuhan pangan harus dipenuhi. Beruntunglah mereka yang menyediakan padi di lumbung, tetapi yang tak punya, lain perkara. Sayang barang-barang mahal yang dimiliki, sulit untuk diuangkan kembali. Harganya tentu jatuh, nyaris tak laku lagi dijual. Akhirnya, daripada tidak makan, lebih baik jual barang-barang selakunya: jam tangan, radio, tape recorder, dan barang-barang lain dijual dengan harga murah.
Keadaan ini merupakan kesempatan besar bagi rentenir. Mereka selain berpikir luas, juga licik. Hasil cengkeh pendapatan musim disimpan dengan tangan ter-genggam. Hati-hati benar membelanjakannya. Tidak semba-rangan barang mau dibeli. Tatkala rata-rata penduduk menghadapi peceklik, harga cengkeh berjingkrak-jingkrak layak orang gila, turun naik dengan leluasa. Tak ada kabar yang pasti, kecuali beberapa gelintir antek Cina, orang-orang kaya di desa, sebagai agen atau toke yang tahu harga. Maka tatkala harga terdengar naik, orang desa yang masih menyimpan cengkehnya segera membawanya ke kota. Tapi terkadang sesampai di kota tanpa dinyana sekonyong-konyong harganya jatuh. Kasihan, mau dibawa pulang kembali, tentu ongkosnya pun banyak. Akhirnya dijual jugalah di sana. Namun masih terhitung beruntung ketim-bang dijual waktu musim. Barangkali harganya mencapi dua kali lipat atau lebih. Setelah mengantongi uang banyak, dengan langkah angkuh si penjual segera kembali ke desa.
Pada waktu dan saat yang tepat penduduk mem-butuhkan bantuan, maka laksana ratu adil yang ingin menyelamatkan umat, seorang menyebarkan berita: “Ada orang yang berkenan mengulurkan pertolongan dengan suka–rela, tidak memaksa! Boleh pinjaman uang sekarang, dibayar musim nanti”. Berarti cengkeh yang akan dibeli boleh ditunda penyerahannya dengan pembayaran kontan. Akan tetapi, siapakah yang amat berbaik hati, menolong tanpa ada udang di balik batu? Adalah mental si lintah darat, pengisap darah! Setiap sen yang keluar dari kantong harus diperhitungkan dengan sekian keuntungan.
Jadi, yang berhajat boleh memilih dengan kemauan sendiri: menerima uluran tangan si lintah darat atau menolak. Tapi kebutuhan terus mendesak untuk dipenuhi. Lalu, antara terpaksa dan jengkel di diterima jugalah pertolongan itu. Dengan senyum getir si peminjam mengan-tongi uang panas. Si pemberi piutang terang saja berlaba berlipat ganda. Akan tetapi, tatkala musim tiba, saat utang itu harus dilunasi, ternyata tak dapat dibayar selurunya. Barangkali pula tak dapat dibayar sama sekali, karena berbagai alasan. Dengan pura-pura menyesal si rentenir memberikan pilihan: bayar sekarang atau nanti. Tapi penundaan ada harga-nya sendiri. Satu kilogram yang tak terbayar di tahun ini, bila dibayar di musim depan, bisa dirumus satu berbanding tiga atau satu berbanding empat. Begitulah seterusnya utang tersebut anak-beranak berlipat ganda.
KEHIDUPAN BERAGAMA
Kampungku yang terpencil ini acapkali dijuluki orang dengan “Kampung Santri” atau kadang-kadang disebut “Mekkah Kecil”. Julukan pertama karena mungkin banyak santri yang datang dari kampung-kampung seberang dan pakaian masyarakat di sini yang khas layak santri, yaitu bagi pria mulai dari umur 7 tahun sampai kakek-kakek memakai sarung dan kopiah. Dan bagi wanita sejak umur 9 tahun telah memakai kebaya, sarung dan selendang. Mekkah Kecil? Sebutan ini agaknya berlebihan. Mungkin karena begitu banyak-nya masyarakat yang telah melaksanakan ibadah hajji dan memakai kopiah putih.
Kedua julukan menunjuk kepada eratnya hubungan kehidupan masyarakat dengan agama. Keadaan ini merupakan buah jasa dari pemuka-pemuka agama terdahulu. Eratnya kehidupan penduduk dengan aturan agama memang dibina sejak dini. Anak-anak kecil telah belajar mengaji. Di kala mengaji di tingkat dasar itu, setiap hari Jum’at mereka diajarkan pula doa-doa shalat dan sekali-sekali disertai praktek. Oleh karena itu bagaimana pun merosotnya akhlak anak-anak dan remaja, akan kembali ketika diingatkan kepada ajaran agama.
Pada waktu-waktu di luar jam mengajar di MPI, Kiyai Haji Zahruddin Dahlan membuka pengajian untuk bapak-bapak selepas shalat shubuh dan ada juga di waktu malam. Khusus untuk ibu-ibu dilaksanakan malam Selasa dan malam Kamis. Majelis ta’lim yang didirikannya itu meng-ajarkan masalah-masalah ringan tentang praktek ibadah dan pergaulan sehari-hari, seperti sopan santun kepada suami dan tetangga yang damai dan harmonis.
Dalam pengajian tentang tata-pergaulan itu biasa diselipkan ajakan dan himbauan untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, umpamanya dengan ver-puasa Senin-Kamis dan puasa-puasa sunnat lainnya. Ibu-ibu juga diajak untuk melakukan shalat sunnat serta banyak membaca wiridan, seperti: membaca Qulhu sebanyak sepuluh ribu kali, shalawat seratus ribu kali, tasbih, dan seterusnya dengan jumlah yang telah ditentukan. Disam-paikan juga bahwa Nabi Musa memperingatkan kepada Nabi Muhammad SAW ketika Isra Mi’raj agar ummatnya dihim-bau untuk banyak-banyak menanam tanaman syurga. Tanaman itu ialah berupa: tasbih, tahmid, tahlil dan takbir, yaitu: “Subhanallah wal hamdulillah wala ilaha-illallah wallahu akbar”.
Kepada murid-murid MPI pernah pula digalakkan untuk berlatih diri yang paling mengesankan adalah puasa 40 hari berturut-turut dengan hanya berbuka air putih dan nasi putih tanpa garam. Murid-murid yang megikuti latihan itu nampak begitu lemah, badannya kurus kering dengan bibir yang pecah-pecah. Empat puluh hari puasa dengan cara yang demikian itu bukanlah waktu yang singkat; hari-hari dilalui dengan tenaga yang lunglai, namun iman di dada tetap tegar bagai karang.
Penggalakan himbauan untuk meningkatkan ibadah terjadi pula di tahun-tahun kritis, seperti tahun 1960-an ketika terjadi kemarau panjang 7 bulan yang merata secara nasional. Dimana-mana kekurangan pangan: Presiden Soekarno di dalam pidatonya yang panjang pada tanggal 17 Agustus lewat radio menghimbau agar rakyat mengen-cangkan tali pinggang, hidup prihatin! Kalau tak ada beras kita janganlah menolak jagung. Tapi sayang, jagung juga sudah langka, maklum jagung bukan makanan pokok, jadi tak banyak orang menyimpan, sedang padi di lumbung pun sudah habis. Maka penduduk mencari apa saja yang masih bisa dimakan. Gadung yang tumbuh liar di hutan diambil dan diolah pengganti nasi. Mulanya memang enak, tetapi kalau perut kenyang kepala menjadi pening dan mabuk. Ada juga sebagian penduduk menebang pohon rumbia, lalu sagunya diambil pengganti nasi.
Bukan main cobaan yang menimpa rakyat, ada yang sudah berhari-hari tidak makan, dan kalau keadaan musim peceklik seperti itu, perut lapar dapat membuat seseorang nekad dan matanya menjadi gelap, maka ia akan melakukan apa saja asal dapat menebus lapar.
Ketika itulah himbauan Kiyai menjadi obat. “Ini baru sebagian kecil hura-hara kiamat,” katanya, “...kita mesti lebih mendekatkan diri kepada Allah...” Maka penduduk tua-muda melakukan puasa, dan subuh buta telah bangun untuk melakukan shalat berjamaah di Mesjid Agung. Waktu itu Haji Arban, sang marbot pada pukul empat dini hari atau sebelumnya telah keliling menabuh kentungan, yang membangunkan penduduk dari anak-anak sampai dewasa. Maka penduduk berbondong-bondong ke mesjid, melakukan shalat sunnat, wirid dan shalat berjama’ah. Suasana, memang terasa akan kiamat. Kami anak-anak waktu ke sekolah SR (Sekolah Rakyat) banyak yang membawa tasbih, membaca wiridan.
Kehidupan penduduk yang erat kaitannya dengan ajaran agama nampak pula dalam minat yang tinggi untuk menunaikan ibadah hajji. Setiap tahun berpuluh-puluh orang berangkat ke Mekah. Pergi Haji merupakan puncak cita-cita dari sebagian besar penduduk, karena pergi haji adalah rukun Islam yang kelima. Rasanya belumlah sempurna Islam kalau meninggal dunia belum menjadi haji. Tetapi biasanya, pergi haji itu dilakukan kalau kepentingan-kepentingan yang dipandang lebih mendesak telah dipenuhi, seperti mendirikan rumah dan telah menikah. Maka pergi haji kadang-kadang dipandang juga sebagai penampilan status sosial. Gelar haji bagi seseorang, biasanya mengan-dung arti bahwa ia telah mempunyai tingkat ekonomi yang baik dan melaksanakan ajaran agama dengan sempurna.
Pergi haji memang diperintah oleh Allah. Di dalam Al-Qur’an surat Al-Hajj ayat 27-28 disebutkan bahwa panggilan untuk berhaji itu akan disambut oleh manusia dari segala penjuru dunia. Manusia yang memenuhi panggilan itu akan mendapatkan manfaat yang besar dan dapat menyaksikan berbagai pengalaman baik di tengah perjalanan maupun di Tanah Suci. Pergi haji juga mempunyai faedah agar seseorang tidak bertingkah laksana “katak dalam tempu-rung”. Ketika seseorang, merasa menjadi orang terkaya di kampungnya, ternyata kekayaan itu belumlah seujung kuku dari rezeki yang telah diterima orang lain. Begitu juga ketika seseorang yang merasa paling banyak ilmunya, paling mulia kedudukanya di kampungnya yang sempit, akan terbuka matanya tatkala disaksikannya orang-orang besar, ulama, ilmuwan, jenderal, menteri, raja dan siapapun dengan beraneka gelar kedudukan dan kemuliaannya, semuanya bersimpuh ke ribaan Ilahi dengan kedudukan yang sama, memakai pakaian yang serba putih. Mereka semua tetap merasa rendah hati, tanpa menyombongkan diri.
Ketika itu pergi haji masih melalui laut. Biasanya untuk menunaikan ibadah haji memakan waktu 4 sampai 6 bulan. Kapal laut seperti Cokroaminoto, Setiabudi, Beleabito, menempuh jarak Palembang-Jeddah selama 12 hari, belum lagi ditambah hari-hari menanti di kapal. Berangkat bulan Sya’ban dan pulang bulan Haji atau Muharram. Oleh karena itu keberangkatan jemaah haji seringkali diiringi derai air mata kesedihan, seolah-olah kepergian itu tidak akan kembali lagi. Dan kenyataan yang terjadi, memang ada beberapa jema’ah yang wafat dan dimakamkan di Tanah Suci. Kecuali perasaan rindu, juga rasa was-was akan keselamatan dan kesehatan mereka. Untuk memohonkan keselamatan baik keluarga yang diting-galkan maupun keluarga yang sedang menjalankan ibadah haji, setiap malam Jum’at keluarga mengadakan selamatan; meng-undang tetangga sekitar untuk memanjatkan doa.
Waktu mengantar haji penduduk berbondong-bon-dong ke pantai, tempat perahu motor berlabuh. Setelah para calon hajji naik ke perahu berikut para pengantarnya yang akan melepasnya di Palembang, perahu motor itu berputar-putar tiga kali di laut teluk sambil melambaikan kain dan apa saja. Pengantar di pantai membalas lambaian itu dengan rasa pilu, dan mereka baru bubar setelah perahu motor itu menjauh ke samudera biru.
Ketika kembali dari Mekah, para haji itu juga dijemput dari Palembang. Dan saat di kampung diterima di pantai Laut Teluk, tempat perahu motor berlabuh dengan rasa suka bahagia. Para hajji baru itu memakai pakaian khas Arab, bersurban yang diikat dengan iqal (pengikat surban di kepala) yang berwarna kuning keemasan. Selain surban dipakai juga jubah mewah dengan rompi yang diperciki minyak wangi hajar aswad yang semerbak. Para penyong-song berjabatan tangan dan merangkulkan leher ke kanan dan kekiri, sambil mengucap salam kegembiraan dan kesyukuran. Sedang keluarga jema’ah sibuk membawa dengan memikul dan menjinjing oleh-oleh yang dibongkar dari perahu, berupa: air zam-zam, kurma, ambal, dan cen-deramata lainnya.
Para Haji di Kampungku
Para hajji di kampungku yang hidup sejak tahun 1960-an sampai tahun 1980-an, antara lain:
Dari Pekon Lambokh: H. Anshari dan isteri, H. Zuhri dan isteri, H. Yamin dan isteri, H. Abdul Latif dan isteri, H. Yusuf dan isteri, H. Imran dan isteri, Haji Mansur dan isteri.
Pekon Masjid: H. Khairuddin, H. Muhammad Shoto’ dan isteri, H. Bukhari dan isteri, H. Nahrawi dan isteri, H. Makmun dan isteri, H. Mu’in dan isteri, H. Bintang Padoman dan isteri, H. Marzuki dan istri, H. Siraj dan isteri, Haji Hadhori dan isteri, H. Murad dan isteri, H. Jamauddin dan isteri, H. Marhasan, H. Abu Yamin dan isteri, H. Latif dan isteri, H. Mahmud dan isteri, H. Taufik Abdullah, H. Sayuti, H. Samin dan isteri.
Pekon Panyandingan: H. Jalaluddin dan isteri, (Ayah H. Jalaluddin), H. Basri dan isteri, H. Damanhuri, H. Nas-ruddin dan isteri, H. Saifullah dan isteri.
Pekon Sambekhangan: H. Shobirin (ayah Saikhun); H. Syafi’i dan isteri, H. Kakhanggom (ayah H. Syafi’i), H. Kurdi dan isteri,H. Maturidi dan isteri, H. Syuhada’ dan isteri, H. Syairazi, H. Munir dan isteri, H. Hamdan, Hj. Helwani, Hj. Asnah, H. Usman, H. Pakhabut, H. Tirmizi, Hj. Masinah, H. Ilyas.
Pekon Sinarjaya: K.H. Zahruddin dan isteri, K.H. Muflih Ilyas, Ust. H. Taslim dan istri, Ust. H. Muslim dan isteri, H. Zaedi dan isteri, H. Anwar, H. M. Ilyas, H. Agus Salim, H. Rahmat, H. Abdul Mu’thi; H. (Tamong Tambat), H. Nishomuddin.
Pekon Sukajadi: H. Azhar, H. Hasan dan isteri, H. Muhibullah dan isteri, H. Faizul dan isteri, H. M. Shiddiq, H. Abdul Wahid, H. (ayah Syahruddin), H. Mursidin, H. Abu Hasan, H. Bahri, H. Abdul Hamid dan isteri, H. Kornaini, H. Marbawi, Haji Daud, H. (ayah Abd Karim), H. Yahya.
Pasar Johar Baru: H. (Kekek Hunzier), H. Syarifuddin dan isteri, Hj. Siti Amnah, H. Zubaidi dan isteri, H. Qusairi, H. Hasbi, H. Tamimi, H. Kamaruddin, H. Syamsuddin, H. Zainuddin dan isteri.
Pekon Sabah: Haji Rahim dan isteri, H. Nawawi dan isteri, H. Khalid dan isteri, H. Junaidi isteri, H. Moh. Yasin dan isteri, H. Alfian dan isteri, H. Mu’in dan isteri, H. Diauddin, H. Idris dan isteri, Hj. (Ibu Iskandar), H. Iskandar, H. Asnawi, H. Muzanni, H. (ayah Yuhanna), H. Moh Suud dan isteri, H. Najamuddin dan isteri, H. Mulkan dan isteri, H. Khairullah dan isteri, H. Ahya, H. Syukur dan isteri.
Pekon Tumbai: H. Asis, H. Sirajuddin dan istri, H. Mukhtar dan isteri, H. Bainuri dan isteri, Haji (ayah Bainuri), H. Khasif, H. Abu Hurairah, H. (ayah Zaidadri), H. Zahruddin, Haji A. Bahrazi, Haji Fathullah, Haji Mursani.
Haji baru: Drs. H. Musnad Khazin, H. Zulyai, H. Zedri; H. Nasyamin, H. Muhtazir, H. Zulqarnain, Dr. H. Aminullah, MA, Hj. Fakhriyah, Hj. Marwani, H. Ubaidillah, Drs. H. Sayuti Zuhri, H. Herni, H. Aisar dll.
ADAT- ISTIADAT
Dengan kepatuhan terhadap ajaran agama sebenarnya sudah memadai untuk membuat masyarakat menjadi teratur dan damai. Tetapi lebih dari itu, di kampungku sebagai wilayah RI ada perangkat pemerintah yang mengurus berbagai masalah yang ada hubungannya dengan negara, seperti Camat, Kepala Pemerintahan tingkat kecamatan yang terdiri dari kampung-kampung.
Yang agak unik, dan sedikit ingin kuceritakan di sini, di samping pemerintah RI yang dikepalai Camat ada pula pemerintahan adat. Wilayah kecamatan dalam pemerin-tahan adat terdiri dari marga-marga. Marga atau keban-daran yang terdiri dari kampung-kampung dikepalai oleh seorang Kepala Marga. Tiap kampung biasanya dikepalai oleh seorang kepala adat yang disebut Sabatin.
Kebandaran yang berada dalam wilayah Kecamatan Cukuh Balak ini, ialah: Kebandaran Putih terdiri dari 7 sabatin, yaitu: Kedaloman, Pekontengah, Gedung, Manda-wasa, Tanjungbetuah, Banjarmanis, dan Bandakh Unggak. Asal-muasal pemerintahan adat di sini, adalah dari keturun-an bangsawan Kabuai Samenguk Mikhadatu, Skalabekhak.
Yang mula-mula datang ke Putih adalah 5 saudara, yaitu: Dalom Pamotokh Jagat, Minak Sinahu, Raja Singga-nung, Tapak Gubang, dan Tedung Pambosokh.
Kira-kira 8 Km dari Putih ke arah Barat terdapat dua kebandaran yaitu Kebandaran Badak dan Kebandaran Limau. Kebandaran Badak, terdiri dari satu bandar dengan didukung beberapa sabatin yang telah berpindah ke lain kecamatan. Kini yang masih tetap pada kebandaraan tersebut hanya satu sabatin, yaitu Sabatin Badak. Kebandar-an ini didirikan oleh 3 saudara yang berasal dari Olok Pandan Skalabekhak. Tiga saudara tersebut ialah: Raja Bandakh di Badak, Batin Pangeran di Wayawi dan Panjukhit Agung di Tanjung Agung, Wayawi. Menurut catatan dengan tulisan Lampung Kuno, kebandaran ini berdiri pada tahun “Sapeku Pak Likokh Tahun” (1042), sedang Islam diper-kirakan masuk pada tahun 1549.
Kebandaran Limau terdiri dari 5 sabatin, yaitu Padangkhatu, Gununghaji, Tegineneng, Padangmanis, dan Sukanegekhi. Yang mula datang mendirikan kebandaran ini ialah Pangeran Raja Bungsu Dewa. Ia berasal dari Kerajaan Skalabekhak Lampung Barat. Pangeran ini mempunyai dua saudara: Pangeran Kakhai Handak mempunyai keturunan yang tersebar di daerah Bengkulu, dan seorang lagi Pangeran Pugung Tampak tersebar di daerah Pugung, Krue Lampung Barat.
Kebandaran lain berada di sebelah timur Putih, yaitu Kebandaran Pertiwi dan Kebandaran Kelumbayan. Keban-daran Pertiwi terdiri dari Bandakh Ungguk yang mempu-nyai 5 sabatin yaitu Sukakhaja, Kejadianlom, Kejadianluah, Banjakhnegekhi, Sukadana. Sedang Kebandakhandoh terdiri dari 4 sabatin, yaitu: Tanjungjati, Tanjung-khaja, Suka-padang dan Waykhilau. Yang mula datang mendirikan kebandaran ini ialah Bedaspati, dari Kabuai Skha, Skala-bekhak.
Kebandaran Kelumbayan terdiri dari 1 bandar, berasal dari Kabuai Gagili Skalabekhak. Yang mula-mula datang ke daerah ini ialah Tuan Raja Akuan dan Raja Pamuka.
Sebelum ada pemerintahan RI, aturan adat yang diwariskan secara turun temurun sangatlah berperan. Sayang, baik aturan adat, maupun sejak kapan mula diperlakukan hukum adat di sini tidak tercatat. Menurut seorang kepala adat diketahui bahwa ada 98 fasal peraturan adat yang pernah ditulis, tapi karena rumah adatnya terbakar, catatan-catatan tersebut sudah menjadi abu.
Aturan-aturan adat itu berkisar pada: Pengangkatan nama kepala adat dan perwakilan-perwakilannya. Yang berhak mengangkat Panyimbang Batin atau Kepala Sabatin adalah Kepala Pandia Pakusakha (Kepala Kebandaran).
Pangkat-pangkat dalam adat itu untuk pria, yang tertinggi adalah: Sultan kemudian dibawahnya secara berjenjang berturut-turut: Pangeran, Ratu, Dalom, Batin, Raja, Raden, Minak, Kimmas dan Mas. Sedang pangkat untuk wanita dari yang tertinggi ke bawah: Ratu, Batin, Raden, Minak, Inton dan Mas.
Adat juga mengatur penggunaan tanah. Mulanya, ketika kepala-kepala adat itu datang, tanah masih berupa hutan. Jadi mereka (Kepala Adat)lah yang membuka tanah tersebut dan menguasainya. Setelah mereka beranak pinak, Kepala Adat membagi-bagi tanah tersebut kepada anak-cucunya (penduduk) yang sudah berkeluarga berupa tanah lahan untuk menegakkan rumah, tanah kebun atau sawah dan tanah untuk lumbung. Ketika itu Kepala Adat sangat memperhatikan kehidupan dan kesejahteraan rakyatnya, yang diimbangi dengan pengkhidmadan dan ketaatan rakyat kepada atasannya. Tetapi setelah penduduk agak padat dan masuknya penduduk-penduduk dari luar, terjadi perubahan-perubahan sehingga perpindahan hak tanah dan penggu-naannya mulai diperjual belikan.
Aturan-aturan adat yang lain berupa pengaturan cara perkawinan, kewarisan, sopan santun dalam pergaulan sehari-hari dan yang agak terperinci adalah pengaturan bujang-gadis (lihat Sejarah Ringkas Perkembangan Hukum Adat Bandakhlima Kecamatan Cukuhbalak, MRP, 2008).
SEKOLAH RAKYAT (SR)
Anda masih ingat kampung kami yang mewah, kemakmurannya yang melimpah? Tentulah gedung se-kolahnya juga mewah, terbuat dari beton bertingkat, dinding dari tembok yang berwarna kuning gading, atap genteng kodok, pintu jendela dari kayu merbau yang dipelitur coklat tua, lengkap dengan perpustakaan, dan ruang guru dengan kursi, dan mebel. Para gurunya adalah orang-orang muda yang cerdas dan ganteng, berkecukupan tak kalah mewah dari penduduk yang bergelimang uang.
Oh Ilah, benarkah? Ketika Anda membayangkan ini, saya menitikkan air mata jadinya untuk melu-kiskannya kembali. Tentulah Anda akan heran mendengarnya. Sangat tidak masuk akal. Ketika orang-orang membanting-banting uang kalau marah, ketika mereka berlomba membeli barang-barang mewah, ketika mereka berlomba-lomba mengada-kan pesta, ketika mereka berkali-kali pergi haji, ketika seorang saudagar pernah bercerita menjual cengkeh sehari seratus karung, ketika seorang saudagar menyimpan sepuluh ton cengkeh sampai musim berikutnya, adakah sebongkah sedekah? Adakah terbersit secercah ketulusan untuk beramal? Infak atau amal jariyah? Itulah yang tak masuk akal terjadi!
Maaf, tidak demikianlah gedung sekolah itu. Dinding-nya terbuat dari gedek atau bambu yang dianyam. Atapnya seng yang berloteng gedek pula. Lantainya semen yang bolong-bolong, hingga hampir lebih banyak bolongnya daripada plesterannya. Sekolah Rakyat (SR) warisan zaman Belanda itu begitu menyedihkan. Sampai robohnya tak seorangpun yang peduli. Ukuran gedung SR tersebut kira-kira 10 kali 20 meter yang dibagi menjadi dua ruangan. Satu ruangan sebelah barat dan satu lagi di sebelah timur. Kedua ruangan itu digunakan untuk seluruh kelas secara bergantian. Kelas 1 dari Jam 07.30 sampai 09.30 di ruangan sebelah barat. Ruang yang sama dari jam 10.00 sampai jam 12.00 digunakan kelas II, sedang kelas III di ruang sebelah timur.
SR yang hanya sampai kelas III ini begitu sesak, tidak ada fasilitas. Bangku-bangkunya panjang yang memuat sekitar 5 – 6 orang. Meja-mejanya tak jelas lagi warnanya, coklat atau hitam karena penuh coretan dan goresan. Di bagian depan meja terdapat 2-3 lobang sebesar telur untuk menempatkan tinta, tapi tak pernah dipakai karena para murid memakai pensil, tidak memakai pena.
Di depan ada papan tulis lebar, dan di dinding persis di atas papan tulis ada foto Presiden Soekarno berkopiah sambil memegang badik. Foto itu sering kucontek, tapi tak pernah berhasil bagus, karena warnanya kabur antara kuning kecoklatan dan hitam keabu-abuan.
Halaman sekolah jika hari hujan amat becek. Rumput di halaman itu dicabuti hingga rata. Tanah merah di sini bila tersiram air mendadak menjadi lumpur. Untuk meng-hubungkan sekolah dengan jalan raya dibuatlah koridor, yaitu jalan kecil. Sisi kanan dan kiri koridor ditanami bunga yang beraneka warna. Sedang di tengahnya disusun koral, sehingga koridor itu lebih tinggi daripada halaman. Adanya koridor membuat halaman tampak lebih sempit karena terbagi dua. Saat tidak hujan anak-anak bermain dan bersenda-gurau dengan gembira, berkejaran dan tertawa. Ada yang bermain kasti, dan ada pula yang bermain banda. Kadang-kadang anak yang berlari-lari itu bertabrakan satu sama lain karena amat ramainya.
Pada bagian belakang sekolah terdapat jurang disam-but oleh Lubuk Binting yang hitam karena dalam. Semak-semak yang agak angker terjuntai ke permukaan lubuk. Tebing-tebing yang curam itu diperkuat oleh beberapa pohon besar, pohon kayu “khangsana” dan lain-lain. Sebelah barat sekolah terdapat Kantor Marga, tempat Asisten Wedana dan Kepala Negeri berkantor. Sekolah dan kantor dipisahkan oleh pagar kawat berduri. Tapi anak-anak sering menerobos pagar untuk memintas jalan karena di depan kantor bermacam jualan gendong mangkal. Ada penjual bubur, toge rebus, es cendol, cincau dan sebagainya.
Pada tahun ajaran baru anak-anak berbondong-dondong mendaftar untuk masuk sekolah. Tak perlu diantar oleh orang tua, tak perlu pula membawa uang pendaftaran. Datang saja ke sekolah guru akan men-catatkannya dalam nomor stambuk. Seluruh anak sekampung Putih bisa ditampung dalam satu sekolah yang hanya sampai kelas III itu. Saya ingat kami berangkat ke sekolah bersama-sama: Darmawi, Sayuti, Ahyad, Zuhmin dan saya. Sesampainya di sana anak-anak sudah ramai. Guru Rasyid duduk di kursi menghadap meja, tepat di ambang pintu. Anak-anak bergilir mencatatkan diri kepada guru.
Kami didaftar secara berurutan menurut nomor stambuk. Saya hapal nomor stambuk (STB) kam: Sayuti (439), Ahyad (440), Zuhmin (441), Ihsani (442), Darmawi (443) dan saya (444). Dalam membagikan buku pekerjaan yang telah diperiksa guru, bukan nama yang disebut tapi nomor stambuk.
Mengenang masa sekolah rakyat memang amat mengesankan. Banyak yang perlu diingat, tapi banyak pula yang sudah terlupa ditelan masa. Keadaan sekolah, guru-gurunya, kawan-kawan sebaya, mengembalikan kenangan masa silam yang mengasyikkan.
Tentang guru-gurunya meski setiap hari nampak ceria saja, namun cukup menyedihkan. Tempat tinggal mereka masing-masing berupa gubuk reot dengan fasilitas seadanya. Mereka rata-rata pegawai negeri, yang tentu gajinya kecil. Di kampung kami waktu ini hampir tidak ada yang tertarik untuk jadi PNS, karena melihat orang-orang yang bekerja di Kantor Kecamatan atau Kantor Negeri termasuk guru-guru, kesejahteraan mereka tergolong minus.
Pertama Guru Usman mengajar kelas satu, berasal dari Pulau Tabuan. Konon kabarnya dia datang dari daerah Krue Lampung Utara. Setiap pagi dia berangkat menempuh jalan panjang sekitar 1 km dari tempat tinggalnya di kampung Lambokh. Langkahnya lebar dan lurus tanpa menoleh kiri kanan. Metode mengajarnya serius, dengan kacamata plusnya yang tebal. Anak murid yang nampaknya kurang cerdas disu-ruhnya ke depan kelas, membaca atau mengerjakan berhitung. Anak-anak yang seperti ini, karena juga gemetar dan takut, setelah mencoba dua tiga kali tak bisa, akan membuat guru marah, dan acapkali menjadikan guru menggunakan tangannya, anak yang bengal menjadi bulan-bulanannya, kepalanya ditekankan ke papan tulis dengan keras. Dan kalau sudah begini, kami sekelas menjadi takut. Tapi karena guru serius mengurus anak di depan kelas ini, anak-anak lain yang bandel, diam-diam sering keluar kelas, kadangkala tak masuk lagi.
Guru Abdur Rasyid mengajar kelas II. Dia agak menyenangkan dan tidak mudah marah. Cara mengajarnya mudah dipahami dan kadang diselingi dengan menyanyi. Pelajaran tidak banyak macamnya. Yang paling pokok membaca, menulis dan berhitung. Setiap hari Senin anak-anak disuruh meletakkan kedua tangannya di atas meja dengan memperlihatkan jari-jarinya. Nah, guru Rasyid mengetuk dengan garisan setiap tangan yang kukunya hitam tidak dipotong. Kalau ada anak yang panjang rambutnya belum dicukur, ditariknya rambut yang telah melampaui telinga sang murid itu ke atas. Dan pada hari-hari tertentu dia mengetes hapalan kalian. Untuk kelas I (kalian satu sampai lima) dan kelas II (kalian satu sampai kalian sepuluh).
Pada hari lain dites pula hapalan UTT (Ukuran: m, m2, are, ha; Timbangan: ons, pons, kg; dan Takaran: liter, m3 dll). Hapalan-hapalan lain, mengenai nilai uang: sen, benggol (2,5sen), klip (5sen), Ktip (10sen), setali (25sen), suku (50sen) dan Rupiah (100sen).
Diharapkan kalau keluar kelas 2 saja, mjurid sudah pandai membaca, dan tidak tergagap menghitung. Cukuplah kepandaian membaca, menulis dan berhitung itu untuk bekal di kampung.
Bagi yang tak hapal disuruh berdiri di depan kelas setelah dipukul dengan lidi di telapak tangannya. Anak-anak yang malas menghapal, sulit sekali mengerjakan berhitung, apalagi hitung pecahan dan hitung soal. umpamanya: Berapa m seorang berjalan kaki selama 2 jam jika kecepatan tiap jam 4km? Berapa rupiah uang yang diperoleh Ahmad jika dia menjual cengkeh 5kg yang harga tiap ons Rp5,- dsb. Coba kerjakan: 2/3 +3/4 dst.
Karena Guru Rasyid biasa mengetes hapalan ini, bagi yang malas dan tak hapal, sering bolos atau menyelinap keluar kelas. Anak-anak wanita sering membawa kembang pandan yang baunya menyengat, diam-diam mereka letakkan di bawah meja guru atau di bawah taplak. Guru Rasyid tak senang dengan bau ini yang membuat pusing kepalanya. Maka hapalan kalian akan ditunda pada lain waktu, dan karena itu para murid yang tak hapal merasa senang.
Guru Rasyid tidak membiarkan anak-anak selalu tegang, sesekali pelajaran diselingi dengan bernyanyi. Dia amat senang menyuruh anak-anak ke depan kelas untuk menyanyi sesuka hati. Tetapi bagi saya, ini adalah pelajaran yang amat saya takuti. Saya selain tak memiliki suara yang baik, juga tak hapal satu nyanyian pun. Yang kusuka adalah berhitung dan melukis.
Guru Rasyid sendiri bukanlah termasuk yang memiliki suara yang baik. Namun sebagai guru, agaknya tak pantas kalau tak pandai mengajar nyanyi. Sebab itu keluar jugalah nyanyian azimatnya, satu-satunya barangkali: “Tik..tik bunyi hujan di atas genteng…” dst.
Mengenang para guru Sekolah Rakyat ini, banyaklah kesan yang menyenangkan. Mereka selain kelompok perta-ma yang mengisi dada dengan pengetahuan dasar, juga telah banyak jasanya dalam mendidik. Masing-masing mereka mempunyai keistime-waan menghibur hati para murid. Guru Suhaimi mengajar kelas III. Kami menge-nangnya dengan cerita bersambungnya yang memukau, “Anak Dalom”. Diceriterakan bersambung setiap lepas pelajaran selama 9 kali pertemuan. Guru Badri dengan ceriteranya yang sangat berkesan, “Petani miskin yang sabar, menjadi kaya raya karena menemukan sebongkah intan dalam tanah.”
Dari Guru Badri inilah saya mendengar satu ajaran yang terpahat di dadaku, ibarat lukisan di atas batu, yaitu, “Jika anda menemukan sesuatu, anda ambil untuk diri sendiri sebelum dicarikan pemiliknya, anda pasti akan kehilangan sesuatu yang nilainya sama atau lebih besar lagi.” Maka sejak itu saya tak mau mengambil milik orang apapun yang kutemukan seperti uang, barang dsb.
Menjelang liburan panjang, bulan Ramadhan, seluruh murid diajak ke pantai membawa bekal msing-masing untuk makan bersama. Pada waktu lain seluruh murid dibawa ke Kolones berjarak sekitar 6 km melalui kampung-kampung: Tanjungbetuah, Banjarmanis, Sikapukha, Pampangan dan Kolones. Di atas bebatuan, di pinggir kali anak-anak diajak menyantap bekal masing-masing. Meski nampak sederhana, pengalaman itu amat berkesan bagi kami murid-murid yang berumur 7-10 tahun.
Waktu itu kami menyaksikan Guru Abdul Rasyid marah besar. Mengapa? Karena, anak-anak kelas II yang umurnya 10-11 tahunan mengacau barisan. Ketika pulang, mereka lari dan menyebabkan barisan yang tadi rapi, menjadi kacau, banyak anak-anak yang lebih kecil ikut berlari. Sudah dipesan supaya berhenti, tapi ya, namanya anak yang lebih besar, agak sulit diatur. Guru Abdul Rasyid nampaknya sudah hilang kesabaran, anak-anak yang menga-cau itu mendapat sabetan rotan.
Sampai sekarang ini saya masih bertanya-tanya mengapa sering terjadi guru-guru menjadi naik pitam. Kebiasaan menghukum fisik, kecuali membuat anak menjadi takut, memahatkan trauma yang mendalam sampai tua. Guru ngaji, guru madrasah, guru sekolah, mengapa memu-kul sampai meremukkan rotan sebesar jempol kaki orang dewasa? Mendidik anak-anak memang perlu dilengkapi dengan ilmu pendidikan, pedagogi, ilmu jiwa anak, dsb. Ya, supaya mengerti bagaimana menghadapi anak dengan mem-perhatikan perkembangan jiwa, pendidikan dan ilmunya.
Terakhir saya masih juga mendengar hal yang sangat memelas, yang diceriterakan keponakan saya Zarkasyi. Sua-tu hari dia berkelahi dengan kawan sendiri. Ya, nama-nya juga anak-anak, hari ini berkelahi esoknya baikan lagi. Salah satu temannya itu adalah keponakan guru mereka. Di kelas, sang guru naik pitam. Keponakan saya ini dipukulnya dengan karet tali timba yang kenyal, sekuat tenaganya. Sekiranya pemukul adalah rotan mungkin rotan akan pecah-belah. Anak kecil usia 9 tahunan itu, menanggung rasa sakit yang bukan alang kepalang, menjerit dan menangis, tapi sang guru yang kalap tak memberi ampun. Di punggung dan belikat anak itu mencap 3 garis merah sebesar pergelangan.
Guru semacam ini sebagai master guru yang tidak dilengkapi pedagogi. Guru kok kejam, apakah layak sebagai pendidik? Agaknya memang perlu dididik kembali, dice-kolahkan lagi dan diberi pelatihan-pelatihan agar mengerti bagaimana mendidik yang baik dan benar. Ada cara-cara bagaimana agar anak patuh tetapi tak merasa tertekan, yang ditanamkan hendaknya kewibawaan dan rasa hormat, bukan mematrikan rasa takut dan kejengkelan.
Di rumah, Zarkasyi disambut oleh Bapaknya dengan golok. Anak itu hendak disembelihnya karena dianggap telah mempermalukan keluarga. Lalu dia kabur dari rumah, dan untung Bapak Haji Iskandar, guru ngajinya, memintanya pergi ke ladang mengantarkan sesuatu, sehingga dia terhindar dari kemarahan Bapaknya. Sejak itu sang anak dihinggapi paranoid (semacam rasa ketakutan yang selalu menghantui). Tak ada tempat dia mengadu kalau dia menghadapi sesuatu, ke ayah, guru, paman dan bibi, semua seakan menyu-dutkannya, dia merasa takut berhadapan kepada siapa saja. Maka seyogyanyalah dalam mendidik, disamping yang utama guru, orang tua, dan siapa saja, diperlukan bekal ilmu pendidikan, dan perlu memper-hatikan perkembangan jiwa, fisik, dan pendidikan anak didiknya.
Di seberang jalan dari Sekolah Rakyat itu, tepat di depan pertemuan jalan tingkat atas dan tingkat bawah ada bukit kecil “Pekon Langgakh” yang penuh kuburan. Di lereng bukit kecil itu terdapat tanaman cengkeh beberapa pohon dan ada juga pohon kelapa. Bela-kangan pohon-pohon itu ditebang, dan didirikan di sana sebuah gedung besar berbentuk huruf L. Setelah selesai dan dipetak-petak, lama juga gedung tak dihuni, tetapi kemudian ruang-ruang yang menjorok dari selatan ke utara dijadikan gedung bioskop. Pada suatu musim cengkeh raya, bukan alang kepalang ramainya kampung Putih. Orang-orang berdatangan dari mana-mana. Pada saat itulah bioskop amat laris. Film diputar hampir sepanjang malam. Saya masih ingat ongkosnya Rp3,50 untuk semua umur. Sayang gambarnya belum berwarna, lagi pula filmnya bisu.
Sekitar tahun 1962 gedung besar yang pernah menjadi gedung bioskop itu ditukar oleh yang empunya dengan gedung SR lama. Yang empunya gedung itu tadinya adalah seorang saudagar kaya, Haji Syukur namanya. Kantor Marga di samping SR dibelinya, dan di sana didirikannya rumah tembok yang mewah. Waktu itu belum ada rumah semewah rumahnya. Semak-semak yang angker ditebangi dan diba-ngun tembok yang kokoh. Di saat-saat gedung dibangun, anak-anak sempat pula terjun dari atas tembok ke lubuk Binting di bawahnya.
Syukurlah Haji Syukur mau menukar gedung SR lama dengan dengan gedung itu. Apakah pihak pemerintah kecamatan memberi tambahan dalam tukar-menukar itu kami tak tahu. Yang penting kami gembira mendapatkan gedung sekolah baru.
Suatu hari Guru mengumumkan kepada anak-anak murid bahwa besoknya adalah hari bebas, artinya tidak diberikan pelajaran, jadi tidak membawa buku. Anak-anak senang dan memekik-mekik. Kawan-kawan banyak yang menerka-nerka sambil berbisik-bisik. Ada yang mengatakan sehubungan dengan “dunia sudah genting”, maklum waktu itu banyak daerah sedang dilanda kemarau panjang, tujuh bulan lamanya. Pohon-pohon rumbia ditebangi pengganti beras. Sagunya bisa diambil dan dijadikan tepung, “Barang-kali akan turun Dajjal,” bisik yang lain.
Tapi anak-anak mulai riuh kembali dan memekik-mekik. “Tenang, tenang!” kata guru, “masih ada sam-bungannya. Sebagai ganti buku, semua anak-anak harus membawa alat kerja, seperti: arit, sapu, linggis, cangkul dan sebagainya.”
Hari berbahagia itu anak-anak masuk sekolah dengan membawa alat kerja. Rumput-rumput dicabuti, pagar-pagar diperbaiki. Ruangan-ruangan semua dibersihkan. Pada hari yang telah ditentukan barulah sekolah dibuka. Masing-masing anak membawa sepiring kue, terserah masing-masing. Di teras sekolah piring-piring itu dijejer dihadapi oleh anak-anak. Banyak pula undangan yang datang dalam peresmian itu. Setelah diadakan sambutan-sambutan dibacakanlah doa, semoga sekolah ini menjadi tempat yang mendapat berkah. Selesai berdoa, anak-anak menyerbu makanan, kepunyaan sendiri atau ditukar dengan teman.
Sekolah, selain mendapatkan gedung baru, bangku-bangkunya juga diperbaiki. Persatuan Orang Tua Murid dan Guru (POMG) berhasil membeli bang-ku-bangku itu. Bukan main menterengnya segala serba baru! Bukankah selama ini bangku dan meja model kuno, warisan dari bapak dan ibu dari masa sekolah zaman Belanda?
Perpindahan gedung bukan saja berakibat tambahnya bangku-bangku baru, melainkan juga bertambahnya guru, sedangkan kelas diperbanyak yakni sampai kelas VI. Guru Baru itu selain Guru Badri dan Suhaimi, ditambah lagi: Warino Nirmantrihadi, Suwondo, Ismi Rahayu, dan Zuhfi. Di kemudian, Bapak Suwondo dan Ismirahayu menikah. Pak Guru Suwondo mengajar kelas IV, Ismi Rahayu mengajar kelas V, dan Warino Nirmantri Hadi mengajar kelas VI. Sedang guru Zuhfi bertugas sebagai Kepala Sekolah.
Untuk pertama kalinya ujian kelas VI SR adalah pada tahun 1963. Ujiannya belum bisa diselenggarakan di Putih-doh, sebab belum lengkap persyaratan untuk mengadakan ujian sendiri. Jadi, harus menginduk ke ibukota Kewe-danaan, Kota Agung.
Pesertanya pada tahun pertama ini (1963) antara lain: Kalamuddin. Razi, Imanuddin, Haidar, Baidhawi, Rusli, Syahruddin, Sahminan, Ramli, Junafri, dll. Pada tahun berikutnya (1964) saya mengikuti ujian pula (periode ke-2) bersama antara lain: Darmawi, Sayuti Siddik, Syahruddin, A. Nasa’i, Syafi’i, Sayuthi Zuhri, Khuzairin, Thaiyib Jifri, Nasrul, Rukyani, Sahri, Ihsani, dan saya.
Menjelang masa ujian itu saya sempat memetik cengkeh. Dengan beberapa kg cengkeh hasil yang saya peroleh, saya dapat membeli 2 stel pakaian terbuat dari broklen, berwarna putih dan kuning gading. Hanya itu. Kami berangkat dibimbing oleh Guru Zuhfi dan Sowondo. Meng-inap di hotel Sederhana. Hotel itu bertingkat, terbuat dari kayu. Pada tahun 1964, nampak bangungan itu sudah tua, catnya yang mulanya kuning dan hijau, nyaris nampak kelabu.
Ya kami anak-anak desa, sudah biasa sederhana, pakaian seadanya, malah ada yang tak memakai sepatu. Waktu makan di restoran, meski sudah diingatkan oleh guru bagaimana meletakkan tangan di atas meja dan memakai sendok garpu, masih banyak yang salah, akhirnya memakai tangan saja. Dan ketika di hotel kekurangan air, kami tidak kalut, malah beramai-ramai pergi ke sumur umum sambil menjinjing anduk.
Materi ujian hanya tiga: Berhitung, Pengetahuan Umum dan bahasa Indonesia. Kami ujian menempati SR I, Sekolah pavorit di Kotaagung, muridnya banyak anak Cina, yang sehari sebelumnya kami saksikan menampilkan kebolehan mereka memainkan drum.
Untung masa ujian tak lama, hanya sehari. Setelah 3 hari berada di Kotaagung kami siap-siap untuk pulang. Pagi subuh kami ke pasar membeli oleh-oleh. Saya membeli jeruk manis, dengan harga Rp200,- mendapat sekarung gandum. Kotaagung waktu itu terkenal dengan hasil jeruk yang dipetik dari perkebunan penduduk di Negarabatin.
Sekitar sebulan kemudian Guru Zuhpi datang dari Kotaagung membawa hasil ujian. Menurut Kepala Sekolah itu saya lulus dengan nilai terbaik. Terbaik sekecamatan? Tak terlalu membanggakan, karena tak ada saingan. Kami hanya 15 siswa; 7 lulus boleh melanjutkan ke SLTP dan 8 lagi hanya dapat ijazah (tidak lulus?).
SEKOLAH AGAMA
Belajar Mengaji
Sebelum memasuki SR, atau bersamaan dengan sekolah umum, anak-anak wajib belajar alif-ba-ta, sampai lancar membaca Al-Qur’an. Agar lancar membaca, anak-anak perlu tamat Al-Qur’an dengan bimbingan guru minimal 1 kali. Belajar Al-Qur’an bisa ditempuh 2-3 tahun atau lebih.
Karena banyaknya murid umur mengaji Al-Qur’an maka tak mungkin tertampung oleh seorang guru. Di Putihdoh waktu itu ada beberapa guru mengaji, antara lain: Ustaz H. Nahrawi, ustaz H. Hadhori, Ustaz H. Latif, Ustaz H. Taslim. Ustaz H. Bisri. Pada tahun-tahun berikutnya mengajar pula Ustaz H. Tamimi, Ustaz H. Muhibullah, Ustaz H. Iskandar, Ustaz Junaidi, Ibu Ustazah Jifri, Ibu Ustazah Muflih, dll.
Saya belajar mengaji kepada Guru M. Siraj (setelah pergi haji berganti nama H. Taslim). Dia adalah guru yang penyabar dan menyenangkan. Tak pernah dia memukul atau marah-marah. Malah, untuk menyenangkan anak-anak dia biasa menumpuk buah, seperti duku, kacang atau apa saja, lalu ditulisnya dengan rotan di lantai, siapa yang dapat menebak huruf apa, dan kalau benar boleh mengambil setumpuk dan duluan pulang. Ah, saya senang, karena selalu benar menebak, selain memperoleh setumpuk juga cepat keluar.
Kira-kira setahun belajar di sini saya tamat Al-Qur’an, tapi sayang, Guru yang menyenangkan ini tak lagi mengajar sejak libur bulan Puasa di tahun itu (1958).
Tamat sekali Al-Qur’an belum dianggap orang tua cukup, maka setelah lebaran tahun itu saya melanjutkan lagi belajar mengaji kepada Guru Haji Hadlori di Kampung Masjid.
Majelis Pelajar Islam (MPI)
Anak-anak sehabis kelas III SR biasanya melanjutkan sekolah di MPI (Majelis Pelajar Islam) yang dipimpin oleh K.H. Zahruddin Dahlan, atau atau PIGRI (Pendidikan Islam Gabungan Republik Indonesia) yang dipimpin oleh Ustaz H. Muflih Ilyas. Pelajarannya, baik di MPI maupun di PIGRI tidak ada umum, semua pelajaran agama, seperti: Tauhid, Fiqih, Tajwid, Nahu, Shorof. Hadits, Tafsir, Khot (menulis indah Arab dan Latin). Di MPI ada pelajaran Faraid (cara menghitung warisan) sedang di PIGRI tidak ada, tetapi ada pelajaran menggambar, dan latihan pidato pada setiap hari Jum’at.
MPI menempati sebuah rumah panggung di dekat rumah Kiyai. Para santri memakai sarung dan kopiah. Di dalam kelas bersila di lantai menghadap ke bangku pendek untuk tatakan menulis. Para santri secara bergilir akan maju ke hadapan Kiyai untuk mendaras pelajaran dan menerima pelajaran baru.
Selama lima tahun pertama Kyai membina kader-kader. Anak-anak dan remaja selepas sekolah rakyat kelas tiga dan telah tamat Al-Qur’an banyak yang melanjutkan pelajaran kepada Sang Kiyai. Tingkat pendidikan di sini, seperti halnya pesantren-pesantren tradisional tidak jelas benar tingkat kelasnya. Meski ada kelas A,B,C, namun belum berarti anak santri telah tamat. Santri boleh melanjutkan pelajaran sekuat ia mau. Biasanya tingkatan kelas diukur pula dengan kitab apa yang ia pelajari: Nahu, Sharaf, Fiqih, Tauhid, Faraid dan seterusnya.
Menjelang kemerdekaan RI, K.H. Zahruddin Dahlan datang dari Mekkah. Ia konon belajar mengaji di sana selama 12 tahun. Dengan sistem lama, mengajar dengan hukuman pukulan rotan di kaki bagi yang tidak hapal pelajaran, Kiyai telah menghasilkan kader-kader. Santri yang telah belajar selama 5 sampai 6 tahun kalau hendak berhenti sudah cukup memadai memperoleh bekal ilmu untuk ukuran kampung. Mereka ada yang menjadi pemuka masyarakat, pemuka agama, dan tidak sedikit yang jadi pengusaha. Sebagian lagi ada yang menekuni menjadi guru ngaji (mengajar membaca Al-Qur’an).
Murid-muridnya periode pertama kesemuanya menjadi pemuka agama dan tokoh masyarakat, saudagar dsb, antara lain: K.H. Haji Muflih Ilyas K.H. Haji Muslim, K.H. Hadhori, Ustaz Haji Hamdan, Ustaz Haji Taslim, dll. Sebagai Pemuka Adat antara lain: H. Abu Yamin, H. Jamauddin. Kemudian yang menjadi saudagar, antara lain: H. Asnaswi, H. Syukur, H. Zaenuddin dll.
Murid-murid MPI pada periode kedua antara lain: H. Taufik Abdullah, H. Muhibullah, H. Makmun, Umriun, Raja Indra, H. Khalid, H. Usman, Sabiin, Unus, Usman Hasbi, H. Qarnaini, H. Khairullah, Abd. Razak, A. Syanwari, H. Imran, Harmini, Khuzai, dll.
Periode berikutnya: H. Damanhuri, H. Zahruddin, Haji Bukhari, Asfihani, M. Thohir, Alfian, Tamlihan HD, H. Aziz, Wahyuddin, H. Jalaluddin, H. Iskandar, M. Hasir, H. Bainuri, Musaddad.
Di bawahnya, antara lain: Musher, Mursal, Syaikhun, Baidhowi, Saiful Hilal, Ahmad Khairi, Bajid, Ihsani, Hunzir, Zuhmin, Darmawi, Bujairimi, M. Thohir, Bakhidin, H. Nurhasan, Bun, Munzir, M. Arifin M. Thohir, dll.
PIGRI
Atas restu Kiyai H. Zahruddin beberapa tahun kemu-dian berdiri pula sekolah agama “Pendidikan Islam Gabung-an Republik Indonesia” (PIGRI) yang diasuh K.H. Muflih Ilyas seorang murid Kiyai. Mulanya PIGRI singkatan dari “Pendidikan Islam Gerakan Republik Indonesia”. Karena pada watu itu berdiri banyak gerakan partai dan organisasi, dan dikhawatirkan, pendidikan di sini dikira terlibat dalam gerakan politik, maka kata “Gerakan” di ganti menjadi “Gabungan”, yaitu, gabung dari berbagai lapisan masyarakat, tidak pandang suku maupun adat istiadat. Di madrasah ini selain menerima murid pria juga menerima murid wanita. Pakaian pria sama dengan di MPI, dan wanita memakai baju kurung, sarung dan kerudung. Berbeda dari MPI, PIGRI memakai meja dan bangku seperti halnya di sekolah umum.
Menurut cerita Guru H. Muflih, adalah H. Moh. Ilyas (sepupu ayah saya) seorang saudagar, prihatin terhadap pendidikan agama yang tidak tertampung di tempat Kiyai H. Zahruddin. Maka atas prakarsa dan biayanya, dia mendiri-kan madrasah PIGRI. Gedung berukuran sekitar 10 X 20 meter, di bagi 4 ruangan. Sebelah barat dua ruangan dan sebelah timur 2 ruangan. H.M. Ilyas kemudian datang kepada Kiyai H. Zahruddin dan memohon agar ada seorang murid Kiyai yang dapat memimpin madrasah tersebut. Ketika M. Siddik (yang kemudian berganti nama H. Muflih) diajukan, semua setuju. Maka dicarikanlah murid. Untuk periode pertama, sekitar tahun 1957-an diperoleh murid antara lain: Ahyan, Salik, Wasih, Marwazi, Saleh, Tamlihan HD. M. Sabli. Periode berikutnya: M. Sip (H. Saifullah), Lukman, Mawardi, Shofwan, Jukhrafi, Bunnawar, Faizul dll. Pada awal pembukaan Madrasah ini, mengajar pula Guru Aliman khusus seni seperti menggambar dan melukis dengan cat air.
Berikutya yang menjadi murid PIGRI adalah: Kalamuddin, Imanuddin, Darmawi, Syahruddin, Ahyad, Yunus, Sayuti, Razi, Ahmad Badaruddin, Ihsani, Bujairimi, Saiful Hilal, dll. Kemudian kami para murid baru: Saya, Sayuti Zuhri, Khuzairin. Di bawahnya: Usman, Saiful Anwar, Kornaini, Zulyai, Syafruddin, Khuailid, Nazori, Apan Samin, Tahsin, Abunawas, Jamsuri, Hilal, Apandi, Saleh, Jasman, Tambat (Fallah), Muslih, Muhtazir, Muaz, Baihaki, A. Syarifuddin, Sayuti, Nasir, Azhar, Hasbullah (dari Pertiwi), A. Syafruddin (dari Paku), Nurihat, Basri, Sayubi, Sofyan, Hujrin, Sayuti, Kalung (dari Badak), Muh. Amin, Muh. Arifin, M. Nuri (dari Karangbuah), dll.
Murid-murid wanita antara lain: Maisuri, Yusro, Maryamah, Khairani, Yuhanna, Alfiyah, Masroh, Yuhanna Jamauddin, Rabyuni, Salyana, Masrani, Muthowa’ah, Khosi-yah, Herna,. Yuzhiroh, Masroh, Ahyani, Masyani, Dawa’iyah, Rogaiyah, Dahliana, Nihayah, Naf’ah, Salmah, Husna, Ruaida dll.
Kenaikan kelas tidak ditentukan dengan ujian, tapi menurut kitab yang dipelajari yang meningkat tiap tahun. Nahu umpamanya dimulai dari mencatat i’rab dan jadwal dari papan tulis dengan tulisan Arab berbahasa Melayu. Kemudian meningkat kepada kitab jurumiah sampai mutammimah dan kawakibud-durriyah. Shorof Matan Bina’ dan tashrif yang disalin dari papan tulis, sedang Tauhidnya sampai kitab Kifayatul ‘Awam dan Fiqihnya Al-Ghayah at Taqrib. Pelajaran akhlak memakai Adabul Insan fil Islam.
Semua pelajaran dihapal di luar kepala, sampai pernah kami disuruh menghapal kitab Jurumiyah dari awal sampai akhir, begitu juga Matan Bina’. Hapalan di luar kepala itu tidak membantu murid memahami secara tuntas kitab-kitab yang berbahasa Arab, karena bahasa Arab memang kurang. Waktu terbuang, nampaknya banyak tersita untuk mengha-pal kitab-kitab yang saya tidak mengerti artinya, karena itu saya dan juga teman-teman seringkali merasa kesulitan untuk menghapal kalimat-kalimat umpamanya pada kawa-kibuddurriyah. Hal ini menjadi pemicu bagi Guru Haji Muflih untuk menjadi marah jika banyak yang tidak hapal.
Metode pengajaran tradisional seperti ini baru terasa pemborosan waktunya, ketika saya mendapatkan pelajaran Bahasa Arab di Ngabar dan Gontor, dengan cara yang modern yaitu praktek terlebih dahulu dalam kalimat dan ungkapan sehari-hari, baru dipelajari bentuk susunan uslub (nahu dan shorofnya).
Yang menarik di antara pelajaran-pelajaran itu adalah praktek berpidato. Tiap hari Jum’at semua bergilir ke depan untuk menyampaikan pidato. Ada yang bagus, tapi bagi yang baru belajar, memadai maju ke depan saja untuk menyam-paikan beberapa patah kata, atau diam sambil senyum-senyum lalu duduk kembali. Yang terpenting berani dulu ke depan berlatih menghadapi khalayak.
Pada tiap perayaan, seperti Maulid Nabi atau Isra’ Mi’raj, Masing-masing harus berani maju berbicara di depan orang banyak dengan pengeras suara. Setiap murid menya-jikan pidato dengan menghapalnya terlebih dahulu.
Pelajar yang cukup ramai tentulah tidak dapat ditangani sendiri oleh Guru Haji Muflih, maka sebelum ia masuk kelas, atau beliau berhalangan, pelajaran diisi oleh pelajar-pelajar senior, seperti: Sofwan, Luqman, Mawardi, dan Faizul. Kalau mereka ini mengetes hapalan, terkadang murid-murid berdahuluan untuk memilih Mawardi atau Sofwan, yang tidak begitu ketat. Jika umpama sedikit salah atau keliru mungkin akan diloloskan “telah hapal” yang akan dilaporkan kepada Guru Haji Muflih.
Yang sering menyakitkan kalau dites oleh Ahmad Badar, yang kadang sok dan over acting. Diapun belum tentu hapal. Salah sedikit saja tak mau ia meloloskan, dengan bernyanyi...”salahtu... salahna....!” kemudian melaporkannya kepada Guru Haji Muflih. Maka murid yang tak hapal akan diberi ganjaran dengan pukulan, cubitan, mengurut kaki atau hukuman lain. Kalau banyak murid yang tidak hapal, kemarahan Guru Haji Muflih dapat meledak menjadi kemurkaan yang dahsyat.
Guru Haji Muflih, selain waktunya tersita oleh kegiatan organisasi dan partai (PSII), ia juga merangkap sebagai P3NTR, dan perwakilan yang mengurus pendaftaran Calon Haji. Kadang-kadang tamunya datang dari pagi sam-pai menyita waktu mengajar.
Anak-anak yang ramai tanpa guru menampilkan suara hiruk-pikuk yang kadang terdengar dari rumah guru yang jaraknya sekitar 100 meter. Ketika guru akan masuk kelas, semua diam, dan guru mulai mengajar perkelas, dimulai dari kelas yang tertinggi.
Bagi anak-anak yang tidak hapal menanti dengan was-was apa hukuman yang akan diterimanya. Tentu saja ada perasaan jengkel terhadap Guru Bantu yang tidak melolos-kan hapalannya. Rasanya sudah dihapal begitu lancar di rumah, tapi hapalan di depan pengetes itu bisa saja terbata-bata.
Hukuman berupa pukulan berapa kali di tangan, dan kadang dicubit perut. Ketika seorang kawan sedang dicubit itu meringis kesakitan, sarungnya lepas, kebetulan tidak memakai celana dalam. Maka para murid menjadi riuh tertawa geli. Karena itu Guru mulai mewajibkan setiap murid untuk memakai tali pinggang.
Murid-murid yang menjelang remaja itu masih senang bermain, ada yang main layang-layang dan main kelereng. Kalau tingkah laku anak-anak itu dilihat oleh guru, maka di kelas akan di tegur, dan lebih-lebih kalau ia tidak hapal akan diberi hukuman yang lebih berat. Ada yang disuruh meng-gotong bangku ke jalan raya, menyiram lantai madrasah yang berdebu, atau menarik layangan ke tengah desa.
Waktu pelajaran di pagi hari masuk pukul 8.00 keluar pukul 11.30. setelah istirahat zuhur masuk kembali pukul 14.00 keluar pukul 16.00. bagi yang masuk SR pagi dia hanya masuk madrasah siang, dan sebaliknya yang masuk SR siang masuk pagi saja. Tapi kebanyakan sudah lepas dari SR, jadi dapat masuk di madrasah pagi dan siang.
RAMADHAN DI LADANG
Ramadhan adalah suatu bulan istimewa, bulan ibadah, bulan penuh berkah. Bulan ini juga bulan istirahat bagi penduduk, seakan sebelas bulan bekerja disiapkan untuk menyambut bulan ini. Di bulan Ruah, dan bulan-bulan sebelumnya, ibu-ibu sibuk menumbuk padi dijadikan beras, ada pula yang menumbuknya kembali menghilangkan kulit sari agar lebih putih lagi. Gula, beras ketan, tepung terigu dan macam-macam alat membuat kue disiapkanlah. Kayu api untuk memasak, dan sabut kelapa untuk bahan bakar membuat kue sudah pula tertimbun di bawah kolong. Makanan di bulan ini agar disediakan seistimewa mungkin.
Para bapak tak ketinggalan sibuk pula menata jkung, perahu kecil, yang selama ini disimpan umpamanya, diber-sihkan, dipasang katir atau cadik dan layar-layar yang robek dijait. Pancing, nangsi, jala, jangkar, dan macam-macam alat nelayan diperiksa, sudahkah siap?
Yang selama ini tak biasa memancing pun, ada pula yang ikut-ikut mencoba, pergi memancing, menjala, baik dengan jukung ke tengah lautan, maupun dari pinggir melempar pancing di sela karang. Mencari ikan bisa menja-di hiburan untuk mengisi waktu menjelang petang.
Anak-anak bukan main lagi gembiranya, maklum libur sekolah dan mengaji lebih kurang 50 hari, sebulan Rama-dhan penuh, ditambah sepuluh hari sebelum dan sepuluh lagi sesudahnya. Memancing ikan-ikan kecil di kuala, di ujung ombak, ketika laut sedang pasang naik, menjadi hiburan anak-anak yang amat menyenangkan.
Yang menggembirakan sangat adalah bejumpa dengan kawan-kawan yang sekolah ke kota. Mereka ramai pulang ke desa. Kita anak-anak sering dibuat terkagum-kagum oleh cara mereka berbicara, berjalan dan berpakaian. Nampak mereka lebih rapi, lebih maju dan anggun daripada kami yang kadang disebut dusun, kurang berpengalaman.
Saya paling senang berhitung, angka dan soal. Nilaiku selalu bagus. Saya begitu heran mendengar kata “aljabar”. Ah apa pula itu? Saya penasaran, maka inilah suatu kesempatan menanyakannya kepada kawan yang kebetulan pulang, Dia sekolah SMP di Telukbetung. Apa itu aljabar? Setelah berkali-kali memintanya. Dia mengambil kertas, lalu menuliskan, a+b, “Berapa?” tanyanya kepada saya. Ah, mana saya tahu, justru saya tanya dia. Lalu dia tulis lagi, X x Y. “Berapa?” tanyanya lagi. Wah ini mah lebih sulit lagi. Saya tak mengerti. “Aaah…, sudahlah, kamu tak akan paham!” katanya dengan nada mengejek.
Di bulan Ramadhan tahun ini, 1964, saya tak bisa menikmatinya di kampung. Apa pasal? Pengairan sawah kami di Waybangik, tertimbun longsor, jadi kami tak bisa menyawah, entah untuk berapa lama. Maka ayah-ibu sejak tahun 1963 membuat ladang, dua tahun berturut-turut di Pumatang Kanyas.
Ladang tak bisa ditinggal. Kalau tak ditunggu, padi yang baru beranjak tumbuh akan dimakan kera, dan diacak-acak babi. Nah, karena ayah akan asyik memancing, meyiap-kan untuk kami makan sebulan Ramadhan dan untuk lebaran, maka tugas menunggu ladang dibebankan kepada saya. Meski pekerjaan ini cukup berat, saya tak menolak, kasihan orangtua, ayah dan ibu.
Abangku, Tamlihan sudah menjadi bujang (remaja), tentulah dia tak pantas untuk menunggu ladang. Sedang adik-adik 4 orang perempuan. Maka terkadang hanya yang dapat bersamaku adalah adikku Muhtashor yang baru berumur 5 tahunan. Kalau dia enggan, berangkatlah saya sendirian.
Pagi buta, selepas shalat shubuh, kudaki Pematang Suluh, sebuah bukit di belakang kampung. Tanjakan itu lumayan panjang, hampir seribu meter. Cukup untuk mengalirkan keringat dan membasahi baju di udara yang masih diliputi kabut itu. Sesampai di atas, dengan napas yang masih terengah-engah, saya berhenti sejenak, menoleh ke bawah. Nampak rumah berjejer-jejer dari barat ke timur dan melimpah ke berbagai arah, utara dan selatan. Udara pagi masih nampak mengaburkan warna genteng yang menyelimuti kampung. Nun di sana nampak garis hijau pudar pohon-pohon nyiur di pantai. Di kejauhan, awan keemasan menyapu langit, menyajikan pemandangan yang menakjubkan.
Setelah menanjak lagi sekitar 200 meter terhantar jalan datar. Kiri kanan pohon-pohon cengkeh setinggi tak kurang dari 15 depa, mencakar udara, menjulang rimbun, gagah dan anggun. Pohon-pohon ini kalau berbunga hasilnya mencapai 50 kg perpohon. Di sini, di antara dahan-dahan burung-burung masih terdengar bernyanyi menyam-but embun pagi. Ayam hutan jantan yang molek berkokok kepergok, menghindar pergi, menuju semak berlari.
Saya berjalan meski santai, langkah-langkahku dapat kuukur sendiri. 6 km dengan rata-rata 4 km perjam saya akan sampai dalam waktu 1,5 jam. Menjelang atau bersama tebitnya matahari, saya harus sampai di ladang. Kalau tidak, kera akan lebih dulu datang mengacak-acak tanaman.
Sekitar 3 km jalan datar, menurun sebentar, tiba-tiba ada tanjakan tajam. Meski masih muda, saya cukup terengah juga mendakinya. Pohon durian besar, nangka, duku, limus, kluweh, cengkeh, bambu, dan pohon-pohon liar, di kiri kanan kaki bukit itu, bersatu menyajikan warna hijau yang berhawa segar.
Setelah mendaki, di atas ada lagi jalan datar. Saya berhenti sebentar. Teringat cerita lucu Abu Nawas. Dia konon, kalau menanjak tertawa, dan ketika turun menangis. Ketika ditanya, mengapa? Karena, katanya, dalam hidup ini adalah menanjak dan menurun. Sehabis menanjak pasti ada menurun. Maka ketika naik, di depan pasti ada jalan menurun. Dan ketika jalan menurun, pasti nanti ada jalan mendaki. Kitab Suci, bilang: “Di samping kesulitan ada kemudahan.” Sebaliknya di samping kemudahan ada pula kesulitan.”
Ingatanku itu membuatku tersenyum sendirian, kicau-an burung di atas dahan seakan mengejekku, atau boleh jadi sama bergembira menyambut sang surya. Angin ringan meniup dahiku, sejuk dan segar. Gemericik air di sela batu terdengar sayup-sayup nun jauh di bawah bukit: sebelah barat Waygahugah dan sebelah timur Wayawi.
Jalan merah, tanah yang terbuka di sela semak-semak itu hanya selebar langkah. Kalau hujan, jalan licin, terkadang menjadi kubang. Dan beberapa kali saya kepergok babi yang mendengus turun ke semak. Setelah jalan datar dan menurun, sekitar satu km sampailah saya di ladang. Warna hijau daun-daun menyisakan nuansa kuning keemasan yang dipantulkan sang surya yang baru terbit di balik bukit.
Suasana yang indah itu masih jelas dalam ingatanku, seperti terlukis dalam gubahan kecil ini:
TERBIT DI BALIK BUKIT
Kudaki belakang kampung
Tebing di kaki gunung
Meski dini masih gelap
Meski penghuni masih lelap
Ketika burung berkicau
Ketika pohon menghijau
Ketika daun berselimut embun
Sepagi ini
Di puncak bukit
Kuseka pluh di dahi
Di balik ladang
Kupandang
cahaya
Bendrang surya
Ku ingin menggapainya
Darahku mendidih
Bergetar
Merah laksana bara besi yang ditempa
Menyala-nyala menjadi api
Berpijar-pijar
Berkobar-kobar
Ya, sepagi ini saya sudah sampai di sini. Meski badan telah digerakkan oleh perjalanan tak kurang dari 1,5 jam, tapi sering mata masih terasa ngantuk. Kalau saya bersama Muhtahor, saya keliling sebentar ke batas ladang di atas, lalu ke gubuk, memejamkan mata sejenak menebus kantuk. Muhtashor giliran jaga, nanti kalau dia mau, boleh gantian tidur.
Pada waktu-waktu tertentu, selain Muhtashor, ikut juga Juhan dan Busro. Meski bulan puasa, mereka mem-bawa nasi. Jadi dari pagi dengan berbagai macam makanan mereka kenyang. Saya sejak itu, umurku mungkin 12 tahun, sampai dewasa, alhamdulillah, puasaku tak pernah batal.
Dan pada ladang di atas terdengar pekik riuh Muslih dan Muaiyan yang sedang mengusir kera-kera nakal yang akan mencuri sayur mayur dan mengacak-acak padi.
Ayah berjanji akan membelikan saya baju lebaran kalau ada kelebihan hasil memancing. Tapi sampai menje-lang lebaran, ayah hanya berhasil membelikan kami, saya dan adikku Muhtashor, masing-masing sebuah topi plastik. Kalau disinar matahari, tepinya mengerut sampai ke dahi, dan panas menyengat sampai ke pipi.
Tahun berikutnya, 1965, kami berladang di Paticumuk. Jaraknya hanya dua km dari kampung ke arah barat. Setiap pagi, di bulan Ramadhan, saya tetap bertugas menunggu ladang dari serangan kera. Kera suka sekali memakan daun-daun padi yang masih muda, dan memporak-porandakan tanaman sayur-mayur yang mulai berbuah.
Saya seperti biasa sebulan di bulan Ramadhan pada tahun berikutnya, 1966, menunggu sawah di Waybangik. Jaraknya dari kampung k.l. 4 km. Rasanya begitu sepi sendirian, di sebuah dangau kecil. Angin yang berembus di siang hari yang cerah itu membawa udara dari laut dan menerpa padi yang baru berdiri. Terasa sejuk berpadu dengan terik matahari yang menyengat.
Tak ada bacaan, kecuali sebuah majalah usang yang bolak-balik kubaca. Untung ada pula sebuah buku Majmu’ Syarif (kumpulan doa-doa bertulisan aksara Arab-Melayu). Maka dalam kesempatan sendirian itu kuhapalkan beberapa amalan, Surat Ya-sin, doa Hikal, dan Istgifar Rajab. Sejak itu selalu kubaca secara wirid setiap pagi.
Suatu hari, menjelang panen, saya bersama ibu ke sawah. Ibu membelai tangkai padi yang berdiri, tak berisi. Saya lihat matanya berkaca-kaca. “Kita harus menanam padi kembali,” katanya bergumam sendirian. Saya juga tak tahan melihat ibu bersedih. Air mataku tak kusadari mengalir di pipi.
Kesulitan-kesulitan akhir-akhir ini dilengkapi oleh kagagalan panen. Wereng hijau telah membuat kerja keras petani tak berarti.
Kami tinggalkan sawah di Waybiah itu, lalu pergi ke ladang Mamak DulGhani sekitar 2 km arah hulu sungai. Kebetulan dia sedang panen. Kami menolong mengetam, sementara Ina isteri Mamak DulGhani nampak sedang sibuk menumbuk padi. Beras untuk makan siang saja tak ada, harus ditumbuk dulu dari padi yang baru diketam. Padi masih berwarna hijau kekuningan, belum sempurna kuning, tapi harus segera diketam, karena kebutuhan makan, dan takut didahului hama. Jadi beras masih mengkilat, bening laksana intan, beras tahun!
Lepas zuhur, kami yang sejak pagi belum sarapan, makan nasi pulen yang harum dengan greh ikan, sambal, sayur seadanya dan lalapan dengan lahap. Dan sore kami pulang, memikul dua ikat padi yang kami pinjam dari Mamak DulGhani.
Di tahun itu istilahnya “Balik Gindang”, menanam padi yang biasanya setahun sekali menjadi dua kali. Pada musim mencangkul, cuaca amat buruk, setiap hari turun hujan. Pagi-pagi sekali setelah shalat Subuh saya membantu ayah ke sawah, memakai kembali pakaian kerja satu-satunya yang masih basah. Maklum masih muda, kesehatan masih prima, meski terasa dingin, tapi tak jatuh sakit.
Namun, cuaca bukan alang kepalang, amat buruk dan tak mendukung, bahan makanan dan gizi kurang. Sebulan bertahan, akhirnya tak tertahankan, banyak yang jatuh sakit. Saya akhirnya jatuh sakit pula, badan demam, panas tinggi, tapi terasa kedinginan.
Pengalaman bertani yang sulit dan sering kekurangan, mempertebal tekad yang telah membaja di hatiku. Nasehat ayah tentang ilmu pertanian, tentang air, tentang cuaca, cara-cara memancing dan menjala tak menarik minatku, kudengar saja sepintas lalu. Dalam hati, berkobar semangat, saya harus merubah sendiri nasib, “Saya ingin sekolah!”
SEMANGAT YANG MEMBARA
Dari antara kami yang lulus waktu itu hanya dua yang melanjutkan ke SMP Telukbetung: Ahmad Nasa’i dan Syafi’ie (alm). Sedang Sarman, kawan karibku yang mulai kelas 5 SR mengikuti ayahnya yang polisi telah pindah ke Telukbetung. Ia kabarnya telah masuk SMP. Selebihnya ada yang melanjut ke madrasah PIGRI di kampung dan ada pula tak sekolah lagi.
Namun ayahku, seperti umumnya rakyat di kampung-ku, berpendapat “untuk apa sekolah jauh-jauh, akan menghabiskan harta saja. Toh akhirnya akan kembali juga menjadi petani, atau nelayan. Lebih baik sekolah agama di kampung, cukup buat bekal hidup dunia dan akhirat.”
Ayahku seperti yang selalu kudengar pengarahannya, nyatalah bahwa dia ingin anaknya menjadi petani yang mahir, atau juga bisa memancing dan menjala. Kalau bisa juga seperti anak-anak yang lain di kampung, dapat juga tampil umpamanya sebagai qari’ (membaca Al-Qur’an dengan merdu), atau pembaca barzanji. Tapi saya rasakan benar, saya tak memiliki bakat yang berkaitan dengan tarik suara. Pernah sekali saya azan di surau, mungkin Ayah mendengar, seperti agak mencemooh, “Yang benar kalau azan.” Saya rasakan sendiri, betapa suaraku sangat tidak menyenangkan pendengarnya. Jadi sejak itu saya tak lagi mencoba azan.
Orang tuaku nampaknya tak memperhatikan bakat anaknya, seperti kuceriterakan, Guru Ismi Rahayu, ketika melihat gambar Gatotkaca lukisanku dengan pensil yang dipajang kawanku di di dinding berdecak, “Wah ada bakat,” katanya memujiku.
Bakaktku yang lain adalah berhitung. Pada kelas III saya sudah disuruh Guru Abd. Rasyid untuk mengoreksi kerjaan berhitung kawan-kawan. Di kelas V dan VI dalam pelajaran ini saya tak mau kalah dengan kawan, ingin paling cepat mengantar jawaban, dan benar.
Semangatku melanjutkan sekolah membara. Saya ingin sekolah, ingin mengubah nasib, hendak mencoba mengalihkan pendapat masyarakat. Saya ingin membuk-tikan bahwa tidak selamanya anak sekolah akan gagal. Dan sekolah tak perlu harus mewah. Bahkan dengan menderita dan sanggup bersusah payah, mungkin akan mencapai sukses! Hampir saya tak tahan membendung gejolak cita-cita yang membara. Pikiran selalu dipenuhi berbagai harap: Hati kecilku selalu mendorongku, “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan!” Cita-cita setinggi apa pun pasti tercapai, asal tekun, teguh dan sabar manggung susah-payah.
Saya tak mengerti apa gunanya, tiap hari saya pergi ke pelabuhan. Ingin menyaksikan kawan yang akan pergi ke kota melanjutkan sekolah. Tetapi setelah mereka berangkat, saya tinggal kecewa memendam sendiri keinginan keras dalam hati.
“Pada tahun ini engkau harus sekolah agama dulu. Nanti, barangkali tahun depan kalau ada rezeki, bisa melanjutkan sekolah ke kota,” kata ayah pada suatu sore. Saya hanya bersungut-sungut dan menundukkan kepala.
Akhirnya saya menyerah, setelah dalam dada meronta ingin sekolah ke kota. Di desa tak ada SMP, tapi ke kota tak ada biaya. Ayah ibuku yang buta aksara, tak sudi anaknya menjadi orang tak pandai mengaji. Contoh-contoh sudah banyak, kata keduanya, mereka yang sekolah ke kota selain tak tamat, ilmupun tak dapat. Jadi di madrasah kampung sajalah belajar. Sudah jelaslah pandai mengaji, lincah dalam berdoa, dan mau berdagang tidak cangggung menghitung, apa-agi mau jadi nelayan atau petani.
Pada 15 Juli 1965
saya masuk madrasah PIGRI
(Pendidikan Islam Gagungan Republik Indonesia). Pelajarannya hanya agama, tidak ada umum.
Negara kita sedang bangga dengan “Revolusi”, menepuk dada dengan berdikari, berdiri di atas kaki sendiri, ditandai dengan keluar dari PBB, konprontasi dengan Malaysia, dan anti import dari Luar Negeri. Padahal, kita membuat sandal jepit saja belum bisa. Ada sandal made in Indonesia yang beratnya bukan kepalang, belum bisa mengambang. Kalau hanyut di air keruh, akan tenggelam dan hilang. Segala macam made in Luar negeri seperti: pulpen, bahan baju, jam tangan, elektronik, bahan sandang, hilang dari pasar. Di pasar ada bahan celana tetrex dan Pamatex made in kita, yang berkualitas sangan sederhana, tapi harganya wah!
Beranjak remaja 1965. menjelang G30S PKI, dunia rusuh, dan tegang. Banyak darah tertumpah. Harga-harga melonjak. Uang melimpah karena ada partai yang buat duit sendiri (lembaran Rp 2500).
Sampai bagian awal 1966 adalah puncak kesulitan, harga-harga tak terkendali. Pemerintah, dan orang-orang di kota, terdengar beritanya dari radio sedang sibuk berdemo menuntut 3 hal (Tritura, Tiga Tuntutan Rakyat): Bubarkan PKI, Turunkan harga dan Bubarkan Kabinet 100 menteri. Jadi belumlah sampai memikirkan rakyat kecil terutama di desa yang kelaparan.
Dua tahun dalam masa kesulitan ini cengkeh tak musim, harga-harga kebutuhan melambung tinggi. Sebagai per-badingan, ketika saya mengikuti ujian SR di Kotaagung tahun 1964, saya dengan uang Rp200,- dapat membeli satu karung gandum jeruk manis, tapi pada tahun 1965, menjelang peritiwa G30S, harga rokok keretek cap jambu yang biasanya Rp 7,5,- menjadi Rp 7500,- beras meningkat sampai Rp10.000 perkg dan jeruk sebanyak itu mungkin baru bisa dibeli dengan harga Rp200ribu.
TV belum ada, radio masih langka. Hiburan utama membaca. Di desa, bahan bacaan masih langka. Mahabrata, Wayang Purwa, Perang baratayuda Plash Gordon, Robenson C., Cerita-cerita Nabi telah kubaca waktu kecil. Dengan mencuri-curi kubaca buku Abangku: Siti Nurbaya, Tenggelamnya Kapal Vander Wejk, Magdalena, Salah Asuhan, Bekas Guruku, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Di Bawah Bendera Revolusi, Tafsir Muhammad Yunus, Hadits Shahih Bukhari-Muslim, Agama Islam oleh Hamka, Tasauwuf Modern dll.
Di Madrasah PIGRI itu saya merasa tak puas, selain tidak ada pelajaran umum, juga banyak waktu luang terbuang. Sehari-harian ada hapalan-hapalan yang tidak dapat dimengerti, karena tidak disertai pengetahuan bahasa Arab yang memadai. Saya sampai hapal Jarumiyah (dari awal sampai akhir pelajaran Nahu, tapi tak mengerti apa maksudnya dan tak tahu apa gunanya, lalu meningkat menghapal Mutammimah, dan Kawakibudduriiyah).
Saat-saat ketidakpuasan itu, di rumah kami ada tamu, paman Suhaidi dari Wayawi, Kotadalom. Dia seorang pemuda yang ganteng dan pintar. Suatu pagi dia menjemur kaosnya yang baru dicuci di teras. Ada tulisan di kaosnya yang agak kabur karena sedang basah, dan lagi berbentuk cekung, kiri kanannya tinggi dan di tengah pendek. Saya membacanya dengan mengeja...UN..SRI, apa artinya? Ya Unsri, kata Paman itu memperjelas. Apa artinya, tanya saya “Universitas Sriwijaya!” katanya. “Paman sekolah di sana?” tanya saya. Ya, katanya. Bukan main! Saya tersentak kagum, amat menakjubkan. Saya terpukau mendengarnya. Jarang betul saya mendengar orang berpendidikan tinggi. Saya tidak terpesona mendengar orang kaya, menghadapi orang berpangkat. Tapi orang yang berpendidikan tinggi, alangkah menakjubkan. Dan tidak kukira, paman yang sudah menjadi tamu kami beberapa hari ini, ternyata sedang menempuh pendidikan tinggi. Kuketahui kemudian, bahwa dia adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Universitas Sriwajaya Cabang Lampung (waktu itu belum ada Unila).
Dia tahu saya sedang tergila ingin sekolah. Tapi saya tidak bertanya bagaimana melanjutkan sekolah ke kota, hanya kupendam saja sendirian, nanti saya pasti akan pergi. Saya ingin pergi!
PERGI
Pergi adalah perintah Ilahi. Dalam Kitab Suci Dia menyeru, ”Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dapat memahami, telinga yang dapat mendengar. Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati di dalam dada.” (QS 22:46).
Pergi adalah hijrah, juga bisa menjadi revolusi, yang mengubah darah menjadi api. Berkobar membakar sema-ngat yang sedang membara. Karena itu saya ingin pergi, meniru Nabi ketika di Mekah, tempat kelahirannya dia tak berharga, tapi kemudian menjulang mulia di tempat lain.
Pagi itu seperti biasa kami sarapan seadanya. Dipimpin oleh abangku Tamlihan HD. Umurnya sekitar 20 tahun. Sedang umurku, karena kucatat tanggalnya 7 Mei 1966, belum genap 13 tahun. Arbaiyah (11 tahun), Muhtashor (8 tahun), Hafazoh dan Baroroh (5 tahun) dan Zainab 3 tahun. Selesai sarapan, semua berham-buran ke luar untuk sekolah atau mengaji. Saya membawa sebuah keranjang dari plastik yang kuselipkan di dalamnya sebuah baju, pensil dan buku tulis.
Tujuan hendak kemana tidak ada. Tapi kaki begitu kuat untuk berjalan, sudah terlatih bertahun-tahun ke ladang dan ke mana-mana jalan kaki. Yang mendorongnya adalah dari dalam, semangat ingin sekolah, keinginan belajar yang berkobar.
Saya pernah mendengar, kalau terus berjalan akan ditemukan Bolok, desa yang dilalui mobil. Di situ, atau dimanapun saya ingin berserah kepada siapapun sebagai jongos asal bisa sekolah. Caranya, terserah. Semua masih tanda tanya. Yang penting kini, pergi!
Di persimpangan jalan ujung barat Panyandingan, saya berjumpa dengan Alfiyah (almh, seorang gadis cantik kawan kami di madarasah), seperti biasa tiap pagi hendak mengaji.
”Mau kemana?” tanyanya, ”Mengapa tak mengaji?”
Saya jawab sambil lalu, ”Hendak ke sawah.”
Memang jalan yang hendak kulalui ini ke arah Waybangik, tempat sawah kami, yang biasa saya menjaganya agar tidak dimakan kera.
Di Kakhangkepaling, dua km ke arah barat, saya berjumpa Mamak Haji Syafi’i, yang dengannya saya biasa bersama menjaga sawah, karena sawahnya dan sawah kami berdekatan. Kadang kami pulang dari sawah juga bersama. Tapi kali ini, saya katakan kepadanya, bahwa saya akan duluan karena ada hal penting.
Saya berjalan terus menempuh jalan setapak, kiri kanan semak, tinggi melampaui kepala. Kulalui Khuguk, lalu menanjak ke Pematangkakhau. Di sisi kiri ada jurang ke laut yang dalam, berlatar kayu-kayu besar pada hutan yang kelam. Sedang di kanan tebing curam hampir menimpa badan, dengan sisi batu-batu cadas, keras dan angker.
Kulewati jalan itu dengan keringat bercucuran, tak kurasakan letih. Di Waybangik sepi, nampak dari atas, panorama indah di bawah: gubuk-gubuk, pohon-pohon nyiur dan bentangan sawah. Di pinggir pantai senyap tak berpenghuni. Hanya deburan ombak terdengar, memecah kesunyian. Menyeberang kali, kusempatkan menciduk air Waybangik yang jernih, meminumnya beberapa teguk, dan mencuci muka. Jalan setapak itu sepi, dihiasi kehijauan semak dan pepohonan.
Dari pinggir pagar kupandangi sawah kami yang sedang menghijau, bak beludru yang digelar di lapangan besar, dari ujung ke ujung dibatasi kayuan, pohon rumbia, dan bambu, melambai-lambai ditiup angin pantai. Sekitar sebulan lagi padi akan berbuah, alangkah bahagianya orangtuaku bila panen tiba. Tapi biarlah, selamat tinggal kuucapkan sendiri pelan dalam hati.
Sepanjang perjalanan hampir 8 km sejak saya berjum-pa dengan Mamak Haji Syafii sampai ke Badak saya tak menjumpai seorang pun yang berpapasan. Hanya dari jauh kulihat sayup-sayup di laut titik hitam orang memancing dengan jukung.
Setelah menanjak di Waybiah, datar sebentar lalu jalan menurun melangkahi akar-akar besar. Becek dan sangat buruk, sehingga tak mungkin dilalui dengan kendaraan apapun, hanya jalan kaki yang bisa, dan kalau membawa beban, alangkah sulitnya.
Di bawah, jalan itu dapat melewati pesisir, pantai Teluk Sekhanggi, meski sempit memanjang hamparan pasir. Hatiku lega, seakan berada di dunia luas. Di sebelah kiriku, ombak memecah lemah, dan lebih ke tengah terhampar lautan yang memutih dibayangi terik mentari tengah hari. Nun jauh di sebelah barat sayup-sayup nampak garis biru Tanjung Cina membentuk lekuk besar, Teluk Semangka. Di tengahnya tenang membiru Pulau Tabuan.
Saya terus berjalan, membelok kanan dari pantai, ke dalam sebentar menyeberangi kali kecil yang berbatu. Kusempatkan membasuh muka, dan menciduknya beberapa teguk airnya yang jernih dan sejuk. Lalu menanjak tebing yang landai. Sekitar seratus meter dari sana kulihat lagi pantai teluk berbingkai pasir, indah dan sepi. Saya menuruni tebing lalu berjalan santai di pantai. Beberapa gubuk, mungkin tak sampai sepuluh, Swakbuntu, sepi. Sekitar 500m dari situ kumasuki kampung Badak. Seumur hidupku baru sekali saya ke sini, yaitu ketika disuruh guru Haji Muflih mengambil kambing bersama Nurihat. Kampung itu sunyi, tak kutemukan orang di jalan, atau dari rumah menegur perjalananku.
Sekitar 2 km jalan turun naik, datar dan menanjak, dengan bersimbah pluh kucapai Limau. Kampung demi kampung yang memanjang ke ulu, kulalui Kukhipan, Banjakhagung, Pekonampai. Di kiriku Kali Limau mendesah ringan, jernih tanpa beban. Kuingin turun menciduknya untuk membasahi dahagaku, tapi kakiku berjalan terus ke depan, tak hendak membelok menyusuri jalan. Sekitar 2-3 km melalui perkampungan itu, nampak banyak ibu-ibu membantu di suatu rumah, mungkin ada hajatan. Saya tak bertanya kepada siapapun ketika di ujung kampung itu kutemui jalan buntu. Tak ada jalan kecuali arah jalan setapak itu menyeberang kali. Cukup lebar, sekitar 10 meteran, tapi untung dangkal dan berbatu. Airnya jernih yang menarikku untuk menciduknya. Kucuci muka, dan kugayung lagi untuk membasahi kerongkonganku yang dahaga.
Sejak penyeberangan itu, jalan memintas-mintas tak kurang dari lima kali, kali Limau yang jernih, sejuk, berbatu. Hausku hilang, tapi perut mulai terasa lapar. Tak ada serupiahpun kubawa uang, jadi kutekan saja perut kalau berbunyi.
Di jalan ada seorang ibu menggendong anaknya, saya berjalan beriringan, tapi tak lama dia mampir ke warung membelikan anaknya jajanan. Kupikir alangkah nikmatnya, kalau kumiliki uang, akan kubeli pula apa saja yang dapat mengganjal perutku.
Lepas tengah hari saya sampai di Kukhungkamakh. Matahari menyengat dahsyat. Di kiri berjejer rumah-rumah membelakangi kali. Di hadapanku kini jalan mendaki. Meski lelah dan lapar saya tak berhenti. Kutanjaki jalan itu dengan menghimpun semangat. Apapun yang terjadi, tak ada pilihan kecuali berjalan terus. Tiba-tiba saya terperanjat, di hadapanku berbaris kafilah, ada sekitar 20 pria wanita berjalan menurun. Mulanya tak ada yang kukenal, tapi seorang wanita gemuk menegur:
”Aduh adek, haga dipa?” (Bahasa Daerah: Adik mau ke mana?).
Saya kenal dia, Kakak Samauwiyah. Dia berasal dari Putihdoh, yang diambil isteri oleh Pangeran Badak. Kujawab seadanya sambil lalu.
Rombongan dari Badak itu, baru kembali menghadiri hajatan di Gisting. Jaraknya lumayan, dari Gisting ke Badak tak kurang dari 40 km. Masa sulit dan pacaklik itu tak ada cara bepergian yang termurah kecuali jalan kaki. Saya berpapasan dengan mereka dengan tersipu. Mereka pun berlalu dengan beban berat, semua memikul atau menggendong bawaan.
Jalan mendaki itu cukup panjang dan curam. Sekitar 20 menit mendaki, saya tiba di sebuah gubuk. Ada seorang laki-laki sedang duduk di teras. Dengan malu-malu saya meminta kepadanya minum. Dia mengeluarkan ceret, dan cangkir. Dituangkannya air, berwarna coklat dan keruh. Entah sudah direbus apa belum Tapi karena dahagaku sangat, kuminum saja air itu. Kuduga, di musim kemarau seperti itu di situ juga sulit air, kalau hendak ke kali harus berjalan kaki ke bawah, seperti yang telah kulalui perjalanan tak kurang dari 2 km.
Saya membuka keranjang plastik yang kubawa, mungkin ada yang bisa kujual. Oh, ada sebuah batu mata cincin di dalam kantong baju. Kutawarkan kepada lelaki itu kalau dia mau beli. Dia hanya menggeleng, tapi saya agak senang, karena kutemukan juga sebuah rumbia. Saya lupa, pagi tadi ketika lewat di Waybiyah, kutemukan sebuah rumbia yang jatuh di pinggir pagar sawah, kupungut saja dan kumasukkan ke dalam ke-ranjang. Kucoba menelan buah rumbia yang kelat itu. Terasa pait dan sepat, tapi saya memaksanya melewati kerongkongan. Perutku lapar.
Saya berjalan terus menanjaki jalan-jalan landai yang panjang dan berbelok-belok. Di kiri terhantar tebing yang segenap lerengnya sampai ke kali, penuh tanaman kopi. Di seberang lebih selatan lagi membentang panjang bukit biru, anak pegunungan Bukit Barisan yang seakan mencakar langit. Saya berjalan kini telah berbalik arah. Kalau pagi tadi menuju barat kini kembali ke timur. Saya memperkirakan, di balik bukit-bukit itu, entah berapa km di selatan, kampungku yang kutinggalkan. Alangkah jauhnya saya sekarang ini perasaanku. Tiba-tiba kuingat ibu. Dialah yang selalu kurasakan kasih sayangnya, yang senantiasa menampakkannya dengan nyata. Dia tentu sangat bersedih, merasakan kehilangan atas kepergianku. Kutekan-tekan perasaanku, kubuai-buai dengan memantapkan tekad, sebagai laki-laki harus berani, tidak boleh menangis, kata hatiku. Namun bayangan ibu begitu nyata, tak dapat kubendung air mataku, meleleh juga di pipiku.
Sekitar sejam perjalanan mendaki-daki, jalan mulai menurun, tanah merah berdebu dan landai. Meski gontai jalanku, tak dapat kubohongi perutku lapar, dan kerong-konganku terasa tercekik, haus.
Saya melewati para pejalan kaki yang mampir di warung kopi, ramai sekali. Mereka berbincang-bincang lantang. Kubaca papan nama yang hampir roboh, ”Pematang Nebak”. Semerbak kopi panas dan teh yang dituang di dalam gelas menyengat, dipadu dengan aroma jajanan, jelas sekali harumnya, pisang goreng, kesukaanku. Akhirnya dengan menekan rasa malu, saya mampir juga di warung itu. Bukan untuk beli, melainkan minta. Ibu yang putih gendut itu, sangat sibuk melayani musafir, tapi dia tidak mengabaikan saya di depan pintu, yang termangu menunggu, meminta minum. Dia ambilkan untukku segelas teh tawar. Kuterima dan kuteguk sampai habis sambil berdiri. Kuucapkan terima kasih dan pergi.
Ketika berdiri di depan pintu itu sempat kudengar percakapan pedagang kerupuk dengan kenalannya, bahasa Banten. Tak dapat kumengerti, tapi kukira-kira saja, dua kalimat. ”Pardasuka” (nama kampung) dan ”selapan” (artinya sesungguhnya bahasa Banten 9, tapi saya mengartikan dengan bahasa daerah Lampung 8). Ah, dalam hatiku, di hadapanku sekitar delapan km ada Pardasuka. Kami ada saudara di sana.
Matahari masih menampakkan teriknya menje-lang petang. Kulihat di bawah terhantar dataran memanjang dari barat ke timur; warna sawah-sawah yang tak jelas kuning kelabu di selingi warna genteng perkampungan. Jauh tempat itu, tapi karena menurun dan hari masih sore, pasti kucapai sebelum maghrib, pikirku.
Jalan terus menurun, saya melewati dua suami isteri pejalan kaki, sedang beristirahat di bawah pohon-pohon petai. Kusapa sambil lalu, dan kulirik masih banyak tersisa makanan yang mereka santap. Sayang tak mempersilakan kepadaku, kalau ia, meski malu-malu pasti kuterima.
Setelah berjalan sekitar 1,5 jam, dengan melompati jalan-jalan sempit, cadas, tanah merah dan kebun kopi, di waktu petang kucapai kampung. Kubaca papan nama “Bolok”. Jalan berkrikil-krikil kecil dan berdebu. Tak ada lagi bekas-bekas aspal.
Saya berharap di kampung ini, dengan segala kerendahan hati, adalah kiranya orang menegurku, menyapa darimana hendak kemana, dan kalau merasa kasihan, akan menyilakanku mampir, alangkah beruntungya. Tapi tidak! Tidak seorangpun menegur, tidak ada seorang yang mem-perhatikanku.
Sisa petang masih memberikan kekuatan kakiku berjalan. Tak kutemukan mobil, hanya bekas-bekas jalan dilalui roda empat ada, mungkin mobil, mungkin gerobak. Tahun ini, 1966, adalah zaman permulaan Orde Baru. Orde Lama hanya meninggalkan sisa-sisa kemiskinan dan keterbelakangan. Di ujung kampung itu ada jembatan kecil, dan segera di sambut jalan terpatah-patah oleh genangan kubang yang menganga memotong jalan itu. Beberapa pohon kayu di letakkan di jalan berlumpur, agar dapat dilalui pejalan kaki dengan menitinya. Kutiti pohon-pohon itu dengan hati-hati. Kalau tidak, pasti saya akan terpeleset ke dalam kubang, maka alangkah repotnya, padahal bajuku hanya satu.
Hatiku susah, pikiranku kacau, antara menyesal dan berkobar, tapi perutku lapar. Seperti kisah Nabi Musa ketika ia lari dari Fir’aun ia berdoa: ’Asa Rabbi an yahdiani sawaa-as sabil (Mudah-mudahan Tuhanku menunjuki ke jalan yang benar). Lalu berdoa lagi, ”Rabbi inni lima anzalta ilaiya min khairin faqiir (Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (yaitu barang sedikit makanan) yang Engkau turunkan kepadaku).
Dua kampung, Bolok dan Banjakhmasin telah kulalui. Di selang-selingi oleh kebun-kebun, dan tanah terbuka, sedang suasana makin sepi, hari telah menjelang maghrib, cahaya surya makin redup, bersiap untuk menutupi hari itu dengan gelap. Namun, yang kuharap itu belum kutemu.
Saya terus berjalan, kubaca papan nama di ujung kampung, Tanjungrusia. Pakaianku yang lucu; sarung baju lusuh dan kopiah. tak menarik perhatian setiap yang melihatku, tak ada yang menegur. Sampai di barat jembatan, terdengar suara azan maghrib menggema. Tiba-tiba seorang laki-laki setengah baya yang hendak shalat di masjid menyapaku:
“Anak dari mana?”
“Dari Putih,” jawabku.
“Putih mana?”
“Putihdoh”
“Naik apa?”
“Jalan kaki!”
“Jadi mau kemana?”
“Mau ke rumah paman.”
“Namanya?
“Sera’i!” jawabku
“Oh...,” dia berpikir sebentar, “apa kerjanya?”
“Guru!” sahutku
“Ya…ya…, itu kawanku, saya juga guru.” Katanya.
“Mampir, mampir...anak tak akan tiba di sana sampai besok kalau jalan kaki.”
Saya diantar ke rumah sebelah kanan jalan, yang berhadapan dengan masjid itu. Anak mandi dulu, sambil menunjuk ke kali di bawah jembatan.
Setelah shalat di masjid saya disuguhi segelas besar kopi. Tapi saya tak biasa minum kopi, teh juga tidak, jadi kubiarkan saja hidangan itu di atas meja.
Orang laki-laki itu mengenalkan diri. “Namaku Haji Nawawi Umar,” katanya. Di rumah ini baru saja kena musibah, Ibumu di sini, maksudnya, isterinya baru seeming-gu ini meninggal dunia.
Setelah berbincang-bincang sejenak, saya diajak bersa-ma makan malam. Meski sehari tidak makan, tapi nasi tak bisa lewat di kerongkongan. Kerongkonganku terasa perih, karena kering. Saya menyuap nasi terhenti-henti.
Kakak, seorang gadis anak ayah yang menyajikan hidangan malam itu menyapa, mengapa terhenti-henti makan, apakah saya menyesal? Tentu benarlah apa yang ia duga. Saya merasa berada begitu jauh dari keluarga. Belum pernah saya berpisah dengan keluarga sejauh itu. Jaraknya hanya 35 km, tapi saya telah menempuhnya dengan seharian berjalan kaki.
Esok harinya ayah Haji Nawawi ini mengantarkanku ke pasar Pardasuka, jaraknya dari rumah kira-kira 1 km. Sepedanya, karena tak ada boncengan dituntunnya saja. Sesampainya di sisi pasar tempat mobil umum itu parkir, saya dititipkan kepada seorang pemuda, agar saya ditu-runkan ke suatu kampung, Way Awi Kota Dalom. Ketika salaman saya dipegangi ayah Haji Nawawi uang Rp 15,- (Ketika itu baru saja dikurs Rp1000,- menjadi Rp 1,-)
Dari percakapan di dalam mobil, kudengar pemuda itu (mungkin dia makhanai Batin Pardasuka) adalah maha-siswa yang akan kembali ke Yogya. Di dalam hatiku kagum, tetapi saya hanya diam saja, terjepit di antara penumpang yang padat. Mobil yang sarat penumpang ini meraung-raung, berjalan kencang. Kubaca sekilas sekilas kampung demi kampung terlalui: Penengahan, Padang-cermin, Sukajaya, Kotajawa, Kedondong, Tebajawa.…dst. Ada kampung-kam-pung yang tak sempat kuketahui namanya. Sekitar satu jam kemudian, saya ingin memperbaiki posisi duduk, kugerakkan kaki sedikit. Tiba-tiba pemuda itu, yang mung-kin lupa, menyetop mobil, ‘Stop…stop…berhenti…!”
“Adik,” katanya “turun di sini dan kembali.” Kubaca papan nama: Pekondoh. Saya bertanya kepada seorang nenek, nama Sera’i. Dia balik bertanya kerjaannya apa? Guru, sahutku. Mungkin nama Sera’i beberapa di sini. Oh ya, kalau guru di Kotadalom, anak jalan lagi ke sana, menunjuk ke jalan yang tadi kulewati. Nanti kalau bertemu masjid belok kanan. Tanya di sana.
Setelah menemukan masjid, saya belok kanan, dan sekitar 100 meter, saya terkejut oleh teriakan para wanita yang sedang duduk-duduk di halam rumah:
“Uiii…..Kaelany….!”
“Kaelany….!” Semua menatapku dengan heran
“Tiuyun…naa….” (Bahasa daerah, maksudnya: pergi tanpa pamit), kata yang lain.
Wanita-wanita itu tak ada yang kukenal betul, kecuali Ina (Tante) dari Putihdoh, isteri Paman Ramli yang baru nikah. Paman Ramli adalah guru SD di Putihdoh, yang berasal dari Kotadalom, adik dari Paman Sera’i, yang kutuju ini.
Mereka tak bertanya, datang dengan apa, atau karena apa?
“Antar ke jembatan,” kata mereka, maksudnya ke rumah dekat jembatan. Saya diantar ke rumah kecil dekat Jembatan. Di situ ada Mamak Thohiri, adik dari Mamak Sera’i, Ibung Ijud (panggilan dari namanya Khadijah), adik Paman yang bungsu, dan juga Nenek, ibu dari paman-paman dan tanteku yang ramai.
Saya disambut paman Thohiri dengan gembira. Dia adalah Guru SD, berpendidikan SMP lalu mengambil pendidikan SPG.
Mamak Thohiri sedang tidak mengajar karena kena bisul. Telah beberapa hari ini diam saja di rumah.
Dua hari saya di Wayawi datanglah Abangku Tamlihan HD. Dia mengabarkan betapa di kampung gempar, berita kepergianku telah menyusahkan orang banyak. Keluarga dan ahli pamili turut mencari. Tiga hal telah menjadi jelas, pertama hari itu saya tak masuk kelas, kedua, Alfiyah kawanku di PIGRI melihat dan bertemu saya di pertigaan jalan, jelas saya ke arah Waybangik, dan ketiga Manda H. Syafi’i bertemu saya di Pakhigading. Tapi di Waybangik saya tak ada. Maka, ada yang mencari sampai ke Badak. Di Badak informasi makin terang, bahwa ada rombongan kafilah dari Badak yang bertemu saya di Kukhungkamakh. Maka penca-harian dihentikan.
Yang paling susah tentu ibuku, yang kumimpikan selalu, yang bila kuingat, tak dapat kupertahankan air mataku mengalir.
Seminggu di Wayawi kami ke Tanjungkarang menemui Mamak Suhaidi, di pondokannya, Anjungtruna, Lebakbudi. Seperti yang telah kuceritakan dia sedang menempuh studinya di Fakultas Ilmu Pendidikan UNSRI cabang Lam-pung. Saya serahkan tanda lulus SR untuk mendaftar di ST (Sekolah Teknik, setingkat SMP). Karena pada waktu itu bulan Mei, saya harus menunggu sampai masa pendaftaran murid baru. Kami kembali ke kampung dengan perahu motor, melalui pelabuhan Gudangagen Telukbetung.
Pada bulan Agustus ada surat panggilan dari Mamak Suhaidi untuk segera ke Tanjungkarang. Masa itu masa pacaklik, kecuali tak ada biaya, juga orang tua, dan keluarga tak ada yang mendukung. Maka saya mulai mengalah, seakan surut menekan keinginan, tapi sesungguhnya sema-ngat di dalam tak pernah kendur, bergetar, panas dengan nyalanya yang terus berkobar.
KAMU KE GONTOR SAJA
Pendatang-pendatang makin ramai, entah dari mana-mana, datang bersama-sama, suami isteri atau dengan keluarga, atau sendiri saja menjinjing nasib pribadi. Mereka datang lewat laut dengan menumpang perahu motor. Dan kalau lewat darat tak ada cara kecuali jalan kaki, tak ada kendaraan, gerobak pun tidak, karena jalannya tak mung-kin. Berjalan kaki begitu jauh, seperti yang pernah kutempuh, jarak yang terdekat pada kampung yang dilewati mobil ke kampung kami adalah 35km. Jadi, mengapa berpayah-payah? Ya, begitulah, karena sekitar setengah bulan lagi di sini ibarat ada tengguli tumpah, semut datang merambah. Di sini, di Putih dan sekitarnya akan musim besar, musim cengkeh, saat yang sangat dinantikan penduduk setiap masa, setiap waktu. Musim besar tidak selalu datang tiap tahun, kalau datang pun tidak besar semua, musim raya diselingi penyelang, musim kecil. Dan kalau musim besar, akan tiba masanya sebagai yang telah kuceritakan laksana hujan uang. Karenanya, orang mau saja datang meski berpayah-payah menempuh laut atau jalan kaki, agar dapat kepercikan uang, yang turun bagaikan hujan.
Pendatang-pendatang yang berjalan kaki ini saya temui sendiri di jalan setapak, dan di jalan-jalan sepanjang jarak dari Putih ke Bolok. Yang dulu kukatakan alangkah sukarnya membawa beban, ternyata itulah yang terjadi, orang-orang datang dengan menggendong atau menunggang barang-barang berat dagangan.
Musim besar dan hujan uang sekalipun tak menarik hatiku, saya tak peduli, hatiku sudah terbuai oleh cinta, tapi bukan kepada wanita, melainkan pada ilmu.
Ya, saya ingin sekolah, menebus waktu-waktu yang telah berlalu, peluang-peluang yang terbuang. Lima tahun di Madrasah PIGRI, kurasakan ilmuku dangkal. Baik dari ting-kat pendidikan maupun dari ilmu yang kudapat, saya menyesal. Kawanku yang dulu sebangku di SR (1964) kini telah tamat SMA (1969), sedangkan saya hanya memperoleh surat keterangan yang kuminta dari Ustaz H. Muflih, setingkat apa? Tak dapat kuandalkan untuk melanjutkan kemana?
Tapi tekadku mantap, pergi lagi. Tidak seperti pergiku dulu yang tak membawa serupiahpun, kini kubawa Rp3200.,- Uang ini kudapat dari mengambil cengkeh, meski belum masa petik, tapi dengan memilih-milih dapat kuambil beberapa kg. Kaka, isteri abangku menambahkan sekitar 1,5 kg cengkeh kering.
Subuh itu saya ke kali mandi dan shalat, lalu buru-buru pulang ketika ayahku juga sedang di kali. Hari masih gelap, untuk melihat jalan saya lewat pantai, ke Lambokh, berjalan di atas pasir ke Waygahugah, lalu ke Paticumuk. Hari mulai terang, saya mendaki tanjakan ke Pakhigading, Kakhang-kepaling. Semak-semak yang hampir menutupi jalan setapak itu masih diselimuti embun, dingin membasahi bajuku.
Jalanku bersemangat, cepat, dan badanku bermandi keringat. Seperti kepergianku pertama, jalan yang kulalui tak jauh beda, Waybangik, Sekhanggi, Swakbuntu, Badak. Di ujung kampung Kukhipan, Limau, seorang yang masih melilitkan anduk di kepalanya, menegurku, “Hai puakhi haga dipa kheji pagine?” (Saudara mau kemana sepagi ini?). Dia baru mau sholat di surau di pinggir kali kecil. Shalat apa, dhuha atau shubuh, saat matahari sudah menyingsing sepenggalahan? Memang terlalu pagi saya sampai di sini, sekitar pk 7.00 yang jaraknya tak kurang dari 12 km dari Putih. Tapi kukira orang itu juga bangun kesiangan. Jadi kutanggapi saja dengan senyum, dan saya berlalu dengan tergesa.
Setelah tengah hari barulah saya banyak berpapasan dengan orang-orang yang hendak mengadu untung di kampungku, mereka datang membawa beban dagangan dan alat-alat.
Di Kukhunghkamakh, saya mampir di rumah makan kecil, saya makan dengan telur dadar, tempe dan sayur. Sepiring nasi dengan segelas air hangat memandikanku dengan keringat. Cukup kukira, untuk menempuh setengah jarak lagi perjalanan. Saya menanjaki jalan mendaki, tak terasa letih, sebab perutku kenyang, tak seperti dulu ketika pergi pertama. Waktu zuhur saya sudah sampai di Bolok. Setelah shalat kucari mobil ke Tanjungkarang. Sekitar jam dua lewat saya sampai di Bambukuning Tanjungkarang. Saya mulai bingung hendak kemana?
Saya ingat Bu Lutan, isteri Angku Lutan yang konon tamatan Diniyah Putri Padang Panjang. Di Putihdoh, dia sering cerita tentang kemajuan pendidikan di Sumatera Barat, termasuk banyak tokoh agama yang tamatan sekolah sana. Saya juga pernah baca, tentang kemajuan tokoh-tokoh Sumbar, seperti Hamka, Hatta, Agussalim dll. Jadi saya ingin ke sana, tapi bagaimana? Uangku tak genap lagi Rp3000,-.
Dalam kebingungan itu saya dengar kernet menyeru-nyeru, “Kotabumi…kotabumi…!”
“Kotabumi dik?” sapanya kepada saya.
Saya pikir kalau hendak ke Padang bisa lewat Kota-bumi terus ke Palembang.
Saya naik mobil superband yang setengah mewah itu. Ongkosnya Rp125. Mobil itu dengan kecepatan biasa menempuh jalan mulus menuju utara. Cahaya matahari di Barat masih menyengat, melengkapi rasa sumuk di dalam mobil. Beberapa penumpang nampak mengipas-ngipas dan menyeka keringat. Duduk di sampingku seorang pemuda ganteng. Kutanya hendak kemana, pulang ke Kotabumi, katanya.
Sejam kemudian, matahari mulai condong di balik bukit, di kanan terhantar sawah yang hijau kemilau menyala-nyala dengan nuansa kuning keemasan dari pantulan cahaya surya petang. Tak lama berselang nampak samar-samar tabir malam menyebarkan kelam. Di upuk barat senja jingga menyepuh cakrawala. Segenap penum-pang diam, menyimpan segala rahasia dan problema dalam sanubarinya masing-masing. Hanya diri sendiri dan Tuhan-nyalah yang mengerti. Saya termangu memandang ke dalam sanubariku yang dalam, betapa risau betapa kacau. Jawaban pemuda di sampingku tadi menambah sesak di hatiku. Kami akan sampai di Kotabumi, dan orang-orang akan pulang ke rumahnya, tapi saya makin jauh dari rumah, hendak kemana, tak ada yang kutuju, tak ada tujuan yang pasti.
Menjelang isya mobil yang kutumpangi tiba di Kotabu-mi, sebuah kota di Lampung Utara. Semua penumpang turun. Saya berdiri beberapa saat di stanplat. Di sekelilingku ramai orang berjalan ke sana ke mari, masing-masing bergerak dengan tujuan tertentu, dengan beban menjinjing, menggendong, atau berjalan santai. Saya melangkah ke depan, keluar stanplat sambil melihat-lihat. Oh ada pasar yang berpenerangan lampu teplok, lilin, atau petromak. Ya, semacam pasar kaget yang menjual berbagai jualan mulai dari sayur-mayur, jajanan dan pakaian. Saya mencari-cari makanan untuk mengganjal perutku. Wah, ada ketan, maka kubeli dua, tapi rasa laparku ciut ketika kucoba hendak memakannya. Rasa kacau di hatiku, membuat lidahku me-nolak segala macam makanan, maka jajanan itu kusim-pan saja dalam tas.
Tak jauh dari pasar itu saya menemukan penginapan. Kubaca papan nama di depannya, “Hotel Setiabudi.” Saya masuk dan menanyakan apa ada kamar kepada seorang pemuda di kantor hotel. Pemuda itu menanyakan indenti-tasku. Saya tak bawa KTP, hanya surat keterangan yang memuat nilai rapotku di PIGRI. Melihat penampilanku yang amat sederhana dari kampung, akhirnya saya diperbolehkan menginap dengan tarif Rp200 semalam.
Sehabis mandi, pemuda pengurus hotel itu bertanya kepada saya, dari mana dan mau kemana. Saya ceritakan bahwa saya pergi untuk mencari sekolahan. Sekolah apa? Di sini banyak katanya, kalau mau sekolah tingkat SMP, SMA atau sekolah agama. Saya katakan akan ke Palembang, tapi bagaimana caranya. Dia menyarankan agar ikut 2 tamu yang menginap di hotel itu. Nanti malam keduanya akan berang-kat ke Palembang dengan kereta Limex. Jadi tidurlah dulu, nanti malam dibangunkan.
Saya tak bisa memejamkan mata, ingatanku menera-wang ke kampung, kepada ibu dan adik-adikku. Saya tak menyesal pergi tapi hatiku risau. Ketika mata baru saja terlelap, pemuda pengurus hotel mengetuk pintu. “Siap!” serunya.
Kedua laki-laki yang nampak tergesa itu agak berat untuk membawaku serta. Di stasiun, keduanya menyaran-kan agar saya naik kereta barang, yang hendak ke Palem-bang lewat Baturaja. Dengan bodoh yang menunjuk-kan keudikanku dari desa saya naiki kereta barang yang sedang berhenti itu. Saya tak tau caranya bagaimana naik kereta, baru kali itu saya menjejakkan kaki di atas gerbong. Kapan hendak berangkat, saya tak mengerti. Yang penting mung-kin, bagi kedua laki-laki tadi, saya tak menjadi beban mereka.
Sekitar lima menit saya duduk di gerbong itu datang seorang satpam atau hansip.
“Hei….siapa itu? Turun…turun…!” hardiknya.
Saya turun dengan menyesal dan kecut. Hatiku bertambah risau dan kacau. Waktu mungkin sekitar pukul satu malam. Di stanplat mobil yang tak jauh dari stasiun, saya mendengar kernet berseru, “Karang…karang…!”
Tanpa pikir panjang saya naik ke mobil. Saya tertidur penat. Sekitar pukul 3.30 tak terasa mobil sudah sampai di Tanjungkang. Dinihari yang dingin, kota ini masih sepi. Semua toko sedang tutup. Rasa kantukku yang parah tak menghentikan kakiku melangkah. Kemana saya hendak pergi? Tiba-tiba kulihat marka yang menunjuk arah dan jarak, Telukbetung 5 km. Saya ingat kawan karibku, Sarman Ali. Dia adalah anak seorang polisi, Pak Ali yang dulu pernah bertugas di Putihdoh. Ah, saya akan ke sana saja. Dengan jalan kaki paling lama satu jam, kupikir. Maka saya berjalan lurus mengikuti jalan aspal yang mulus. Di bawah lampu jalan, kadang terang kadang gelap saya berpapasan dengan banyak pedagang yang hendak berjualan di pasar. Ketika jalan menurun di sekelilingku sepi dan gelap. Di kanan jalan ada onggokan-onggokan putih, apaan? pikirku. Setelah kuperhatikan dengan seksama, auw, kuburan Cina! Saya terus berjalan sambil baca-baca, ayat kursi, qulhu dan qul-a’u. Saya tiba di rumah Sarman di Gulakgalik menjelang subuh. Kuketuk rumahnya sambil memberi salam. Mereka terkejut ketika membuka hordeng, melihat saya berdiri di depan pintu. Sarman, Kak Sari, Ibu dan Pak Ali membuka-kan pintu dengan heran. Sekarang sedang musim gawat, banyak garong dan penjahat, kata Pak Ali. Sarman mengira saya kawan pramukanya, yang akan mengajaknya menjalan-kan tugas kepanduan.
Kak Sari menyela ketika Sarman hendak bertanya perihalku, “Biarlah dia tidur dulu, masih malam, besok pagi kita sambung lagi.” Saya terlelap sekitar sejam, dan pagi-pagi bangun dengan badan agak segar.
Setelah mandi, baru kuceritakan perihalku yang pergi ingin sekolah. Mereka seisi rumah kasian, tapi bagaimana tak bisa menolong. Ibu, isteri Pak Ali, malah menyarankan agar pulanglah dulu ke Putih, toh akan musim cengkeh, carilah uang untuk modal umpamanya berjualan gendong, jualan rokok, untuk biaya sekolah.
Sarman menyarankan agar langsung kuliah, bukankah dia telah tamat SMEA, sedangkan kami sebaya, sama-sama tamat SR 1964 enam tahun yang lalu, tentulah juga saya telah menempuh sekolah di desa setingkat SLTA. Ya itulah yang kusesalkan, 6 tahun sekolah di PIGRI tak jelas jenjangnya, jadi mau melanjut ke mana?
Kak Sari menyarankan agar saya ke Banten saja, di situ ada psantren-psantren yang menampung murid secara gratis. Saya tertarik, tapi bagaimana caranya. Waktu itu hendak ke Jawa banyak betul persyaratannya, KTP, Surat jalan, bebas cacar, dan macam-macam surat kererangan. Kadang-kadang yang menghardik-hardik menanyakan berbagai surat itu adalah petugas gadungan yang berkeliaran di Pelabuhan. Ya, ujung-ujungnya minta duit.
Saya membantu Sarman mengerjakan apa saja sebagai pengganti anak perempuan, mulai dari nimba air, mencuci piring, mencuci pakaian, masak dan sebagainya. Siangnya setelah beres pekerjaan di rumah kami ke Pelabuhan Pan-jang, hanya melihat-lihat kapal yang hendak berangkat ke Jawa.
Suatu malam kami: Kak Sari, Sarman dan saya berja-lan kaki melihat-lihat. Sehabis ke Pasar malam yang masuk secara gratis, karena Pak Ali tugas di situ, kami ke Pasar Mambo. Dengan memintas-mintas, kami berjalan menyu-suri pertokoan, dan melihat-lihat sepintas iklan pertunjukan di bioskop.
Di sebuah tikungan, tiba-tiba Sarman berhenti, dan meminta saya bersembunyi, “Ada Bang Syarif,” bisiknya.
Syarifuddin, adalah pamanku, adik ibuku. Masih ingat seperti yang telah kuceritakan di depan? Dia adalah saudagar muda, rupanya sedang ke kota mencari dagangan untuk menyambut musim cengkeh yang ramai.
Sarman menyapa paman. Setelah berbincang sebentar, saya dengar Sarman mengatakan “Bang Syarif, ada Kaelany….”
“Di mana?”
“Di Tanjungkarang!”
“Ayuk kita ke sana!” pinta Paman
Setelah melihat isyarat paman tak marah, Sarman segera menghampiriku dan menyuruh saya menemui paman.
“Mari ke hotel aja.” Ajak paman
Kami ke hotel. Di hotel kami bebincang-bincang. Setelah mendengar semangatku yang berapi-api ingin sekolah paman mengatakan, “Kamu ke Gontor saja!” Saya tersentak gembira.
“Kemana saja saya mau asal pasti,” kata saya kepada paman, “kalau tak pasti saya tak mau pulang ke kampung. Sudah dua kali pergi, ah malu kalau kembali lagi.”
“Pasti!” kata paman, “Kamu saya akan titipkan ke anak Gontor yang sedang libur di Talangpadang, tapi kalau dia sudah berangkat, kita pulang dulu ke Putih dan berangkat bersama rombongan di bulan Haji nanti.”
Saya dengar kabar, akan ke Gontor antara lain: Sayuti Zuhri, Zulya’i Zaidi, Usman Marzuki, dan Zaenuddin Muzanni. Ketika kami ke Talangpadang, ternyata santri Gontor itu sudah berangkat, maka meski berat dan malu saya pulang dulu ke kampung.
Kami mampir di Kotaagung menginap semalam di rumah Paman Zera’i sambil menanti perahu motor esok harinya. Saat itu bulan Syawal, musim besar. Saya sempat mengumpulkan uang, membeli pakaian, celana dan baju. Bulan haji, dua bulan lagi terasa begitu panjang, saya tak sabar.
Pada bulan Haji kami rombongan berangkat dari Putihdoh ke Gontor, yaitu: Sayuti Zuhri, Usman, Zaenuddin, dan saya. Pengantarnya: H. Zuhri ayah Sayuti, H. Marzuki ayah Usman, H. Muzanni ayah Zaenuddin, dan H. Syarifuddin pamanku. Sebagai penunjuk jalan serta kami juga ustaz H. Muflih, guru kami di PIGRI. Melengkapi rombongan kami serta pula H. Muzanni seorang saudagar muda.
Kisah selanjutnya baca buku: “Gontor dan Kemandirian”, Pedoman Ilmu, Jakarta, 2002.
Lampiran
Catatan:
Para sarjana dari Kampungku
Sejak tahun 1950-an sampai menjelang tahun 1970-an, dari sekian puluh anak-anak yang mengenyam pendidikan di Tanjung Karang, Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, dapat dikatakan semua kembali ke kampung, Belum ada yang tamat SMA dan yang setingkat.
Di tahun 1970 baru beberapa anak tamat SMA: antara lain: Tahmid, Ahmad Bahrazi, Mas’ud, Tohri. Morhali. Dan 4 orang ke Perguruan Tinggi, yaitu: Mursyid Arsyad SH (alumni UII Yogya), selaku pembantu Bupati wilayah Kewedanaan Kotaagung, Sayuti Zein SE (UNILA) menjabat Direktur BPD Lampung, Drs. Mun’im Nasir (UNPAD Bandung) bekerja PU Lampung, dan Drs. Amirsyah Thalib (UNILA) bekerja sebagai pegawai Departemen Perdagangan Jakarta.
Sejak tahun 1980-an beberapa mahasiswa dapat meraih sarjana, antar lain: Kaelany HD bersama Sayuti Zuhri selesai di IAIN Walisongo Semarang tahun 1981. Kemudian banyak yang berhasil berikutnya seperti: Drs. Baidhowi, Drs. Musnad Khozin, Dra. Zuraini (IAIN Jogya); Drs. Zainuri (IKIP Yogya), Nurhasan SH (Univ. Proklamasi Yogya), Drg. Fahmi Khairullah (UGM); Drs. Basri MS, Drs. Faidhullah Jamal, Dr. Drs. H. Aminullah HM (IAIN Jakarta). Rusli Cukuh SH (Jayabaya); Drs. Khairul, Dra. Darma-taksiayah, Dra. Sunur (IAIN Lampung); Dra. Asmanah, Yarisuni, S.Pd. Khaibar HS, SH, Drs. Bulqaini, Drs. Tamrin Zubaidi, Ir. Shomad, (UNILA), Hadian Saiful S.Ag (STAI Ngabar).
Sarjana Muda: Muhatazir, BA, H. Zurkaranain, B.Sc. M. Thohir, B.Sc. Fakhriyah, B.Sc. dll.
Beberapa lagi tidak terdapat data sehingga belum dapat dicantumkan dalam catatan ini. Yang belum tercan-tum, yang terlupa, salah eja, mohon maaf.
Hubungi kami: Midada Center telp. (021)8702381. HP 081384149016.
Buku-buku tulisan Dr. Kaelany HD., MA
Dosen MPK Agama Islam UI & Direktur Midada Center.
1. Kependudukan di Idons & Berbagai Aspeknya, Mutiara, 1981~ Rp 30.000,-
2. Dunia Kecil, Mutiara, 1984 ~ Rp 12.000,-
3. Iwat Batin, Mutiara, 1984 ~Rp 9000,-
4. Orang-Orang Terkenal dari Abad ke
Abad, Indrajaya, 1984 ~ Rp 12.000,-
5. Turut Ayah ke Pulau Timah, Mutiara, 1985 ~ Rp 11.000,-
6. Air Kawan Kita, Karya Indah, 1986 ~ Rp 11.000,-
7. Peluang di Bidang Pariwisata, Mutiara, 1987 ~ Rp 15.000,-
8. Petunjuk Praktis Belajar Membaca Al- Qur’an, Mutiara 1986 ~ Rp 10.000,-
9. Berkunjung ke Lampung, Genuska, 1997 ~ Rp 13.000,-
10. Islam dan Aspek-Aspek Kemasyarakatan, Bumi Aksara, 1993 ~ Rp 31.000,-
11. Islam Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Renika Cipta, 1996 ~ Rp 17.000,-
12. Islam, Iman dan Amal Shalih, Renika Cipta, 1997 ~ Ep 31.000,-
13. Islam Kasih dan Damai bagi Alam, Restu Agung, 2003 ~ Rp 16.000,-
14. Pandangan Islam tentang Pariwisata, Misaka Ghaliza, 2003 ~ Rp 20.000,-
15. 15. Gontor dan Kemandirian, Pedoman Ilmu, 2003 ~ Rp 23.000,-
16. Islam Agama Universal, Midada Rahma Press, 2006 ~ Rp 31.000,-
17. Tobat Nashuha, Midada Rahma Press, 2006 ~ Rp 10.000,-
18. Buku Guruku, Midada Rahma Press, 2006 ~ Rp 11.000,-
19. Aku Suka Buku dan Gemar Membaca, MRP, 2006 ~ Rp 8.000,-
20. Alam Terkembang sebagai Guru, Midada Rahma Press, 2006 ~ Rp 15.000,-
21. Kisah-Kisah Perjalanan, Midada Rahma Press, 2006 Rp 25.000,-
22. Selamatkan Bangsa dari Narkoba, Midada Rahma, 2005 ~ Rp 20.000,-
23. Shalat Kebutuhan Hidup, Restu Agung, 2006 ~ Rp 18.000,-
24. Hajji Perjalan Spiritual Menuju Ilahi, MRP, 2006 ~ Rp 15.000,-
25. Menggapai Taqwa dengan Puasa, MRP, 2006 ~ Rp 15.000,-
26. Ujung Kehidupan, MRP, 2006 ~ Rp 25.000,-
27. Mereka yang Kukenal, Mereka yang Kukenang, MRP, 2006 ~ Rp 40.000,-
28. Jaya Bangsa karena Membaca, MRP, 2007 ~ Rp 20.000,-
29. Studi, Mengabdi dan Berprestasi (Biografi Jimly Asshiddiqi Ketua Mahkamah Konstitusi), Mikdada Rahma Press, 2007 ~ Rp 40.000,-
30. Menapak Zaman Berpijak pada Iman, Midada Rahma Press, 2007~ Rp 95.000,-
31. Semarang dalam Kenangan, (MRP, 2008) Rp 25.000,-
32. Pribadi Muslim, MRP 2009 Rp 15.000,-
MIDADA CENTER
Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LP2M)
Lembaga Pendidikan, Pelatihan dan Seminar (LP2S)
Lembaga Penulisan dan Penerbitan Midada Rahma Press (LP2MRP)
Lembaga Gerakan Gemar Membaca dan Perpustakaan (LG2MP)
Lembaga Pengelolaan dan Penyaluran Beasiswa (LP2B)
Toko Buku, Distributor Midada (TBDM)
Percetakan Midada (PM)
Midada Center
siap memfasilitasi, mengedit
dan menerbitkan tulisan yang tercecer, makalah,
catatan harian, biografi
Bapak Ibu Dosen
dan Guru Besar
dalam bentuk buku
lengkap dengan ISBN
Cepat dan biaya terjangkau
Hubungi kami
Lembaga: Penulisan dan Penerbitan
Midada Rahma Press
Jalan Rahayu No. 52 Kalisari
Pasarebo Jakarta 13790
Telp. (021) 8702381 HP 081384149016
MIDADA CENTER
Jalan Rahayu No. 52 Kalisari Pasarebo Jakarta 13790
Telp. (021) 8702381 HP 081384149016
mengajak masyarakat untuk meningkatkan
Gerakan Gemar Membaca
Giat Menulis dan Mencintai Buku
Motto:
Jaya Bangsa karena Membaca
Membaca Mengubah Dunia dari Era Primitif ke Era Modern
Buku adalah Guru
Dunia Maju karena Buku
Tentang Penulis
Dr. Kaelany HD., MA, lahir di Putihdoh, Lampung, 21 Juni 1953. Ia adalah Direktur Midada Center dan Presiden Direktur Media Opportunity. Sejak tahun 1986 diangkat menjadi staf pengajar (kini Lektor Kepala, IV/c) mata kuliah Agama Islam di FIB, FKM, FMIPA, FT, FE, FISIP, FIK, FK, Fasilkom UI Depok. Dia juga mengajar Fikih Mu’amalah pada Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam UI Salemba. Sebelumnya pernah bekerja sebagai Guru SMP-SMA di Semarang (1976-83); Bagian Telex dan Radio Operator PT BHPI Belitung; Subbag Allergi-Immunologi RSCM, dan Wartawan Bisnis Indonesia.
Pendidikannya: SR Putihdoh (tamat 1964), Madrasah PIGRI (1965-1969), PPWS Ngabar (1970), dan Gontor (tamat kelas VI 1975). Gelar sarjana diperoleh (1982) di Fakultas Syari’ah IAIN Semarang dengan skripsi: “Prinsip-prinsip Islam dalam Masalah Kependudukan”. Waktu bersamaan ia mengikuti kuliah sore di Akademi Publisistik Pembangunan Dipanagara (APPD) selesai tahun 1981 dengan skripsi “Kedudukan Make up Foto pada Harian Suara Merdeka Semarang”.Gelar Doktor diperoleh di UIN Jakarta (2001) dengan disertasi: “Pariwisata dalam Perspektif Islam
Pemenang ke-3 Lomba Menulis Tingkat Nasional Depag (2001) ini giat menulis baik di surat kabar maupun berbentuk buku. Buku karangannya yang telah terbit ada sekitar 20 buku untuk tingkat SD sampai SMA. Sedang tulisan untuk mahasiswa dan umum antara lain: “Kependudukan di Indonesia dan Berbagai Aspeknya (Mutiara, Jakarta,1981); “Peluang di Bidang Priwisata” (Mutiara, Jakarta, 1986); “Islam dan Aspek-Aspek Kemasyarakatan, (Bumi Aksara, Jkt, 1992, cet. ke-2, 2000); “Islam, Kependudukan dan Lingkungan Hidup” (Renika Cipta, Jakarta, 1996); “Islam Iman dan Amal Shalih” (Renika Cipta, Jakarta, 1997); “Pandangan Islam tentang Priwisata” (Misaka Galiza, Jakarta, 2002);“Gontor dan Kemandirian” (Bina Utama, Jakarta, 2002); “Islam Kasih dan Damai bagi Alam” (Restu Agung, 2004); “Islam Agama Universal” (Midada Rahma Press, Jakarta, 2006); “Kisah-Kisah Perjalanan” (Midada Rahma Press, Jakarta, 2006); “Alam Terkembang sebagai Guru” (MRP, Jakarta, 2006); “Studi Mengabdi dan Berprestasi”, (Biografi Prof. Dr. Jimly Ash-shiddiqie, MDR, 2006), “Semarang dalam Kenangan” (MRP, 2008), Pribadi Muslim” (MRP, 2009). Beberapa lagi sedang sedang diproses penerbitan.
2 komentar:
salam...kemuakhian mamak jak zulpakor oktoba...mahasiswa ISTN jakarta..asal kal pekon pardasuka way lima...
Salam kemuakhian
Dengar, pemberi pinjaman di sini adalah bersedia untuk membantu Anda, semua Mereka hanya di sini untuk merobek Anda uang Anda sulit diperoleh. Suami saya dan saya mencari pinjaman dari kreditur online yang berbeda tetapi pada akhirnya, kami ditipu dan merobek uang kita dengan pinjaman perusahaan yang berbeda secara online.
Kami bahkan meminjam uang untuk membayar ini pemberi pinjaman online tapi pada akhirnya, kami punya suami nothing.My dan saya berada di utang, dan kami tidak punya satu untuk menjalankan untuk membantu, bisnis keluarga kami hancur dan kami Apakah tidak bisa mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sampai seorang teman saya Diperkenalkan kita untuk Emamllualoanfirm? yang Membantu kami dengan menawarkan kita loan.For tanpa jaminan hanya 2% untuk informasi lebih lanjut tentang cara untuk mendapatkan kontak pinjaman Anda Emamllualoanfirm@gmail.com
Posting Komentar