Kaelany HD
SEPEKAN DI NEGERI JIRAN
Seri Kunjungan wisata
Sepekan Di Negeri JIRAN
Penulis: Kaelany HD
Diterbitkan oleh:
Midada Rahma Press
Jl. Rahayu 52 Kalisari Pasarebo
Jakarta 13790
Telp: (021) 8702381; HP 081384149016
E-mail: kaelanyhd@ymail.com;
midadacenter@ymail.com
Cetakan 1, April 2014
Desain Sampul: Asyraful Umam
Pengetikan: Ahsani Taqwiem
Tataletak: W.S. Herli/Tim MRP
Keuangan: Harlina
Sirkulasi: Tasyriqi Muna
KATA PENGANTAR
Sering kita naik darah, tersinggung, dan merasa dilecehkan. Namanya juga tetangga, jiran, yang dengannya kita memang harus bertenggangrasa, dan janganlah pula buru-buru buruk sangka. Itu yang sering terjadi, kita (Indonesia) dengan Negeri Jiran, yang serumpun itu.
Kasus-kasus yang terjadi umpamanya, tiba-tiba terde-ngar di TV atau di surat kabar, ada berita, Negeri Jiran itu (Malaysia) membajak dan mengakui bahwa “Riog” tarian yang tersohor khas Ponorogo itu adalah kebudayaan asli mereka. Lagi Sipadan pulau di perbatasan Kalimantan, mereka akui sebagai wilayah mereka, dan tak kurang banyaknya berita-berita miring tentang tenaga kerja kita yang diperlakukan tidak baik di sana. Benarkah?
Maka ketika ada ajakan dari Dian As-Safri, staf ahli di DPR yang akan berkunjung ke Malaysia dalam rangka Studi Banding Gozis (Gerakan Orang Berzakat Infak dan Sedakah) di sana, saya menyambutnya dengan senang hati. Kunjungan ini bertepatan dengan Kunjungan Abu Rizal Bakri Ketua Umum Golkar di Negeri Jiran itu untuk sekaligus meresmikan Pengangkatan Ketua Golkar Luar Negeri (Malaysia dan Brunei).
Kesempatan ini, dalam pikiran, akan saya pergunakan mencatat kabar-kabar negatif tentang negeri Jiran itu, untuk mengobati rasa jengkel yang selama ini terpicu oleh berita-berita miring di surat kabar, tv, dsb.
Meski hanya sepekan, kunjungan ke sana, tapi luma-yanlah, saya dapat merekam beberapa hal untuk sekedar catatan yang mungkin dapat dijadikan cermin banding.
Tapi tulisan ini hanya tulisan ringan, sehingga pastilah tidak lengkap dan banyak kekurangannya di sana sini. Mohon maaf untuk segalanya itu. Selamat membaca. Terima kasih.
Jakarta, 10 April 2014
Penulis
DAFTAR ISI
Hal Depan
Hal Penerbit
Kata Pengantar
Daftar Isi
KE BANDARA SOEKARNO-HATTA ~ 1
Berangkat ke Bandara ~ 1
KE BANDARA
SOEKARNO-HATTA
BERANGKAT KE BANDARA ~ Di luar cuaca cerah, kesejukan yang ditiupkan oleh kehijauan bukit kecil di sekitar memberikan kenyamanan dan kebahagiaan. Burung-burung mungil meloncat dan terbang rendah di pohon mangga depan rumah. Kemilau fajar di timur, menampilkan nuansa warna jingga keemasan. Kicauan burung-burung itu tiba-tiba seakan terhenti ketika terdengar suara azan menggema dari corong di mushalla seberang kali. Saat ini, nampak geliat para tetangga membuka jendela, tapi mungkin banyak lagi yang masih meringkuk di dalam selimut.
Selasa, 5 Maret 2013, bangun pk 04.00 menanti sampai pk 05.05, tergesa-gesa dibangunkan istri takut terlambat, shalat shubuh, ternyata belum waktunya.
Saya telpon Dian, ”Shalat shubuh dulu tunggu di rumah saja!” katanya. Karena shalat tadi belum waktunya, maka shalat shubuh saya ulangi, dan menanti sampai pukul 05.00, jemputan belum juga datang.
Si Ardi menjemput dengan motor. Tiba di rumah Dian (Dian As-Safri), pk 05.30. Menanti sebentar, lalu berangkat dengan mobil yang distirnya sendiri. Di lampu merah Pasarebo macet, sport jantung, takut terlambat. Lewat Pancoran sudah pk 06.00. Di depan mobil B1334SRJ menghalang-halangi. Meski masuk jalur cepat, terhenti-henti, padat sekali. Padahal, pk 07.00 harus sudah berada di Bandara.
”Wah, cerdas,” kata Dian. Oleh petugas Bina-marga, sebelah kanan ruas yang berlawanan arah Cawang diambil untuk memberikan jalan kepada kendaraan yang padat ke arah Semanggi. Pancoran lancar, mobil melesat melalui tol ke arah Grogol: Kiri kanan nampak gedung-gedung pencakar langit me-mantulkan cahaya surya pagi yang cerah.
Ah, melewati LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Kalau saya lewat di sini selalu pikiran mengenang peristiwa lama, pada tahun 1984, 30 tahun yang lalu, saya pernah ikut tes di sini tapi tak lulus. Kalau lulus, mungkin saya tidak di UI. Dr. Herman Hidayat kawan saya yang sudah menjadi periset di sini, menenangkan hati saya. ”Jangan kecewa,” sarannya, ”Kalau di LIPI, anda mencari, tapi di UI Anda memberi.” Maksudnya, sama-sama berke-cimpung di kancah ilmu pengetahuan.” Ya memang, di LIPI, kegiatan riset (mencari), dan di UI mengajar (memberi). Maka waktu itu, meski saya lulus pula di Litbang Depag, saya pilih di UI saja.
Pk 06.10 jurusan Cengkareng, Kapuk, Airport lancar. Di Bandara 06.55, segera masuk lima menit lagi terlambat. Turun tangga, disambut oleh bus bandara menuju pesawat terbang, Naik pesawat pk 07.00 (tepat waktu). Tempat duduk dekat jendela, berdampingan dengan Dian, dengan No. 30 E/F. PT. Angkasapura II, dengan membayar Rp150.000 airport tax, bording pass.
EKSPEDISI GOZIS ~ Ke Malaysia dalam ekspedisi ini adalah kunjungan studi banding ”Gerakan Orang Berzakat Infaq dan Sedekah” (Goziz), suatu lembaga zakat di bawah naungan Golkar. Gerakan ini, merupakan suatu wadah untuk menampung zakat infaq, dan sadaqah, utamanya dari kalangan anggota Golkar yang hendak mengeluarkan infaknya, lalu disalurkan kepada pihak-pihak penerima zis (zakat, infaq, sadaqah), baik kalangan Golkar sendiri mau-pun masyarakat umum di Malaysia.
Di Negeri Jiran ini, lembaga Zisnya kabarnya sudah maju, maka Goziz berkeinginan agar di sini didirikan Perwakilan Gozis yang hendak menampung zis para wajib zakat dari kalangan WNI, lalu menya-lurkannya ke para WNI, dan TKI yang membutuhkan bantuan. Jadi perwakilan ini guna kepenting-an WNI di Malaysia, dari mereka untuk mereka, Goziz hanya memfasilitasi. Bagus kan?
Nah, yang pergi ke sana kami 5 orang: Direktur Eksekutif Gozis Ibu Ulfa, Mas Ihsan, Mbak Ida, Dian Assafri, dan saya (Kaelany HD) yang diajak Dian.
DALAM PENERBANGAN ~ Lepas landas (take off) 07.30. Nampak dari jendela tertutup kaca, di bawah, sawah-sawah, rumah-rumah, lautan, Pulau Seribu. Samar-smar – biru keputihan. Di tengah laut, ke utara, nampak 7 pulau berjejer, 1 pulau seperti bua-ya berenang, dan di sisi lain ada yang laksana kodok, seperti cecak. Diantaranya nampak pulau yang padat dengan rumah-rumah, di sekitarnya, biru muda warnanya, mungkin lautnya dangkal berpasir. Indah sekali! Pesawat mengapung di atas awan putih di ketinggian 36.000 kaki (12 km) di atas gumpalan awan. Kulirik jam di tangan menunjuk pk 07.50. Penerbangan Jakarta - Kualalumpur akan ditempuh dalam waktu 1 jam 40 menit, dengan kapten Nasai Yusron.
Suasana senyap seperti dalam kamar yang terisolir dari dunia luar. Di bawah awan putih berarak melesat ke ke belakang. Pada pk 08.40, Mulai nampak ada pulau di bawah. Pesawat agak merendah pk 08.45, awan putih bertumpuk, ada nampak pulau, dan rumah-rumah.
Di bawah daratan membentang, hijau perke-bunan, jalan-jalan hutan-hutan, dan sungai berliku-liku (pk 8.50). Dan pada pk 09.00 (atau pk 10.00 waktu Kualalumpur), pesawat mendarat di Bandara. Turun dari pesawat disambut gedung Mas Kargo yang menjulang. Kami memasuki lobi pada pk 09.15 (atau pk 10.15 waktu Malaysia). Alhamdulillah, selamat dalam penerbangan.
TIBA DI MALAYSIA
DI BANDARA MALAYSIA ~ Landing di Bandara Kualalumpur, pk 10.15 (waktu Malaysia). Naik tangga ke atas, dan duduk di kursi, menanti bagasi, pk 10.01 (Malaysia pk 11.01). Ah, ke kamar kecil dulu, sambil melirik-lirik, mungkin ada yang mena-rik. Tapi saya perhatikan lingkungan kamar kecil itu terkesan bersih. Hanya ada tisu, tak ada keran, tak ada tempat sampah. Tisu bertebaran di samping WC.
Berangkat pagi tadi subuh, belum sempat sarap-an, lapar dan haus. Kami turun melewati tangga, dan bejalan, ke kiri. Saya tak dapat memperkirakan arah: ke barat, timur, selatan atau utara. Hanya kami lewati marka berbunyi, ”Pengkhidmatan bas” (Ba-ngunan Terminal Utama), dan tiba-tiba rasa lapar makin menggelora ketika melewati papan nama, ”Medan selera” (Food Center).
Rombongan yang di depan jalan terus. Saya mengikuti dari belakang sambil membaca sekilas-sekilas KL 1650, Ketibaan dalam negeri (domestic arrival), KL Sentral, LCCT. Tapi karean berjalan cepat tak sempat mencatat. Kemudian naik bus kota, semacam bus damri di Indonsia pada pk 10.25 (waktu Malysia 11.25). Tak lama menunggu bus bergerak keluar Bandara. Kemana?
MENUJU KOTA ~ Bukit gundul, di kiri kanan, disambut berikutnya gugusan tanaman kelapa sawit, hijau dan teratur, enak dipandang, menyenangkan hati. Di depan ada taksi merah HB9888 menghalangi. Meski lapar, hati senang dan lega, akhirnya, saya pikir, bisa juga berkunjung ke negeri tetangga. Untung saya punya paspor yang pernah saya pakai untuk haji tahun lalu (2012). Jadi ketika diajak mendadak sudah siap. Rasanya, tak ubahnya ke Sumatera saja. Kiri jalan, semak-semak dibiarkan menjalar di lereng bukit kecil, perdu dan resam menutupi tanah padas yang terbuka. Saya ingat waktu kecil di desa, mengambil akar resam itu untuk dijadikan pena.
Bus mampir di pom bensin Petronas, mengisi perutnya yang kosong. Beberapa menit berangkat lagi. Di depan, nampak danau bekas tambang, hijau kecoklatan. Kulirik jam di tangan sudah pk 11.50, hampir zuhur belum sarapan. Memasuki persim-pangan, ke kanan Ipoh, Kualalumpur, dan berlalu di taman bunga tak terurus.
Bus ingin mendahului mobil di depan: HBA 5553, WFE 6050, MWG 1583 dll. Ada persimpangan lagi: Kuchailama; Kualalumpur 500 m lagi. ”Kurangkan laju” kata marka memberi ingat. (Mungkin artinya kurangi kecepatan). Memasuki gerbang tol, untung tak berapa ramai. Ada aba-aba, kenderaan berat ikut kiri, dan papan nama, ”Tumpukan besi buruk,” lalu marka terpampang di muka: Petalingjaya kiri, Kualalumpur kanan. Di sela hutan kecil ada peringatan: ”Awas kurangkan laju! kawasan seko-lah!”
TERMINAL ~ Sampai di terminal, turun, dan naik ke atas pk 11.43 (pk 12.43). Mencari apa? Di depan ada Mc Donald. ”Kok enggak mampir juga?” Sambil berdiri menanti, tak berapa lama, ”Alhamdulillah, bertemu seseorang muda, ganteng lagi.” Dia ternyata yang kami cari, yang menjemput kami, Zakaria. Kami bersalaman, dan diajak ke atas dengan eskalator. Sementara terdengar musik klonengan. Kaya di Jawa aja, saya pikir. Musik kaya gini, tidak pernah kita dengar di terminal atau stasiun di Jakarta. Maka saya pikir, pantaslah kalau di Negeri Jiran ini mengakui bahwa riog, batik, dan budaya-budaya yang khas Indonesia, dibawa pula oleh orang-orang kita yang tinggal di sana.
PERJALANAN KE HOTEL ~ Zakaria datang sengaja menjemput. Kami menanti tidak lama, dia membawa sedan putih, seperti avanza. Cukup, meski agak sesak dengan barang-barang, kami berenam. Perjalanan menuju hotel, melewati Muzium Negara Internasional, Kawasan Bangsa. Pemandangan jalan cantik, jalannya baik, halus dan bersih.
Di Negeri 9 Istana Negara yang menjulang di atas bukit, di kiri, berdiri gedung Agung (yang dipertuan Agung, Raja dari raja-raja). Saya pikir, Wah, gelar kehormatan di sini tak tanggung-tanggung, seperti hendak melampaui ”Nama Tuhan”.
Di hadapan, ada lagi taman, Taman Tun Ismail, Kompleks Mahkamah Syari’ah, Kawasan Memba-ngun. Kami berlalu di Zona Perangkap Had Pelaju 90 km (atau kawasan monitor batas kecepatan). Kalau melanggar akan didenda. Memandu mobil (menyetir) berkecepatan lebih dari 90 km perjam akan di panggil ke mahkamah dan bayar denda. Begitu juga menyetir sambil nelepon, juga akan dikenakan denda 150 ringgit (kira-kira Rp450.000,-). Zakaria, berse-loroh, kalau selesai di sini bisa 50 ringgit (maksud-nya damai ala Indonesia?). "Tapi di sini tak berani buat.” (Maksudnya mungkin, tak lazim).
Di depan tol Sentul, ada International Islamic College (Al-kulliah al-Islamiyah al-Alamiah); Kollej antar Bangsa. Kami mampir, karena istri Zakaria mengajar di sini. Sayang, dia tidak ada, mungkin sudah pulang. Zakaria menawarkan sekilas, apakah ingin makan dulu, tapi tidak ditanggapi oleh ketua rombongan, padahal sudah pk 12.37 (13.37).
Perjalanan dari Bandara menuju penginapan melalui banyak kawasan. Nampak sekilas-sekilas gedung-gedung di kejauhan. Kami lalui misalnya: Istana Diraja Malaysia; Polis Diraja Malaysia; Pejabat Atas Kesihatan, dll.
Tiba di hotel waktu zuhur. Hotelnya sederhana sekelas melati, berada sederet dengan bangunan ruko. Mungkin untuk mempermudah, hotel ini berse-belahan dengan kantornya Zakaria.
Saya catat nama hotelnya: Avatarr (Avatarr Hotel). Sepertinya punya orang India, melihat karyawan-karyawannya. Alamatnya: No. 98-1, Jalan Prinia SG 3/2 Prima Sri Gombak 68100 Batu Caves, Selangor. Tel/Fax:603-61773844;Email:avatarrhotel@yahoo.com.
NEGERI JIRAN
Malaysia adalah negara tetangga atau jiran. Namanya juga tetangga, dalam hidup kita harus berbaik-baik dengan, mengedepankan kesamaan dan tidak menonjolkan perbedaan. Jangankan kepada tetangga, saudara sekandung saja pasti ada perbe-daan. Nah, kita serumpun, bahasa, postur fisik, adat istiadat, mirip. Mirip itu tidak sama, seperti saudara kembar, selintas kita pandang, seperti tak ada perbedaan, sulit untuk menentukan yang mana yang A dan mana yang B. Tapi kalau kita perhatikan benar-benar, ada jugalah perbedaannya, kecil-kecil, beda tipis, tapi untuk apalah dipersoalkan. Jadi begitu hendaknya kita dengan Malaysia. Baik-baik sajalah.
Janganlah diperturutkan emosi: Sebentar-seben-tar, ada saja gejolak, percikan-percikan kecil, umpa-manya masalah seni, riog diambil alih dan diakui oleh Malaysia sebagai seni mereka, dan ada lagi kabar, mereka mengakui batik sebagai seni mereka. Kadang, sebagai bangsa Indonesia, kita merasa ge-mas juga dengan ulah jiran kita itu.
Ketika berkunjung ke Malaysia, saya ingin mem-buktikan hal-hal yang menjadi kekesalan kita selama ini. Sampai di Terminal Besar Malaysia, saya terkejut mendengar musik kelonengan khas Jawa, yang distel melalui pengeras suara yang dipancarkan ke seluruh kawasan terminal. Di masyarakat Malaysia rupanya biasa dan bangga menyetel irama musik seperti itu. Oh, Ilah, coba cari di Jakarta, atau kota-kota di Indonesia, yang terminalnya menyajikan suara musik Jawa seperti itu?
Ketika saya menyaksikan sendiri baik ketika berhadapan dengan Bagian Zis di Selangor, juga ketika berbincang-bincang di Kedutaan RI, mereka tersenyum saja mendengar pertanyaan saya tentang gejolak-gejolak kecil itu. Mereka biasa saja seperti hidup di negara sendiri. Rupanya, mereka tak lain dari orang-orang Indonesia, yang tinggal di Malaysia. Mereka cinta Indonesia, dan membawa seni, budaya dan adat istiadat ke sana. Ada dari Makasar, Jawa, Padang, Riau, Madura, dan berbagai suku dari Indonesia. Jadi wajarlah kalau mereka masih cinta Indonesia, dan membawa seni, adat-istiadat ke sana. Malah, kami rombongan diajak Zakaria, ke kawasan yang dihuni para pendatang dari Minang, dan makan di Warung Padang. Saya mendengar celotehan orang-orang yang makan di sana dengan bahasa Minang, tak ubahnya di kota Padang.
Bisa juga mereka mengakui seni dan adat istiadat yang berasal dari Indonesia, entah tari, entah lagu, sebagai reaksi, atau mengingatkan kita agar peduli terhadap hasil karya anak bangsa. Janganlah terkesan acuh tak acuh, sehingga keburu diambil alih oleh orang lain.
Rupanya penduduk Malaysia itu banyak dari Indonesia yang masih mencintai Tanah Air, tempat kelahiran mereka. Menurut, keterangan di KBRI, ada sekitar 3.000.000 (tiga juta) penduduk Malaysia yang masih berkewarganegaraan Indonesia. Jadi yang sudah lama tinggal di sana, setelah berkali-kali memperpanjang visa, bisa menjadi penduduk, tapi warganegaranya tetap Indonesia.
PEMBAGIAN WILAYAH
PEMBAGIAN WILAYAH ~ Malaysia terdiri dari 13 bagian, semacam propinsi di Indonesia. Tiap wilayah dikepalai oleh Raja, dan memiliki bendera sendiri. Di depan masjid Putrajaya, kawasan Istana Berkubah hijau, saya saksikan 13 bendera itu berkibar ber-sama. Daerah-daerah itu ialah: Perlis, Kedah, Pineng, Perak, Selangor, Negeri 9, Makoke, Joho (di Pantai Barat). Kelantan, Terenggano (di Pantai Timur), Sabah dan Serawak (di Daratan Kalimantan). Pa-hang, negeri yang paling besar di Semenanjung Malaya.
Tiap lima tahun, Yang Dipertuan Agung, sema-cam Raja Diraja Malaysia, dipilih secara bergilir oleh para Raja Daerah. Kepala Pemerintah (ekskutif) adalah Perdana Menteri yang dipilih dalam suatu Pemilu.
BENTUK NEGARA ~ Malaysia adalah sebuah negara federasi yang terdiri dari tiga belas negara bagian dan tiga wilayah persekutuan di Asia Teng-gara dengan luas 329.847 km persegi. Ibukotanya adalah Kualalumpur, sedangkan Putrajaya menjadi pusat pemerintahan persekutuan. Jumlah penduduk negara ini melebihi 27 juta jiwa. Negara ini dipisah-kan ke dalam dua kawasan: Malaysia Barat dan Malaysia Timur, oleh Kepulauan Natuna, wilayah Indonesia di Laut Cina Selatan. Malaysia berbatasan dengan Thailand, Indonesia, Singpura, Brunei dan Filipina.
Negara ini terletak di dekat khatulistiwa dan ber-iklim tropis. Kepalanegara Malaysia adalah yang di Pertuan Agong dan pemerintahannya dikepalai oleh seorang Perdana Menteri. Model pemerintahan Ma-laysia mirip dengan sistem parlementer West-minis-ter.
Peta Semenanjung Malaysia dan Malaysia Timur
GEOGRAFI ~ Malaysia adalah negara berpen-duduk terbanyak ke-43 dan negara dengan daratan terluas ke-66 di dunia, dengan jumlah penduduk kira-kira 27 juta dan luas wilayah melebihi 320.000 km2. Jumlah penduduk sedemikian cukup sebanding dengan jumlah penduduk Arab Saudi dan Venezuela, dan luas wilayah sedemikian seban-ding dengan luas wilayah Norwegia dan Vietnam, atau New Mexico, sebuah negara bagian di Amerika Serikat.
SUMBER DAYA ALAM ~ diberkati dengan sum-ber daya alam semisal sektor pertanian, kehutan-an, dan pertambangan. Di sini terdapat kawasan terbesar karet alam dan minyak sawit, yang bersa-ma-sama dengan damar dan kayu gelondongan, kakao, lada, nenas, dan tembakau mendominasi pertumbuhan sektor itu. Minyak sawit juga merupa-kan pembangkit utama perdagangan internasional Malaysia.
Salah satu kebun teh di Malaysia.
DEMOGRAFI ~ Penduduk Malaysia terdiri dari berbagai kelompok suku, dengan Suku Melayu sejumlah 50,4% menjadi ras terbesar dan bumi-putra/suku asli (aborigin) di Sabah dan Sarawak se-jumlah 11% keseluruhan penduduk. Menurut defi-nisi konstitusi Malaysia, orang Melayu adalah Mus-lim, menggunakan Bahasa Melayu, yang menjalan-kan adat dan budaya Melayu. Oleh karena itu, secara teknis, seorang Muslim dari ras manapun yang menjalankan kebiasaan dan budaya Melayu dapat dipandang sebagai Melayu dan memiliki hak yang sama ketika berhadapan dengan hak-hak istimewa Melayu seperti yang dinyatakan di dalam konstitusi. Melebihi separo bagian dari keseluruhan penduduk, bumiputra non-Melayu menjadi kelompok dominan di negara bagian Sarawak (30%-nya adalah Iban), dan mendekati 60% penduduk Sabah (18%-nya ada-lah Kadazan-Dusun, dan 17%nya adalah Bajaus). Bumiputra non-Melayu itu terbagi atas puluhan kumpulan ras tetapi memiliki budaya umum yang sama. Hingga abad ke-20, kebanyakan dari mereka mengamalkan kepercayaan tradisional tetapi kini telah banyak yang sudah memeluk Kristen atau Islam. Masuknya ras lain sedikit banyak mengurangi persentase penduduk pribumi di kedua negara bagian itu. Juga terdapat kelompok aborigin dengan jumlah sedikit di Semenanjung, mereka biasa dise-but orang asli. 23,7% penduduk adalah Tionghoa-Malaysia.
Sebagian besar komunitas India adalah Tamil (85%), tetapi berbagai kelompok lainnya juga ada, termasuk Malayalam, Punjab, dan Gujarat. Sebagian lagi penduduk Malaysia berdarah campuran Timur Tengah, Thailand, dan Indonesia. Keturunan Ero-pa dan Eurasia termasuk Britania yang menetap di Malaysia sejak zaman kolonial, dan komunitas Kristang yang kuat di Melaka. Sejumlah kecil orang Khmer dan Vietnam menetap di Malaysia sebagai pengungsi Perang Vietnam.
Sebaran penduduk sangat tidak merata, dengan lebih dari 17 juta penduduk menetap di Malaysia Barat, sedangkan tidak lebih dari 7 juta menetap di Malaysia Timur. Karena tumbuhnya industri padat tenaga kerja, Malaysia memiliki 10% sampai 20% pekerja imigran dengan besarnya ketidakpastian jumlah pekerja ilegal, terutama asal Indonesia. Ter-dapat sejuta pekerja imigran yang legal dan mungkin orang asing ilegal lainnya. Negara bagian Sabah sendiri memiliki hampir 25% dari 2,7 juta pen-duduknya terdaftar sebagai pekerja imigran ilegal menurut sensus terakhir. Tetapi, gambaran 25% ini diduga kurang dari setengah gambaran yang diperkirakan oleh lembaga-lembaga swadaya masya-rakat.
KEWARGANEGARAAN ~ Sebagian besar orang Malaysia diberikan kewarganegaraan oleh lex soli. Kewarganegaraan di negara bagian Sabah dan Sara-wak di Malaysia Timur berbeda dengan kewargane-garaan di Malaysia Barat untuk tujuan imigrasi. Setiap warga negara diberi selembar kartu identi-tas biometric smart chip, yang biasa disebut MyKad, pada umur 12 tahun, dan harus membawa kartu itu kapanpun.
Semenanjung Malaya dan pastinya Asia Tengga-ra menjadi pusat perdagangan di kawasan selama berabad-abad. Berbagai komoditas seperti keramik dan rempah aktif diperdagangkan
Pada abad ke-17, mereka didirikan di beberapa negara bagian. Kemudian, sejak Britania Raya mulai mengambil alih sebagai administrator Malaya Brita-nia, pohon karet dan kelapa sawitdiperkenalkan un-tuk tujuan komersial. Di dalam waktu lama, Malaya menjadi penghasil timah, karet, dan minyak sawit terbesar di dunia. Tiga komoditas ini, beserta bahan mentah lainnya, mengatur tempo ekonomi Malaysia lebih baik sampai abad ke-20.
Sebagai ganti kebergantungan pada Suku Melayu sebagai sumber tenaga kerja, Britania mem-bawa Tionghoa dan orang India untuk bekerja di pertambangan, perkebunan, dan mengisi kekosongan ahli profesional. Kendati banyak dari mereka kembali ke negara asal mereka setelah kontrak dipenuhi, beberapa di antaranya menetap di Malaysia.
Ketika Malaya bergerak ke arah kemerdekaan, pemerintah mulai menerapkan perencanaan ekonomi lima tahunan, dimulai dengan Rencana Lima Tahun Malaya Pertama pada 1955. Ketika Malaysia didiri-kan, istilah perencanaan diganti dan dinomori, dimu-lai dengan Rencana Malaysia Pertama pada 1965.
Pada Maret, 2005, United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) menerbitkan se-buah makalah tentang sumber-sumber dan langkah pemulihan Malaysia, ditulis oleh Jomo K.S. dari departemen ekonomi terapan, Universitas Malaya, Kualalumpur. Makalah itu menyimpulkan bahwa kontrol yang ditentukan pemerintah Malaysia tidak-lah memperparah tidak pula membantu pemulihan. Faktor terbesar adalah menaiknya jumlah ekspor komponen elektronik, yang disebabkan oleh menaik-nya permintaan komponen di Amerika Serikat, yang disebabkan oleh kekhawatiran dampak kedatangan tahun 2000 (Y2K) pada komputer dan perangkat digital lain yang lebih tua.
Tetapi, pasca-memudarnya Y2K pada 2001 tidak memengaruhi Malaysia seperti banyak negara lain. Ini menjadi bukti yang lebih jelas bahwa ada sebab-sebab dan dampak-dampak lain yang mungkin lebih bersesuaian untuk pemulihan. Satu kemungkinan adalah bahwa para spekulan mata uang mengalami kebangkrutan keuangan setelah jatuh di dalam aksi serang mereka terhadapdolar HongKong pada Agustus 1998 dan setelah rubel Rusia tumbang. (Lihat George Soros)
Menara Kembar PETRONAS, simbol Malaysia
SEJARAH ~ Sisa-sisa arkeologis ditemukan di Malaysia Barat, Sabah, dan Sarawak. Semang memi-liki leluhur jauh di Semenanjung Malaya, merujuk pada pemukiman pertama dari Afrika, lebih dari 50.000 tahun lalu. Senoi muncul sebagai kelompok campuran, dengan hampir separo silsilah dari garis ibu moyang Semang dan separonya lagi Indocina. Ini bersesuaian dengan dugaan bahwa mereka mewakili keturunan penutur Austronesia kuno, kaum tani, yang membawa bahasa dan teknologi mereka ke bagian selatan semenanjung kira-kira 5.000 tahun lalu dan menyatu dengan penduduk asli. Manu-sia Proto Melayu lebih beraneka ragam, dan meski-pun mereka menunjukkan beberapa kaitan dengan Asia Tenggara kepulauan, beberapa di antaranya juga memiliki leluhur di Indocina dari zaman Last Glacial Maximum, diikuti oleh penyebaran Holosendini mela-lui Semenanjung Malaya ke Asia Tenggara kepu-lauan.
POLITIK DAN PEMERINTAHAN ~ Federasi Malaysia adalah sebuah monarki konstitu-sional. Kepala negara persekutuan Malaysia adalah Yang di-Pertuan Agong, biasa disebut Raja Malaysia. Yang di Pertuan Agong dipilih dari dan oleh sembilan Sultan Negeri-Negeri Malaya, untuk menjabat selama lima tahun secara bergiliran; empat pemimpin negeri lainnya, yang bergelar Gubernur, tidak turut serta di dalam pemilihan.
Sistem pemerintahan di Malaysia bermodelkan sistem parlementer Westminster, warisan Penguasa Kolonial Britania. Tetapi di dalam praktiknya, kekuasaan lebih terpusat di eksekutif daripada di legislatif, dan judikatif diperlemah oleh tekanan berkelanjutan dari pemerintah selama zaman Ma-hathir, kekuasaan judikatif itu dibagikan antara pemerintah persekutuan dan pemerintah negara ba-gian. Sejak kemerdekaan pada 1957, Malaysia dipe-rintah oleh koalisi multipartai yang disebut Barisan Nasional (pernah disebut pula Aliansi).
EKONOMI ~ Semenanjung Malaya dan pastinya Asia Tenggara menjadi pusat perdagangan di kawas-an selama berabad-abad. Berbagai komoditas seper-ti keramik dan rempah aktif diperdagangkan bahkan sebelum Kesultanan Melaka dan Singapura menge-muka.
Gedung Sultan Abdul Samad di Kuala Lumpur, kompleks Pengadilan Tinggi Malaysia dan Pengadilan Perdagangan. Kuala Lumpur adalah ibukota Negara-negara Melayu Bersekutu dan ibukota Malaysia saat ini.
Gedung Parlemen
Peta pembagian wilayah Malaysia.
KUALALUMPUR
KUALALUMPUR ~ Kualalumpur adalah ibukota Malaysia yang sering disingkat (KL), atau lengkap-nya Wilayah persekutuan Kualalumpur. Kota ini kota terbesar di Malaysia. Kawasan Wilayah Perseku-tuan meliputi wilayah seluas 244 km² (94 mil²) yang juga dikenal sebagai Lembah Kelang, memiliki jumlah penduduk sebesar 7,2 juta jiwa. Kota ini merupakan wilayah metropolitan dengan pertumbuhan paling pesat di Malaysia, baik dalam jumlah penduduk maupun ekonomi. Sejak tahun 1990-an, kota ini telah menjadi tuan rumah dari berbagai acara olahraga, politik, dan kebudayaan dan For-mula Satu. Selain itu, di Kualalumpur berdiri menara kembar tertinggi di dunia, yaitu Menara Kembar Petronas. Kota ini dihubungkan dengan dunia luar oleh dua bandar udara, yaitu: Bandar Udara Internasional Kualalumpur di Sepang dan Bandar Udara Sultan Abdul Aziz Shah di Subang.
SEJARAH ~ Sejarah modern Kualalumpur dimu-lai pada tahun 1850-an, ketika Raja Abdullah mem-bayar buruh Cina untuk membuka tambang timah yang baru dan lebih besar. Mereka tiba di muara Sungai Gombak dan Sungai Klang untuk membuka tambang di Ampang.
Tambang-tambang ini berkembang menjadi ka-wasan perdagangan yang semakin diterima sebagai kota perbatasan. Banyak kemelut yang dialami Kua-lalumpur, seperti Perang Saudara Selangor, wabah penyakit, kebakaran, dan banjir. Sekitar tahun 1870-an, Kapitan Cina Kualalumpur, Yap Ah Loy, menjadi pemimpin yang bertanggungjawab atas pertahanan dan pertumbuhan kota ini. Ia mulai membangun Kualalumpur dari sebuah tempat kecil yang tidak dikenal menjadi kota pertambangan dengan ekonomi aktif. Pada tahun 1880, ibukota Selangor dipindah dari Klang ke Kualalumpur yang jauh lebih strategis.
Pada tahun 1881, kebakaran dan banjir meng-hancurkan struktur kayu dan atap Kualalumpur. Residen Inggris di Selangor, Frank Swettenham, bertindak dengan mewajibkan semua bangunan dibangun dari batu bata dan ubin saja. Kebanyakan bangunan baru menyerupai rumah toko di Cina Selatan, dengan ciri "kaki lima". Transportasi ke kota ini dipermudah dengan pembangunan jalur kereta api. Pembangunan semakin pesat pada tahun 1890-an, sehingga didirikan sebuah Lembaga Kebersihan (Sanitary Board). Pada tahun 1896, Kualalumpur dipilih sebagai ibukota "Negeri-Negeri Melayu Berse-kutu" yang baru.
Berbagai komunitas datang menetap di Kualalumpur. Kaum Cina menetap di sekitar pusat perdagangan Medan Pasar di sebelah timur Sungai Klang. Orang Melayu, Chettiar, dan India Muslim menetap di sepanjang Java Street (kini Jalan Tun Perak). Lapangan yang kini dikenal sebagai Lapang-an Merdeka, merupakan pusat kantor pemerintahan Inggris.
Pada masa Perang Dunia Kedua, Kuala Lumpur dikuasai oleh tentara Jepang dari 11 Januari 1942 hinggga 15 Oktober 1945. Pada tahun 1957, Federasi Malaya berhasil meraih kemerdekaan dari Britania Raya, dan KualaLumpur dipilih menjadi ibukota. Setelah pembentukan Malaysia pada 16 September 1963, kota ini juga dipilih sebagai ibukota negara.
Putrajaya dinyatakan sebagai Wilayah Perseku-tuan dan pusat pemerintahan Malaysia pada tanggal 1 Februari 2001. Fungsi-fungsi eksekutif dan yudi-katif dipindah dari Kualalumpur ke Putrajaya. Namun, Parlemen Malaysia dan kediaman resmi Yang di-Pertuan Agong masih berada di Kuala Lumpur.
GEOGRAFI ~ Geografi Kualalumpur berciri lem-bah besar yang dikenal sebagai Lembah Klang yang berbatasan dengan Pegunungan Titiwangsadi timur, beberapa pegunungan kecil di utara dan selatan, dan Selat Malaka di barat. Kualalumpur terletak di muara antara Sungai Klang dan Gombak.
Terletak di tengah-tengah negeri Selangor, Kuala Lumpur pernah berada di bawah pemerintahan Selangor. Pada tahun 1974, Kualalumpur dipisah untuk membentuk Wilayah Persekutuan pertama yang diatur secara langsung oleh Pemerintah Fede-rasi Malaysia. Luas wilayah kota ini adalah 24.365 km² (9,407 mil²), dengan rata-rata ketinggian sebesar 2.195 m (7,200 kaki).
DEMOGRAFI ~ Bahasa Melayu sebagai bahasa nasional adalah bahasa utama Kualalumpur. Bahasa lain yang digunakan di kota ini adalah dialek-dialek Kanton, Mandarin, dan Tamil. Bahasa Inggris juga berperan besar sebagai perantara bisnis dan merupakan mata pelajaran wajib di sekolah. Di sini, beraneka ragam budaya bercampur, seperti Melayu, Cina, India, Serani, dan juga suku-suku Kadazan, Iban dan suku asli lain dari Malaysia Timur dan Barat. Pesatnya pembangunan Kuala Lumpur juga menarik perhatian pekerja asing dari Indonesia, Nepal, Burma, Thailand, Bangladesh, Pakistan, India, Srilangka, dan vietnam.
Pada akhir abad ke-18, ketika Eropa meng-alami Revolusi Industri, banyak pekerja Cina dari wilayah Fujian dan Guangdong dibawa ke Tanah Melayu untuk bekerja di industri timah yang sedang berkembang pesat. Orang Cina di Kuala Lumpur menuturkan berbagai dialek, tetapi keba-nyakan orang Cina di Kualalumpur merupakan orang Kanton dan Hakka. Orang India membentuk 10% dari jumlah penduduk Kualalumpur (pada tahun 2000). Kebanyakan dari mereka beragama Hindu dan menuturkan bahasa Tamil dan berbagai bahasa lain seperti bahasa Hindi, Malayalam, Punjabi, Telugu, dan Pashtun. Dalam sejarah, kebanyakan orang India dibawa ke Malaysia pada masa penja-jahan Britania.
POLITIK NEGARA ~ Kuala Lumpur adalah tempat berdirinya Parlemen Malaysia, yang terdiri dari Dewan Rakyat dan Dewan Negara. Kota ini diwakilkan di Dewan Rakyat oleh sebelas orang anggota parlemen, yang dipilih untuk masa jabatan lima tahun. Setelah sekian lama cenderung dikuasai oleh Barisan Nasional, pada pemilihan umum 8 Maret 2008, partai oposisi menguasai kursi-kursi parlemen untuk Kualalumpur. Partai-partai tersebut adalah Partai Tindakan Demokratik (5 kursi), Partai Keadilan Rakyat (4 kursi), dan Partai Islam Se-Malaysia (1 kursi); hanya satu kursi Dewan Rakyat yang diduduki oleh BN.
Sejak Kuala Lumpur menjadi sebuah Wilayah Perseku-tuan pada 1 Februari 1974, kota ini telah dipimpin oleh sembilan orang Datuk Bandar. Datuk Bandar Kuala Lumpur kini adalah Dato' Ahmad Fuad Ismail, yang dilantik pada tahun 2008.
KAWASAN PASAR ~ Kualalumpur dan kawasan-kawasan sekitarnya membentuk kawasan yang paling terindustrialisasi dan paling pesat pemba-ngunan ekonominya di Malaysia. Walaupun kantor pemerintahan pindah ke Putrajaya, badan-badan penting seperti Bank Negara Malaysia, Komisi Peru-sahaan Malaysia, dan Komisi Sekuritas Malaysia, serta kebanyakan kedutaan dan misi diplomatik tetap berada di Kualalumpur.
Kota ini tetap menjadi pusat ekonomi, keuangan, bisnis, asuransi, properti, media, dan kesenian negara. Pengembangan infrastruktur di kawasan sekitar seperti Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur di Sepang, Koridor Raya Multi-media, dan perluasan Pelabuhan Klang semakin memperkuat ke-pentingan ekonomi kota ini. Bursa Efek Malay-sia juga merupakan salah satu kegiatan ekonomi utama di Kuala Lumpur.
Produk Domestik Bruto (PDB) Kualalumpur pada tahun 2000 diperkirakan mencapai RM25.968 juta, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 4.2%. PDB per kapita Kualalumpur pada tahun 2000 adalah RM30.727, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 6.1%. Jumlah tenaga kerja di Kualalumpur diperkirakan sekitar 838.400 orang. Sektor jasa seperti keuangan, asuransi, properti, bisnis, retail, restoran, hotel, transportasi, penyim-panan, komunikasi, jasa pribadi, dan jasa pemerin-tah, menyerap tenaga kerja sebesar 83.0% daripada jumlah tenaga kerja. Tujuh belas persen sisanya berada dalam sektor manufaktur dan konstruksi.
Besarnya sektor jasa dapat dilihat dari jumlah perusahaan perbankan dan asuransi yang beroperasi di kota ini. Kuala Lumpur siap menjadi pusat keuangan Islam sedunia karena semakin banyaknya institusi keuangan yang menawarkan layanan keuangan Islam, serta kehadiran lembaga keuangan dari Timur Tengah seperti Al-Rajhi Bank dan Kuwait Finance House. Di kota ini juga terdapat banyak cabang perusahaan luar negeri.
PARIWISATA ~ Sektor pariwisata juga berperan penting dalam ekonomi Kualalumpur. Selain mem-buka lapangan pekerjaan, sektor ini memperluas peluang usaha. Berbagai hotel didirikan di kota ini. Kualalumpur juga berkembang menjadi tujuan belanja internasional. Berbagai macam pusat perbe-lanjaan dan mall berdiri di kota ini. Pariwisata konferensi juga semakin berkembang pada tahun-tahun terakhir dan menjadi komponen penting dalam industri pariwisata.
Tujuan wisata penting di Kualalumpur adalah Lapangan Merdeka, Parlemen Malaysia, Istana Buda-ya, Istana Negara, Menara Kualalumpur, Museum Negara, Pusat Dagangan Dunia Putra, Tugu Negara, dan tempat-tempat ibadah seperti Masjid Jamek, Masjid Negara, dan Masjid Wilayah Perseku-tuan. Tujuan wisata lain adalah Aquaria KLCC, Batu Caves, Makam Pahlawan, Pusat Sains Negara, Jalan Petaling, Royal Selangor, dan Kebun Binatang Nega-ra. Selain itu, terdapat acara-acara seperti pusat kebudayaan Melayu, perayaan kebudayaan Cina di Tokong Thean Hou, dan perarakan Thaipu-sam di Kuil Sri Maha Mariamman. Di Segitiga Emas (pusat perdagangan Kuala Lumpur) berdiri Menara Kembar Petronas yang merupakan menara kembar tertinggi di dunia. Di kota ini juga terdapat klub-klub malam, kedai arak, dan pusat hiburan, seperti Beach Club, Espanda, Hakka Republic Wine Bar & Restaurant, Hard Rock Cafe, Luna Bar, Nuovo, Rum Jungle, Thai Club, Zouk, dll, yang terletak di sepanjang Jalan P. Ramlee, Jalan Sultan Ismail, dan Jalan Ampang.
Di Kualalumpur terdapat 66 pusat perbelan-jaan, menjadikannya pusat retail dan fashion Malaysia. Pada tahun 2006, sektor perbelanjaan di Malaysia menyumbangkan RM 7.7 miliar atau 20.8% dari pendapatan pariwisata.
Suria KLCC adalah salah satu tujuan belanja utama di Malaysia karena terletak di bawah Menara Kembar Petronas. Selain Suria KLCC, Bukit Bin-tang memiliki jumlah outlet belanja terbanyak di Kualalumpur. Bukit Bintang, yang merupakan bagian dari Segi Tiga Emas Kualalumpur, meliputi 3 jalan raya, yaitu Jalan Bukit Bintang, Jalan Imbi, dan Jalan Sultan Ismail. Di Bukit Bintang terdapat berbagai kafe, outlet makanan, dan kompleks perbe-lanjaan seperti Berjaya Plaza, Berjaya Times Square, Bukit Bintang Plaza, Imbi Plaza, Kuala Lumpur Plaza, Lot 10, Low Yat Plaza, Pavilion KL, Starhill Plaza, dan Sungei Wang Plaza.
Di Kualalumpur juga terdapat toserba terbesar di Malaysia, yaitu SOGO Kualalumpur yang terletak di Jalan Tuanku Abdul Rahman.
Beberapa kompleks perbelanjaan juga dapat ditemui di wilayah Bangsar, seperti Bangsar Village, Mid Valley Megamall, dan The Gardens. Kawas-an Damansara di barat laut Kuala Lumpur meru-pakan tempat berdirinya satu-satunya cabang IKEA di Malaysia. Selain itu, terdapat beberapa mall seperti Cathay Multi Screen Cinemas, The Curve, Ikano Power Centre, Citta Stripmall at Ara Jaya, dan One Utama.
Selain pusat perbelanjaan, beberapa zona di Kualalumpur telah ditetapkan untuk memasarkan produk lokal seperti tekstil dan kerajinan tangan. Pecinan di Kualalumpur, atau lebih dikenal sebagai Jalan Petaling, merupakan salah satu contohnya. Contoh lain adalah Pasar Seni.
MENARA KEMBAR ~ Arsitektur Kualalumpur merupakan paduan pengaruh kolonial, Asia, Melayu Islam, modern, dan post-modern. Sebagai sebuah kota yang relatif muda dibandingkan dengan ibukota lain di Asia Tenggara seperti Bangkok, Jakarta, dan Manila, kebanyakan bangunan masa kolonial di Kuala Lumpur dibangun sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Bangunan-bangunan ini me-nunjukan gaya Moor, Tudor, Neo-Gothik, atau Yuna-ni-Spanyol. Sebelum Perang Dunia Kedua, di sekitar pusat kota lama terdapat banyak rumah toko, kebanyakan bertingkat dua. Rumah-rumah toko ini terinspirasi dari tradisi Cina Peranakan dan Eropa. Walaupun sebagian telah dirobohkan untuk pemba-ngunan baru, masih banyak rumah toko lama yang berdiri di sekitar wilayah Medan Pasar, Jalan Peta-ling, Jalan Tuanku Abdul Rahman, Jalan Doraisa-my, Bukit Bintang, dan Tengkat Tong Shin.
Setelah kemerdekaan Malaysia, banyak bangun-an bergaya Islam yang berdiri di ibukota. Contoh-contoh bangunan bergaya Islam adalah Menara Tele-kom, Menara Maybank, dan Kompleks Dayabumi. Contoh lain adalah Menara Kembar Petronas yang didesain menyerupai motif-motif dalam seni Islam.
Pada akhir 1990-an dan awal 2000-an, bangun-an bergaya modern dan post-modern semakin ber-munculan. Seiring dengan perkembangan ekonomi, bangunan-bangunan lama seperti Rumah Bok ter-paksa dirobohkan untuk digantikan dengan bangun-an baru. Bangunan-bangunan dengan kerangka kaca berjamuran di Kualalumpur, seperti Menara Kembar Petronas dan Kualalumpur Convention Centre.
TAMAN KLCC ~ Taman Tasik Perdana, taman seluas 92 hektare yang terletak dekat dengan Parlemen Malaysia, sebelumnya merupakan tempat tinggal seorang pejabat Britania. Taman ini meliputi Taman Kupu-kupu, Taman Rusa, Taman Anggrek, Taman Bunga Raya, dan Taman Burung Kuala lumpur (taman burung terbesar di Asia Tenggara) Taman-taman lain di Kualalumpur adalah Taman ASEAN, Taman KLCC, Taman Tasik Titiwangsa, Taman Tasik Metropolitan di Kepong, Institut Penye-lidikan Hutan Malaysia, Taman Tasik Permaisuri, Taman Botani, Taman Ekuestrian, dan Taman Lembah Barat Bukit Kiara, Taman Tun Dr. Ismail, dan Taman Internasional Bukit Jalil.
Terdapat tiga hutan di Kualalumpur, yaitu Hutan Simpan Bukit Nanas (10.52 ha), Hutan Simpan Bukit Sungai Putih (7.41 ha), dan Hutan Simpan Bukit Sungai Besi (42.11 ha).
BUDAYA ~ Kualalumpur adalah pusat acara dan kegiatan kebudayaan di Malaysia. Salah satu tempat budaya terpenting di kota ini adalah Museum Negara yang terletak di Lebuhraya Mahameru. Mu-seum ini menyimpan berbagai koleksi artefak dan lukisan yang terkumpul dari seluruh Malaysia. Di Kuala Lumpur juga berdiri Museum Kesenian Islam yang menyimpan lebih dari tujuh ribu artefak Islam. Koleksi museum ini tidak terbatas pada hasil karya kesenian Timur Tengah, tetapi juga menekankan pusaka kesenian dari Asia, terutama Cina dan Asia Tenggara. Di Museum Kesenian Islam juga terda-pat kubah dan ruang pameran yang besar. Museum ini terletak di Jalan Lembah Perdana, di sebe-lah Masjid Negara.
Multimedia University.
Universitas Nottingham, Kampus Malaysia.
OLAHRAGA ~ Kuala Lumpur memiliki kompleks olahraga berkelas internasional yang dibangun untukCommonwealth Games 1998, yaitu Kompleks Olahraga Nasional di Bukit Jalil. Selain itu, kompleks olahraga, lapangan sepak bola, kolam renang, dan lapangan tenis banyak menyebar di pinggir kota. Kuala Lumpur juga memiliki beberapa lapangan golf, seperti: Berjaya Golf Course di Bukit Jalil; Kuala Lumpur Golf and Country Club (KLGCC) dan Malaysia Civil Service Golf Club di Bukit Kiara.
Kota ini merupakan salah satu tuan ru-mah Formula Satu, A1 Grand Prix, danMotorcycle Grand Prix. Balapan diadakan di Sirkuit Internasio-nal Sepang, Selangor, di dekat Bandar Udara Internasional Kualalumpur. KL Grand Prix CSI 5*, merupakan acara olahraga berkuda yang diadakan setiap tahun di Kualalumpur. Acara olahraga tahunan lain yang diadakan di kota ini adalah turnamen bulu tangkis Malaysia Terbuka, KL Tower Run,[ dan Kuala Lumpur International Marathon. Kuala Lumpur juga menjadi bagian dari jalur balapan sepeda Tour de Langkawi.
KESEHATAN ~ Sistem kesehatan Malaysia memerlukan para dokter untuk melaksanakan tugas tiga tahun pelayanan di rumah sakit umum untuk meyakinkan sumber daya manusia rumah-rumah sakit itu tetap terjaga. Baru-baru ini dokter-dokter asing juga ditugaskan untuk bekerja di sini. Tetapi masih juga sejumlah kekurangan tenaga medis, khususnya yang berpengalam-an spesialis, hasilnya pelayanan dan perawatan kesehatan tertentu hanya ada di kota-kota besar. Upaya-upaya terbaru untuk menghadirkan banyak fasilitas ke kota-kota lain dihambat oleh kurangnya ahli untuk menjalankan peralatan yang tersedia dari para investor.
Sebagian besar rumah sakit swasta berada di perkotaan, dan tidak seperti banyak rumah sakit umum, diperlengkapi dengan fasilitas diagnosis dan visualisasi terbaru. RUmah sakit swasta umumnya tidak dilihat sebagai investasi ideal — sedikitnya perlu waktu sepuluh tahun sebelum investor meraih untung. Namun, situasi itu kini berubah dan perusahaan kini melihat wilayah ini lagi, terkhusus memperhatikan kenaikan minat orang asing yang datang ke Malaysia untuk tujuan perawatan kesehatan dan fokus pemerintah terbatu untuk membangun industri pariwisata kesehatan.
Lihat juga: Bangunan dan struktur di Kuala Lumpur dan Bangunan dan Struktur di Putrajaya
TRANSPORTASI ~ Malaysia memiliki jalan-jalan besar yang menghubungkan semua kota besar di pesisir barat Semenanjung Malaysia. Pada 2006, panjang kese-luruhan Sistem Jalur Cepat Malay-sia adalah 1.471,6 kilometer. Jejaring itu menghu-bungkan semua kota besar dan sekitarnya: Klang Valley, Johor Bahru, dan Penang satu sama lain. Jalur motor utama (E1 dan E2, E1 adalah bagian Utara Kuala Lumpur, sedangkan E2 adalah bagian selatan), terentang dari ujung utara dan selatan Semenanjung Malaysia, masing-masing di Bukit Kayu Hitam dan Johor Bahru. Jalur itu bagian dari Jaringan Jalur Cepat Asia, yang juga menghu-bungkan Thailand dan Singapura.
Jalan di Malaysia Timur dan pesisir timur Semenanjung Malaysia relatif kurang terbangun. Semua itu berupa jalan yang sangat berkelok-kelok melewati pegunungan dan belum dilapisi aspal, jalan berkerikil. Akibatnya, sungai masih menjadi jalur transportasi penting, di samping pesawat udara sebagai modus utama atau alternatif transportasi bagi penduduk pedalaman.
Jasa kereta api di Malaysia Barat dioperasikan oleh Keretapi Tanah Melayu dan memiliki rel cukup banyak yang menghubungkan semua kota besar dan kota kecil di semenanjung, yang juga melebar hingga Singapura. Juga ada rel pendek di Sabah yang dioperasikan oleh Sabah State Railway yang utama-nya mengangkut komoditas.
Juga ada pelabuhan di negara ini. Pelabuhan be-sar adalah Port Klang dan Tanjung Pelepas di Johor. Pelabuhan penting lainnya dapat ditemukan di Tan-jung Kidurong, Kota Kinabalu, Kuching, Kuantan, Pasir Gudang, Penang, Miri, Sandakan, and Tawau.
Bandar Udara ditemukan di pelosok negara. Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) adalah bandar udara terbesar di negara ini. Bandar udara penting lainnya termasuk Bandar Udara Internasional Kota Kinabalu, Bandar Udara Interna-sional Penang,Bandar Udara Internasional Kuching, Bandar Udara Internasional Langkawi, dan Bandar Udara Internasional Senai. Juga ada bandar udara di kota-kota kecil, juga pelabuhan udara perintis domestik di kawasan perkotaan Sabah dan Sarawak. Terdapat jasa penerbangan harian Timur dan Barat Malaysia, satu-satunya pilihan yang tepat bagi konsumen perjalanan dari dua belahan negara ini. Malaysia adalah rumah bagi maskapai udara murah di kawasan ini, Air Asia. Air Asia berbasis di Kuala- lumpur dan memelihara penerbangan ke Asia Tenggara dan Cina. Di Kualalumpur, Air Asia meng-operasikan Low Cost Carrier Terminal (LCCT) di KLIA.
Jasa telekomunikasi antarkota disediakan di Malaysia Barat terutama oleh riley radio gelombang pendek. Telekomunikasi internasional disediakan melalui kabel bawah laut dan satelit. Salah satu perusahaan telekomunikasi terpenting dan terbesar di Malaysia adalah Telekom Malaysia (TM), yang menyediakan produk-produk dan pelayanan dari sambungan tetap, sambungan bergerak, juga jasa akses Internet dial-up dan broadband. TM memiliki semi-monopoli jasa sambungan telepon tetap di negara ini.
Pada Desember 2004, Menteri Energi, Air, dan Komunikasi Lim Keng Yaik melaporkan bahwa hanya 0,85% atau 218.004 orang di Malaysia menggunakan jasa broadband. Tetapi, angka ini didasarkan pada banyaknya pelanggan, sedangkan satuan persentase rumah tangga mencerminkan situasi lebih akurat. Ini menggambarkan kenaikan 0,45% di tiga triwulan. Dia juga melaporkan bahwa pemerintah menargetkan penggunaan 5% pada 2006 dan berlipat dua menjadi 10% pada 2008. Lim Keng Yaik mendorong perusahaan-perusahaan telekomunikasi lokal dan penyedia jasa untuk membuka mil terakhir dan harga lebih murah agar menguntungkan pengguna.
TRANSPORTASI ~ Berkendara sendiri merupa-kan metode transportasi utama di Kuala Lumpur. Oleh sebab itu, setiap bagian kota terhubung dengan jalan bebas hambatan. Sebagai ibukota Malaysia, Kuala Lumpur memiliki jaringan jalan yang terhubung dengan kota-kota lain Malaysia.
Kuala Lumpur dihubungkan dengan dua bandar udara. Bandar Udara Internasional Kualalumpur (KLIA) yang terletak di Sepang merupakan bandara utama. KLIA terletak 50 km di sebelah selatan kota, dan menghubungkan Kualalumpur dengan berbagai kota di dunia. Bandar Udara Internasional Kuala lumpur dapat dicapai dengan kereta KLIA Ekspres. Bandara lain adalah Bandar Udara Sultan Abdul Aziz Shah, yang merupakan pintu masuk utama ke Kuala Lumpur dari tahun 1965 hingga dibukanya KLIA tahun 1998. Kini, bandara ini hanya digunakan untuk penerbangan charter dan turbopro.
Transportasi publik di Kualalumpur terdiri dari layanan bus, taksi, dan kereta api. Sistemrapid tran-sit di Kualalumpur terdiri dari tiga transportasi rel yang berbeda. Transportasi rel tersebut adalah Rapid RapidKL. RAIL, KL Monorail, dan KTM Komuter. Stasiun KL Sentral berperan sebagai hub utama transportasi rel. Selain itu, KL Sentral juga menjadi hub bagi jalur kereta antar kota yang dioperasikan oleh KTM Intercity, dengan layanan hingga Singa-pura di sela-tan dan Hat Yai, Thailand, di utara.
Operator kendaraan umum terbesar di Kuala Lumpur dan Lembah Klang adalah RapidKL. Semenjak mengambil alih tugas Intrakota Komposit Sdn Bhd, RapidKL telah mengatur ulang seluruh jaringan bus di Kualalumpur dan kawasan metropolitan Lembah Klang demi meningkatkan mutu sistem transportasi publik Kuala Lumpur.
Di Kualalumpur, kebanyakan taksi berwarna merah dan putih. Perusahaan taksi yang besar, seperti Syarikat Teksi Oren Innovasi Timur, diper-bolehkan pemerintah untuk menggunakan warna selain dari yang ditetapkan. Taksi-taksi di Kuala Lumpur telah menggunakan gas alam terkompresi (CNG) sebagai bahan bakar.
BUDAYA ~ Budaya Malaysia merujuk kepada kebudayaan semua masyarakat majemuk yang terdapat di Malaysia dan berbagai suku di sana, seperti:1) Kebudayaan Melayu; 2) Kebudayaan Tiong-hoa; 3) Kebudayaan India; 4) Kebudayaan Kadazan- Dusun; 5) Kebudaya Dayak, Iban, Kayan, Kenyah, Murut, Lun, Bawang, Klabit, dan Bidayuh.
Malaysia adalah masyarakat multi-suku, multi-budaya, dan multi-bahasa. Penduduk pada Februari 2007 adalah 26,6 juta terdiri dari 62% Bumiputera (termasuk Melayu), 24% Tionghoa, 8% India, dengan sedikit minoritas dan suku asli (Departemen Statistik Malaysia). Tegangan kesukuan terjapada tahun 2008.
PENDIDIKAN
Pada zaman Orde Baru, konon banyak orang Malaysia yang belajar ke Indonesia, dan banyak pula staf pengajar kita yang mengajar di sana, malah ada yang keenakan di sana tak kembali lagi. Kini, pendi-dikan di Malaysia maju. Para pengajarnya memiliki kesejahteraan yang bagus, sedang seluruh wargane-garanya berhak mendapat pendidikan sampai ke Perguruan Tinggi.
Bagaimana kalau dia tidak mampu biaya? tanya saya kepada Zakaria. Semua boleh sekolah, tapi nanti kalau dia sudah tamat dan mendapat pekerjaan, dia harus kembalikan dana yang telah ia pakai secara mencicil. Kalau tak bayar? Dia akan dicekal tidak boleh keluar negeri, termasuk pergi haji. Kecuali kalau dalam belajar dia berprestasi, akan dibebaskan dari hutang, yang akan dihitung sebagai beasiswa. Ilah, bagus juga saya pikir.
Pendidikan di Malaysia dipantau oleh Kemen-terian Pendidikan Pemerintah Persekutuan. Sebagi-an besar anak-anak Malaysia mulai bersekolah pada usia tiga sampai enam tahun, di Taman Kanak-Kanak. Sebagian besar taman kanak-kanak dijalan-kan pihak swasta, tetapi ada sedikit taman kanak-kanak yang dijalankan pemerintah.
Anak-anak mulai bersekolah dasar pada usia tujuh tahun selama enam tahun ke muka. Terdapat dua jenis utama sekolah dasar yang dijalankan atau berbantuan pemerintah. Sekolah berbahasa asli (Sekolah Jenis Kebangsaan) menggunakan bahasa Tionghoa atau bahasa Tamil sebagai bahasa pengan-tar. Sebelum melanjutkan ke tahap pendidikan se-kunder, siswa-siswi di kelas 6 dipersyaratkan untuk mengikuti Ujian Prestasi Sekolah Dasar (Ujian Pencapaian Sekolah Rendah, UPSR). Sebuah program yang disebut Penilaian Tahap Satu, PTS digunakan untuk mengukur kemampuan siswa-siswi yang cerdas, dan memungkinkan mereka naik dari kelas 3 ke kelas 5, meloncati kelas 4. Tetapi, program ini dihapus pada 2001.
Pendidikan tahap dua di Malaysia dilaksanakan di dalam Sekolah Menengah Kebangsaan (setara SMP+SMA di Indonesia) selama lima tahun. Sekolah Menengah Kebangsaan menggunakan bahasa Malay-sia sebagai bahasa pengantar. Khusus mata pela-jaran Matematika dan Sains juga bahasa non-Melayu, ini berlaku mulai tahun 2003, dan sebelum itu semua pelajaran non-bahasa diajarkan di dalam bahasa Malaysia. Di akhir Form Three, yaitu kelas tiga, siswa-siswi diuji di dalam Penilaian Menengah Rendah, PMR. Di kelas lima pendidikan tahap dua (Form Five), siswa-siswi mengikuti ujian Ijazah Pendidikan Malaysia (Sijil Pelajaran Malaysia, SPM), yang setara dengan bekas British Ordinary pada tahapan 'O'. Sekolah tertua di Malaysia adalah Penang Free School, juga sekolah tertua di Asia Tenggara.
Pendidikan tahap dua nasional Malaysia dibagi ke dalam beberapa jenis, yaitu National Secondary School (Sekolah Menengah Kebangsaan), Religious Se-condary School (Sekolah Menengah Agama), Natio-nal-Type Secondary School (Sekolah Menengah Jenis Kebangsaan) yang juga disebut Mission School (Se-kolah Dakwah), Technical School (Sekolah Menengah Teknik), Sekolah Berasrama Penuh, dan MARA Junior Science College (Maktab Rendah Sains MARA).
Juga terdapat 60 Chinese Independent High School di Malaysia, yang sebagian besar di antaranya berbahasa pengantar bahasa Tionghoa. Chinese Inde-pendent High School dipantau dan distandardi-sasi oleh United Chinese School Committees' Association of Malaysia (UCSCAM, lebih lazim disebut di dalam bahasa Tionghoa, Dong Zong 董总), tetapi, tidak seperti sekolah pemerintah, tiap-tiap sekolah independen bebas menentukan keputusan. Belajar di sekolah independen memerlukan waktu 6 tahun untuk tamat, terbagi ke dalam Tahap Junior (3 tahun) dan Tahap Senior (3 tahun). Siswa-siswi akan mengikuti uji standardisasi yang diadakan oleh UCSCAM, yang dikenal sebagai Unified Examination Certificate (UEC) (Ijazah Pengujian Bersama) di Menengah Junior 3 (setara Penilaian Menengah Rendah) dan Menengah Senior 3 (setara tahap A). Sejumlah sekolah independen mengadakan kelas-kelas berbahasa Malaysia dan berbahasa Inggris selain berbahasa Tionghoa, memungkinkan siswa-siswi mengikuti Penilaian Menengah Rendah dan Sijil Pelajaran Malaysia juga.
Sebelum perkenalan sistem matrikulasi, siswa-siswi yang hendak memasuki universitas publik harus menyelesaikan 18 bulan tambahan sekolah sekunder di Form Six (kelas 6) dan mengikuti Sijil Tinggi Persekolahan Malaysia, STPM; yang setara British Advanced atau tahap 'A'. Karena perkenalan program matrikulasi sebagai alternatif bagi STPM pada 1999, siswa-siswi yang menamatkan program 12 bulan di perkuliahan matrikulasi (kolej matriku-lasi di dalam bahasa Malaysia) dapat mendaftar di universitas lokal. Tetapi, di dalam sistem matrikulasi, hanya 10% dari bangku yang tersedia bagi siswa-siswi non-Bumiputra dan sisanya untuk siswa-siswi Bumiputra.
Terdapat universitas publik seperti Universitas Malaya, Universitas Sains Malaysia, Universitas Put-ra Malaysia Universitas Teknologi Malaysia, Uni-versitas Teknologi Mara, dan Universitas Kebang-saan Malaysia. Universitas swasta juga mendapatkan reputasi yang cukup untuk pendidikan bermutu internasional dan banyak siswa-siswi dari seluruh dunia berminat memasuki universitas-universitas itu. Misalnya Multimedia University, Universitas Tek-nologi Petronas, dan lain-lain. Sebagai tambahan, empat universitas bereputasi internasional telah membuka kampus cabangnya di Malaysia sejak 1998. Sebuah kampus cabang dapat dilihat sebagai ‘kampus lepas pantai’ dari universitas asing, yang memberikan kuliah dan penghargaan yang sama seperti kampus utamanya. Siswa-siswi lokal maupun internasional dapat meraih kualifikasi asing identik ini di Malaysia dengan biaya rendah. Kampus cabang universitas asing di Malaysia adalah: Monash Uni-versity Malaysia Campus, Curtin University of Tech-nology Sarawak Campus, Swinburne University of Technology Sarawak Campus, dan University of Nottingham Malaysia Campus.
Siswa-siswi juga memiliki opsi untuk mendaftar di lembaga tersier swasta setelah menamatkan pendidikan sekunder. Sebagian besar lembaga memi-liki pranala pendidikan dengan universitas-universi-tas seberang lautan semisal di Amerika Serikat, Britania Raya, dan Australia, memungkinkan maha-siswa menghabiskan periode perkuliahannya dengan mendapatkan kualifikasi seberang lautan. Satu contoh adalah SEGi College yang bermitra dengan University of Abertay Dundee. Mahasiswa Malaysia belajar di luar negara seperti di Indonesia, Britania Raya, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Kanada, Singapura, Jepang dan negara-negara di Timur-Tengah seperti Yordania dan Mesir. Ada juga mahasiswa Malaysia di beberapa universitas di Korea Selatan, Jerman, Perancis, Republik Rakyat Cina, Irlandia, India, Rusia, Polandia, dan Republik Ceko.
Sebagai tambahan untuk Kurikulum Nasional Malaysia, Malaysia memiliki sekolah internasional. Sekolah internasional memberi para siswa kesem-patan untuk mempelajari kurikulum dari negara lain. Sekolah-sekolah ini utamanya dibuka karena bertam-bahnya penduduk ekspatriat di negara ini. Sekolat internasional termasuk: Sekolah Indonesia (kuriku-lum Indonesia), Australian International School, Ma-laysia (kurikulum Australia), Alice Smith School (kurikulum Britania), elc International school (kuri-kulum Britania),Garden International School (kuriku-lum Britania), Lodge International School (kuriku-lum Britania), International School of Kualalumpur (kurikulum Amerika dan Sarjana Muda Interna-sional), Japanese School of Kuala Lumpur (Kuri-kulum Jepang), The Chinese Taipei School, Kuala Lumpur and The Chinese Taipei School, Penang (Kurikulum Cina-Taipei), International School of Penang (Kurikulum Britania dan Sarjana Muda Inter-nasional), Lycée Français de Kualalumpur (Kuriku-lum Perancis), dan lain-lain.
Di Kualalumpur juga terdapat Universitas Mala-ya sebagai universitas tertua di Malaysia sejak kemerdekaan negara. Contoh universitas lain yang ada di Kuala Lumpur adalah Universitas UCSI, Universitas Perubatan Antarabangsa, Universitas Ter-buka Malaysia, Universitas Kualalumpur, Universi-tas Terbuka Wawasan, dan kampus cabang Univer-sitas Kebangsaan Malaysia dan Universitas Teknologi Malaysia.
Universitas Pertahanan Nasional Malaysia ter-letak di Pangkalan Tentara Sungai Besi, di bagian selatan Kuala Lumpur. Universitas ini didirikan seba-gai pusat pembelajaran teknologi militer dan pertahanan.
Pendidikan di Malaysia dipantau oleh Kemen-terian Pendidikan Pemerintah Persekutuan. Sebagian besar anak-anak Malaysia mulai bersekolah pada usia tiga sampai enam tahun, di Taman Kanak-Kanak. Sebagian besar taman kanak-kanak dijalan-kan pihak swasta, tetapi ada sedikit taman kanak-kanak yang dijalankan pemerintah.
Anak-anak mulai bersekolah dasar pada usia tujuh tahun selama enam tahun ke muka. Terdapat dua jenis utama sekolah dasar yang dijalankan atau berbantuan pemerintah. Sekolah berbahasa asli (Sekolah Jenis Kebangsaan) menggunakan bahasa Tionghoaatau bahasa Tamil sebagai bahasa pengan-tar. Sebelum melanjutkan ke tahap pendidikan sekunder, siswa-siswi di kelas 6 dipersyaratkan untuk mengikuti Ujian Prestasi Sekolah Dasar (Ujian Pencapaian Sekolah Rendah, UPSR). Sebuah program yang disebutPenilaian Tahap Satu, PTS digunakan untuk mengukur kemampuan siswa-siswi yang cerdas, dan memungkinkan mereka naik dari kelas 3 ke kelas 5, meloncati kelas 4. Tetapi, program ini dihapus pada 2001.
Pendidikan tahap dua di Malaysia dilaksanakan di dalam Sekolah Menengah Kebangsa-an (setara SMP+SMA di Indonesia) selama lima tahun. Sekolah Menengah Kebangsaan menggunakan bahasa Malay-sia sebagai bahasa pengantar. Khusus mata pela-jaran Matematika dan Sains juga bahasa non-Melayu, ini berlaku mulai tahun 2003, dan sebelum itu semua pelajaran non-bahasa diajarkan di dalam bahasa Malaysia. Di akhir Form Three, yaitu kelas tiga, siswa-siswi diuji di dalam Penilaian Menengah Rendah, PMR. Di kelas lima pendidikan tahap dua (Form Five), siswa-siswi mengikuti ujian Ijazah Pendidikan Malaysia (Sijil Pelajaran Malaysia, SPM), yang setara dengan bekas British Ordinary pada tahapan 'O'. Sekolah tertua di Malaysia adalah Penang Free School, juga sekolah tertua di Asia Tenggara.
Pendidikan tahap dua nasional Malaysia dibagi ke dalam beberapa jenis, yaitu National Secondary School (Sekolah Menengah Kebangsaan), Religious Se-condary School (Sekolah Menengah Agama), Natio-nal-Type Secondary School (Sekolah Menengah Jenis Kebangsaan) yang juga disebut Mission School (Sekolah Dakwah), Technical School (Sekolah Mene-ngah Teknik), Sekolah Berasrama Penuh, dan MARA Junior Science College (Maktab Rendah Sains MARA).
Juga terdapat 60 Chinese Independent High School di Malaysia, yang sebagian besar di antaranya berbahasa pengantar bahasa Tionghoa. Chinese Inde-pendent High School dipantau dan distandardi-sasi oleh United Chinese School Committees' Association of Malaysia (UCSCAM, lebih lazim disebut di dalam bahasa Tionghoa, Dong Zong 董总), tetapi, tidak seperti sekolah pemerintah, tiap-tiap sekolah independen bebas menentukan keputusan. Belajar di sekolah independen memerlukan waktu 6 tahun untuk tamat, terbagi ke dalam Tahap Junior (3 tahun) dan Tahap Senior (3 tahun). Siswa-siswi akan mengikuti uji standardisasi yang diadakan oleh UCSCAM, yang dikenal sebagai Unified Examination Certificate (UEC) (Ijazah Pengujian Bersama) di Menengah Junior 3 (setara Penilaian Menengah Rendah) dan Menengah Senior 3 (setara tahap A). Sejumlah sekolah independen mengadakan kelas-kelas berbahasa Malaysia dan berbahasa Inggris selain berbahasa Tionghoa, memungkinkan siswa-siswi mengikuti Penilaian Menengah Rendah dan Sijil Pelajaran Malaysia juga.
Sebelum perkenalan sistem matrikulasi, siswa-siswi yang hendak memasuki universitas publik harus menyelesaikan 18 bulan tambahan sekolah sekunder di Form Six (kelas 6) dan mengikuti Sijil Tinggi Persekolahan Malaysia, STPM; yang setara British Advanced atau tahap 'A'. Karena perkenalan program matrikulasi sebagai alternatif bagi STPM pada 1999, siswa-siswi yang menamatkan program 12 bulan di perkuliahan matrikulasi (kolej mat-[rikulasi di dalam bahasa Malaysia) dapat mendaftar di universitas lokal. Tetapi, di dalam sistem mat-rikulasi, hanya 10% dari bangku yang tersedia bagi siswa-siswi non-Bumiputra dan sisanya untuk siswa-siswi Bumiputra.
Terdapat universitas publik seperti Universitas Malaya, Universitas Sains Malaysia, Universitas Putra Malaysia Universitas Teknologi Malaysia, Universitas Teknologi Mara, dan Universitas Kebangsaan Malay-sia. Universitas swasta juga mendapatkan reputasi yang cukup untuk pendidikan bermutu internasional dan banyak siswa-siswi dari seluruh dunia berminat memasuki universitas-universitas itu. Misalnya Multimedia University, Universitas Teknologi Petro-nas, dan lain-lain. Sebagai tambahan, empat univer-sitas bereputasi internasional telah membuka kampus cabangnya di Malaysia sejak 1998. Sebuah kampus cabang dapat dilihat sebagai ‘kampus lepas pantai’ dari universitas asing, yang memberikan kuliah dan penghargaan yang sama seperti kampus utamanya. Siswa-siswi lokal maupun internasional dapat meraih kualifikasi asing identik ini di Malaysia dengan biaya rendah. Kampus cabang universitas asing di Malaysia adalah: Monash Univer-sity Malay-sia Campus, Curtin University of Technology Sarawak Campus, Swinburne University of Technology Sara-wak Campus, dan University of Nottingham Malaysia Campus.
Siswa-siswi juga memiliki opsi untuk mendaftar di lembaga tersier swasta setelah menamatkan pendidikan sekunder. Sebagian besar lembaga memi-liki pranala pendidikan dengan universitas-universi-tas seberang lautan semisal di Amerika Serikat, Britania Raya, dan Australia, memungkinkan maha-[siswa menghabiskan periode perkuliahannya dengan mendapatkan kualifikasi seberang lautan. Satu contoh adalah SEGi College yang bermitra de-ngan University of Abertay Dundee. Mahasiswa Ma-laysia belajar di luar negara seperti di Indonesia, Britania Raya, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Kanada, Singapura, Jepang dan negara-negara di Timur-Tengah seperti Yordania dan Mesir. Ada ju-ga mahasiswa Malaysia di beberapa universitas di Korea Selatan, Jerman, Perancis, Republik Rakyat Cina, Irlandia, India, Rusia, Polandia, dan Republik Ceko.
Di Kualalumpur mencapai tingkat melek hu-ruf sebesar 97.5% pada tahun 2000, tertinggi di seluruh Malaysia. Di Kualalumpur, terda-pat 13 insititusi pendidikan tinggi, 79 sekolah mene-ngah, 155 sekolah dasar, dan 136 TK.
Terdapat beberapa institusi terkemuka di ibu kota yang sudah ada sejak seabad lebih, seperti Sekolah Menengah Kebangsaan Victoria (1893); Me-thodist Girls' School (1896); Methodist Boys' School (1897); Convent Bukit Nanas (1899) dan Institusi St. John(1904).
BAHASA
Bahasa ~ Bahasa adalah kesepakatan akan arti dari suatu ungkapan atau kata. Di negara kita, dengan ragam suku dan bahasa daerah, banyak kita temukan kata atau ungkapan yang sama tapi artinya berbeda. Mengapa? Ya, karena masyarakat di tempat itu bersepakat memaknai suatu ungkapan dengan arti begini, dan di lain tempat artinya begitu. Kata gedang umpamanya, bisa beda-beda artinya di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sumatera. Ada yang artinya pisang, ada pula yang mengartikan pepaya. Di Jawa kata, “Mengko Sik” (artinya nanti), bisa artinya saru di tempat lain.
Nah, di Malaysia ini banyak kita temukan ungkapan sama dengan Indonesia tapi artinya berbeda, yang sering membuat kita merasa lucu dan tersenyum. Sejak di Bandara saya membaca beberapa marka: “Ketibaan dalam Negeri” artinya Domestic Arrival. Di depan ada marka lagi, “Harap maaf, Pengkhidmatan...” Artinya saya belum paham. Masih di kawasan bandara saya membaca “Pintu terkendali untuk sementara”. Mungkin artinya pintu darurat. Ada juga “Medan Selera” atau Food Count”. Kok, mirip dengan restoran di Metro Lampung Tengah yang kami pernah makan di situ, di depan restoran bertulis, “Pemadam Kelaparan.” Ya, macam-macam cara orang menjual dagangannya.
Di pinggir jalan raya saya membaca papan nama yang hampir roboh, “Tumpukan besi buruk” mungkin artinya “Kumpulan besi tua”. Saya pikir-pikir, kok pas juga kata buruk di sini, untuk mengatakan besi yang sudah lama. Karena, mungkin dilihat dari fungsinya, meski baru, atau masih muda, kalau tidak berguna lagi dianggap buruk. Tapi bagi kita, besi tua, tentu fungsinya sudah menurun.
Di sini banyak kita lihat papan-papan berbunyi ...BHD. Saya tanya Zakaria apa artinya, Dia menjelaskan BHD artinya Berhad. Had adalah batas, diambil dari Bahasa Arab. Untuk menunjukkan PT (Perseoran Terbatas) umpamanya, dipakai “BHD”.
Di pintu tol, tidak ada penjaga, yang ada hanya pintu otomatis buka-tutup dengan menempelkan kartu pulsa. Saya tanya Zakaria, pembawa mobil, berapa lagi sisa pulsanya. Dia tersenyum. Di sini sisa, katanya, sesuatu yang tak bisa digunakan lagi, seperti sampah, tulang-tulang ikan, dll. Nah, kalau masih bisa diper-gunakan seperti pulsa, istilahnya, “Baqi” diambil dari bahasa Arab, artinya juga sisa.
Di lajur jalan mulus di atas perbukitan ada per-ingatan, “Awas kawasan kemalangan” saya terse-nyum, mungkin artinya “Awas rawan kecelakaan,” dan di sisi jalan lain ada lagi peringatan, “Awas kurangkan laju” artinya kurangi kecepatan. Zakaria memperingatkan, kita memasuki “Zon Perangkap Had Pelaju 90 km” artinya kawasan batas kecepatan 90 km, yang dimonitor oleh perekam otomatis. Nah, bagaimana kalau melanggar?
Di sini, kata Zakaria, setiap mobil di kaca de-pannya ada stiker yang memuat identitas mobil dan pemiliknya. Yang melanggar lalu lintas akan terekam oleh monitor, dan akan dipanggil untuk membayar denda, 300 ringgit (sekitar Rp 900. 000).
Yang agak aneh di suatu kantor tertampang papan nama, “Ibu Pejabat Urusan Ugama”. “Ibu artinya Pusat, Pejabat artinya Kantor. Jadi artinya Kantor Pusat Urusan Agama”. Di tempat wudhu’ masjid kantor ugama itu, saya membaca peringatan, “Jimatkan air” artinya hemat air.
Di dekat hotel, kami makan di restoran Evoke 2 Café, Batu Caves, Selangor. Masing-masing meme-san minuman. Kawan saya memesan kopi, rupanya diberi kopi susu. Dia bilang minta kopi hitam, para pelayan tak mengerti, semua kopi memakai susu. Untung salah seorang pelayan itu, Wa’ Didin, dari Cimahi, “Oh, kopi kosong?” tanyanya. Di sini semua kopi pakai susu, kecuali “kopi kosong” itu yang kopi hitam.
Di Batu Gaves, ada kuil, Suramy Tampel, dengan Patung Budhanya setinggi Monas, Sri Subramaniyar. Di sampingnya ada tangga naik setinggi 275 mata tangga. Banyak orang naik ke atas. Saya hanya menengadah. “Wah, tinggi sekali!” Zakaria bertanya kepada saya, “Upayakah naik?” Saya segera paham, artinya sang-gupkah naik? Saya jawab dengan refleks, “Tak upaya saya”, dalam hati kutambahkan kata, “Tiada daya upaya kecuali dengan kekuatan Allah” (Laa haula walaa quwata illaa billah).
Di kantor Zakat di Selangor, kami diperlihatkan ragam penggunaan zakat, antara lain ada mobil klinik keliling, saya baca tulisan di samping mobil itu, “Klinik Bergerak.” Saya pikir, boleh juga ini ditiru, di Indonesia belum ada, yang banyak kereta jenazah, atau ambulance.
Suatu hari kami ingin membeli oleh-oleh. Zakaria, setelah putar-putar kota, membawa kami ke suatu kawasan. Saya baca papan namanya, “Pusat Bo-rong...” mungkin artinya, pusat perbelanjaan grosir.
Dari teras hotel saya melihat deretan toko-toko di seberang jalan. Yang menarik, ada B.Y. Koh Dental Clinik, dan tertampang besar di atasnya, “Klinik Per-gigian B.Y.Koh”. Di Indonesia belum ada, klinik pergigian, yang ada “Klinik Gigi”
Suku India-Malaysia utamanya Tamil Hindu dari India selatan yang bahasa aslinya adalah bahasa Tamil, juga ada komunitas India yang berbaha-sa Telugu, Malayalam, dan Hindi, menetap terutama di kota-kota besar di pesisir barat semenanjung. Banyak kalangan India menengah-atas di Malaysia juga berbahasa Inggris sebagai bahasa ibu. Sejumlah komunitas Tamil Muslim dengan 200.000 jiwa juga tumbuh sebagai kelompok sub-budaya yang mandiri. Juga terdapat komunitas Tamil Kristen di kota-kota besar. Juga ada komuni-tas Sikh di Malaysia mele-bihi 83.000 jiwa. Sebagian besar India-Malaysia mulanya bermigrasi dari India sebagai pedagang, guru, atau tenaga ahli lainnya. Sejumlah besar juga bagian dari kaum migran paksaan dari India oleh pihak Britania semasa zaman kolonial untuk bekerja di industri penanaman.
Orang Eurasia, Kamboja, Vietnam, Thai, Bugis, Jawa, dan suku-suku asli ikut memperkaya keanekaan penduduk Malaysia. Sejumlah kecil orang Eurasia, campuran Portugis dan Melayu, berbahasa kreol berbasis-bahasa Portugis, disebut bahasa Kristang. Juga terdapat orang Eurasia campuran Filipino dan Spanyol, terutama di Sabah. Diturunkan dari kaum imigran dari Filipina, beberapa di anta-ranya berbahasa Chavacano, satu-satunya bahasa kreol berbasis-bahasa Spanyol di Asia. Orang Kam-boja dan Vietnam terutama pemeluk Buddha (Kam-boja: sekte Theravada, Vietnamese: sekte Mahaya-na). Orang Thai-Malaysia adalah kelompok besar di negara-negara bagian Perlis, Kedah, Penang, Perak, Kelantan, dan Terengganu. Di samping berbahasa Thai, sebagian besar mereka menganut Buddha, merayakan Songkran (festival air) dan dapat berba-hasa Hokkien tetapi sebagian dari mereka adalah Muslim dan berbahasa Melayu dialek Kelantan. Orang Bugis dan Jawa menjadi bagian penduduk di Johor. Sebagai tambahan, ada juga banyak orang asing danekspatriat yang menjadikan Malaysia sebagai rumah kedua mereka, juga berkontribusi menjadi penduduk Malaysia.
Suku Melayu, kelompok terbesar, didefinisi seba-gai Muslim di dalam Konstitusi Malaysia. Suku Melayu memainkan peran dominan secara politis dan digolongkan sebagai salah satu bumiputra. Bahasa aslinya adalah Bahasa Melayu, dan dijadikan bahasa nasional Malaysia.
KEHIDUPAN BERAGAMA
Sampai di Hotel, saya terkejut, di bawah ada toko minuman keras lengkap. Saya tanya Zakaria, di sini bebas menjual minuman keras? Ya, tapi asal yang beli bukan orang Melayu. Mengapa tanya saya. Di Malaysia, katanya, penduduk digolongkan menjadi 3 besar menurut agama: Melayu beragama Islam, Cina beragama Kristen dan India beragama Budha. Semua pemeluk konsekuen men-jalankan agamanya. Islam ‘kan dilarang meminum minuman keras, jadi kalau kedapatan membeli akan dihukum. Orang Non-Islam tidak mengapa.
Pengamalan agama ditaati pemeluknya. Salah satu rukun Islam umpamanya, membayar zakat. Yang sudah bayar zakat tidak perlu bayar pajak. Ketika kami me-ngunjungi kantor zakat di Slangor, nampak orang-orang antri membayar zakat. Kalau tidak membayar, jelas Pak Zainal, ya diberi. Orang-orang yang dikategorikan fakir, miskin, dan ashnaf (delapan golongan penerima zakat) didaftar. Mereka diberi zakat, dan didanai aktivitasnya. Sebagai contoh, ada pedagang pecah belah keliling, dia dibelikan mobil separo harga sebagai DP, separo lagi dia cicil dari hasil usahanya. Beberapa tahun kemudian, setelah dianggap mampu, mereka terlepas dari penerima, beralih menjadi pemberi zakat. Saya tanya, apakah di sini ada kasus korupsi zakat. Pegawai yang saya tanya, hanya tersenyum. Saya malu jadinya.
Masjid Ubudiah adalah masjid bersejarah yang terkenal di Kuala Kangsar.
Masjid Negara Malaysia.
Malaysia adalah masyarakat multi-agama dan Islam adalah agama resminya. Menurut gambar-an Sensus Penduduk dan Perumahan 2000, hampir 60,4 persen penduduk memeluk agama Islam; 19,2 persen Buddha; 9,1 persen Kristen; 6,3 persen Hin-du; dan 2,6 persen Agama Tionghoa tradisional. Sisanya dianggap memeluk agama lain, misalnya Animisme, Agama rakyat, Sikh, dan keyakinan lain; sedangkan 1,1% dilaporkan tidak beragama atau tidak memberikan informasi.
Semua orang Melayu dipandang Muslim (100%) seperti yang didefinisi pada Pasal 160 Konstitusi Malaysia. Statistik tambahan dari Sensus 2000 yang menunjukkan bahwa Tionghoa-Malaysia sebagian besar memeluk agama Buddha (75,9%), dengan sejumlah signifikan mengikuti ajaran Tao (10,6%) dan Kristen (9,6%). Sebagian besar orang bIndia-Malaysia mengikuti Hindu (84,5%), dengan sejumlah kecil mengikuti Kristen (7,7%) dan Muslim (3,8%). Kristen adalah agama dominan bagi komunitas non-Melayu bumiputra (50,1%) dengan tambahan 36,3% diketahui sebagai Muslim dan 7,3% digolongkan secara resmi sebagai pengikut agama rakyat.
Konstitusi Malaysia secara teoretik menjamin kebebasan beragama. Tambahan lagi, semua non-Muslim yang menikahi Muslim harus meninggalkan agama mereka dan beralih kepada Islam. Sementara, kaum non-Muslim mengalami berbagai batasan di dalam kegiatan-kegiatan keagamaan mereka, seperti pembangunan sarana ibadah dan perayaan upacara keagamaan di beberapa negara bagian. Muslim dituntut mengikuti keputusan-keputusan Mahkamah Syariah ketika mereka berkenaan dengan agama mereka. Jurisdiksi Mahkamah Syariah dibatasi hanya bagi Muslim menyangkut Keyakinan dan Kewajiban sebagai Muslim, termasuk di antaranya pernikahan, warisan,kemurtadan, dan hubungan in-ternal sesama umat. Tidak ada pelanggaran per-data atau pidana berada di bawah jurisdiksi Mahkamah Syariah, yang memiliki hierarki yang sama de-ngan Pengadilan Sipil Malaysia. Meskipun menjadi pengadilan tertinggi di negara itu, Pengadilan-Pengadilan Sipil (termasuk Pengadilan Persekutuan, pengadilan tertinggi di Malaysia) pada prinsipnya tidak dapat memberikan putusan lebih tinggi daripada yang dibuat oleh Mahkamah Syariah; dan biasanya mereka segan untuk memimpin kasus-kasus yang melibatkan Islam di dalam wilayah atau pertanyaan atau tantangan terhadap autoritas Mahkamah Syariah. Hal ini menyebabkan masalah-masalah yang cukup mengemuka, khususnya yang melibatkan kasus-kasus perdata di antara Muslim dan non-Muslim, di mana pengadilan sipil telah memerintahkan non-Muslim untuk mencari pertolongan dari Mahkamah Syariah.
Awal tahun 2010 dalam putusan Pengadilan Tinggi yang memutuskan mengizinkan surat kabar Katolik the Herald untuk menggunakan kata Allah untuk Tuhan telah memicu dibakarnya lebih dari 4 bangunan gereja dan beberapa lainnya dirusak massa di Kuala Lumpur ibu kota Malaysia.
Suku asli non-Melayu terbesar adalah Iban dari Sarawak, yang jumlahnya melebihi 600.000 jiwa. Beberapa Suku Iban masih menetap di perkam-pungan hutan tradisional di dalam rumah panjang di sepanjang Sungai Rajang dan Lupar dan daerah aliran mereka, kendati banyak dari Suku Iban pindah ke kota. Suku Bidayuh, berjumlah kira-kira 170.000 jiwa, berpusat di barat daya Sarawak. Suku asli terbesar di Sabah adalah Kadazan. Mereka umumnya petani yang menganut Kristen. 140.000 Orang Asli, atau aborigin, terdiri dari sejumlah komunitas suku yang berbeda-beda yang menetap di Malaysia Barat. Biasanya menjadi pemburu, pela-dang berpindah, dan petani, banyak dari mereka kemudian menetap dan sebagiannya berbaur ke dalam Malaysia modern.
Kaum Tionghoa di Malaysia umumnya menga-nut Buddha (dari sekte Mahayana) atau juga meng-anut Tao. Tionghoa di Malaysia mampu berbicara di dalam beberapa dialek bahasa Tionghoa, termasuk Mandarin, Hokkien, Kanton, Hakka, dan Teochew. Majoritas Tionghoa di Malaysia, terkhusus mereka dari kota-kota besar semisal Kualalumpur, Petaling Jaya, dan Penang mampu berbahasa Inggris pula. Terdapat pula sejumlah Tionghoa yang semakin bertambah generasi Tionghoa baru yang memandang bahasa Inggris sebagai bahasa ibu mereka. Tionghoa di Malaysia berdasarkan sejarah telah menjadi domi-nan di dalam komunitas perdagangan Malaysia.
Agama Islam kebanyakan dipeluk oleh orang Melayu dan India Muslim. Agama-agama lain yang dianut di Kuala Lumpur adalahagama Hindu (terutama di kalangan kaum India), Buddha, Konfusianisme (terutama di kalangan orang Cina), Taoisme (terutama di kalangan orang Cina), dan Kristen. Justeru, nyata sekali di KL terdapat banyak tempat beribadah untuk para penduduknya yang berbilang agama.
Penduduk Malaysia terdiri dari berbagai kelom-pok suku, dengan Suku Melayu sejumlah 50,4% menjadi ras terbesar danbumiputra/suku asli (aborigin) di Sabah dan Sarawak sejumlah 11% kese-luruhan penduduk. Menurut definisi konstitusi Malaysia, orang Melayu adalah Muslim, mengguna-kan Bahasa Melayu, yang menjalankan adat dan budaya Melayu. Oleh karena itu, secara teknis, seorang Muslim dari ras manapun yang menjalankan kebiasaan dan budaya Melayu dapat dipandang sebagai Melayu dan memiliki hak yang sama ketika berhadapan dengan hak-hak istimewa Melayu seperti yang dinyatakan di dalam konstitusi. Melebihi separo bagian dari keseluruhan penduduk, bumiputra non-melayu menjadi kelompok dominan di negara bagian Sarawak (30%-nya adalah Iban), dan mendekati 60% penduduk Sabah (18%-nya adalah Kadazan-Dusun, dan 17%nya adalahBajaus). Bumiputra non-Melayu itu terbagi atas puluhan kumpulan ras tetapi memiliki budaya umum yang sama. Hingga abad ke-20, kebanyakan dari mereka mengamalkan keperca-yaan tradisional tetapi kini telah banyak yang sudah memeluk Kristen atau Islam. Masuknya ras lain sedikit banyak mengurangi persentase penduduk pribumi di kedua negara bagian itu. Juga terdapat kelompok aborigin dengan jumlah sedikit di Seme-nanjung, mereka biasa disebut Orang Asli. 23,7% penduduk adalah Tiong-hoa-Malaysia, sedangkan India-Malaysia sebanyak 7,1% penduduk. Sebagian besar komunitas India adalah Tamil (85%), tetapi berbagai kelompok lainnya juga ada, termasuk Malayalam, Punjab, dan Gujarat. Sebagian lagi pen-duduk Malaysia berdarah campuran Timur Tengah, Thailand, dan Indonesia. Keturunan Eropa dan Eura-sia termasuk Britania yang mene-[tap di Malaysia sejak zaman kolonial, dan komunitas Kristang yang kuat di Melaka. Sejumlah kecil orang Khmer dan Vietnam menetap di Malaysia seba-gai pengung-[si Perang Vietnam.
Sebaran penduduk sangat tidak merata, dengan lebih dari 17 juta penduduk menetap di Malaysia Barat, sedangkan tidak lebih dari 7 juta menetap di Malaysia Timur. Karena tumbuhnya industri padat tenaga kerja, Malaysia memiliki 10% sampai 20% pekerja imigran dengan besarnya ketidakpastian jumlah pekerja ilegal, terutama asal Indonesia. Terdapat sejuta pekerja imigran yang legal dan mungkin orang asing ilegal lainnya. Negara bagian Sabah sendiri memiliki hampir 25% dari 2,7 juta penduduknya terdaftar sebagai pekerja imigran ilegal menurut sensus terakhir. Tetapi, gambaran 25% ini diduga kurang dari setengah gambaran yang diperkirakan oleh lembaga-lembaga swadaya masya-rakat. Sebagai tambahan, menurut World Refugee Survey 2008, yang diterbitkan oleh Komisi Pengungsi dan Imigran Amerika Serikat, Malaysia menampung pengungsi dan pencari suaka mendekati angka 155.700. Dari jumlah ini, hampir 70.500 pengungsi dan pencari suaka berasal dari Filipina, 69.700 dari Myanmar, dan 21.800 dari Indonesia.[73] Komisi Pengungsi dan Imigran Amerika Serikat menamai Malaysia sebagai salah satu dari sepuluh tempat terburuk bagi pengungsi karena adanya praktik diskriminasi negara kepada pengungsi. Petugas Malaysia dilaporkan memulangkan pendatang secara langsung kepada penyelundup manusia pada 2007, dan Malaysia menugaskan RELA, milisi sukarelawan, untuk menegakkan undang-undang imigrasi negara itu.
SERBA-SERBI
MAKANAN DAN MINUMAN ~ Makanan dan minuman tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, mungkin nama-nama makanan ada yang sedikit lain, tapi soal rasa tidak terlalu terkejut. Karena penduduknya terdiri dari ber-bagai etnis, tampil semacam akulturasi budaya dalam makanan: Melayu, Cina, India, dan tidak sedikit pula pengaruh Indonesia, Padang, Jawa, Makassar dsb.
Di restoran Kampus Univ. Islam antar Bangsa (UIA), kami menemukan macam-macam makanan khas Indonesia, rata-rata 2,5 ringgit (Rp 7,500) perporsi, seperti nasi: pecel, sate, soto, dll. Pelayannya juga banyak dari Indonesia.
Di Restoran Chinese Muslim Food, daftar makanan antara lain: Nasi goreng udang RM15 (lima belas ringgit Malaysia), Jus Kedondong RM4.50, Jus Apple RM5.00, Orange RM5.00. Kami makan di situ tak khawatir harga, ada yang bayar. Satu ringgit waktu itu sekitar Rp3000,-
Di kawasan Elit, saya lupa namanya, kami antri di suatu restoran yang amat ramai pengunjung. Menunya kami pilih: cumi, udang, ayam dll dengan masakan khas Bangladesh. Harganya sekitar RM7.00 per-porsi.
Makan di restoran Adam Lai , original aste of. Umpamanya. Chinese Muslim Food. Lama-lama pilih, akhirnya saya pilih nasi goren udang R15 N.G. Juice kedondong RM 4.50. Saya lihat daftar makanan: minuman apple RM4.50,- Orange RM5.00.
Pada Rabu malam, 6 Marewt 2012, kami makan makan malam di Rumah Makan, Eveku 2 Café No. 91 Jalan Prima SG3 68100 Batu Caves Selangor tidak jauh dari hotel. Kami dilayani oleh Suffian (012-6284149; 019-6624149) dan ada Wa’ Didin dari Cimahi (No Telp. 0062-878 21918; dan . 0062-877 21918;
KEBERSIHAN DAN KEHIJAUAN ~ Dari udara ketika mulai menurun ke daratan Semenanjung ini, nampak hijau saja gugusan aneka tanaman, terutama kelapa sawit. Di belakang bandara, terlihat hutan dengan kayu-kayu besar dibiarkan rimbun.
Dari bandara kami dengan bus ke terminal. Sampai di sini kami disambut Zakaria, penduduk Malaysia keturunan Padang. Saya perhatikan, sepanjang perjalanan, bersih dan rapi, sepertinya tak ada kertas atau sampah. Di kiri kanan, nampak pohon-pohon hijau di samping gedung-gedung dan perumahan.
Ketika kami ke Kedutaan Indonesia, di depan ada hutan juga, saya tanya Zakaria, kesannya seperti di Bogor saja. Ia, katanya, di sini, pohon-pohon tak boleh ditebang kecuali izin Raja.
Ketika kami ke Kedutaan Indonesia, di depan ada hutan juga, saya tanya Zakaria, kesannya seperti di Bogor saja. Ia, katanya, di sini, pohon-pohon tak boleh ditebang kecuali izin Raja.
KESEHATAN ~ Masyarakat Malaysia menempati tingkat kepentingan pada perluasan dan pengem-bangan kesehatan, 5% anggaran pembangunan sektor sosial pemerintah adalah untuk kesehatan masyarakat—penaikan lebih dari 47% dari periode sebelumnya. Ini berarti semua kenaikan lebih dari 2 miliar ringgit Malaysia (lebih dari 6,5 triliun rupiah). Dengan menaiknya harapan hidup dan bertam-bahnya penduduk, pemerintah berkehendak untuk memperbaiki banyak sektor, termasuk perbaikan rumah sakit yang ada, membangun dan melengkapi rumah sakit baru, pertambahan jumlah klinik umum, dan perbaikan pelatihan dan perluasan pelayanan jarak jauh (telehealth). Bertahun-tahun lalu pemerintah telah memperkuat usaha untuk memutakhirkan sistem dan menggaet lebih banyak investor asing.
Sistem kesehatan Malaysia memerlukan para dokter untuk melaksanakan tugas tiga tahun pela-yanan di rumah sakit umum untuk meyakinkan sumber daya manusia rumah-rumah sakit itu tetap terjaga. Baru-baru ini dokter-dokter asing juga ditugaskan untuk bekerja di sini. Tetapi masih juga sejumlah kekurangan tenaga medis, khususnya yang berpengalaman spesialis, hasilnya pelayanan dan perawatan kesehatan tertentu hanya ada di kota-kota besar. Upaya-upaya terbaru untuk menghadirkan banyak fasilitas ke kota-kota lain dihambat oleh kurangnya ahli untuk menjalankan peralatan yang tersedia dari para investor.
Sebagian besar rumah sakit swasta berada di perkotaan, dan tidak seperti banyak rumah sakit umum, diperlengkapi dengan fasilitas diagnosis dan visualisasi terbaru. RUmah sakit swasta umumnya tidak dilihat sebagai investasi ideal, sedikitnya perlu waktu sepuluh tahun sebelum investor meraih untung. Namun, situasi itu kini berubah dan perusahaan kini melihat wilayah ini lagi, terkhusus memperhatikan kenaikan minat orang asing yang datang ke Malaysia untuk tujuan perawatan kese-hatan dan fokus pemerintah terbatu untuk mem-bangun industri pariwisata kesehatan.
Sebagian besar orang Malaysia diberikan kewar-ganegaraan oleh lex soli. Kewarganegaraan di negara bagian Sabah danSarawak di Malaysia Timur berbe-da dengan kewarganegaraan di Malaysia Barat un-tuk tujuan imigrasi. Setiap warga negara diberi selembar kartu identitas biometric smart chip, yang biasa disebut MyKad, pada umur 12 tahun, dan harus membawa kartu itu kapanpun.
PARIWISATA ~ Sektor pariwisata juga berperan penting dalam ekonomi Kuala Lumpur. Selain membuka lapangan pekerjaan, sektor ini memperluas peluang usaha. Berbagai hotel didirikan di kota ini. Kuala Lumpur juga berkembang menjadi tujuan belanja internasional. Berbagai macam pusat perbelanjaan dan mall berdiri di kota ini. Pariwisata konferensi juga semakin berkembang pada tahun-tahun terakhir dan menjadi komponen penting dalam industri pariwisata.
Tujuan wisata penting di Kuala Lumpur adalah Lapangan Merdeka, Parlemen Malaysia, Istana Bu-[daya, Istana Negara, Menara Kuala Lumpur, Mu-seum Negara, Pusat Dagangan Dunia Putra,Tugu Negara, dan tempat-tempat ibadah seperti Masjid Jamek, Masjid Negara, dan Masjid Wilayah Perseku-tuan. Tujuan wisata lain adalah Aquaria KLCC, Batu Caves, Makam Pahlawan, Pusat Sains Negara, Jalan Petaling, Royal Selangor, dan Kebun Binatang Nega-ra. Selain itu, terdapat acara-acara seperti pusat kebudayaan Melayu, perayaan kebudayaan Cina di Tokong Thean Hou, dan perarakan Thaipu-sam di Kuil Sri Maha Mariamman. Di Segitiga Emas (pusat perdagangan Kualalumpur) berdiri Menara Kembar Petronas yang merupakan menara kembar tertinggi di dunia. Di kota ini juga terdapat klub-klub malam, kedai arak, dan pusat hiburan, seperti Beach Club, Espanda, Hakka Republic Wine Bar & Restaurant, Hard Rock Cafe, Luna Bar, Nuovo, Rum Jungle, Thai Club, Zouk, dll, yang terletak di sepanjang Jalan P. Ramlee, Jalan Sultan Ismail, dan Jalan Ampang.
Di Kualalumpur terdapat 66 pusat perbelanjaan, menjadikannya pusat retail dan fashion Malaysia. Pada tahun 2006, sektor perbelanjaan di Malaysia menyumbangkan RM 7.7 miliar atau 20.8% dari pendapatan pariwisata.
Suria KLCC adalah salah satu tujuan belanja utama di Malaysia karena terletak di bawah Menara Kembar Petronas. Selain Suria KLCC, Bukit Bintang memiliki jumlah outlet belanja terbanyak di Kuala Lumpur. Bukit Bintang, yang merupakan bagian dari Segi Tiga Emas Kuala Lumpur, meliputi 3 jalan raya, yaitu Jalan Bukit Bintang, Jalan Imbi, dan Jalan Sultan Ismail. Di Bukit Bintang terdapat berbagai kafe, outlet makanan, dan kompleks perbelanjaan seperti Berjaya Plaza, Berjaya Times Square, Bukit Bintang Plaza, Imbi Plaza, Kuala Lumpur Plaza, Lot 10, Low Yat Plaza, Pavilion KL, Starhill Plaza, dan Sungei Wang Plaza.
Di Kualalumpur juga terdapat toserba terbesar di Malaysia, yaitu SOGO Kualalumpur yang terletak di Jalan Tuanku Abdul Rahman.
Beberapa kompleks perbelanjaan juga dapat ditemui di wilayah Bangsar, seperti Bangsar Village, Mid Valley Megamall, dan The Gardens. Kawasan Damansara di barat laut Kuala Lumpur merupakan tempat berdirinya satu-satunya cabang IKEA di Malaysia. Selain itu, terdapat beberapa mall se-perti Cathay Multi Screen Cinemas, The Curve, Ikano Power Centre, Citta Stripmall at Ara Jaya, dan One Utama.
Selain pusat perbelanjaan, beberapa zona di Kuala Lumpur telah ditetapkan untuk memasarkan produk lokal seperti tekstil dan kerajinan tangan. Pecinan di Kuala Lumpur, atau lebih dikenal sebagai Jalan Petaling, merupakan salah satu contohnya. Contoh lain adalah Pasar Seni.
WAKTU DAN DISIPLIN ~ Jam tangan saya belum saya cocokkan dengan Malaysia, selisihnya 1 jam. Bangun subuh tidur-tiduran lagi, padahal Zakaria sudah datang menanti di parkiran. Pk 8.00 ada kawan yang belum mandi. Wah, kami terkejut ketika dipanggil. Rupanya pk 08.00 di jam saya, di Malaysia sudah pk. 09.00.
Sorenya ketika diantar ke hotel, Zakaria, bilang, besok kita siap pk 07.00 ya, waktu Malaysia! Saya tersipu malu, selain kita kurang disiplin, nampak tidak meng-hargai waktu, apalagi waktu Malaysia, bisa berarti bukan kaya’ di Indonesia.
Di Masjid saya catat waktu: Imsak 06.00; Subuh 06.10; Zuhur 13.30; Asar 16.45; Maghrib 19.20; Isya 20.37. Biar tepat waktulah, jangan memalukan.
Gedung Parlemen
Perdana Menteri Malaysia saat ini, Najib Tun Razak.
Salah satu kebun teh di Malaysia.
Menara Kembar PETRONAS, simbol Malaysia
ALAMAT
Ida Farida
Jl. Raden Fatah No. 96 RT 002/006 Sudimara Barat Ciledug Tasngerang HP 08561311835
Aisyah Ulfa Syafii
Bojonggede Bogor
HP. 081285827610
M. Nurul Ihsan
Jl. Pinang Kalijati
RT 04 RW 07
Cilandak Jakarta Selatan
HP 082113917418
Dr. H.M. Dian Assafri Nasa’i, SH., MH
Tenaga Ahli Anggota DPR RI (No. Anggota: A 245 Jl. Mawar Raya 11 A RT 012/010 Kalisari Pasarebo Jakarta Timur; HP 081282190007
Dr. Kaelany HD., MA
Jl. Rahayu 52 Kalisari Pasarebo Jakarta 13790
Telp (021-8702381) HP 081384149016;
Email: kaelanyhd@ymail.com; midadacenter@ymail.com
Zakaria Yasin (Pakar Motivator)
Kem motivasi jati diri pelajar sempena cuti sekola
darjah satu hingga tingkatan lima.
Seven Layer raining & Consultancy Sdn. Bhd. 2-99, Jalan Prima SG 3/2, Taman Prima Sri Gombak, 68100 Batu Caves, Selangor.Telp: Pejabat: 03-6185 8260/013-6657841 (Wani) E-mel: kembinabudi@gmail.com/Website: kembinabudi. blogspot.com.
Afif Abd Rahman
Deputy Chief Executive Officer
Academic Affair Division
No. 1 Jl. 31/10A, Taman Batu Muda 68100
Kualalumpur, Malaysia
Mohammad Izam bin Mhamed Yusof
Chief Executive Officer
Lembaga Zakat Selangor
HP +6019 275 3388
Stevia Sugar Corporation Sdn Bhd
Lot 7.11, 7th Floor, Wisma Central,
Jalan Ampang, 50450 Kualalumpur
Telp. 03-2166 0445/0446 Fax: 03-2166 0448;
Email: Info@stevia.com.my; www.stevia.my.
Mohd Ajib bin Ismail (Bendahari)
Persatuan Kakitangan Pengkhidmatan Ugama
(PKPU)Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim), JPM
No.3, Masjid tuanku Mizan Zainal Abidin, Presint 4, 62100 Putrajayaa, Malaysia; Telp: 03-8888 0257; Faks: 03-8888 0261; Laman Web: www.pkpu.net
Suffian
Efoke Café
No. G.91, Jalan Primaa SG 3, Taman Prima
Sri Gombak, 68100 Bau Caves, Selangor.
T.03.6186 6335.
Lembaga Zakat Selangor
Majlis Agama Islam Selangor
Skim Berkat (Bayar Zakat melalui potongan gaji)
Haji Aidi Munawir Ahmed Shukri
Peengurus Besar, Pejabat Ketua Pe3gawai Eksekutif H/P: +6019 388 0012
Lembaga Zakat Selangor (MAIS)
Bangunan Zkat Selangor, 3-01-1, Prsint ALAMi, Pusat Perniagaan Worldwide 2, Perisaran Akuatik, Seksyen 13, 40100 Shah Alam, Selangor Darul Ehsan.
Telp. +603 5522 7700; Faks +603 5522 7722; Emel aidi@e-zakat.com.my; web: www.e-zakat.commy
Avatarr Hotel
No. 98-1, Jalan Prima SG 3/2, Prima Sri Gombak, 68100 Batu Caves, Selangor. Telp/Fax: 603-6177 3844; E-mail: avatarrhotel@yahoo.com; websie:www.avatarrhotel.com; facebook: www.facebook.com/avatarrhotel.
Tarif FR + W (2B) RM95.00 (weekdays) RM110.00 (weekends).
Tentang Penulis
Dr. Kaelany HD., MA, lahir di Putihdoh, Lampung, 21 Juni 1953. Dia adalah Pendiri dan Direktur Midada Center. Sejak tahun 1986 diangkat menjadi staf pengajar (kini Lektor Kepala, Pembina Utama Muda, IV/c) mata kuliah Agama Islam Universitas Indonesia (UI). Dia juga menjadi Dosen Fikih Mu’amalah pada Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam UI Salemba (s/d 2009), dan Dosen Agama Islam Universitas Pancasila (UP). Sebelumnya per-nah bekerja sebagai Guru SMP-SMA (1976-83), dan Dosen Bahasa Inggris di Lembaga Bahasa IAIN Semarang; Bagian Telex dan Radio Operator PT. BHPI Belitung; Subbag Allergi-Immunologi RSCM, dan Wartawan Bisnis Indonesia.
Gelar Doktor diperoleh di UIN Jakarta (2001) dengan disertasi: “Pariwisata dalam Perspektif Islam”. Alumnus Gontor (1975) ini menye-lesaikan sarjana (1982) di Fakultas Syari’ah IAIN Semarang dengan skripsi: “Prinsip-prinsip Islam dalam Masalah Kependudukan”. Waktu bersamaan dia mengikuti kuliah sore di Akademi Publisistik Pembangunan Dipanagara (APPD) selesai tahun 1981 dengan skripsi “Kedudukan Make up Foto pada Harian Suara Merdeka”.
Pemenang ke-3 Lomba Menulis Tingkat Nasional Depag (2001) ini giat menulis baik di surat kabar maupun berbentuk buku. Lebih dari 40 bukunya telah terbit, antara lain: “Kependudukan di Indonesia dan Berbagai Aspeknya (Mutiara, Jakarta, 1981); “Peluang di Bidang Priwisata” (Mutiara, Jakarta, 1986); “Islam dan Aspek-Aspek Kemasyarakatan, (Bumi Aksara, Jkt, 1992, cet. ke-2, 2000); “Islam, Kependudukan dan Lingkungan Hidup” (Renika Cipta, Jakarta, 1996); “Islam, Iman dan Amal Shalih” (Renika Cipta, Jakarta, 1997); “Pandangan Islam tentang Priwisata” (Misaka Galiza, Jakarta, 2002); “Gontor dan Kemandirian” (Bina Utama, Jakarta, 2002); “Islam Kasih dan Damai bagi Alam” (Restu Agung, 2004); “Islam Agama Universal” (Midada Rahma Press, Jakarta, 2006, cet. 7 2013); “Kisah-Kisah Perjalanan” (Midada Rahma Press, Jakarta, 2006). “Semarang dalam Kenangan” (MRP, 2008), Hujan, Hutan dan Kehidupan (MRP, 2008); Terbit di Balik Bukit (MRP, 2009); Ibadah Haji Tamu Raja (MRP, 2013) dll. Dua bukunya mendapat penghargaan DRPM (Direktorat Riset dan Pengabdian pada Masyarakat) Universitas Indonesia.
Dia juga menulis biografi antara lain: “Studi Mengabdi dan Berprestasi” (Biografi Prof. Dr. Jimly Ash-shiddiqie, MRP, 2006); Perjalanan Panjang dari Waylima Menuju Medan Merdeka Utara (Biografi Dr. H. Zaharuddin Utama, SH, MM, Hakim Agung (MRP 2012). Beberapa tulisan sedang dalam proses penerbitan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar