ENAM MALAM DI MATARAM
(13 September 1997)
Kini saya bertugas lagi sebagai pembimbing mahasiswa Universitas Indonesia ke Universitas Mataram (UNRAM) Lombok dalam rangka Lomba Tilawatil Qur’an Tingkat Nasinoal Perguruan Tinggi seluruh Indonesia.
Dengan garuda dari Soekarno-Hatta saya transit di Bali kemudian dengan pesawat udara kecil ke Mataram.
Universitas Mataram
Universitas ini didirikan dengan surat keputusan Menteri PTIP nomor 139/1962 tanggal 3 Nopember 1962 dan merupakan satu-satunya universitas negeri di Propinsi Nusa Tenggara Barat. Pada tanggal 19 Desember 1963 Yayasan Pendidikan Sangkareang menyerahkan Fakultas Ekonomi kepada Gubernur Kdh Tingkat I NTB untuk selanjutnya diresmikan oleh Menteri PTIP Tojib Hadiwidjaja menjadi Fakultas Ekonomi Universitas Mataram. Jadi pada saat itu Universitas Mataram baru memiliki satu fakultas yaitu Fakultas Ekonomi. Pimpinan Universitas Mataram yang pertama masih berbentuk presidium. Kemudian berturut-turut membuka fakultas-fakultas Pertanian, Peternakan, dan Hukum (1967), Keguruan dan Ilmu Pendidikan (1982), Teknik (1993).
Pada 2002, Unram membuka program studi Biologi yang disusul Pendidikan Dokter pada 2003. Dua program studi itu merupakan embrio Fakultas MIPA dan Kedokteran. Pada 2004, dibuka program studi jenjang S1 Teknologi Pengolahan Hasil Ternak dan Program Magister Pengolahan Sumber Daya Lahan Kering.
Dalam perkembangannya hingga tahun akademi 2004 Unram memiliki 6 fakultas, 43 program studi terdiri dari 3 Program Magister/S2, 27 Program S1, 5 Program Studi S1 Ekstensi, 7 Program Diploma 3, serta 1 Program Diploma
Cidomo
Apa yang unik di Lombok saya ingin merasakan atau menyaksikannya. Banyak, tetapi saya mau mencoba yang satu ini “Cidomo” . Cidomo adalah sebutan untuk gerobak (dokar) yang ditarik oleh kuda, khas Lombok.
Ahad, 14 September 1997 saya menumpang Cidomo. Dengan santai cidomo ditarik kuda coklat yang lincah. Saya berbincang dengan kusir. Ia memper-kenalkan namanya Nasha, memiliki 6 putra. Yang tertua, katanya bernama Burhan, berpendidikan computer dan sekarang sedang mencari-cari pekerjaan. Yang kedua bernama Nurhar. Kusir itu banyak menceritakan kisah keluarganya. Isterinya meninggal, dan dia mengurus anak-anaknya sediri. Di sini tambahnya, menghadapi kehidupan agak sulit, tapi syukurlah, saya dapat beli cidomo ini sejak tahun 1992 dengan harga Rp500ribu. Sehari dapat menghasilkan Rp10-15ribu. Saya orang buta huruf katanya, karena itu saya berusaha bekerja keras agar anak-anak saya berpendidikan minimal setingakt SLTA. Dengan hasil sedikit-sedikit, alhamdulillah saya dapat mencicil perumnas, ceritanya.
Di Pelosok-Pelosok Lombok
Setelah menyelesai tugas menjadi juri lomba kaligrafi di Universitas Mataram, saya gunakan kesempatan pergi lagi. Hendak kemana? Saya kehilangan arah. Tapi menurut beberapa kawan di Lombok ada Kute obyek wisata pantai yang indah dan permai. Dengan naik mobil saya turuti saja supir. Hanya menurut perasaan mobil melaju ke arah selatan. OK.
Praya
Menjelang zuhur saya tiba di Praya, sebuah kecamat-an di Kabupaten Lombok Tengah. Kota ini juga merupakan ibukota dari Kabupaten Lombok Tengah terletak antara 115°46 - 119°05 Bujur Timur dan 08°10 - 09°05 Lintang Selatan. Selain menjadi pusat kegiatan masyarakat Lombok Tengah, Praya juga menjadi kota pusat kebutuhan dan kebudayaan masyarakat sekitarnya. Kota Praya mempunyai pasar induk Renteng sebagai sarana pendukung pemenuhan kebutuhan pokok. Selain itu, sektor perdagangan Kota Praya telah cukup berkembang dengan adanya bank swasta dan pemerintah, serta didukung department store, supermarket, serta toko retail modern yang mampu menyediakan kebutuhan masyarakatnya.
Saya berada di pasar Praya pukul 13.29 di tengah pasar yang berpadu dengan bau sayur-mayur yang mulai membusuk dengan kotoran kuda, Saya behenti di pinggir penjual alat-alat pengekang kuda dari kulit. Di depanku air selokan tersumbat. Saya mencari makan, tapi kotor dan berdebu. Seorang anak termangu di depan jualannya seikat romput dengan harga Rp2600. Biasanya Rp 2400, tapi karena sekarang kemarau, katanya, rumput sulit dicari, maka harganya meningkat.
Sementara itu terdengar lantang seorang perempuan gemuk ngoceh dengan bahasa daerah Lombok yang padat, tapi kemudian tertawa disambut gelak beberapa lelaki yang nemakai baju dan belangkon. Oh, saya kira benaran, ternyata hanya guyon.
Di Masjid Praya saya sholat zuhur. Selepas shalat sya duduk di teras dan sempat berbincang dengan beberapa jama’ah yang mampir shalat di situ. Mereka antara lain, Taam dari psantren Darek, Lalu Jaswardi Putra dari SMIP kelas II Mataram, dan Merti wiraswasta.
Setelah bertanya-tanya, saya mendapat keterangan bahwa dengan mobil kita dapat capai Kote, sebuah pantai yang indah di selatan. Saya mencari mobil ke sana dan untungn dapat duduk di depan.
Pantai Kuta
Pantai Kuta, Lombok adalah tempat wisata terletak sebuah desa bernama Desa Kuta. Desa Kuta mulai menjadi tempat tujuan wisata yang menarik di Indonesia sejak didirikannya banyak hotel-hotel baru. Selain keindahan alam yang dapat dinikmati di desa ini, satu kali dalam setahun diadakan Upacara Sasak. Dalam upacara ini para pelaut mencari cacing Nyale. Menurut legenda dahulunya ada seorang putri, bernama Putri Mandalika, yang sangat cantik, banyak pangeran dan pemuda yang ingin menikah dengannya. Karena ia tidak dapat mengambil keputusan, maka ia terjun ke air laut. Ia berjanji sebelumnya bahwa ia akan datang kembali satu kali dalam setahun. Rambutnya yang panjang kemudian menjadi cacing Nyale tersebut.
Saya tiba di Kuta, nampak pasir terhantar memanjang ke timur, membelah genangan laut yang tenang. Hanya sekilas ombak kecil memecah putih, tak mampu mencapai sesosok wanita bole yang tergolek sendirian di pasir.
Pantai itu sepi, mungkin itulah yang dicari wanita bole yang kemerah-merahan kulitnya itu. Seharian dia berjemuran, menikmati matahari, pasir dan laut. Dan yang istimewa, lain dari Pantai Kuta di Bali, Kote Lombok masih asli, sunyii dan ny6aman.
Di kejauhan nampak memantul warna putih. Apa itu? Setelah seksama saya perhatikan, oh, bangunan-bangunan gedung yang bercat putih, mungkin penginapan untuk sarana wisata. Di sebelah kanannya, berbatasan pasir dengan laut, berderet batu-batu putih menjulang, berkilauan memantulkan cahaya surya menjelang petang. berjanji sebelumnya bahwa ia akan datang kembali satu kali dalam setahun. Rambutnya yang panjang kemudian menjadi cacing Nyale tersebut.
Padangbai
Pelabuhan Padangbai terletak di Desa Padangbai, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Dari kota Denpasar pelabuhan Padangbai berjarak ± 53 Km atau sekitar 3 km dari kota Amlapura. Lokasi Padangbai terletak di pantai jalan jurusan Klungkung-Karangasem belok ke arah kanan. Di desa Padang Bai juga terdapat Pura Silayukti yang merupakan salah satu Pura Sada Kahyangan di Bali. Lokasi Pura ini dapat juga sebagai obyek wisata karena dari areal Pura terdapat pemandangan indah teluk Padang Bai. Di dekat Pura juga terdapat tempat meditasi dan semedi yang terletak tepat di pinggir laut. Untuk melakukan meditasi disini perlu ada ijin dari pemangku setempat.
Pelabuhan Padang Bai merupakan penghubung jalan ke Pulau lombok yang dapat ditermpuh dengan kapal ferry dengan waktu tempuh sekitar 4 s/d 5 jam tergantung besar ombak di selat lombok. Selat lombok ini merupakan lautan palung terdalam didunia. Beberapa waktu lalu, di Bali muncul sebuah wacana tentang pemindahan pelabuhan Padang Bai ke lokasi baru yang secara geografis dianggap lebih strategis dan menguntungkan secara ekonomis. Dan sampai sekarang perdebatan tentang rencana relokasi pelabuhan tersebut masih terus berlanjut.
Taman Narmada
Dari Swite terminal induk Mataram saya menumpang mobil angkutan pedesaan. Saya duduk di depan dan sempat bebincang-bincang dengan Junaidi sang supir angkot jurusan Swite Nirmada. Ia katanya, sehari bisa menarik 5 kali pp. Lumayan, katanya ada kelebihan sedikit dari storan. Berapa setorannya, tanya saya. Rp20.000, katanya. Tapi itulah di sini, sepi penumpang. Mobil angkotnya banyak, dan anda lihat sendiri, banyak, mobil yang kosong. Mobil kuning (maksudnya angkutan) terlalu banyak sehingga rebutan penumpang. Kadang-kadang setoran tidak dapat terpenuhi.
Penumpang hanya 4 orang. Setelah lama menanti akhirnya mobil itu berangkat juga. Jalan mulus ke timur, diapit oleh kebun dan sedikit rumah penduduk. Kiri-kanan tanaman jagung, kacang dan palawijo, diselang-selingi pepohonan yang menghijau, rimbun buah-buahan, dan bambu.
Meski ada peringatan “Awas hati-hati ada tikungan tajam!” mobil tetap melesat cepat. Pohon-pohon di kiri kanan berlari mendekat lalu pergi. Gedung SD dan rumah-rumah perkampungan nampak menyatu bagai satu garis, tak terbaca papan namanya. Nuansa panorama, penuh kehijauan bagai garis datar yang digoreskan di atas kampas. Disambut oleh jejeran bukit-bukit dan gunung gemunung yang membiru di kejauhan Saya tiba di Nermada. Nermada adalah gudang air. Di sini air melimpah sampai tumpah ke jalan-jalan. Bukan air banjir yang keruh karena lumpur, yang tak terserap lahan gundul, melainkan air bening yang memancar-mancar tak tertampung.
Taman Narmada terletak di Desa Lembuah, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, sekitar 10 kilometer sebelah timur Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Taman yang luasnya sekitar 2 ha ini dibangun pada tahun 1727 oleh Raja Mataram Lombok, Anak Agung Ngurah Karang Asem, sebagai tempat upacara Pakelem yang diselenggarakan setiap purnama kelima tahun Caka (Oktober-November). Selain tempat upacara, Taman Narmada juga digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga raja pada saat musim kemarau.
Nama Narmada diambil dari Narmadanadi, anak Sungai Gangga yang sangat suci di India. Bagi umat Hindu, air merupakan suatu unsur suci yang memberi kehidupan kepada semua makhluk di dunia ini. Air yang memancar dari dalam tanah (mata air) diasosiasikan dengan tirta amerta (air keabadian) yang memancar dari Kensi Sweta Kamandalu. Dahulu kemungkinan nama Narmada digunakan untuk menamai nama mata air yang membentuk beberapa kolam dan sebuah sungai di tempat tersebut. Lama-kelamaan digunakan untuk menyebut pura dan keseluruhan kompleks Taman Narmada.
Taman Narmada yang sekarang ini adalah hasil pembangunan dan serangkaian perbaikan/pemugaran yang berlangsung dari waktu ke waktu.
Pantai Senggigi
Dengan menumpang angkutan umum saya tiba di Senggigi, sebuah pantai tempat pariwisata yang terkenal di Lombok. Letaknya di sebelah barat pesisir Pulau Lombok. Pantai Senggigi memang tidak sebesar Pantai Kuta, tapi ketika kita berada di sini akan merasa seperti berada di Pantai Kuta, Bali. Pesisir pantainya masih asri, walaupun masih ada sampah dedaunan yang masih berserakan yang jarang dibersihkan.
Pemandangan bawah lautnya sangat indah, dan wisatawan bisa melakukan snorkling sepuasnya karena ombaknya tidak terlalu besar. Terumbu karangnya menjulang ke tengah menyebabkan ombak besarnya pecah di tengah. Tersedia juga hotel-hotel dengan harga yang bervariasi, dari yang mahal sampai hotel yang berharga ekonomis.
Padangbai
Padangbai adalah pelabuhan ferry, penyeberangan ke Bali, terletak di desa Padangbai, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Dari kota Denpasar pelabuhan Padangbai berjarak ± 53 km atau sekitar 3 Km dari kota Amlapura. Lokasi Padangbai terletak di pantai, jalan jurusan Klungkung-Karangasem belok ke arah kanan
Pelabuhan Padangbai merupakan penghubung jalan ke Pulau lombok yang dapat ditempuh dengan kapal ferry dengan waktu tempuh sekitar 4 s/d 5 jam tergantung besar ombak di selat lombok. Selat lombok ini merupakan lautan palung terdalam didunia.
Beberapa waktu lalu, di Bali muncul sebuah wacana tentang pemindahan pelabuhan Padangbai ke lokasi baru yang secara geografis dianggap lebih strategis dan menguntungkan secara ekonomis. Dan sampai sekarang perdebatan tentang rencana relokasi pelabuhan tersebut masih terus berlanjut.
Yang menarik dari obyek ini adalah tempatnya terlindung di suatu Teluk dengan batu karangnya yang hitam kokoh sehingga kehidupan bawah airnya aman. Di bagian Timur dari Pantai Padang Bai pasirnya berwarna putih bersih dan tebal sehingga banyak wisatawan memanfaatkannya untuk berenang di laut atau berjemur di pantai.
Laut di sebelah Timur bukit Padang Bai sangat baik untuk kegiatan Diving maupun snorkling bagi wisatawan. Di laut tersebut terdapat banyak ikan hias tropis dengan karang-karangnya yang indah. Padang Bai juga merupakan tempat mendaratnya para wisatawan yang berkunjung ke Bali melalui jalur laut yang diangkut oleh kapal-kapal pesiar besar.
Di Padangbai telah banyak terdapat penginapan maupun rumah makan bagi para wisatawan yang menikmati liburannya di sana, maupun para wisatawan yang akan pergi ke Lombok atau yang baru datang dari Lombok. Untuk keperluan penyeberangan ke Lombok tersedia kapal ferry yang siap melayani wisatawan atau orang-orang yang pergi ke Lombok.
Pelabuhan Padang Bai terletak di Desa Padang Bai, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Dari kota Denpasar pelabuhan Padangbai berjarak ± 53 Km atau sekitar 3 Km dari kota Amlapura. Lokasi Padang Bai terletak di pantai jalan jurusan Klungkung-Karangasem belok ke arah kanan. Di desa Padang Bai juga terdapat Pura Silayukti yang merupakan salah satu Pura Sada Kahyangan di Bali. Lokasi Pura ini dapat juga sebagai obyek wisata karena dari areal Pura terdapat pemandangan indah teluk Padang Bai. Di dekat Pura juga terdapat tempat meditasi dan semedi yang terletak tepat di pinggir laut. Untuk melakukan meditasi disini perlu ada ijin dari pemangku setempat.
Pelabuhan Padang Bai merupakan penghubung jalan ke Pulau lombok yang dapat ditermpuh dengan kapal ferry dengan waktu tempuh sekitar 4 s/d 5 jam tergantung besar ombak di selat lombok. Selat lombok ini merupakan lautan palung terdalam didunia. Beberapa waktu lalu, di Bali muncul sebuah wacana tentang pemindahan pelabuhan Padang Bai ke lokasi baru yang secara geografis dianggap lebih strategis dan menguntungkan secara ekonomis. Dan sampai sekarang perdebatan tentang rencana relokasi pelabuhan tersebut masih terus berlanjut.
Yang menarik dari obyek ini adalah tempatnya terlindung di suatu Teluk dengan batu karangnya yang hitam kokoh sehingga kehidupan bawah airnya aman. Di bagian Timur dari Pantai Padang Bai pasirnya berwarna putih bersih dan tebal sehingga banyak wisatawan memanfaatkannya untuk berenang di laut atau berjemur di pantai.
Laut di sebelah Timur bukit Padang Bai sangat baik untuk kegiatan Diving maupun snorkling bagi wisatawan. Di laut tersebut terdapat banyak ikan hias tropis dengan karang-karangnya yang indah. Padang Bai juga merupakan tempat mendaratnya para wisatawan yang berkunjung ke Bali melalui jalur laut yang diangkut oleh kapal-kapal pesiar besar.
Di Padang Bai telah banyak terdapat penginapan maupun rumah makan bagi para wisatawan yang menikmati liburannya di sana, maupun para wisatawan yang akan pergi ke Lombok atau yang baru datang dari Lombok.
▓
Di Kereta, Jakarta-Surabaya
Empat puluh pemuda-pemudi berkumpul di stasiun Gambir sejak pukul 13.00, Sabtu 21 Juli 2001. Mereka membawa tas besar dan kecil serta berbagai perlengkapan perjalanan. Nampak Bapak Dr. Samsuridjal Djauzi, Ketua Yayasan Pelita Ilmu (YPI) mengantar keberangkatan Tim Penyuluh dari YPI yang akan pergi ke Bali. Acara ini membawa tema, “Safari Penyuluhan HIV/AIDS, Napza, PMS dan Kesehatan Reproduksi & Studi Banding, Surabaya-Bali - Yayasan Pelita Ilmu 21-28 Juli 2001”.
Pak Samsu hanya sebentar berbincang-bincang dengan anggota Tim lalu pergi, tapi Bu Wahyu, panggilan akrab dari Ibu Wahyuningsih, Ketua Program Pencegahan, akan turut serta Tim selaku pembimbing.
Kami menumpang kereta bisnis Jayabaya Selatan yang sedianya menurut tiket, akan berangkat dari Gambir pukul 13.45, nyatanya baru start dari stasiun pukul dua. Semua peserta nampak lega. Di Jatinegara, kereta berhenti sejenak, berjalan sebentar dan berhenti lagi di Bekasi, menyilakan kereta Argo yang lewat. Kemudian berturut-turut berhenti pada setiap stasiun: Tambunan, Karawang, Celegeh, Kaliwedi, dan puluhan stasiun besar dan kecil kemudian.
Kereta api yang kami tumpangi ini bukan main gagahnya melaju melalui rel lurus tanpa hambatan. Segala lintas jalan mobil terhenti menyilakan kereta berlalu. Tapi kereta api yang bisnis ini, ciut nyalinya bila berpapasan dengan Argo. Kadang berhenti saja di tengah sawah, atau pada tempat yang gelap, membiarkan lewat kereta yang lebih tinggi derajatnya itu. Kami hanya mengipas-ngipas kepanasan, maklum kereta api bisnis ini, hanya bangga memajang 6 buah kipas angin besar di gerbong kami yang diam tak berfungsi. Syukurlah, yang dapat meredam rasa sumuk AC alam, dari hawa segar persawahan dan kebun buah-buahan yang berhembus lewat jendela-jendela gerbong yang terbuka lebar. Namun kalau kereta berhenti, ah, sumuknya setengah mati. Apalagi diperparah oleh para pedagang asongan yang hilir mudik dengan membawa aroma yang khas. Tak henti-hentinya juga silih berganti pengamen datang membawakan nyanyian-nyanyian yang kadang asal-asalan.
Segenap peserta berbahagia, sambil cari ilmu, mengendurkan saraf setelah sekian bulan bekerja keras tak kenal lelah. Mereka adalah Usep Solehuddin Manager Program Klinik Perdatam, Rahmat Kurniawan yang saat keberangkatan ini adalah sebagai Ketua Panitia. Turut serta pula beberapa anggota dari Klinik Perdatam antara lain: Ani Rufaidah, Wiwiek Purbawati dan Supatno. Dari Sekretariat YPI Tebet, antara lain: Sri Mujiarti (Cicik), Sri Sulistyorini, Siti Sundari, Mutiqoh dan Ali Muslim.
Selaku pembimbing adalah Ibu Wahyuningsih, ia yang isteri Wakil Ketua YPI, Dr. Zubairi Djurban ini, tugas sehari-harinya adalah sebagai Ketua Program Pencegahan, dan turut pula putrinya, Diana.
Dari Program Basecamp Cijantung antara lain: Eny Zuliatie, Puspitawati, Agus Triprasetyo, dan Budiono. Dari Basecamp Kalibata: Henny, Erlita, dan Cetrin. Sedang dari Rumah Gaul Blok M: Sri Mayanty (Aik), dan Tia Suryaningsih.
Yang agak banyak adalah dari Program Sanggar, yaitu: Ibu Upi, Mukhlis, Sri Trisnowati (Sri), Kaelany, Abdurrahman (Amang), Agus Suhendra, Juju, Rachmat, dan Indarto. Dari Propas: Atikah, Suyoto, dan Ozi. Pungky, Vera dan Destyna dari Program Website. Sebagai mitra YPI turut pula dari Pokdisus: Agus dan Fajri, dan dari Yayasan Kusuma Buana (YKB), Novitri Transiani.
Saat di kereta nampak benar rasa bahagia segenap peserta. Mereka mengisi kekosongan dengan berkelakar dan guyon. Ada pula yang memetik gitar dan bernyanyi, disamping ada pula yang membaca koran, komik dan novel. Malah beberapa di antaranya ada yang termangu saja sambil menyaksikan pemandangan dari tingkap jendela. Beberapa di antaranya menikmati istirahat dengan tiduran dan ada yang melepas waktu dengan bermain kartu.
Semua berbahagia dan senang, maklum umumnya mereka masih muda-muda, jadi tidak mengapa menghadapi situasi dan kondisi apapun. Panas dan dingin dihadapi dengan semangat, tak kendur hanya dengan situasi yang berbeda sedikit dari keadaan di rumah. Apalagi kereta berangkat siang, yang dapat disaksikan dari jendela aneka pemandangan alam desa, melewati sawah, kebun-kebun, dan perkampungan.
Setelah berjalan beberapa jam kereta sampai di stasiun Pemanukan. Para penjual asongan berhamburan naik ke kereta, ada yang mek dan lain sebagainya. Sebelah menyebelah rel nampak sawah-sawah yang menghijau, diselang-selingi perkebunan, hutan-hutan kecil, dan pohon buah-buahan. Terlihat sepintas bebek-bebek berenang di comberan dan kambing-kambing mengais sisa-sisa pepadian di sawah yang baru diketam.
Mata kadang tertumbuk ke garis hijau pepohonann, setelah sejauh-jauh mata memandang nampak hantaran nuansa kuning menyambung sepjanjang perja-lanan. Segerombolan kambing menghindar dari kereta yang lewat dekat perkebunan tebu rakyat, di sisi persawahan berwarna coklat. Ada jurang, ada empang, di sebelah gubuk-gubuk petani. Dan seseorang bersama anaknya sedang asyik memancing di kali.
Kereta masih gagah melaju, tapi tiba-tiba, ah, berhenti lagi tepat di tengah persawahan. Beberapa menit kemudian, Argo yang perkasa lewat sambil menyoraki kami penumpang kereta bisnis yang angkat topi.
Pukul 17.50 kereta tiba adi Jatibarang, di Cirebon pukul 18.30. Pada masing-masing stasiun berhenti sebentar. Seperti biasa, para pedagang asongan menyeruak pintu, lalu berseleweran di koridor gerbong, menambah rasa sesak dan panas dalam kereta. Sementara itu di upuk barat senja mulai membiaskan nuansa tabir malam. Beberapa menit kemudian, kereta telah menembus kegelapan, di luar nampak hitam pekat, sesekali di kejauhan benderang lampu perkampungan.
Ada yang lucu di kereta, seorang Arab dengan kumis dan jenggot tebal membawa dagangan dalam kardus-kardus kecil. Hampir saja saya akan tanyakan, jualan apa dan dari mana? Oh Ilah, tiba-tiba ia membuka surban dan ternyata kumis dan jinggotnya palsu, hanya topeng. Dia justru menjual topeng seperti yang dia pakai. “Untuk menghilangkan jejek,” katanya, “atau sekali-sekali pulang dengan bertopeng, biar orang di rumah terkejut.”
Belum pupus rasa geli, kami dikejutkan oleh tangisan bayi, suaranya keras dan memilukan. Ah, dasar orang tak kehabisan akal, ternyata seribu satu cara orang mencari uang. Suara itu datang dari penjual terompet. Pengasong menjual terompet dengan suara macam-macam bayi menangis. Pukul 1945 kereta berhenti di stasiun Prupuk, dan selanjutnya berturut-turut berhenti di Purwokerto pukul 22.15, Kroya 22,55, Yogyakarta 01.10, Madiun 4.30. Di Solo saya tak sempat mencatat, pukul berapa kereta lwat, karena mata sudah terbuai oleh sejuknya angina malam.
Suasana subuh, Ahad 22 Juli di stasiun Madiun tenang, tak terdengar hiruk-pikuk. Hanya sesekali kesunyian terpecah oleh suara ibu-ibu menjajakan sarapan pagi “Nasi… nasi… nasi pecel hangat…!” Kereta terus melaju, melewati sawah-sawah yang membentang dari barat ke timur. Pepohonan yang diliputi kabut, membiaskan nuansa warna terhadsp dedaunan yang masih diselimuti sisa-sisa kegelapan. Tampak rumah-rumah masih diterangi lampu listerik, Kereta tiba di Nganjuk pukul 05.10, Kertosono 05.30 dan Jombang 5.40. Pagi ini begitu ramai penjual gendongan menjajakan sarapan pagi: nasi pecel, nasi rames, mie goreng, ayam pecel panas, kerupuk, wingko, kopi, the dan berbagai jajanan.
Di luar nampak cahaya membiaskan nuansa warna. Matahari merekah di atas perbukitan, sinarnya menyorot ke berbagai arah, ke pucuk-pucuk pohon, ke kereta yang kami tumpangi, ke embun-embun pagi, sampam ke penumpang kereta yang belum mandi. Sinarnya lembut tapi memberikan kepastian cerah hari ini, menebarkan kehangatan ke sawah-sawah, kegenangan air dan atap-atap rumah.
Tiba di Mojokerto 6.15, dan sempurnalah pagi mengawali siang yang cerah. Kami tiba di Surabaya 22 Juli 2001 tepat menurut jadual, Stasiun Gobeng pukul 7.00, setelah 17 jam dalam perjalanan. Dengan perasaan bahagia meski badan terasa lelah kami tiba di Asrama Haji Surabaya pukul 07.45.
Yayasan Doulos Tretes
Surabaya, Senin 23 Juli 2001 tenang tak bergejolak, meski tadi malam telah diumumkan dekrit oleh Gus Dur, Presiden RI. Kami menuju Tretes. Bus yang kami tumpangi berjalan santai ke timur lalu belok ke kanan dan ke kiri lalu menuju selatan, melewati kantor Bank BNI, Perum Perumnas, Masjid Agung berkubah hijau, lalu memasuki gerbang tol Waru I – Gempol. Di kiri kanan terbentang sawah dan perumahan. Di depan ada simpang empat lurus Trawas, dan ke timur Prigen.
Tak berapa lama kemudian, bus yang kami tumpangi sudah berada di Pandaan, suatu kawasan di kaki perbukitan yang sejuk dan bersih. Kami melewati jalan Kasri Pandaan ke tenggara menuju Lawang, Jalan Soetomo, di kiri kanannya rumah-rumah dengan bangunan semi mewah. Candi Jawi kami lewati dengan perasaan berseri, disambut suasana alam segar kaki pegunungan yang terbalut kabut. Terhantar di depan persawahan berundak bagai ditata dalam lukisan – aquase - Kecamatan Prigen, masjid besar, terus mendaki, ke kiri Prigen dan ke kanan Trawas.
Mobil diparkir di suatu lahan terbuka, tak turut turun ke bawah karena jalan makin menyempit. Kami turun melewati jalan beraspal dengan jalan kaki. Di depan terbentang menantang pandang, perbukitan hijau yang telah terbagi rata oleh desakan bangunan mulai dari tepi sampai ke puncak. Bangunan itu bersusun berundak, mencakar upuk dan kabut di kaki pegunungan.
Belok ke kiri, naik ke atas – ke sisi-sisi tanah yang berbelit-belit menghindari onggokan batu cadas dan anak-anak kali. Air di selokan itu jernih berlari-lari kecil melewati sela-sela batu, lalu terjun ringan ke semak-semak di bawah pohon waru. Terseok-seok melalui akar pohon rindang, bambu, kemiri, akasia dan jati.
Dipandu oleh seorang ibu berpakaian seragam putih, setelah melewati jembatan kecil, kami turun lagi ke bawah dan dipersilakan ke ruang pertemuan. Di sana sudah ada beberapa pengurus lembaga, menyilakan kami satu persatu duduk di kursi yang tersedia. Saya tak kebagian kursi, lalu duduk di bangku dekat jendela. Kuperhatikan ruangan itu nampaknya memang belum jadi, atapnya seng belum diinternit, beberapa jendela belum dipasang kaca.
Acara penjelasan dan tanya jawab berlangsung singkat. Kemudian peserta, setelah diberi suguhan minum dan makanan kecil, turun ke bawah menuju ruang rehabilitasi. Peserta berkesempatn meninjau sampai ke ruang tinggal. Di sini terdapat 17 orang dengan kasus narkoba, kasus stress dan depresi 13 orang, non-narkoba/psichis yang dikirim keluarga sebanyak 30 orang.
Pada dinding ruangan itu banyak coretan yang ditulis oleh pasein. Ada tulisan yang tajam mengeritik suster dan yayasan., Tapi ada juga yang bernada menyesal dan mohon pengam-punan.
Menurut pihak yayasan para pasien di sini mulanya tidak dipungut bayaran, tapi sekarang kepada keluarga psien diminta sumbangannya dua juta perorang perbulan. Biaya tersebut untuk biaya makan, keamanan (satpam), dan lain-lain. Satpam diperlukan untuk pengamanan jangan sampai mereka kabur.
Di papan nama tertulis:
Apakah anda
bermasalah seperti:
Keterlibatan narkoba, gangguan jiwa (stress,
depresi, luka batin), occultisme/kuasa, gelap, kenakalan
remaja dll. Masalah anda akan diterapi secara holistik (utuh menyeluruh) mencakup fisik, mental, spiritual dan social oleh
tenaga professional di bidangnya: hamba Tuhan, dokter, psikiater, psikolog dan pekerja sosial. Anda akan dirawat di villa yang sejuk
dan tenang. Hubungi Pondok Pemulihan Doulis I Jalan Raya
Trawas No. 253, Prigen-Pandaan Jawa Timur.
Telp. (0343) 880868-993213.
Bila Anda pecandu narkoba dan positif HIV/AIDS
hubungi: Pondok Pemulihan Doulos II
Telp (031) 829216.
Dengan Bus, Surabaya-Denpasar
Senin 23 Juli, pada pukul 13.55 bus yang dicarter Panitia bertolak dari Tretes langsung Banyuwangi. Semua merasa senang dan lega. Bus turun dari perbukitan di aspal mulus dengan santai. Bu Wahyu berdiri lalu menghitung peserta dari depan ke belakang secara berurutan. Dari nomor 1 sampai 6 dikelompokkkan menjadi kelompok A. Dan dari 7 sampai 12 kelompok B. Masing-masing kelompok menyanyikan, “Sedang apa sekarang…?”bersahut-sahutan, diakhiri dengan kekalah-an kelompok A. Bu Wahyu kemudian mengeluar-kan tekat-teki, di selingi cerita-cerita lucu. Peserta lain tak ketinggalan menyajikan cerita antar lain: Usep, Fungki, dan Amang.
Sementara peserta mengemukakan beberapa jocknya, bus dengan santai melewati jalan aspal halus, lancar tanpa kemacetan. Saat ini situasi sedang diliputi tegang di Jakarta, lalu lintas di jalan tidak begitu ramai.
Bus melewati Kawasan Industri dan Pangkalan TNI. Sampai di Pasuruan pukul 14.35, Rejoso pk 15.00. Di kiri kanan jalan, nampak sawah-sawah menghijau, perumahan penduduk yang berjejr menghadap jalan.
Selintas terlihat seorang petanai mengangon bebek, menghalaunya ke persawahan. Tiba di Ngopak dengan pohon-pohon mangganya yang rimbun pk 15.05. Di depan ada persimpangan jalan, terbaca di papan marka: Lurus Probolinggo dan ke kanan Lumajang, Bromo dan Jember. Sampai di Probololinggo pk 15.40, bus mampir di masjid Tiban “Babussalam”. Peserta turun cuci muka berwudhu dan shalat ashar pk 16.00. Setelah shalat, bus berangkat lagi melewati pantai desa Gending, Probolinggo, Karaksaan 16.40.
Di depann nampak gunung terbentang bagai palang, biru dari kejauhan, melekuk-lekuk bagai akan menimpa jalan. Di sebelah kanan menghijau tanaman, tebu, tembakau dan palawejo, sedang kiri tanaman padi. Melewati PLTU Paiton 17.05 dan samaai di Situbondo 17.15.
Meski menarik, di Pasir Putih 17.30 bus tak mampir, terus berjalan sampai di Asembagus 18.30. Bus mendaki meraung-raung di kebun jati. Tak banyak nampak pemandangan, di kiri kanan hanya hitam. Setelah melalui rangkaian perkampungan dengan perut keroncongan tibalah kami pada apa yang dinanti, Restoran Grafika, Ketapang, pk 20.40.
Restoran ini membelakangi laut. Ombak-ombak kecil masih sempat memercikan buih. Nun di seberang lampu-lampu benderang memecah kegelapan. Setelah cuci muka, berwudu, shalat, makan dan istirahat, perjalan dilanjutkan lagi. Bus membawa penumpangnya yang kenyang. Semboyan dan kelakar masing-masing penumpang menunjukkan keriangan. Tak seperti tadi, perut kerongongan menekan lidah bumkam seribu bahasa. Hanya beberapa menit saja kemudian, sampailah bus di Ketapang, pelabuhan penyeberangan, Bnayuwangi-Gilimanuk.
Peserta naik kapal Ferry Trisila Bhakti I pukul 21.07. Dari atas kapal dapat dilayangkan pandang-an pada teluk yang tersepuh oleh benderang lampu-lampu sepanjang pantai pelabuhan. Di sisi lain lampu-lampu kapal yang berlabu membiaskan bayang-bayang, kemilau dengan nuansa warna yang gemerlapan.
Sebelum kapal berangkat paera peserta giat mengabadikan diri, berpooto bersama atau sendiri.. Sundari berpose sendiri dengan mengambil latar belakang pelabuhan. Setelah itu ia mengabsen peserta..
Penumpang malan itu tak banyak, nmpak sekelompok mahasiswa yang mengenakan jaket biru, tapi tak jelas dari perguruan mana, tentu dengan tujuan Bali pula.
Kapal bertolak tepat pukul 21.45. Sebelum bergerak maju, kapal mundur untuk keluar dari dermaga, Suara gelombang terbelah oleh kapal, yang melaju dengan tenang menuju Gilimanuk. Lampu-lampu pelabuhan membiaskan bayang-bayang berpada dengan bintang-bintang yang bekelip-kelip di upuk langit
Pelayarn singkat dari Ketapang ke Gilimanuk ini memberikan kesan yang mendalam. Goncangan di kapal memang tidak terasa, tapi lajunya nyata. Hanya sekitar 30 menit saja sampailah kapal di Pulau Dewata pk 10.37. Pesera disambut Rondi sahabat dari Bali Plus. Dengan bus yang sudah disiapkan peserta bertolak ke Denpasar.
Kiri kanan gelap saja, tak ada pemandangan yang terlihat, apalagi mata sudah mengantuk. Terkadang terbangun juga kala bus berbelok kencang pada tikungan yang tajam. Pad pukul 2,00 dini hari, Selasa, 22 Juli 2001 tibalah rombongan kami di Bali Internasional Hostel, Jalan Mertasari 158 Banjan Saungkangin Denpasar, tempat kami menginap beberapa hari di sini.
Obyek Wisata Bali
Para wisatawan, domestik dan asing sangat mengenal Bali, malah pulau ini merupakan target kunjungan wisata international. Belum keliling dunia kalau belum pergi ke Bali. Apa yang dicari wisatawan asing “5S” (sun, sea, sand, sky, and smile) ada di sini. Karena itu, arus kedatangan wisatawan asing dan domestik ke Bali sangat deras. Tak menjadi masalah ketika di lain wilayah sedang susah, meski sedang tak aman pun mereka tetap datang. Bahkan ada wisatawan asing yang mengatakan belum pernah ke Indonesia, tapi sudah pernah ke Bali. Atau ada yang malah balik bertanya, Indonesia itu di sebelah mananya Bali? Wisatawan asing ada yang menganggap Bali adalah dunia tersendiri, bukan bagian dari Indonesia. Seolah sekeping tanah yang tercabik dari taman surga.Orang lalu menjulukinya dengan Pulau Dewata, atau Pulau Tuhan, sebab hanya Tuhanlah yang kuasa memnciptakan dunia seperti ini. Manusia hanya bisa berdecak, menyaksikan setiap sudut tanah di darat, di laut, di pantai atau di puncak, semua mempesona, segala arah sedap dipandang mata.
Hal lain yang mendukung keindahan adalah polesan sekilas dari yang alami. Pantai yang terjal dengan batu karang hitamnya yang tajam, di bangun pagar dan di atasnya didirikan pura. Dari dataran sempit ini dapat disaksikan di bawah ombak-ombak besar menerjang karang, buihnya yang putih mendidih sampai ke atas. Suasana itu menampilkan keindahan, dan mendidik kita berbagai kiasan. Karang itu berabad-abad bertahan, keras dan tetap menantang. Ombak tetap datang menghantam yang sedikit demi sedikit telah membentuk karang yang bolong-bolong, tajam, dan tak rata. Batu melukiskan ke dahsyatan bertahan, dan ombak menggambarkan kesungguhan.
Di sisi lain dapat disaksikan pantai yang landai, pasir putih terbentang membentuk teluk kecil dengan ombaknya yang memecah lunglai, di sini dibangunlah tem pat menginap, hotel, pasar dan restoran. Maka ramailah orang datang, orang –orang asing yang membawa budaya mereka, dengan hanya hanya secabik kain menutupi yang paling penting tubuhnya. Mereka menikmati matahari (sun), pasir (sand), laut (sea), langit (sky) dan senyum (smile).
Yang amat terasa adalah suasana ramah penduduk asli terhadap kedatangan wisatawan. Mereka menyadari benar akan arti pengunjung, bahwa mereka adalah tamu yang harus dihormat dan diberi pelayanan. Keramahan adalah suatu yang dicari dalam diunia wisata, yang dilambangkan dengana smile atau senyum.
Tapi yang tak kalah menarik adalah suasana bersih dan nyaman. Kesadaran bersih sudah membudaya. Sampah-sampah harus dibuang pada tempta yang telah disediakan di mana-mana. Orang di sisni menyadari kotor akan merusak keindahan dan mengganggu kesehatan.
Pantai Sanur
Selasa pukul 9 pagi, saya dan Amang ke jalan raya, di depan tempat kami menginap untuk melihat-lihat. Saya tanya kepada Amang ke mana kita hendak pergi, atau di mana tempat rekreasi yang terdekat dari sini. Kami masih bingung tentang arah, mana barat mana timur. Selain tak bawa kompas, jarang ada mushalla dan masjid, yang biasa menunjuk kiblat. Menurut kata penduduk yang kami tanyai, ke Pantai Sanur hanya 15 menit dengan taksi. Kami stop taksi dan pergi.
Melewati jalan mulus dan bersih kami sampai ke Pantai Sanur. Di sini banyak turis asing, hotel pantai, warung makan, warung-warung cenderamata dsb.
Angin kencang berhembus menerpa pepohonan dan hotel yang menjulang. Ombak besar kecil saling berkejaran, saling mendahului untuk sampai di pantai dan pecah memercikkan buih.
Turis-turis asing yang berpakaian minim berke-lompok-kelompok dengan barang-barang bawaan siap-siap untuk menyeberang ke pulau-pulau Nusa Lembongan atau Nusa Penida untuk relaks, menyelam, renang dan sky.
Kami berjalan melewati depan hotel ke ujung ombak-ombak yang menerjang dengan anginnya yang bertiup kencang. Kami hanya melihat-lihat sebentar, bertemu dengan Fungki dan kawan-kawan, ternyata mereka telah lebih dulu ke sini.
Pantai Sanur, cocok buat turis-turis yang gemar sky dan bermain perahu, karena lautnya yang besar. Setelah Amang menghirup kopi panas di sebuah warung, kami kembali ke hostel dengan menumpang taksi.
Joger
Hari sudah sore, bus yang dicarter panitia selama di Pulau Wisata ini mengantar rombongan ke mana saja dengan setia. Bus melewati jalan mulus, ke arah mana kami rata-rata tak mengerti. Ternya kami ke Joger.
Di Joger ada toko souvenir dan kaos-kaos yang bertuliskan kata menarik, bergambar lucu dan nyentrik. Cocok bagi remaja dan muda-mudi. Sayang harganya tinggi, lagi kalau beli untuk oleh-oleh tak cukup sebiji. Tapi saya tersipu juga ketika membaca tulisan yang dipajang di luar toko, “Belanja tidak belanja tetap thank you.”
Tak berapa lama di sini, kami segera ke Pantai Kuta. Menurut Iwan, pimpinan rombongan, kita kembali lagi ke depan Joger pukul 19.00. Jadi waktu cukup leluasa untuk menikmati sunset di Pantai Kuta.
Pantai Kuta
Melewati toko-toko cenderamata, kami berjalan menuju pantai. Pantai Kuta yang tersohor itu adalah daya tarik Bali. Di sini wisatawan menikmati “Lima S”: sun, sea, sand, sky and smile (matahari, laut, pasir, cuaca, dan senyum).
Setelah penat mandi di laut yang bersih, para turis berpanas-panas di bawah sinar matahari. Berbaring di pasir dengan bersantai-santai atau membaca. Smile atau keramahan merupakan salah satu daya tarik yang mereka cari, tapi kadang-kadang sapaan keramahan dari para pengunjung membuat mereka merasa terusik. Mereka ingin berbaring santai dengan secabik kain yang menutupi bagian yang paling penting tanpa gangguan. Kedatangn para turis memberikan lapangan kerja bagi penduduk. Mereka menjajakan berbagai cendermata mulai dari kacamata, seperangka alat panah batik dan lukisan khas Bali.
Meski kadang sapaan keramahan para penjaja itu membuat para turis asing yang sedang santai itu terganggu, adalah menarik pula bagi mereka, ketika ditawari pijat. Pijat memang nikmat, lagi dapat melonggarkan otot-otot yang kencang dan urat-urat yang kaku setelah penat mandi dan berjemur. Seorang ibu gendut memijat seorang pria ulit putih dengan bertelungkup di pasir. Di sampingnya seorang gadis bule tersenyum menyaksikan pasangannya itu yang nyegir keenakan.
Para turis domestik ke banyakan tidak turut mandi, hanya berjejal-jejal memenuhi pantai, menyaksikan ombak-ombak kecil yang mengusik kaki gadis-gadis mungil. Justeru yang menarik bagi mereka adalah kesohoran Kuta. Belum ke Bali kalau belum ke sini. Dan yang paling istimewa dapat menyaksikan betapa berani-nya para turis asing berpakaian minim. Dengan hanya mengenakan pakaian dalam, tergolek bagai tidur di dalam kamar, padahal ribuan pasang mata melihatnya. Bagi yang baru kali ini melihat, justru ini yang menarik. Benar juga apa yang di dengar dalam cerita-cerita, dalam gambar-gambar orang asing begitu berani, membuka paha, dada, yang bagi orang kita malu dan risih. Karena itu bagi kalangan tertentu dipandang dari segi ini, pariwisata menyinggung perasaan beragama dan adat kebiasaan bangsa kita.
Saya duduk saja dekat jalan, menantikan kawan-kawan pulang. Rupanya saya salah tempat menunggu. Kalau tak bertemu kawan tentu saya akan ketinggalan, dan bingung untuk pulang ke penginapan.
Sunset yang dinantikan para wisatawan, menebarkan multi warna yang menyepuh laut dan pasir. Di upuk barat mega nampak bernyala bagai bara. Laut biru telah berubah warna, dengan nuansa antara kepekatan malam dan kebenderangan siang, hitam dan kuning keemasan. Pasir juga lebur dalam warna. Tapi kami, tak boleh tenggelam lama-lama di sini, sebab pukul 19.00 kami semua sudah berada di depan Joger.
Bersama kawan-kawan kami berjalan kaki ke Joger, dan tak lama bus datang menjemput. Sekitar jam 21.00 kami sampai di hostel dengan badan lelah dan perut keroncongan. Untung di sini sudah tersedia nasi kotak katering yang disiapkan untuk makan malam.
Tanahlot
Sehabis mengunjungi Yayasan Sehati dan menyak-sikan kegiatannya di lapangan, tepatnya di Desa Pererenan, pada hari Rabu, 25 Juli, pukul 12.10 rombongan tiba di Tanahlot. Bus parkir di terminal. Kami berjalan kaki dari pasar ke pantai. Kusempatkan sebelumnya, di sebuah toko membeli sehelai sapu tangan batik khas Bali. Saya tak membeli banyak, ingat kata kawan, kalau mau borong-borong nanti di Pasar Sukowati.
Melalui Pura Enjunggaluh, Pura Jerokandang, rombongan mendaki ke puncak bukit batu. Lalu meninjau ke bawah menyaksikan dengan perasaan was-was ke jurang yang dalam. Nun di bawah suara gelegar ombak menghantam batu hitam, ke ujung karang tajam dengan garang, gemericik memercikkan buih, berpadu dengan laut biru yang membentang sampai menyentuh upuk.
Di sebelah agak ke tengah laut ada seonggok karang yang di puncaknya berdiri pura. Di waktu pasang surut, nampak karang itu menyatu dengan darat, karena hanya berjarak tak lebih dari 100 meter dari daratan. Dalam pasang naik, ia nampak bagai suatu pulau. Kami tak dapat menyeberang ke pura itu, tapi hanya foto-foto saja dari kejauhan.
Dalam foto tampil berbagai gaya, ada yang pakai kaos ketat, celana levis, kaca mata hitam dan tak lupa topi dengan bertuliskan anti narkoba dan HIV/AIDS.
Kami di sini hanya sebentar, lalu rombongan segera kembali ke terminal. Bus berjalan santai, tapi kami seperti biasa kehilangan arah. Selama ini kami masih bingung ke arah mana bus berjalan, timur, barat, utara atau ke selatan. Sampai beberapa hari ini pun di antara kami masih ada yang shalat menghadap ke timur.
Meski arah tak kami ketahui, kucatat nama jalan dan tempat yang kami lewati, antara lain: Jalan Sutomo, Jalan Gajahmada, Pasar Badung, Jalan Ternate, Jalan Hasanuddin, Jalan Mayjen Sutoyo, Jalan Sudirman. Kami melewati Pengadilan Negeri Denpasar, Jalan Raya Puputan, Universitas Udayana, Jalan Raya Sesetan, dan sampailah kami di Yayasan Kertipraja pukul 13.50.
Uluwatu
Kami meninggalkan Yayasan Kertipraja pukul 15.45. Kini kami telah berada di Denpasar Selatan, lewat lapangan bola Arga Coka, jalan Werkudari menuju lapangan udara Ngurahrai. Kami cari masjid untuk shalat asar, dan diantar oleh supir ke masjid Nurul Huda, di kompleks karyawan Lapangan Terbang Ngurahrai. Mereka yang tinggal di sini kebanyakan dari luar Bali, seperti dari Jawa dan Lombok. Di masjid ini berdiri taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), tempat anak-anak keluarga muslim mengaji dan belajar agama.
Setelah shalat, kami sempat menikmati bakso lontong harga dua ribu. Saya tanya kepada tukang bakso itu apakah pakai B2. Oh, katanya saya orang Jawa (maksudnya muslim), apalagi tiap hari mangkal di depan masjid.
Sehabis shalat asar 16.40 bus membawa kami ke selatan, melewati jalan yang berliku-liku, lalu menanjak bukit. Kubaca papan marka: lurus ke Nusadua, ke kanan Kampung Ubud dan Uluwatu.
Menjelang petang, setelah menempuh jalan yang cukup panjang tibalah kami di Uluwatu. Bus parkir, dan kami masuk melalui pintu gerbang. Setiap pengunjung yang masuk diberi selendang berwarna kuning. Khusus bagi yang berpakaian pendek di atas lutut malah diberi lagi pakaian sarung.
Sejak mula sudah diwanti-wanti oleh penjaga, jangn bawa alat-alat dan pakaian yang mudah diraih. Kera-kera di sini meski nampak jinak tapi tetap nakal. Rupanya ada juga dari kami yang lengah; si Fungki, ketika sedang asyik bersenda dengan kawannya, tak dinyana seekor induk kera menerkam kacamatanya. Diremasnya kacamata itu sampai lumat dengan gigi-giginya yang tajam. Kami hanya bengong menonton, tak dapat menolong, karena kera-kera itu selain usil juga galak.
Setelah beberapa menit di atas bukit itu, kami berjalan ke sisi lain di pinggir jurang. Di sini banyak turis asing berlalu lalang dan membaur dengan pengunjung lokal. Yang menarik adalah kera-kera di sini telah biasa dengan orang. Tak takut ditangkap atau diganggu. Bu Wahyu ketika lewat di bawah pohon di sisi jurang terkejut bukan kepalang, seekor kera tiba-tiba meloncat ingin meraih ikat rambtunya. Untung ia menghindar, segera setelah kawan-kawan berpekik khawatir.
Hewan-hewan itu begitu lucu dengan perangainya yang hewani, berkejaran, bercumbu rayu dan akhirnya melakukan hal yang tidak senonoh di depan ratusan mata yang menyaksikan. Yang membawa kamera segera mengabadikan adegan-adegan jorok ini untuk kenangan.
Sebagai pelajaran dengan merambahnya infeksi penyakit menular seksual saat ini, alangkah baiknya kita sebagai manusia tidak meniru perilaku kera yang gunta-ganti pasangan. Mereka memang hewan yang boleh bebas tak kenal nikah, bebas berbuat tanpa aturan.
Hari sudah petang, matahari di upuk barat lambat-lambat masuk ke laut, menyisakan mega, menyebarkan warna, menyepuh langit dan pucuk-pucuk daun. Kamera-kamera para turis yang sejak tad disiapkan membidik alam, merekam kenangan sunset yang mengagumkan.
Bersamaan dengan tenggelamnya sang surya di upuk barat, bukan suara azan yang terdengar, melainkan suara gemuruh decak dan tepuk tangan para penari khas Bali.
Danau Badugul
Dengan Bus Mercy, pagi ini kami akan di antar ke suatu obyek wisata. Saya tak mengerti hendak kemana. Yang jelas mata ke kiri dan ke kanan terus terjaga, memandang dari jendela yang tertutup kaca, menyaksikan keindahan dan kebersihan lingkungan dengan bahagia
Bus berjalan santai, melewati daerah persa-wahan, tanaman palaweja, kebun buah-buahan, dan rumah-rumah penduduk. Terus ke jalan panjang berkelok-kelok melalui perumahan khas Bali, yang berdiri di depannya beberapa pura tempat pemujaan.
Setelah itu bus melewati kali-kali, airnya yang bening mengalir terbirit-birit, ke selokan dan parit-parit. Lalu melalui sisi-sisi deretan rumah, pohon-pohon rindang dan siring-siring sawah. Di depan terbentang jalan yang menurun curam, yang mendaki seketika, sempit dan berkelok-kelok. Lalu melewati rumah-rumah lagi, di belakangnya atau antaranya diselingi pepohonan, kelapa, enau, bambu, mangga, rambutan, dan aneka buah-buahan, sampai ke jalan luas dan lengang. Sekali-sekali bus kami berpapasan dengan bus wisata, truk Aqua atau mobil pribadi yang berlari kencang.
Mobil mulai menanjaki daerah perbukitan. Melewati kawasan ini hati saya terasa nyaman. Saya teringat di sini seolah-olah kawasan Puncak Bogor yang tersohor itu. Daerah perbukitan, yang berjejal bangunan, hotel, villa dan rumah-rumah peristirahatan.
Dari puncak bukit dapat dilayangkan pandangan ke bawah, ke rumah-rumah yang berderet-deret bak kotak mainan, ke perkebunan sayur mayur dan ke tanaman bunga yang ditata dengan sempurna.
Setelah bus berjalan terengah-engah menanjaki perbukitan itu sampai ke puncak lalu menurun, beberapa km saja dari situ tibalah kami di Badugul, sebuah danau yang bening dan indah. Kulirik jam tanganku, ah baru pukul 14.45, tapi ketika kulihat jam dinding di masjid kok sudah pukul 15.45, selisih satu jam. Saya baru sadar jam yang kupakai masih jam Jakarta, sedang kami berada di Indonesia Tengah.
Turun dari bus langsung disambut oleh pedagang jagung. Jagung rebus di sini murah, sebuah hanya lima ratus rupiah. Kacang dan pisang juga tersedia. Maklum daerah sayur mayur. Di depan juga ada rumah makan muslim yang menjual soto, bakso dan masakan Jawa. Sayang kami masih kenyang, jadi kami tak tertarik untuk singgah, hanya membeli beberapa buah jagung dan kacang rebus.
Kami menuju danau. Alangkah menawan! Jernih airnya, sejuk dan segar hawanya, indah dan molek pemandangannya. Di sekelilingnya terlihat hutan-hutan yang membentang, samar-samar diliputi kabut.
Kawan-kawan tak membiarkan kesempatan. Semua berpose di depan kamera, dengan latar belakang danau. Ada yang ke atas dermaga mini dengan gaya muda-mudi masa kini. Dan kamera dijepret berkali-kali. Ada yang berfoto dengan burung elang yang jinak, atau dengan ular besar yang dililitkan ke leher.
Sementara itu kami melihat seorang turis bule berlari ke dermaga, ditingalkannya pasangannya. Apakah dia hendak berfoto pula? Tidak, ia malah ke sisinya dan berjongkok memungut dua bekas botol aqua yang mungkin dilempar pengunjung sembarangan, lalu dia membawanya ke keranjang sampah. Oh Ilah, begitu saja kok lari. Mengapa tak dibiarkan saja, toh bukan dia yang melempar.
Ya itulah mungkin bedanya dengan kita. Orang-orang yang sudah terbiasa dengan budaya bersih dan peduli lingkungan, mereka risih kalau melihat kotor. Mereka datang dari negeri maju membawa budaya itu ke sini. Ini yang patut kita tiru, di samping kegemaran baca, yang tak mau duduk sendirian tanpa memegang buku.
Sukowati
Sukowati adalah surga membeli. Segala macam bentuk oleh-oleh khas Bali bisa kita peroleh di sini. Yang penting siapkan kocek yang tebal. Kalau dompetnya tipis, ya pandai-pandailah mengatur. Kalau tidak dapat menahan, dapat semua menjadi kebutuhan.
Saya terhitung berkocek tipis, karena selain memang kurang peresiapan, juga dompet saya hilang di Asrama Haji di Surabaya. Jadi saya masih dihinggapi kesusahan, karena selain uang, juga ktp dan ATM hilang.
Untung pantiti memberi beberapa ribu, saya tak ingat lagi jumlahnya. Malah ada pula yang melihat saya kasihan, memberi juga. Jadi dengan uang itu saya dapat membeli sedeikit oleh-oleh. Baju mandi khas bali dan beberapa kalung perak.
Yang penting sudah tahu tempatnya. Lain kali kalau ke Bali lagi, dengan dompet yang agak tebal kita bisa borong oleh-0leh yang lebih banyak.
▓
IKUT PAK YONO
KE PURWOREJO
(20 Mei 2003)
Dalam Perjalanan
Jakarta- Purworejo
Udara masih menyisakan sejuk pagi. Rabu, 20 Mei 2003, pukul 5.30, kami bertolak dari Kalisari. Mobil carry, 1.5, Nopol B 1230 EJ berwarna hitam keunguan, disetir oleh Pak Sudiyono, pemiliknya. “Nanti boleh gantian, tapi saya hanya bisa lurus, tak bisa belok.” kelakar saya. Saya memang belum mahir menyetir, maka akan distir sendiri oleh Pak Sudiyono seharian. Di dalam mobil ini kami bertujuh: Pak Sudiyono, Bu Ranti isteri Pak Sudiyono, saya, Harlina isteri saya, Nurma Yusmita keponakan Pak Sudiyono, Fanny anak Pak Sudiyono umur 5,5 tahun, dan Awiem anak saya umur 5 tahun.
Dengan cepat kami lalui kompleks Koppasus, Graha Cijantung, dan memasuki keramaian perapatan Pasarebo, lalu belok kanan ke jalan tol pukul 6.10, saat matahari memerah bagai bola api. Di jalan tol masih terasa lengang, supirnya tenang, mobil melaju kencang. Setelah keluar tol ke jalan depan UKI kami masuk tol kembali. Memang kalau pagi ke arah timur tidak begitu macet. Saya lirik di spedometer menunjuk angka 110 – 120 km perjam. Mobil mungil ini full musik dan ber-AC, yang tak henti-hentinya mendendangkan Ebid G.Ade, Beruri tentang kekejaman cinta, AB Three dan sesekali lagu Jawa yang menyayat hati tentang janda yang ditinggal suaminya.
Kami sampai ke Bekasi. Di depan kami mobil berderet saling mendahului: kijang putih, truk Hyundai, tangki Pertamina, blue bird. Di kiri kanan sawah-sawah yang baru ditanami, kebun-kebun terbentang, bukit-bukit kecil, semak-semak, rerumputan, ilalang, rumpun-rumpun bambu, semua bersatu menjadi suatu kekuatan, hijau bagai beludru yang digelar lebar, memberikan nuansa kesuburan. Pabrik-pabrik, rumah-rumah penduduk, pagar-pagar, papan-papan nama bagai iklan sekilas di layar kaca, terlewat dengan cepat tak terbaca. Namun semuanya telah sempat membalut hati kami yang memandangnya dengan perasaan penuh bahagia.
YKK Cibitung terlewati, sementara matahari mulai mengeluarkan sinar, membelah kabut pagi, menerpa kebun-kebun pisang, palawija, pohon-pohon, rerumputan yang masih diselimuti embun, lalu kami telah berada di Cikarang. Mobil kami mengurangi kecepatan, ada truk di depan, bahaya, karena sarat dengan muatan besi baja. Di depan truk tanki mengedip-ngepikan lampu sen untuk mendahului. Sungai coklat, padang golf, apartemen Panorama Asri kami lalui dengan diiringi oleh dendang Ebid G.Ad.
Di kiri kanan jalan sawah membentang, yang baru dibajak, dan yang hampir panen, Kami telah tiba di Kerawang, lalu Kosambi dan kawasan industrinya yang rapi. Kuda biru B 1810 JR, di depan kami, beriringan dengan bus Primajasa, Kijang Putih B 8062 BQ dan beberapa kendaraan lain segera kami lewati. Pada pukul 7.08 kami telah berada di pintu keluar Cikampek.
Jalan bercabang dua ke kiri arah utara ke Cikampek-Cirebon, dan ke kanan arah selatan ke Purwakarta-Bandung. Kami melewati deretan tenda-tenda warung nasi lesehan, kebun jati, semak-semak di bawahnya yang hijau dan rimbun. Seekor sapi istirahat lelah setelah mengangkut segerobak penuh bambu. Ada juga jual buah-buahan, nenas, es kelapa, tape ubi, peyem, teh botol, wartel, SD, Kantor PT Jins Singrament, warung padang, dan sate. Kami mendahului Kijang T 1661 TA yang sedari tadi menghadang-hadangi. Lalu melaju di Jalan Raya Bungursari, di sisi kanan kebun karet yang terbentang sawah di bawahnya.
Ada dua cabang jalan lagi. Lurus ke Purwakarta-Bandung dan ke kanan Subang. Kami belok kiri ke arah Subang, melalui Jalan Raya Cempaka, berpapasan dengan bus, truk, dan mobil-mobil pribadi, beca, dan gerobak roti. Kemudian melewati rumah-rumah, berjejer dengan masjid, sekolahan SD. Di sampingnya sawah-sawah, pohon-pohon rambutan, jembatan dengan airnya yang kecoklatan mengalir deras di bawahnya. Di sini kami agak terhambat, kecepatan dikurangi, karena jalan banyak yang menganga, dan dihambat oleh peminta sumbangan untuk pembangunan masjid.
Di kanan tambal ban, sawah hijau di samping pom bensin, SD, dan pabrik. Nampak dua wanita yang satu berbaju biru berkerudung putih sedang menanam padi. Ada kebun pepaya, pangkalan ojek, truk-truk yang sedang parkir. Kami tetap terjaga menemani supir yang tak boleh ngantuk. Karena itu musik terus distel berganti-ganti. Menggelegar di dinding atap. Kini musik Barat, berbahasa Inggeris, meski tak tau judulnya, dan artinya dieja-eja, tapi tetap asyik, karena suaranya merdu dan musiknya syahdu.
Jalan berliku-liku. Kami tiba di Cibatu, km 16 Jalan Raya Purwakarta - Subang. melampaui Kijang putih B 8602 GQ. Melalui kebun karet, jalan mulus, belok kiri, kanan, kebun karet lagi, lapangan bola, jalan berliku-liku, ke kanan dan kiri berkali-kali. Di sini terdapat banyak penjual buah-buahan: jeruk bali, labu, kerupuk, warna warni, jembatan, kiri kanan anak bukit hijau dan coklat yang tersedia tempat istirahat. Dan di kanan sawah hijau, rumah-rumah penduduk yang berjejal di sepanjang sisi-sisi jalan.
Truk R 96534 FC menghadang-hadangi, tapi kami tidak dapat melampaui karena jalan berbelok-belok di perkebunan karet, melalui jembatna jalan yang turun naik, belok kanan dan melalui Markas Komando di depan bukit kecil yang hijau penuh pepohonan. Kami tiba di Subang pk 8.20. Didepan terdapat marka penunjuk ke selatan Bandung dan ke timur Subang Kota.
Pemandangan indah, bak secabik taman yang terlempar dari surga. Jalan mulus melangkahi anak-anak bukit yang hijau kebiruan penuh rumput-rumput dan semak-semak. Kami berpapasan dengan sedikit mobil. Di depan tampak sebuah bukit tegak bagaikan menghadang jalan, biru dan menyenangkan. Jalan turun ke kiri, mobil kami melesat dengan cepat. Pak Pak Yono memerlukan energi agar tetap terjaga, karena kalau mleng sedikit bisa terjungkal di jurang yang dalam. Selain musik terus berdendang dari tape recorder, ia perlu minum tambahan energi, kartendeng. Bu Ranti di depan mendampingi supir, tak henti-hentinya memberikan pelayanan. Kadang-kadang, saya yang duduk di tengah, memberikan sedikit aba-aba, awas bahaya, ketika hendak melampaui kendaraan truk aqua yang panjang tepat di pertikungan di bawah bukit. Bukit dibelah jalan. Matahari mengangkangi hutan-hutan di kaki pegunungan.
Rumah-rumah menumpuk di bawah bukit, terlihat jelas indah menawan dari jalan menurun yang berbelok-belok. Di depan truk box D 8525 BV berjalan terseok-seok, tak dapat didahulu. Tak berapa lama kami telah berada di jalan yang aman, mulusdan lengang. Di kiri kebun jagung, sawah, dan sebelah kanan gunung, sawah dan air mengalir ke rumah-rumah. Di sini banyak kolam ikan. Saya baca sekilas di papan nama, Cimanggu, kemudian Tanjuang Siang.
Jalan berliku-liku, di bawah perbukitan sawah-sawah sedang menghijau. Rumah-rumah nampak sepi mungkin penghuninya sedang ke kebun atau ke sawah. Kami kini telah masuk ke perbatasan Sumedang dan masuk kota pada pukul 9.50.
Mengarah ke timur, sawah menguning, kali mengalir, pohon kelapa, jalan berbelok-belok, menanjak sedikit di Pasar Wado, dan pada pukul 11.05 kami telah berada di persimpangan jalan Malangbong.
Ke kanan Badung dan ke kiri Tasik. Kami berbelok kiri menanjaki jalan, lalu menurun berkelok-kelok tajam sampai Bu Harlina muntah-muntah lagi. Mobil melaju santai, melewati pemandangan alam hijau dan birunya bukit-bukit yang mempesona. Kampung demi kampung terlampaui: Ciawi, Rajapolah, Tasikmalaya, Ciamis, dan kemudian Banjar.
Kami mampir di restoran Peringsiwu. Di sini disediakan tempat shalat dan kamar kecil yang bersih. Setelah shalat zuhur, kami bersantap siang. Menu telah dipesan, berupa goreng ayam kecap, seekor ikan gurame goreng seberat tak kurang dari 1 kg, oseng-oseng kangkung, sayur asem, lalapan dan sambel terasi. Aduh nikmatnya, maklum perut sudah lapar dan masakannya cukup lezat. Tak ampun, satu bakul kecil nasi ludes. Kami istirahat di sini kurang lebih satu jam mulai 12.20 sampai 13.35.
Setelah istirahat kami melanjutkan perjalanan. Keluar dari restoran belok kanan terus ke timur, melalui kebun karet yang luas, dan jalan yang berliku-liku. Desa Ciopat kami lalui, kemudian Kecamatan Wenareja, Majenang, Limbir, Wangon, Notog, Banyumas.
Di suatu persimpangan terlihat penunjuk jalan. lurus ke Purwokerto, ke kanan Sidoarjo. Kami tiba di Wangon ada persimpangan lagi, lurus ke Yogyakarta, ke kiri ke utara Tegal, ke kanan selatan ke Cilacap. Tiba di Jati lawang terus ke timur menyeberangi Sungai Serayu, di bawah jembatan banyak anak mandi di sungai yang sedang surut. Menyeberangi jembatan terdapat berderet-deret penjual dawet ayu yang khas.
Setelah itu dengan pemandangan yang tak henti-hentinya menampilkan keindahan yang menawan kami lalui kota-kota kecil Sumpiuh, Keradenan, Gombong, Karangayar hingga sampai ke kota Kebumen. Kami melewati jalan mulus lalu menyeberangi rel kereta, menyimpang ke kanan lewat jalur selatan, di jalan yang sepi. Kami lewati kemudian Kutowinangun, Petanahan, Mirit, dan desa-desa yang rapi dengan kebun jagung, palaweja, tebu dan lain-lain. Kami tiba di perbatasan Kabupaten Purworejo pk 17.00, Geparang, desa Gesing. Setelah itu belok kanan ke utara, melalui persawahan yang baru ditanami dengan latarbelakang perbukitan Menoreh, Sampailah kami di desa Guyangan, kampung yang kami tuju tepat pada pukul 17.30. Di rumah kami disambut dengan hangat oleh keluarga, Ibu (Ibu kandugn Sudiyono), Ganis (putera sudiyono yang sekolah SMA di Purworejo), dan Turoh (yang dulu tinggal di rumah Pak sudiyono di Jakarta), serta tetangga. Alhamdulillah.
Setelah mandi dan shalat maghrib, banyak tetangga yang datang, antara lain Pak Sutojo (Pakdenya Sudiyono), Pak Subali kakak ipar Sudiyono yang mejabat Kepala Desa Belendung), Suyitno Pak Subarjo, Suyudi, Selamet Riyadi Kaur Kesra Guyangan. Kami ngobrol macam-macam sampai tengah malam. Saya istirahat pk 0.30, tapi yang lain baru bubar pada pukul 2.00 dinihari.
Guyangan
“Guyangan”, mungkin kita akan sia-sia mencarinya dalam peta. Desa itu kecil saja, hanya terdiri dari sekitar 140 rumah yang dikepalai oleh seorang Kepala Desa. Tapi kalau kita kaitkan dengan sejarah perjuangan Depone-goro, desa ini cukup penting. Mengapa?
Konon menurut cerita yang luas di masyarakat sekitar, waktu itu Pangeran Diponegoro yang putera Hamengku Bowono III mengadakan perlawanan kepada Belanda. Pangeran dengan nama kecilnya Ontowirjo yang lahir 11 Nopember 1785 itu adalah seorang Islam yang mukmin dan ahli tasauwuf. Perlawanannya dimulai 20 Juli 1825. Semula Pangeran diponegoto mendapat kemenangan di dekat Magelang. tetapi perlawanan tidak seimbang sehingga sebagian pasukan mengundurkan diri ke barat daya Yogya yang sebagian ke daerah Purworejo Selatan.
Salah satu pemimpin pasukan yang mengundurkan diri ke daerah ini adalah Ki Tumenggung Tirtonegoro. Setelah lelah bergerilya dan berperang mereka isitirahat di suatu tempat yang dianggap aman. Untuk menghibur para pasukan dilakukan hiburan wayang, nyanyian dan tarian, dan tentara bersenang-senang. Tempat mereka bersenang-senang itu akhirnya dinamakan Sukamanah, berasal dari kata “Suka” (Senang) dan “Manah” (Berse-nang-senang). Pada waktu-waktu tertentu untuk memperingati hari jadi Sukamanah digelar malam hiburan.
Desa ini terletak bersebelahan dengan desa Guyangan, dibatasi jalan raya. Di sekitar desa ini dicetak sawah dan kebun-kebun. Dalam pemekaran wilayah, desa di sebelahnya disebut Belendung.
Para anggota pasukan itu setiap sore membawa kuda-kuda mereka ke kali Buganto untuk dimandikan. Karena tempat pemandian inilah, maka desa yang berada di pinggir kali ini di sebut Guyangan. Menurut Pak Sutojo, salah seorang sesepuh desa, nama Guyangan dalam bahasa Jawa artinya tempat memandikan.
Desa yang saat ini dikepalai oleh Bapak Suyoto mantan pengsiunan pegawai Krakatau Still, memanjang dari selatan ke utara, sebelah barat dibatasi oleh jalan raya dan sebelah timur dengan kali. Saya lihat, meski waktu itu airnya surut nampak benar bekas-bekas kedahsyatannya bila musim hujan. Kedua tepinya terkikis oleh air, meluas sampai kira-kira dari kedua tepinya tidak kurang dari 80 - 100 meter.
Rumah-rumah di desa Guyangan berada agak terlindungan oleh banyak pohon, kelapa, bambu dan kayu-kayu yang dibiarkan tumbuh meninggi. Karena itu lingkungan terasa sejuk oleh tiupan angin semilir yang dibuai oleh daun-daun nyiur dan kayu-kayuan yang melambai-lambai. Di dalam kebun ditanam berbagai tanaman mulai dari cabe, terong, kacang panjang, jenis-jenis obat-obatan apotik hidup, sampai jeruk, kelapa, pisang, mangga dan pohon jati.
Saya senang ketika disuguhi Pak Tojo kelapa muda dengan gula kelapa dan pisang yang masak dipohon. Semua, kata Pak Tojo adalah hasil kebon sendiri. Kecuali gula kelapa, asli dari penyadapnya.
Pada sebelah barat yang dibelah jalan itu membentang sawah yang hijau bagai karpet beludru yang digelar luas sampai ke perkampungan nun jauh di bawah bukit. Diantaranya beberapa petak besar sawah nampak padi muda telah muncul di pucuk-pucuk daunnya, membiaskan warna semu kekuningan.
Di tengah sawah memanjang dari timur ke barat terdapat jalan yang belum diaspal, waktu kemarau, masih bisa dilewati mobil dan sepeda motor. Ujung jalan kira-kira 1 km ke barat adalah desa Sukamanah yang disebutkan tadi. Nampak dari kejauhan genteng-gentengnya yang kuning tua dan dinding-dinding rumah yang bercat putih kontras diantara hijaunya pepohonan.
Suatu pagi Sabtu, saya bangunkan Awiem, anak saya berumur 5 tahun. Meski ia biasa bangun jam 7.00, ketika saya tanyai ia, apakah mau ikut berjalan-jalan, tanpa tanya hendak ke mana dan pagi masih pk 5.30, dengan sigap ia bangun mencuci muka. Kami menye-berang jalan raya kemudian menempuh jalan yang membelah persawahan itu. Setelah melalui jembataan kanal kecil yang mengalir deras air irigasi persawahan, kira-kira 200 meter ada jalan ke selatan, kami berada di persimpangan, lurus ke Sukamanah, dan ke kiri ke desa Belendung.
Tujuan saya hendak ke rumah Pak Subali Kepala Desa Belendung. Kepada seorang kakek-kakek saya tanyakan nama Pak Subali tapi ia tak mengerti dan menunjuk ke ujung jalan sebelah barat desa Sukamanah. Jalan sepi, dan setelah berjalan kira-kira 500 meter, kepada seorang anak wanita pelajar SMU yang hendak ke sekolah saya tanya di mana rumah Pak Subali, ia menunjuk ke arah selatan, tempat dimana saya tanya kakek-kakek tadi. Akhirnya saya dan Awiem kembali. Sambil menjinjing sandalnya yang penuh lumpur, anak kecil yang lucu itu menggerutu, “Ngajak-ngajak, jauh banget!”
Saya hanya tersenyum sambil menunjuk ke arah pohon-pohon jeruk yang sarat dengan buah. Meskipun mulanya ia terhibur tapi akhirnya minta gendong juga. “penat,” katanya.
Kami melalui beberapa petak sawah yang sudah mulai muncul padi muda, dan di sebelah lain ada sawah yang ditanami cabe, dan jeruk yang meliuk dahannya sampai ke tanah karena sarat dengan buah. Kami akhirnya saampai juga di rumah Pak Kepala Desa, Subali, kakak ipar Pak Sudiyono itu.
Tentang jalan raya yang membatasi desa Guyangan dengan persawahan yang luas tadi, kalau kita terus ke selatan kira-kira 700 meter terdapat jalan bersimpang ke kiri dan ke kanan. Semua jalan itu setelah melewati persawahan yang luas, kira-kira berjarak 2 km bertemu jalan raya yang memanjang dari barat ke timur. Arah barat ke Kebumen dan Jakarta sedang ke tumur, hanya sekitar 2 km akan bertemu dengan jembataan Congot, perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Kabupa-ten Purworejo.
Sebaliknya kalau kita terus ke utara kira-kira 2 km kita akan sampai di perempatan jalan Purwodadi. Purwo-dadi adalah suatu kecamatan, yang membawahi desa-desa termasuk salah satunya Guyangan. Di perempatan ini terdapat pasar kecil dengan beberapa warung yang memenuhi berbagai arah di perempatan. Ke utara kira-kira 1 km ada pasar Jenar, dan kira-kira 1 km lagi ada rel kereta api yang memotong jalan, kemudian tak jauh dari sini, terdapat jalan raya trans Jawa Jalur Selatan yang dilalui bus-bus besar ke Yogyakarta.
Jarak Guyangan ke ibukota Kabupatan, Purworejo sekitar 12 km. Untuk ke kota dari Guyangan dan sebaliknya, dapat ditempuh dengan mobil angkot. Angkot yang melalui Guyangan adalah, mobil bercat kuning Jalur 48, dengan trayek Purworejo - Congot. Ongkos Purworejo Guyangan ketika ini hanya Rp 2500.
Kami berada di Guyangan, di rumah Pak Sudiyono mulai Rabu sore, 21 Mei 2003. Rumah Pak Sudiyono yang baru dibangunnya itu cukup besar, mempunyai 3 kamar tidur dan dua kamar mandi. Ada tiga pintu ke luar, kei depan, belakang, dan satu ke samping untuk ke dapur dan kamar mandi. Terdapat teras, yang tersedia kursi dan amben untuk kongko-kongko. Halamnya luas di depan dan samping selatan. Rumah ini menghadap ke timur, yang dapat menampung dengan sempurna cahaya matahari di waktu pagi dan sejuk di waktu sore. Di depan sebelah utara dibangun grasi mobil. Pada seonggok tanah yang dibiarkan tidak dipasang konblok lantai, ditanami bunga-bunga yang beraneka warna. Di sinilah kami menginap beberapa hari dan melihat dari dekat keadaan daerah Purworejo dan sekitanya.
Purworejo
Guyangan tempat kami tinggal beberapa hari ini adalah salah satu desa dari 494 desa yang ada di Kabupaten Purworejo. Desa sebanyak ini dibagi dalam 16 kecamatan. Masing-masing desa dikepalai oleh Kepala Desa yang dipilih langsung oleh rakyatnya. Tapi diantara desa-desa itu ada yang dikepalai oleh Lurah yang diangkat oleh Pemerintah sebagai Pegaawai Negeri, diantaranya terdapat 19 kelurahan khususnya pada kecamatan-kecamatan di dalam kota Purworejo dan Kutoarjo.
Enam belas kecamatan tersebut ialah: Kecamatan Purworejo, Kaligesing, Loano, Bener, Gebang, Brujo, Kemiri, Pituruh, Butuh, Kutoarjo, Bayan, Banyuurip, Ngombol, Purwodadi, dan Bagelen.
Kabupaten ini terletak di Propinsi Jawa Tengah, Kresidenan Kedu, tepatnya di utara berbatasan dengan Kabupaten Magelang dan Temanggung, selatan dengan Lautan Indonesia, barat dengan Kabupaten Kebumen dan timur dengan Kabupaten Kulonprogo Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kabupaten yang dikepalai oleh Bupati Drs. H. Umar Said M.Sc. mantan Walikota di Jakarta ini sebagian besar wilayahnya terdiri dari dataran rendah, yang membentang di sebelah selatan. Bagian utara merupakan dataran tinggi, dan sebelah timur merupakan perbukitan Menoreh. Luasnya adalah 1.031.09 km2 dengan jumlah penduduk sekitar 700 ribu. Mata pencaharian penduduk sebagian besar bertani atau bercocok tanam.
Tatkala kami pada hari Jum’at, 23 Mei 2003 memasuki kota ini terkesan damai, bersih, indah, rapi dan tertib. Maklum semboyan daerah ini adalah Purworejo “Berirama” (Bersih, Indah, Rapi dan Makmur). Kami memang sengaja untuk melakukan shalat Jum’at di masjid agung “Darul Muttaaqien”. Masjid kebanggaan penduduk Purworejo ini terletak di sebelah barat alun-alun. Alun-alun atau lapangan ini sebagaimana lazimnya di daerah-daerah kabupaten lain di Jawa merupakan jantung kota. Tempat biasa dilaksanakan upacara-upacara perayaan yang diselenggarkan oleh Pemerintah Daerah atau kegiatan lainnya.
Pada hari-hari biasa alun-alun nampak hening dengan rumput-rumputnya yang hijau. Di sekeliling lapangan berbentuk empat persegi panjang itu terdapat trotoar yang bercat hitam putih. Pada sisi-sisinya dita-nami berjejer pohon palm, kayu-kayu perindang dan sebuah pohon beringin di tengah. Tampak di kejauhan nun di sebelah timur perbukitan biru menambah keindahan panorama. Pada alun-alun ini di sebelah utaranya berdiri Pendopo Agung, tempat tinggal Bupati.
Hari Jum’at ini, kami, saya, Pak Yono, dan Pak Tojo dan Ganis, berkesempatan shalat Jum’at di masjid ini. Masjid yang rupanya sudah dipugar dan diperluas tampak anggun dan megah. Ada bangunan lama yang masih tegar berdiri, dengan langit-langitnya yang tinggi, ditopang oleh 16 tiang, 4 tiang di selatan, 8 di tengah dan 4 lagi di utara. Di atas, yang dipasang diantara tiang-tiang ada 11 kipas angin yang berputar menyejukkan ruang yang bernuansa abad ke-19 itu. Sedang di ruang tambahan, di bagian depan masjid ditopang 7 tiang berderet-deret di tengah dan samping. Ruang wudu’nya yang luas dan bersih terdapat di sebelah utara yang dihubungkan dengan koridor ke ruang utama maupun ke ruang depan.
Kami sampai tepat ketika azan dikumandangkan. Suara muazzin merdu dan mengema dengan pengeras suara. Sebelum khatib naik mimbar terlebih dahulu diantar dengan pembacaan shalawat oleh bilal, diikuti oleh jama’ah.
Saya sempat baca sebelum shalat sunnat, di atas dinding terdapat peringatan, “Jika Anda berbicara, ketika khatib naik mimbar, ibadah Anda sia-sia.” Sedangkan di pintu terdapat tulisan ”Tenang, tidak berbicara, waktu khutbah”.
Khutbah ketika itu sangat berkesan, meski dengan bahasa Jawa inggil, banyak yang tidak saya mengerti, namun isi khutbah Pak Kiai, yang saya petik intinya adalah tentang nikmat dan bukti-bukti keimanan. Hal itu lebih banyak saya ambil dari ayat-ayat Al-Qur’an yang disampaikannya. Salah satu tanda orang beriman, menurut khutbahnya itu, yang didukung oleh ayat-ayat adalah, bila dibacakan ayat-ayat Allah imannya bertambah dan terkadang dapat menitikkan air mata, bergetar kalbunya dan bergelora semangatnya. Antara orang-orang beriman sangat kuat ikatan persaudaraannya, yaitu ibarat susunan bata pada suatu bangunan, yang menguatkan antara satu dengan yang lainnya. Tapi sebaliknya, katanya, kita perlu hati-hati, sebab iman itu dalam hati, tidak ada yang tahu bahasa di dalam kalbu. Kadang-kadang ada yang mengaku beriman ternyata sesunguhnya ia tidaklah beriman. Mereka adalah orang-orang munafik, yang dapat menjadi musuh dalam selimut, yang kadang menohok dari belakang.
Setelah selesai shalat kami sempatkan berfoto-foto di depan bedug besar yang unik. Konon bedug ini merupakan bedug terbesar di dunia. Ini maklum Karena di negeri-negeri Islam lain memang tidak ada bedug. Tapi bedug ini memang besar, terbuat dari bahan pohon jati bercabang lima (pendowo), diambil dari Dukuh Pendowo, desa Bragolan, Kecamatan Purwodadi Purworejo. Karena itu menurut himbauan yang tertulis di sampingya, “Ini peninggalan budaya, karena itu harus kita rawat bersama”.
Di samping atasnya dapat dibaca keterangan bahwa bedug ini dinamakan Bedug Kyai Bagelen, dibuat pada tahun 1762 tahun Jawa atau 1834 tahun Masehi. Ukuran panjangnya 292 cm dengan garis tengah depan 194 cm (keliling 601 cm) dan belakang 180 cm (keliling 504 cm). Dipaku dengan pasak kayu sejumlah bagian depan 120 buah dan belakang 98.
Saya masih menggeleng-gelengkan kepala karena heran. Hampir semua orang yang tentunya rata-rata tinggi orang Indonesia di bawah 190 cm, tidak terantuk kepalanya bila berdiri di dalam bedug itu. Seorang pemuda pengunjung juga terheran-heran, sapi macam apa yang diambil kulitnya untuk bedug tersebut.
Setelah puas dalam kekaguman, kami menaiki mobil menuju ke utara, memutari alun-alun. Di depan Kediaman Bupati, mobil berhenti sejenak, dan Pak Yono turun mengabadikan pohon beringin yang tumbuh rimbun dan kekar di tengah alun-alun.
Mobil terus ke utara, kemudian belok kanan dan berhenti sejenak di depan pertokoan. Ketika Pak Yono ke ATM, Saya dan Pak Tojo turun melihat-lihat keadaan. Seorang gadis penunggu toko itu tercengang ketika saya berdiri saja di hadapan toko dengan menyandang sajadah. Sedang Pak Toyo nyeberang jalan ke toko kayu membeli sesuatu.
Tak lama kami di situ naik mobil kembali dan terus ke pasar. Di Pasar Pak Tojo membeli tembako kemenyan, dan Pak Yono membeli beberapa keperluan untuk persiapan di rumah. Saya hanya ke toko buku, tapi tidak membeli sesuatu pun. Saya perhatikan pasar sebagai pusat perbelanjaan kota kabupaten ini, tidaklah begitu padat dan ramai. Berbelanja apa saja dengan nikmat dan santai, tidak perlu berdesak-desakan. Setelah berputar sebentar di bagian depan pasar kami pun naik mobil kembali dan langsung pulang.
Selintas saya lihat papan nama yang dipasang di pinggir jalan, “Pelihara dan budayakan, budaya: tertib, bersih dan kerja!” Jalan lengang, mobil melaju santai tak buru-buru, sambil melihat-lihat di sepanjang jalan yang sepi. Setelah meminumkan mobil di pom bensin kami terus ke selatan dan dengan cepat kami telah tiba di persimpangan, ke kiri ke Yogyakarta, dan ke kanan Guyangan. Mobil belok kanan melalui jalan yang mulus. Setelah menyeberang rel tiba-tiba mobil dihentikan Pak Yono dan minggir di sudut jalan. Saya kira ada sesuatu yang rusak. Oh, Pak Yono, turun, rupanya ada tukang dawet.
“Ini dawet asli,” kata Pak Yono. Saya pakai es dan yang lain tidak. Rasa dawet ini bukan main nikmatnya, maklum haus sejak bubar Jum’atan tadi belum minum. Tapi kata Pak Yono menambahkan, “Cobalah lebih nikat tanpa es.” Pak Tojo tidak bnyak komentar hanya mengiakan saja, dan malah nambah satu mangkok lagi. Saya coba separo mangkok lagi tanpa es. Benar, nikmatnya dawet khas Purworejo itu bukan main.
Menurut keterangan tukang dawet itu, bahan dawet dari ganyong, sejenis tanaman umbi-umbian, pohonya mirip pohon lawes. Patinya seperti ongkoi dan dibuat dawet atau cendol tanpa campuran. Sedang gulanya dari tengguli, yang diambil dari bahan gula kelapa yang masih cair sebelum jadi. Santannya diletakkan satu dengan krikil es. Jadi kalau tanpa es pun cendol itu sudah tersa sejuk dan segar.
Kami semua telah menghabiskan 4,5 mangkok cendol. Ketika ditanya berapa harganya, Pak cendol bilang, Rp 3000 saja. Pak Yono menyodorkan uang lembaran Rp 5000,-. “Biar,” kata Pak Yono ketika hendak dikembalikan susuknya. Tukang cendol nampak sangat gembira dan mengucapkan banyak terima kasih. Kami juga puas, “Wah kalau di Jakarta, cendol seperti ini tak kurang dari Rp 2000, per mangkok. Sehabis minum dawet, kami meneruskan perjalanan. Hanya beberapa menit saja, kami telah sampai di rumah.
Sayang ketika esok harinya saya penasaran ingin minum cendol itu lagi, dengan bersepeda sejauh lebih dari empat km ternyata saya tidak menemuinya lagi. Akhirnya saya beli saja di Pasar Jenar, tapi, ah rasanya jauh berbeda, karena mungkin tak asli lagi, bahan-bahannya sudah dicampur macam-macam.
Santai ke Pantai
Pagi Kamis, 22 Mei 2003 kami bersiap-siap ke pantai. “Pak Yono kok pakai sepatu, kan mau santai,” tanya saya. “Oh ya, kita mampir dulu di sekolahan Ganis, jadi tak enak kalau ke sekolahan pakai sandal.”
Pukul 9.00 saat matahari cerah melangkah naik, kami keluar meninggalkan rumah. Ikut bersama kami kecuali rombongan dari Jakrta, juga Pak Tojo dan Turoh. Semua berpakaian santai, dan telah disediakan beberapa rol film untuk foto-foto. Mobil menuju selatan, dan tak genap satu km belok kanan melewati sawah-sawah yang terbentang luas. Sawah–sawah itu memang baru ditanami, masih terlihat Lumpur-lumpur coklat disela-sela hijau daun padi. Di barat nampak rumah-rumah di desa Belendung dan Pemanahan di bawah rimbun pepohonan. Kami terus ke selatan, dan setelah menyeberang jembatan kecil ketika sampai di jalan yang memanjang dari barat ke timur, kami belok kiri. Hanya beberapa menit kami telah sampai di sekolahan Ganis, SMU 9, di desa Geparan, Kecama-an Purwodadi, Purworejo.
Pak Yono dan Bu Ranti masuk ke sekolahan untuk menemui kepala sekolah mengurus sesuatu tentang Ganis. Setelah kurang lebih 30 menit di SMU itu, kami meneruskan perjalan ke timur. Rasanya hanya 2 km saja kami berjalan telah tiba di jembatan Cungut perbatasan Purworejo dengan Yogya. Air di bawah jembatan nampak dalam, perahu-perahu nelayan tertambat di kedua sisi sungai. Selintas saya lihat muara, pertemuan sungai dengan laut, kira-kira setengah km saja di selatan.
Setelah menyeberang jembatan mobil belok kanan melalui jalan yang lebih kecil. Di kiri kanan rumah-rumah penduduk yang tak begitu rapat di antarai pohon-pohon kelapa, pisang, jagung, dan berbagai tanaman lain.
Sampai di muara kami turun, kiri kanan pohon jagung yang baru berbuah muda. Kami turun dan berfoto-foto di depan papan nama “Mess Walet”.
Saya kira akan jalan kaki ke pantai, rupanya naik mobil kembali dan mobil terus ke timur melalui jalan pasir di pinggir pantai. Nampak tanah berpasir tandus terbentang, luas ke berbagai arah, belum digarap. Tapi ada beberapa penyemaian dan uji-coba kebun melon terlihat di sisi kanan, tak jauh dari jalan. Beberapa meter kemudian terdapat sisa-sisa benteng peninggalan masa Penjajahan Belanda. Benteng itu masih dipertahankan sebagai bagian dari bukti sejarah masa lalu. Tapi di kiri kanan sepi, tidak ada nampak orang, maklum bukan hari libur.
Daerah ini kalau dilola seperti halnya Ancol, akan menjadi obyek wisata yang potensial dan menarik bagi Daerah Yogya di masa depan.
Kami melalui tanah yang sudah mulai digarap, ditanami rumput halus dan terus menerus di siram, mungkin akan disulap menjadi lapangan golf, villa dan hotel. Kami hanya menduga-duga, yang sesunguhnya kami tak tahu, karena tidak ada papan nama. Akhirnya kami tiba di pantai Pandanwangi, yang terdapat di sana beberapa penginapan, salah satunya saya baca, hotel Gelagah Indah.
Kami memasuki pantai, tapi sayang sepi tidak ada pengunjung yang datang santai. Di depan terdapat aliran muara yang tertutup. Jadi airnya tenang, terlindungi dari ombak laut yang dahsyat. Di sebelah selatan pada muara tak jauh dari deburan ombak, nampak beberapa nelayan dengan jukung mencari ikan, menjala dengan jala lebar. Dan beberapa anak tanggung berlari-lari mencari kepiting.
“Kalau mau mandi harus pagi-pagi,” kata Pak Yono. Sayang hari sudah siang, lagi tak siap membawa pakaian mandi, dan sayang juga tak bawa nasi. Besok pagi, kata Pak Yono menambahkan, kita kembali ke sini.
Jadi untuk untuk hari itu, kami hanya foto-foto dan santai di bawah pohon pandan. Akhirnya kami pulang untuk kemblai lagi esok pagi membawa nasi.
Kami pulang melalui jalan lain, menyisir sisi barat muara sungai yang dalam. Di situ banyak disediakan perahu-perahu yang siap di sewa. Di pingir sungai itu didirikan beberapa pendopo untuk tempat istirahat. Menurut Pak Tojo, dan Pak Yono, setiap hari libur banyak pengunjung bersantai di sini, dan sampan-sampan itu laris disewa.
Esok harinya benar kami pagi-pagi telah siap untuk mandi dan tak lupa membawa nasi. Sayang ketika sampai di pantai, muara yang kemarin tertutup hilirnya, kini sudah jebol oleh ombak. Maka kami tak jadi mandi di muara. Mobil terus ke barat dan memasuki wilayah pantai.
Di situ berdiri beberapa pondok kecil, tempat-tempat bilas, dan pendopo untuk isitrahat. Sebelum turun ke pantai nampak menghadang papan peringatan “Dilarang renang!” Saya memang agak segan untuk mandi, kecuali sepi dan ombaknya dahsyat, juga masih terasa dingin, maklum masih pagi. Tapi Pak Yono, memulai mandi, hanya di tepi-tepi berkejaran dengan ombak. Kemudian disusul Bu Ranti, isteri Pak Yono. Saya masih sangsi karena di sekitarnya sepi, lagi di tengah lautan tak ada perahu nelayan. Padahal di wilayah ini laut yang arus lepas tak ada pulau. Jadi kalau hanyut tentulah tak ada yang menolong. Tapi karena Awiem sudah mulai basah-basahan, saya pun turut mandi. Saya cari tempat yang agak cetek, ternyata arus ombaknya bukan main. Ombak itu beradu satu dengan yang lain dan membawa arus yang kuat ke tengah laut yang dalam. Satu ombak besar tiba-tiba datang menggelegar ke pantai, mencekau mereka yang sedang berdiri jauh, Ibu Harlina, Awiem dan Yus. Ibu Harlina, dan Awiem terjatuh dan hampir terbawa oleh ombak. Saya lari menolong, tapi saya sempat terjatuh pula diterkam ombak.
Ah, bahaya, saya piker. Mungkin ini yang sering dciceritkan, bahwa di pantai selatan sering tiba-tiba datazng ombak menerkam orang-orang yang sedang santai dekat pantai.
Setelah kira-kira setengah jam mandi, kami berhenti dan mandi bilas dengan air tawar. Untung kami bawa nasi dan lauk pauknya. Tepat, setelah penat dan lapar kami bersantap dengan lahap, sekaligus meng-gabungkan sarapan pagi dan makan siang.
Hari itu hari Jum’at. Kami cepat-cepat pulang, karena rencana akan shalat Jum’at di Masjid Agung Purworejo.
Bagelen
Bagelen adalah suatu nama kecamatan di bagian selatan Purworejo. Nama ini amat terkenal sejak lama. Terakhir, ada peristiwa tanah longsor di daerah ini yang merenggut banyak jiwa, dan mendapat perhatian pemerintah serta masyarakat luas.
Sejak kecil saya telah mendengarnya. Bagelen biasa orang di Lampung menyebut orang Jawa. Malah semua orang Jawa disebut orang Bagelen. Mengapa demikian? Apakah karena mungkin orang pertama transmigrasi atau kolonisasi di tahun 1930-an ke Gedungtataan adalah orang dari Bagelen? Kalau benar, ini menarik, sebab ini menyalahi ungkapan masyarakat (Jawa) dulu yang mengatakan “Mangan ora mangan asal kumpul” (yang penting kumpul walau tidak makan sekalipun). Bukankah daerah transmigrasi Lampung waktu dulu bukan main jauhnya. Dari Jakarta saja untuk ke Lampung, konon harus menunggu berhari-hari kapal di Tanjungpriok.
Orang Bagelen mau pindah, merantau atau transmigrasi? Meninggalkan daerah sendiri yang indah, berpindah untuk menggapai rahmat Tuhan yang lebih baik?
Akan kenyataan sesunguhnya tentulah perlu dengan penelitian yang mendalam. Ini hanya tulisan ringan. Yang saya menduga-duga ketika saya ke daerah ini, sebutan Bagelen mungkin mewakili nama daerah dan orang-orang Purworejo pada umumnya. Sejak lama mereka di sini sudah senang pergi. Pergi untuk mencari pengalaman, pengetahuan, kehidupan, dan malah kedudukan. Kalau dulu, kata Pak Tojo, malu tak tamat SMA, sekarang malu kalau tidak sarjana. Tapi yang utama dicari kedudukan yang terpuji, apapun bidang yang dikerjakan harus sungguh-sunguh sehingga mantap dan tidak nanggung. Di segala macam professi, tidak perlu gengsi, asal tidak menjatuhkan martabat, minta-minta, jadi pengemis atau jual kehormatan dan harga diri.
Menurut orang-orang di sini ada beberapa orang tersohor yang berasal dari Bagelen dan sekitarnya, yang harus dipertahankan kehormatannya, dijunjung nama baiknya, ditiru semangat dan etos kerjanya. Mereka antara lain telah menyandang nama nasional, seperti: Jenderal Ahmad Yani pahlawan revolusi, ia kabarnya dari desa Ngrendeng; W.R. Supratrman pencipta lagu Indo-nesia Raya, Jenderal Urip Sumarjo, Jenderal Sarwoedi, M. Wilopo mantan menteri penerangan, Jenderal Winoto dari desa Banyuurip, mantan Menteri Kehakiman, Jenderal Indriatmo panglima tertinggi, Wisnu Direktur RCTI, Sukardi penyanyi keroncong nasional, Tito Sumarsono pengarang lagu, dll.
Karena itu saya gembira ketika direncanakan akan mengunjungi Bagelen. Di sana kami akan berziarah ke Kiai Bagelen, seorang da’i dan pemuka agama yang telah berjasa menyiarkan ajaran Islam, dan karena itu ia dihormati dan diziarahi masyarakat makamnya. Untuk menghormati Kiai ini, bedug di masjid Purworejo, yang konon terbesar di dunia ini dinamakan “Bedug Kyai Bagelen”.
Di desa yang akan dikunjungi ini Pak Tojo bilang, kita dapat menikmati minuman legen langsung di tempat pembuatan gula kelapa. Saya pikir wah, alangkah nikmatnya, dan yang penting saya akan melihat banyak pengalaman dari apa yang telah lama saya dengar.
Kami berangkat dengan mobil yang distir oleh Pak Yono. Setelah melalui perempatan Purwodadi, kami lewati rel kereta api ke utara. Pada persimpangan jalan kami belok kiri, melaju di jalan raya, ke tenggara jurusan Yogya. Tak lama kemudian mobil berhenti di persimpangan, Bu Ranti bilang, “Ini ke kiri adalah Makan Kiai Bagelen.” Sambil menunjuk jalan ke kanan. Tapi sayang mobil hanya berhenti sejenak di pinggir jalan, tidak belok kiri, lalu berjalan lagi dan 200 meter kemudian berhenti tepat di depan warung bakso.
Ah, saya pikir, kebetulan, perut sudah keroncongan, dan haus. Maklum sudah siang, waktu sudah zuhur. Seisi mobil berhamburan turun, langsung duduk memesan bakso dan minuman. Fanni dan Awiem, memesan fanta dingin, beberapa lagi es campur dan saya es cendol.
Sebelum bakso siap, di depan beberapa buah tahu goreng telah disantap rame-rame. Tahunya enak, terasa benar kedelenya. “Ini tahu asli,” kata Pak Tojo, memberi penjelasan, sambil mengambil sebuah lagi. Tahunya memang khas dan lezat.
Selesai makan bakso kami naik mobil lagi kembali ke utara, tapi tidak berbelok kanan melainkan belok kiri. Tak jadi, saya pikir ke makam Kiai Bagelen. Biarlah kita ikuti saja supir yang lebih tahu. Tepat di ujung belokan, terdapat kantor Camat Bagelen. Kami memasuki jalan kecil ke dalam perkampungan, melalui kebun jeruk yang lebat buahnya, meski sudah sudah nampak ranum belum lagi dipetik pemiliknya. Sekitar 500 meter mobil mendaki jalan ke kiri, melewati rel kereta api, lalu turun. Beberapa kali belak-belok saya tak ingat lagi, sehingga kami sampailah di suatu masjid di tengah kampung. Di sini kami mampir untuk shalat zuhur. Ketika wudu, airnya terasa sekali segar menusuk. Di bawah pohon-pohon, kelapa, dan kayu-kayuan, masjid terasa sejuk bikin mata jadi ngantuk.
Selesai shalat kami berbincang-bincang sebentar dengan pengurus masjid. Ia, seorang pemuda yang baru beranak satu itu memang sudah lama ini terasa sejuk dan bikin ngantuk. melanglang buana di Jakarta, berbagai macam usahanya tapi akhirnya ia pilih pulang kampung, bertani. Kini kehidupannya, katanya mulai membaik, setelah puas mengadu nasib di perantauan. Tidak ada yang tidak bermanfaat segala pengalaman, karena memang penglaman adalah guru, yang membuat seseorang dapat belajar bagaimana menghadapi hidup, dan bertindak lebih dewasa.
Lepas shalat kami naik mobil kembali, ke utara, ke lebih dalam perkampungan, yaitu dusun Sageluh, desa Bagelen, kecamatan Bagelen. Tiba di ujung jalan yang makin menyempit terdapat pemakaman, dibawah rindangnya pohon-pohon bambu dan kayu-kayu yang rimbun.
Kami tiba di rumah Mbah Guru, Famili dari Bu Ganis. “Bagimana Pak sehat?” tanya saya, “Ya, sehat dan damai.” Katanya, “Di sini aman dan tenang, tetangga, baik-baik dan tidak banyak cincong, mereka baik-baik kok,” katanya sambil mengisayaratkan pemakaman di depan agak kanan rumahnya.
Sementara kita ngobrol, Fanni dan Awiem pergi ke sungai diantar oleh Mbak . Saya menyusul ke sungai, melalui kebun yang rindang karena banyak pohon yang tinggi, nampaknya sebagai hutan di pekarangan belakang. Hanya 100 meter di belakang mengalir kali Buganto, yang sedang surut. Saya lihat kedua anak kecil itu sudah mandi di air yang arus.
Beberapa lama kami di situ, setelah foto-foto kami pulang. Keluar dari desa Sageluh, tidak melalui jalan tadi, melainkan belok kanan menyisir perkebunan jeruk. Ketika tiba diujung jalan terdapat kebun jeruk yang agak luas, sekitar 500 pohon, sedang berbuah lebat. Kami mengingtip-intip kalau ada yang menjaganya di situ, kami terus berbelok kanan Ke rumahanya saja,” kata Bur Ranti, Rupanya kebun jeruk itu kepunyaan Kepala Desa, Kakak ipar Pak Yono. Kami ke situ, tak jauh rumahnya. Dan disambut dengan hangat oleh Bapak Kepala Desa.
Setelah disuruh masuk, kami duduk, dan segera keluarlah beberapa piring jeruk. Kulitnya tipis dan jeruknya manis. Menurut Pak Suharmaji Kepala Desa Bugel itu, jeruk Pontianak yang terkenal, dulu diambil bibitnya dari sini, Memang jenis jeruk Purworejo seperti yang biasa dijual sebagai jeruk pontianak yang cukup mahal harganya. Di Jakarta harganya dapat Rp 6000 perkilogram, malah kadang-kadang tak genap sekilo. Di Purworejo, kalau membeli di kebunnya hanya Rp 2.500,- tapi di pasar, bisa Rp 4000,- perkilogram.
Pak Tojo bilang, desa Bugel sesungguhnya hanya dipisahkan oleh kali dengan desa Guyangan. Kalau mau coba, boleh kita jalan kaki saja. menyeberang kali, kebetulan kali sedang surut.
Semua ingin coba jalan kaki, jadi hanya Pak Yono dan Bur Ranti yang akan pulang naik mobil. Yus, Turoh, Ibu Harlina, Fanni dan Awiem sudah duluan. Sayang Bu Kades bilang, ketika ia keluar membawa singkong goreng yang baru masak. Semua sudah pulang. Saya dan Pak Tojo setelah menikmati jeruk dan buah kelengkeng, dan sedikit goring singkong pulang jalan kaki.
Kami berjalan ke arah barat, melewati perkampungan, kemudian pohon-pohon bambu, kelapa, dan kayu jati. Kami menyeberang kali yang sedang surut, bagian air yang terdalam hanya selutut.
Hanya beberapa menit kami melewati bagian utara desa Guyangan, tibalah kami di rumah, saat matahari sedang condong di barat.
Etos Kerja
Etos kerja, pandangan hidup dan semangat kerja yang tinggi orang Purworejo, apa yang mendorongnya? Apakah orang-orang terkenal yang sebagian disebut di muka, atau jiwa Bagelen yang senang bepergian keluar daerah untuk meraih rahmat Tuhan yang lebih besar, telah memberikan ruh semangat kerja keras kepada penduduk Purworejo umumnya agar dapat meraih kesuksesan?
Ada yang menjuluki Purworejo sebagai kota pengsiun, karena banyak diantara penduduk adalah orang-orang pengsiunan yang pulang kampung halaman. Setelah puas melanglang-buana ke mana-mana, menjadi pejabat, bekerja di berbagai instansi di Jakarta, atau di berbagai kota di Nusantara, mereka kembali ke daerah kelahiran.
Bupati yang menjabat sekarang ini kabarnya adalah mantan pejabat di Sekwelda Jakarta Utara. Bapak Suyoto selaku pejabat Kepala Desa Guyangan adalah pengsiunan Pegawai di Krakatau Still Cilegon, Banten.
Pak Sutojo yang kini telah berumur 62 tahun, mempunyai 4 saudara, yang semuanya merantau, antara lain ada yang telah menetap di Kotabumi Lampung, yang sampai sekarang belum kembali. Mbah Martodimejo mempunyai 9 anak, yang tertua adalah Bapak Suyoto, semua anaknya merantau, dan bekerja di luar kampung halamannya, mereka antara lain: Suyanti PNS di Magelang, Suyanto Departemen Pertanian di Pasar Minggu, Nuryono Angkatan Darat di Magelang, Suhono Guru SMK di Jambi, dan lain-lain. Anak-anak ini saling mendukung, saling menolong baik untuk melanjutkan pelajaran maupun untuk mencari pekerjaan.
Pak Sutojo, menurut ceritanya, meski ia pulang kampung juga, tapi ia telah pernah mengalami hidup di perantauan. Mantan pejabat Sekdes yang lahir tahun 1940-an ini mengenyam pendidikan SD, SMP di Kecamatan Purwodadi, SMA Institut Indonesia cabang Yogya. Ia Pernah bekerja di proyek Jatiluhur Purwakarta sebagai guide, dan melanjutkan kuliah pada tahun 1960-an di ABA (Akademi Bahasa Asing) P & K jalan Hang Lekir Jakarta. Karena perisitwa G.30S, pendidikannya, katanya tidak berlanjut, namun ia tetap bertahan di Jakarta sampai tahun 1969. Perkerjaannya dimulai di Departemen Penerangan. Meski ia pernah mendapat panggilan untuk bekerja di Deparlu, Dephub, Bina Pusat Statistik, ia memilih di Departemen Penerangan dan merangkap mengajar di SMP Kebun Kacang Tanah Abang. Setelah berada di perantuan sekitar 10 tahunan ia pulang kampung awal tahun 1970-an. Sebelum menjadi sekdes di Guyangan ia sempat menjadi guru di Yogyakarta. Dalam jabatannya ia mendapat bongkok sawah 3 hektar, tapi selama 3 tahan ia dermakan untuk pembangunan Sekolah Dasar yang gedungnya memprihatinkan.
Anak Pak Sutojo semua merantau dan belum kembali. Malah anak bungsunya, yang baru tamat SMA (tahun 1991), diizinkannya untuk transmigrasi ke Merauke Irian Jaya. Anak tersebut, Tri Karyanto, kebetulan saya bertemu dengannya, ketika ia sedang pulang ke Guyangan, dan bercerita panjang lebar tentang penglamannya di Irian Jaya. Ia pernah ikut Mad Bunde orang Toraja ke pedalaman Irian, bekerja menjadi penebang kayu, dan menjualnya setelah dibuat kayu balok dan papan. Sampai akhirnya setelah sepuluh tahun di sana ia pulang ke Jawa membawa isteri. Kebetulan isterinya itu, anak Jawa yang lahir di Irian Jaya. Ayah-ibunya asal dari Trenggalek yang bertransmigrasi ke desa Kumbe, Kecamatan Kurik, Kabupaten Merauke. Ia tidak pulang ke kampung asal orang tuanya, Guyangan. Berbekal pengalamannya bekerja di Irian itu kini ia menjadi pengusaha kayu di Trenggalek.
Hal lain yang perlu dicatat kecuali jiwa perantau dan ikhlas membangun, etos kerja orang di sini, lebih-lebih bagi orang-orang yang kebetulan diangkat menjadi pemimpin, dilengkapi dengan sikap kesederhanaan, dan mengutamakan kepentingan rakyat dari pribadi.
Ketika saya berkunjung ke rumah Kepala Desa Bugel, Bapak Suharmaji umpamanya, terlihat di depan rumahnya berjejer drum-drum aspal. Ketika ditanyakan bekas apa drum tersebut, Pak Kades menjelaskan bahwa setiap desa mendapat bagian 6o drum aspal yang diberikan tiga tahap. Tapi ongkos pengaspalan diserahkan kepada swadaya masyarkat. Pak Kades membuktikan bahwa bantuan pemerintah itu benar–benar dilaksanakan. Tidak dikorupsi, atau dana dipakai untuk pribadi, dan pembangunan kampung terbengkalai. Rumahnya juga tidak mewah, tidak mencolok, sederhana saja seperti kebnyakan rakyat yang dipimpinnya.
Sebagai Kepala Desa Belendung, Pak Subali juga contoh pemimpin yang memihak kepada rakyat. Ketika saya ke rumahnya, saya agak terkejut, dan seakan tidak percaya apakah benar rumah yang saya kunjungi itu rumah Bapak Kepala Desa.
Rumah itu berdinding papan yang tidak sempurna dan tidak bercat. Ketika saya dipersilahkan masuk, saya copot sandal, Pak Kades bilang pakai saja. Saya agak terenyuh ketika melihat lantai pecah-pecah, dan sebagian tanah bolong di berbagai tempat. Di ruang berukuran sekitar 5 kali 7 meter itu terdapat seperangkat meja, 4 kursi kayu, 1 meja panjang 4 kursi rotan yang amat sederhana. Menurut Pak Subali sebagai kepala desa ia mendapat bagian bungkok (sawah yang diberikan khusus untuk kepala desa) sebanyak 6 hektar, tapi selama 2 tahun menjabat, hasil sawah sebanyak 3 hektar dikelola oleh rakyatnya sejumlah 32 orang yang dibagi dalam kelompok-kelompok. Hanya 3 hektar yang dikelola untuk sendiri, meski masih melibatkan rakyatnya.
Menurutnya dia dipilih bukan sebagai orang yang mampu, tapi didukung oleh rakyat banyak. Mengangkat pemimpin dengan kondisi yang demikian diperlukan sebagai kepala desa yang mengerti keadaan dan perasaan rakyat. Rakyat pemilih mendukung dengan harapan ketika yang dipilih sudah menjadi pemimpin mengingat dan memperhatikan rakyatnya, antara lain membagi garapan tanah bungkok tersebut.
Akan lain halnya jika yang dipilih adalah orang kaya yang mampu. Ia dapat mengeluarkan biaya banyak dari koceknya sendiri untuk membeli suara rakyat. Namun setelah mejabat Kepala, akan sibuk berupaya bagaimana mengembalikan kekayaan yang telah dikeluarkan, dengan cara apa saja, bahkan kalaupun memeras rakyatnya sendiri.
Sikap dan etos kerja serta keberpihakan kepada masyarakat dapat kita temui pada beberapa kenalan asal Purworejo yang berada di Jakarta. Ketua RT 011/03 Kalisari Bapak Karyono, tempat saya tinggal sekarang ini, karena sikapnya yang berpihak kepada rakyat dan perhatiannya yang tinggi terhadap kemajuan masyarakat sekitarya, beberapa kali ia dipercaya menjabat Ketua RT.
Selain ketua RT, ada banyak lagi penduduk di wilayah RT saya berasal dari Purworejo. Pak Sudiyono yang mengajak saya ke Guyangan umpamanya juga dari Purworejo. Pengusaha muda yang sedang menanjak ini sudah mulai menyisihkan sebagian dari keuntungannya dalam usaha untuk utamanya karyawan dan tetangga-tetangganya. Secara berkala ia dan keluarganya mengadakan kumpul-kumpul umpamanya untuk memperingati awal tahun baru hijriah dan miladiah, malam hari kemerdekaan, malam ulang tahun perushaannya sambil makan-makan dengan mengun-dang tetangga.
Pada ulang tahun kedua perusahaanya yang jatuh pada tanggal 20 Mei, ia mengajak karyawannya beserta tetangga untuk berekreasi ke Pantai Anyer sebanyak satu bus dan di sana mengadakan lomba-lomba serta makan-makan.
PT Swasembada Era Perkasa berdiri 20 Mei 2000 ini, beruypa home-industry yang bergerak mengerjakan missing, mulamya hanya dengan 1 mesin, kini sudah beberapa mesin dengan mempekerjakan 23 karyawan.
Ia menceritakan perjuangannya dalam meng-hadapai hidup. Karier bisnisnya jatuh bangun dengan bermacam-macam usaha pernah dilakukan bersama isterinya. Waktu itu, katanya masih ngontrak di Gang Suci pada tahun 1990-an, ia pernah berjualan sepeda, elektronik, senapan angin, komputer dll. Pada tahun 1994-95 ia pindah usaha omprengan dengan 4 mobil Jayamini, jurusan Cililitan-Cisalak, tapi gagal. Baru pada tahun 1996-1998 ia berpindah lagi menjalankan usaha mesin bubut tapi bangkrut, karena tergilas oleh krismon.
Tapi etos kerja dan pandangan ke depannya yang kuat tidak mematahkan semangatnya. Ia masih mencoba bisnis lain seperti usaha kayu 1997-98, jual beli singkong, beras, tanam cabe, buncis, dan malah pernah usaha jualan bakso di Cianjur.
Tekad dan harapan ke depan yang tak kenal menyerah yang dijiwai oleh “Etos Kerja Purworejo” nya ini dilengkapi dengan didikan di perusahan tempat ia bekerja, Astra. Ia berkesempatan memperoleh pendidikan dan pelatihan manajemen, di Astra Management Development Institute (AMDI) di Jakarta cabang Jepang.
Selama di Astra mendapat pelatihan minimal 3 bulan, malah sebelumnya tiap minggu sekali. Secara otodidak ia belajar terus, sehingga memperoleh sertificate Leadership ISO 9000 dari Swiss Jenewa. Pemegang sertificate ISO ini dapat mengajar di perushaan-perusahaan. Sebagai pemegangg sertifikat, Pak Sudiono pernah mengajar antara lain di: PT Promental di Pulogadung, PT. Metindo Erasaksti di Bekasi, PT Trimitra Prahasta, PT Inti Surya di Cikarang, dan PT Abdi Metal Prakarsa di Cibubur.
▓
KE LAMPUNG
SAMPAI KE UJUNG
(10 – 13 Agustus 2003)
Lampung, sebagai Provinsi terdiri
dari Kabupaten:
1. Kabupaten Lampung Barat
2. Kabupaten Waykanan
3. Kabupaten Tulangbawang
4. Kabupaten Lampungn Utara
5. Kabupaten Tenggamus
6. Kabupaten Lampung Tengah
7. Kabupaten Lampung Selatan
8. Kabupaten Lampung Tmur
9. Kota Bandarlampung
10. Kabupaten Pesawarwaan
11. Kabupaten Tulangbawang Barat
12. Kabupaten Prinsewu
13. Kota Metro
14. Kabupaten Mesuji
Putihdoh – Karang
Suatu malam saya bermimpi, saya kedatangan tamu 3 orang, mereka mengatakan dari daerah Lemong Krue Lampung Utara. Ketika saya bangun, saya merasa kedahuluan, agaknya penting terlaksana berkunjung ke sana, karena niat sudah lama, tapi belum juga keturutan.
Kira-kira tiga minggu kemudian, rasanya saya tak bisa mundur lagi dari niat dan rencana berkunjung ke utara. Niat itu 30 tahun sudah kupendam saja dalam hati, dan kini akan jadi kenyataan.
Pada hari Ahad, 10 Agustus 2003 saya memutuskan untuk berkunjung ke Pugung. Zarkasyi keponakan saya, agak berat melepas saya sendirian, kondisi pisik saya memang kurang sehat, karena angin di tengah perjalanan Jakarta-Putihdoh. Tapi Ahmad Barkhia, abang dari keponakan saya ini malah mendorong saya, katanya, “Kalau berangkat dari Jakarta ongkosnya akan lebih mahal, juga kapan lagi niat itu terlaksana kalau ditunda-tunda terus.”
Kebetulan adik sepupu saya, Yarisuni, akan ke Tanjungkarang dengan sepeda motor. Adik saya ini pernah menjadi guru SMA di Krue. Dia memberikan dorongan dan petunjuk, menginap di penginapan dan beberapa pengarahan tentang apa yang perlu saya ketahui di sana.
Pagi hari, pk 7.30 kami berangkat dari Putihdoh. Meski jalan rusak, dengan motor kami dapat berjalan santai, kecepatn hanya 20-30 km perjam. Udara segar, tidak terlalu menyengat. Kami lewati dusun-dusun di sisi pantai: Waybangik, Sekhanggi, Swakbuntu. Dengan hati-hati Soni menghindari lobang dan menyiasati jalan yang agak rata.
Satu tahap sudah kita lewati, kata Soni, karena dari Putihdoh sampai ke Suwakbuntu ini jalan dengan kerusakan terparah. Sayang, Bupati yang pernah lewat di sini beberapa waktu yang lalau, belum tergugah untuk mengulurkan bantuan.
Kini tiba di Limau: Kuripan, Banjakhkagung, Pekon ampai, dan Antakhbekhak kami lewasti. Satu jam kemudian 8.30 kami telah berada di Pematang Nebak, menjnjau dari ketinggian dataran yang terbentang di tanah Waylima.
Perjalanan menuju Tanjungkarang lancer karena jalanya agak bagus. Setelah di Bolok, kami lewati kampung pekon-pekon: Sukamakha, Bajarmasin, Tanjungrusia, Pardasuka, Penengahan, Padangcermin, Sukajaya, Tanjungkarta, Pasarlama, Pasarbaru, Tebajawa, Wayhakhong, Kotadalom, Gedungdalam, Pekondoh, Banjarngeri, Padangmanis, Pampangan dan Waylayap.
Kami tiba Gedungtataan, di pertemuan jalan lintas Kotaagung-Karang. Jalan mulus dan luas. Di kiri kanan tergbentang kebun karet yang riombun, dan deretan rumah-rumah pendudeuk sepanjang jalan tak kurang dari 15 km hingga kami tiba di Tanjaungkarang dengan selamat. Kami lewati Kemiling dan Jalan Pramuka dan tiba di Rajabas pk 10.45.
Perjalanan ke Utara
Rajabasa, terminal besar di Bandarlampung yang hidup dua puluh empat jam itu biasa, sibuk dan hiruk-pikuk. Deru bus yang sarat berpadu dengan suara kernet yang berpekik-pekik mencari penumpang. Saya mendaf-tar ke loket jurusan Krue, diantar adik saya, Yarisuni ke loket Bus Krue Putera. Ongkosnya relatif murah hanya Rp20.000. Bus ini akan menempuh sekitar 300 km selama 7 jam perjalanan ke utara.
Berangkat dari Rajabasa, pukul 11.30, Ahad 10 Agustus 2003, jadi saya perkirakan maghrib baru akan sampai di Krue. Kota-kota kecamatan Natar, Tegineneng dilewati bus dengan cepat, tak banyak yang dapat saya catat karena papan-papan nama tak jelas terbaca. Jalan lancar di aspal hitam yang mulus Lintas Sumatera lewat pantai barat. Bus berpapasan dengan truk-truk, dan mobil-mobil besar, mini-bus, mobil-mobil pribadi dan motor. Terkadang bus mendahului kendaraan di depan, tapi kadang pula mengalah ditikungan atau di lintas yang ramai.
Setelah beberapa lama perjalanan, mata sudah sedikit hilang kantuk, di Terbanggi Subing mobil berhenti, menaikkan barang-barang penumpang. Seorang ibu pedagang membawa beberapa karung bawang. Saya turun membeli jeruk. Untung hanya beli sedikit, setengah kg Rp2000 karena rasanya asam, tapi lumayan untuk obat kerongkongan yang sedang serak karena angin. Bus berangkat lagi, tak lama kemudian masuk ke pom bensin, mengisi perutnya yang kosong kehausan - di tengah terik matahari musim kemarau.
Tape recorder bus dalam suasana gerah ini tak henti-hentinya mendendangkan lagu. Sementara penumpang di samping, di depan dan di belakang saya, orang-orang muda, dan setengah baya tak henti-hentinya menghisap rokok jarum dan gudang garam, sambil mengepulkan asapnya yang pekat. Saya tak berapa suka dengan asap rokok, apalagi di keluarkan dari mulut dan hidung.
Bandarjaya kami lewati pada pukul 11.55. Dulu daerah ini hanya desa dan kini beranjak menjadi kota yang ramai dan hidup. Sepanjang sebelah menyebelah jalan yang dilalui bus di tengah kota berjejal pertokoan, segala macam jualan, elektronik, kebutuhan pokok, showroom roda empat, roda dua, sepeda, bengkel-bengkel, dan bank-bank pemerintah dan swasta. Saya teringat cerita kawan wartawan Kompas, yang menulis bahwa kota ini merupakan kecamatan temaju di Indonesia. Benarkah? Tak tahulah.
Waktu Zuhur, saat perut berkeok keroncongan, bus gagah yang kami tumpangi ini singgah di rumah makan Padang kota Bukitkemuning. Di sini bus istirahat pukul 13.45-14.05. Penumpang dapat leluasa makan siang dan shalat. Saya sempatkan shalat jamak-qashar, zuhur dan ashar.
Badan kembali segar setelah menikmati nasi hangat, ikan mas goreng, sambal, dan lalap. Mobil berangkat kembali membawa penumpang yang telah kenyang. Asap rokok mengepul-ngepul memenuhi bus yang sesak. Jalan mulus berkelok-kelok menyusuri punggung bukit. Di sebelah kanan kebun-kebun kopi dan lada bertahan tanpa hujan, membentang dari selatan ke utara. Di kiri sampai sejauh-jauh mata memandang hutan menyisakan warna hijau kecoklatan yang hangus ditiup udara panas musim kemarau.
Di depan nampak tanah coklat dan semak-semak yang dibakar untuk huma. Sementara musik di bus yang gerah terus mendendangkan aneka irama. Saya sering hampir terjatuh, karena seorang pria gemuk di sampingku menyita tempat duduk.
Di sini nampak beberapa jenis pohon: durian, nangka, dan kemiri yang tetap tegar hidup dengan berani, bertahan sengsara tanpa hujan. Hutan dan kebun diselingi rumah-rumah perkampungan. Rumah-rumah di sini panggung khas Lampung. Berjejer rapi menghadap jalan. Rumah-rumah dibangun di atas tiang-tiang kayu tinggi dan kokoh. Terdiri dua lantai, lantai pertama kolong untuk tempat tinggal, barang-barang, dan dapur, sedang lantai dua kamar dan ruang utama.
Saat ini ada dua kegembiraan yang nampak tersungging di bibir para penduduk. Pertama karena akan menghadapi hari ulang tahun kemerdekaan RI ke-58, yang ditandai dengan pemasangan umbul-umbul aneka warna dan bendera merah putih. Yang kedua penduduk sedang kelimpahan musim kopi dan lada. Nampak di halaman terhantar sepanjang sisi jalan jemuran hasil panen itu harumnya menyeruak sampai ke dalam bus. Tapi hal yang kedua ini, ada semacam kendala, meski kebebasan dengan kemerdekaan selama lebih dari setengah abad, namun harga-harga hasil pertanian masih terjajah. Para petani belum merdeka mendapat harga yang pantas. Kehidupan mereka amat tergantung pada toke-toke pembeli hasil bumi, yang kadang sudah menyebarkan ejon, membelinya sebelum hasil tani menjadi buah dengan harga murah. Jadi ketika hasil dipetik, si petani tinggal gigit jari.
Harga kopi hanya sekitar tiga ribu-an, tak ada kelebihan dari sekilo beras. Padahal biasanya harga kopi memberikan nilai lebih, sehingga selain dapat dibeli bahan pangan ada juga untuk disimpan dan membeli kebutuhan lain, atau membangun tempat tinggal. Lada juga demikian jatuh harganya, seperti halnya cengkeh harga yang pantas adalah satu kilogeram lada atau cengkeh setara dengan satu geram emas. Tapi sekarang harganya tak sampai Rp15.000,-.
Sayang kampung-kampung terlewat begitu saja tak tercatat. Selain bus berjalan kencang, papan nama terkadang terhadang oleh umbul-umbul dan bendera, yang dipasang penduduk berderet di depan jalan. Maklum hari ini sudah tanggal 10 Agustus, tinggal seminggu lagi hari ulang tahun kemerdekaan RI ke-58.
Beberapa kampung yang sempat saya catat mulai dari Tanjungkarang, antara lain: Natar, Tegineneng, Bandarjaya. Setelah Kotabumi, Oganlima, Bukit-kemuning, pukul 13.45, Sumber jaya, Fajar bulan, Sekincau, Kenali, Belalau, 16.25, Batu Berak 16.30, Balik bukit, dan Liwa, 16.45.
Setelah melalui hutan, kayu-kayu besar dan damar, dengan jalan yang berkelok-kelok tajam menurun selama perjalanan kurang lebih satu jam barulah bus yang kutumpangi sampai di Krue, pukul 17.55.
Liwa
Seorang pemuda ningrat dari Cina, dalam suatu pelayaran konon terdampar di daratan Krue lampung Barat. Ia bertahan hidup di sini dan kemudian berhasil kawin dengan penduduk asli. Kedua suami isteri ini membuka lahan di atas perbukitan sambil bertani. Tempat tinggal keduanya ini setelah menjadi kampung dinamakan Liwa, diambil dari nama pemuda itu “Li Kwan Hwa”. Anak turunannya menyebar di wilayah ini dan sekitarnya, yang mempunyai kemiripan pace dan postur
tubuh seperti Tionghwa. Demikian menurut cerita, Benarkah? Ya namanya juga cerita, kebenarannya perlu dibuktikan dengan penelitian yang seksama.
Yang jelas kini Liwa berhasil menjadi ibukota Lampung Barat. Meski banyak orang menilai bahwa Krue yang sejak dulu penampilannya lebih meyakinkan tidak terpilih menjadi ibukota. Krue tetap menjadi kota kecamatan yang kaya dengan fasilitas, toko-toko, perbankan, dan pelabuhan.
Liwa meski saya lewati, pukul 16.50 tengah musim kemarau, namun berselimut kabut putih, yang membalut bukit, pasar dan rumah-rumah. Ia memang berada di ketinggian, yang sejuk dan berhawa segar.
Kota ini dikenal selain menjadi ibukota Lampung Barat juga adanya peristiwa bencana alam gempa bumi. Peristiwa ini direkam oleh media, sehingga mendapat perhatian nasional dan internasional. Terakhir kita men-dengar bahwa bantuan yang dikumpul dari mana-mana, sebaha-gian tak sampai kepada penduduk yang meng-alami bencana.
Liwa sebagai ibukota Lampung Barat membawahi 6 Kecamatan, yaitu Kecamatan Belalau, Balikbukit (Liwa), Pesisir Tengah, Karya Penggawa, Pesisir Utara, dan Lemong. Luasnya 4.950,40 persegi dengan kepadatan penduduk 78 jiwa perkm persegi.
Krue
Pada pk 17.30 tibalah bus yangsaya tumpangi di Krue. Krue adalah kota kecamatan yang cukup ramai. Ia berada di pantai sebelah barat laut Lampung, atau barat daya Sumatera. Daerah ini dapat dicapai dengan bus 7 jam perjalan dari Tanjungkarang, atau satu jam dari Liwa.
Saya minta kepada kondektur diturunkan di hotel Dwi Putri. Kebetulan pull bus di samping hotel tersebut. Saya masuk ke hotel pukul 17.55 dan mendapat kamar kecil No.5. Terdiri dari dua dipan tarif Rp35.000 per-malam. Kamar mandi berada di luar bagian tengah hotel.
Saya mandi, agak bertanya-tanya, karena di bagian tengah hotel itu terlihat seperti suasana rumah tangga. Sebelah kiri dan kanan ada kamar-kamar. Bagian kanan yang sejajar dengan kamar itu berderet 3 kamar mandi, tempat cuci, dan rak sepatu. Sedang sebelah kiri agak depan berbatasan dengan kamar-kamar yang disewakan, terdapat ruang tamu keluarga. Pada ruangan itu terdapat shofa yang berderet membentuk siku dengan hiasan kaligrafi, dan foto-foto keluarga.
Penginapan itu tak sepenuhnya disewakan. Bagian belakang untuk tempat tinggal keluarga, dan bagian depan untuk disewakan sebagai penginapan. Tapi lumayan bersih dan nyaman, strategis karena menghadap jalan raya, dan dekat pull bus ke Rajabasa. Beberapa tamu pria wanita, tua muda dan anak-anak, agaknya satu keluarga menyita seluruh tempat duduk di ruang tamu depan, sambil ngobrol dan makan mi-bakso.
Saya bertanya kepada gadis pelayan hotel tentang kampung Lemong, berapa jaraknya, dan apakah malam ini masih ada kendaraan ke sana. Gadis itu mengatakan masih ada dan jaraknya hanya perjalanan satu jam. Tapi ibu-ibu muda yang duduk di situ dengan nada mencegah, janganlah ke sana malam-malam karena jalannya berbahaya, lewat hutan dan banyak begal.
Saya kemudian menanyakan dimana letak pasar dan berapa jauhnya. Ibu muda itu juga menjawab, buat apa ke pasar, sudah tutup, padahal hari baru pukul 19.00,- Ya, begitulah, saya baru pulang dari pasar, katanya.
Saya keluar, walau sudah ditegah ibu-ibu tadi, tapi saya penasaran, saya ingin menyaksikan sendiri keadaan pasar, kalau mungkin sampai ke ujung dermaga. Meski kulihat ada beca, saya pergi jalan kaki, mengikuti jalan setengah gelap, lurus ke barat.
Kota kecamatan ini dikenal sejak lama karena berada di pantai yang memiliki pelabuhan. Kota ini, terdiri dari kampung-kampung yang memanjang dari timur ke barat, yaitu: Gunung Kemala, Pasar Ulu, Pasar Tengah dan Pasar. Panjang dari ujung timur ke barat kira-kira satu km.
Dari Pasar ada jalan bercabang, ke utara Kuala dan ke selatan belok kiri Kampung Jawa. Dari pasar kira-kira 1 km ke selatan melalui perkampungan terdapat SMU Negeri I, Puncak Rawas. Dari SMU, tempat ketinggian kita bisa meninjau ke bawah ke perkampungan sampai ke laut, nampak di kejauhan sayup-sayup biru Pulau Pisang. Ke arah Puncak Rawas itu pada sisi-sisi kiri jalan ke selatan terdapat perkampung dan perbukitan kapur sampai jauh ke atas lagi kebun kopi, lada dan damar.
Saya tiba di pasar, yang memang sudah tutup. Pada pasar itu terdapat gang-gang untuk pasar sayur mayur, daging dan ikan, disebut pasar pagi. Nampak di bagian jalan yang becek dan berbau tak sedap meja-meja tersusun tak beraturan. Jalan di situ beberapa cabang, saya belok kanan ke utara, nampak tokok-toko kelontong, elektronik, sepeda dan lain-lain yang semuanya sudah tutup. Tapi, dengan tanpa bertanya, saya telusuri saja jalan raya itu ke barat. Di situ ada beberapa warung persewaan kaset video, warung kelontong, dan warung mie yang masih buka. Saya lewati saja sampai jauh ke tempat yang makin gelap. Akhirnya saya kembali, dan sayang tidak menemukan kuala, karena tidak berbelok ke utara. Saya pulang melewati jalan tadi dengan jalan kaki, sambil melirik-lirik kalau ada rumah makan Padang di jalan. Akhirnya saya sampai di penginapan dengan bermandi keringat.
Satu jam istirahat di kamar, saya bangun dan keluar, mencari-cari makanan. Untung ada mie godok, saya pesan dan makan mie godok harga Rp3.500,-. Kemudian ke seberang jalan membeli sikat gigi, sabun mandi dan odol ukuran kecil. Berapa semua, saya tanya. Bapak si empunya warung itu, menjawab dengan cepat Rp5.500,-. Saya agak terperanjat, berapa harga sikat gigi formula itu, tanya saya. Rp2.500., katanya. Biasanya Rp1.500.- Dia seperti agak marah, “Dimana,” tanyanya. Tanpa menjawab saya kasih Rp6.000,- Untung tidak ada susuk Rp500, ia kembalikan Rp1000.
Oh Ilah, saya berpikir geli dan menyesal, saya ini tamu di sini kalau jadi ribut bagaimana. Saya tidak menyadari, kalau tempat ini jauh dari Jakarta. Di Jakarta memang harga sikat gigi, Rp1400,- tapi kalau kita beli ikan, saya terkejut ketika satu cucuk ikan kembung yang isinya 10 ekor, hanya Rp2000. Di Jakarta ikan sejumlah ini bisa Rp10.000,-. Jadi lihat-lihatlah, dimana tempat anda berada, begitu saya sadar dan mengingatkan diri sendiri.
Pantai Utara
Suatu kawasan perbukitan yang membentang dari selatan ke utara, antara Krue dan Bengkulu terdapat dataran sempit yang terhantar di sepanjang pantai. Di sini berdiri kampung-kampung berjejer rapi sambung menyambung. Daerah ini dikenal dengan Pugung Tampak dan Pugung Lemong.
Dari Krue ke Pugung Lemong perbatasan Kabupaten Lampung Barat dengan Provinsi Bengkulu berdiri kampung-kampung itu. Dari kampung-kampung itu membentuk kecamatan-kecamatan, yaitu:
Kecamatan Krue Kota
Kecamatan (Pesisir Tengah) dengan kampung-kampungnya: Pedada, Simpang Gerbang, Sukabumi.
Kecamatan Karya Penggawa dengan kampung- kampungnya: Manyancang, Bandakh, La-ai, Kabuaian, Kotatengah, Ulokpandan, Waisindi.
Kecamatan Pesisir Utara, dengan kampung-kampunngnya: Baturaja, Kotakarang, wayrata, Ker-bangdalam, Kerbanglanggar, Kuripan, Negeriratu, Walur.
Kecamatan Lemong dengan kampung-kampung-nya: Penengahan Pugung, Bandar Pugung, Bambang, Pagar-dalam, Melaya, Lemong.
Kecamatan Pulau Pisang dengan kampung-kampungnya: Labuhan, Pasar, Sukadana, Bahkalu-
weh, Pekondoh.
Ke Lemong
Pagi-pagi, pukul 5.00 saya sudah bangun. Setelah mandi dan shalat subuh, saya berkemas dan keluar mencaritahu mobil yang akan ke Lemong. Di pull bus saya bertanya. Orang-orang di sana, mengatakan, tunggu saja, sebentar lagi lewat. Sepuluh menit kemudian, mobil carry jurusan Pugung lewat. Saya berlari menemui supirnya, dan bertanya, apakah mobil itu sampai ke Lemong. Supir bertanya kepada kernetnya, kernet menjawab, ya.
Pagi buta itu mobil yang penuh dengan penumpang dan barang-barang: karung, kardus, dan ember-ember besar berjalan santai, menembus kabut pagi yang segar, melewati perkampungan yang masih sepi. Kami lalui Kecamatan Pesisisr Tengah dengan kampung-kampungnya: Pedada, Simpang Gebang, dan Sukabumi.
Sekitar satu jam perjalanan, para penumpang yang masing-masing membawa barang-barang, turun kecuali seorang. Saya agak bertanya-tanya, ada acara apa banyak orang membawa perlengkapan dapur, saya pikir ada acara di pantai. Ternyata ada pasar, pasar kaget rupanya.
Mobil kecil itu melewati pinggir pantai menyisiri sisi bukit-bukit terjal. Penumpangnya hanya tinggal saya dan seorang laki-laki yang beberapa menit kemudian turun pula. Ia mengatakan bahwa desa Lemong yang saya tuju tak jauh lagi.
Sampai di Lemong pukul 7 pagi, cerah dan masih sepi. Dari atas, jalan raya, nampak latar belakang laut putih di bawah arakan awan. Nyiur menghijau sejauh mata memandang berjejer sepanjang pantai.
Saya bertanya kepada seseorang, di mana rumah Abang Badren. Dia menunjuk ke perkampungan yang berjejal di bawah. Saya ikuti jalan menurun, lalu ke kanan. Kutemui di depan rumah itu seorang ibu setengah baya, sedang duduk termangu di teras.
Kutanya, “Apakah ini rumah Bang Badren?”
“Ya” jawabnya.
Saya hanya duduk di teras meski disuruh masuk.
Kemudian kutanyakan rumah Bang Zuber, adik Abang Badren. Dia menunjuk rumah sebelah. “Tapi Zuber tida ada,” katanya, “sudah lama dia di Krue.”
Saya tidak bertanya lebih panjang. Yang akan kutemui justru Bang Zuber. Karena Bang Badren, saya tahu sudah almarhum.
Kemudian saya menanyakan dimana rumah Abang Baharen. Mereka yang akan kukunjungi ini adalah: Abang Badren, Baharen, Zuber. Mereka ini adalah saudara dari Abang Badruzzaman. Waktu abang Badruz ini kuliah di Semarang saudara-saudara ini datang berkunjung dan menginap lama di tempat kos saya di Puspanjolo. Sudah lama saya berniat ingin berkunjung ke Lemong. Dan syukur, saya baru ada kesempatan ke sini meski sejak tahun 1979, lebih dari 20 tahun yang lalu niat ini terpendam.
Seorang anak muda ke luar, saya lupa namanya, anak Abang Badren, satu-satunya. Dia baru berkeluarga, seorang bidan. Dengan motor saya diantarkannya ke rumah Datuk, orang tua Abang Badren, yang dulu sering juga berkunjung ke Semarang. Tapi saya tak dapat berkomunikasi dengan dia yang sudah lupa (mmaf, sudah terkena pikun), karena umurnya sudah lebih dari 90 tahun. Jadi bicarapun tak bisa. Hanya sekitar seperempat jam saja saya di sana, lalu diantar ke jalan raya, ke kanan Krue, dan ke kiri terus ke Bengkulu.
Di depan sebuah toko saya memberi salam. Abang Baharen, empunya toko itu meski sudah dua puluh tahun tak bertemu, segera mengenal saya dan menyambut saya dengan gembira. Kami ngobrol panjang lebar, tentang banyak hal.
Ketika saya rasakan, belum tepat saya menginap, saya pamit, segera akan kembali ke Tanjungkarang, sebelum kehabisan bus.
Tapi Abang Baharen menahan. “Menginaplah dulu, jangan tidak. Nanti ada Sakroni dan lain-lain.”
Sakroni dipanggil, dan tak lama ia datang. Kami bertemu dengan hangat. Sakroni ini adalah adik Abang Baharen. Ia sudah lama saya kenal, yaitu ketika kami sama-sama nyantri di Gontor. Waktu itu, saya menjadi Ketua Konsulat Lampung, Kelas V dan Sakroni Kelas II. Tahun 1974 -75 dia kabarnya pindah ke Surabaya.
Bertemu dengang Sakroni saya jadi ingat kawan-kawan dari Lampung Barat ini, seperti: Khoiron, Junaidi, Syahrir, Mulkan, Idrus, Ridwan, dll. Dimana mereka? Sejak berpisah dulu tak pernah lagi berjumpa.
Lemong yang merupakan desa atau pekon, diabadikan namanya sebagai nama Kecamatan “Kecamat-an Lemong”. Mulanya saya mengira nama Lemong diambil dari kata “Lemong” (lemang = nama jajanan terbuat dari ketan dan santan yang dimasukkkan dalam buluh bambu yang dipanggang di atas bara), ternyata bukan. Menurut Abang Baharen, Lemong berasal dari kata “Lamawong” (harimau). Dahulu, di sini ketika masih rimba banyak lamawong (harimau) yang berkeliaran, sehingga orang tak berani datang dan berdiam di sini.
Konon penduduk asal datang dari Skalabekhak, yang mula datang adalah: Lamrajam dan Mudacili.
Desa di sini disebut pekon, Kepala Desa disebut Peratin. Penduduknya sekitar 5200 jiwa. Jarak dari Lemong – Krue sekitar 50 km (ongkos Rp6000,-), sedang jarak Lemong-Tanjungkarang sekitar 360 km dengan ongkos Rp 25.000,-.
Di Pantai Lemong kami membeli ikan Rp 2000,- secucuk, dan seekor ikan layur besar yang bila ditimbang lebih dari 1 kg dengan harga hanya Rp 3000,-. Dengan hanya Rp 5000,- ikan sebanyak itu cukup untuk makan bertiga, Sakroni, isterinya dan saya sebagai tamu.
Selepas Zuhur saya dan sakroni berboncengan motor menyisiri kampung-kampung di sisi pantai ke utara. Di sekitar Lemong ini terdapat desa-desa: Wayutang, Merambai, Tanjung Waybatang, Tajungsakti, Tanjungjati, Ratuagung dll. Dan dari pantai ini dapat disaksikan keindahan panorama pantai: Kakakhik, Pantai Cacindo, Pantai Ujung Cacindo, Pantai Cintahwang, Pantai Waibatang dll.
Kembali ke Karang
Setelah semalam menginap di rumah Sakroni, pagi Selasa, setelah sarapan, saya diantarnya ke rumah Bang Baharen, depan jalan raya. Tak lama datang angkutan ke Krue. Untung mobil kosong, sambil di tengah jalan mencari penumpang.
Di mobil seorang pemuda berkopiah, mendengar musik tanpa lagu, nyeletuk, “Mak nyak kigekhing degup-degup mak bulagu!”
Di perjalanan lebih terasa keindahan desa-desa menghadap jalan raya, memanjang membelakangi pantai. Dalam jarak ini perjalanan melewati banyak sekali jembatan, besar dan kecil, dengan kali-kalinya yang bening berbatu. Di sisi kiri bukit-bukit kecil penuh kebun kelapa, buah-buahan dan berbagai tanaman, hijau dan segar, diselingi sawah-sawah yang sedang menguning.
Di depan saling mendahulu mobil putih BE2389M dan mobil merah BE2027 M. Di kanan nampak pantai yang panjang itu melengkung membentuk teluk. Laut putih berkilau disepuh cahaya matahari pagi. Di tengah terapung Pulau Pisang, biru bak perahu. Pada pukul 9.00 pagi saya tiba di Krue.
Untung masih ada mobil ke Tanjungkarang, saya menaiki mobil dengan tarif Rp20.000,-. Perjalanan yang jaraknya sekitar 350 km itu akan ditempuh bus sekitar 7 jam. Saya lelah dan suara saya hilang karena diserang batuk dan masuk angin. Jadi di mobil tak banyak yang bisa saya catat. Saya gunakan kesempatan di mobil ini untuk sekali-sekali memandang panorama perbukitan yang indah, dan selebihnya saya tertidur, istirhat, mengurai kembali rasa letih dan penat.
Di Rajabasa saya telpon Abang Badruzzaman di Jalan Lada, dengan suara serak, terputus-putus, saya katakan, tak bisa mampir karena akan langsung ke Jakarta.
▓
BERTANDANG KE MINANG
Waktu kecil di kampung banyak kawan saya anak Padang, di antaranya: Sapril, Nasrul, Erwin, Khaidir, Sahminan, Junafri, Bontet, Anik, Ernis, Rosmaliar dll. Para pedagang yang bermukim di kampung Putihdoh juga banyak seperti Hamid, Latif, Basri, Nazar, Tekong, Naro, Gatah, dll.
Entah dari mana saja kampung asal mereka, tapi semua, kita sebut anak Padang atau Minang. Jadi saya sudah lama mendengar cerita-cerita mereka tentang kehebatan negeri asal mereka “Tanah Minang”. Apalagi sejak kecil kita sudah membaca “Siti Nurbaya” karangan Marah Rusli,. “Tenggelamnya Kapal Vander Wejk” karangan Hamka, dan “Malingkundang Anak Durhaka” dll. Dan yang menarik sangat adalah orang-orang Hebat negeri ini seperti: Hatta, Agussalim, Hamka, Deliar Noer, Tan Malaka, dll yang telah memotivasi saya untuk mengubah diri sendiri dari dalam.
Daya hayal membayangkan daerah Minang, diperkaya oleh cerita kawan-kawan itu menghunjamkan keinginan yang luar biasa untuk ke sini. Kapan ya? saya bertanya sendiri dalam hati.
Dengan Lion Air
Akhirnya keinginan itu tercapailah. Tapi kuhitung-hitung sejak niat itu sampai tercapainya sudah lebih dari 40 tahunan. Saya bersama Zaenal Abidin Anwar diutus oleh UI untuk mengikuti acara “Pelatihan Dosen-dosen Agama Perguruan Tinggi Umum” yang diselenggarakan oleh Dikti dan Depag. Kerbetulan disenggarakan di Kota Padang, tepatnya di Hotel Muara.
Kami tak mendapat tiket garuda, tapi syukur dapat lion, maklum arus perjalanan sedang padat. Bulan ini, akhir dari libur sekolah, banyak yang bepergian, baik yang pulang kampung maupun yang kembali setelah berlibur. Setelah beberapa lama menunggu di Bandara Soekarno-Hatta, kami dipersilakan naik ke pesawat. Untunga dapat di pinggir jendela, sehingga dapat menyaksikan pemandangan di bawah.
Pesawat bagai mendaki bukit, naik-naik terus meninggi. Sekilas nampak rumah-rumah di bawah bak kotak-kotak, diselingi sawah dan perkebunan. Tangerang Banten, dan sebentar pesawat sudah berada di atas luatan, perairan Selat Sunda. Yang nampak di bawah sayup-sayup biru pudar lautan dan putih awan-awan yang berarak-arak, berserakan. Hanya beberapa menit pesawat sudah berada di ketinggian bumi Sumatera, yang membentang memanjang dari selatan ke utara
Ya, terbang di atas permukaan bumi Sumatera begitu mengasyikkan. Sejak menyeberang di Selat Sunda sebentar, pesawat sudah berada di atas dataran hutan dan bukit Barisan yang terbentang dari Selatan ke utara.
Di bawah kapal terbang, meski kadang ditutupi awan yang mengambang, panorama nampak amat menakjubkan. Terlihat sekilas provinsi Lampung yang didominasi oleh bentangan hutan, gunung, sungai, dan terpencar-pencar perkampungan. Nampak kota Palembang dengan Sungai Musinya, bak sejumput biji-bijian yang berserakan.
Lalu hutan, gunung, perbukitan, sungai-sungai, persawahan, kebun-kebun, dan petak-petak kecil kampung dan desa, kemudian nampak jelas danau. Danau apa itu? Zaenal bilang, mungkin Kerinci. Ya, karena kami sedang berada di atas permukaan bumi Jambi?
Setelah pesawat agak merendah, nampak kesibukan lalu lintas menjelang Tanah Minang. Jalan di lereng bukit-bukit dipenuhi kendaraan. Hatiku bahagia ketika sudah nampak Teluk Bayur, Kota Padang, dan lautan yang terbentang, biru. Pesawat serasa hendak mendarat, tapi tiba-tiba berputar ke barat, jauh di atas lautan, melingkar, kembali ke atas kota, dan berulang 3 kali. Kami khawatir, ada apa? Pramugari memberitahu, di bandara sedang ada masalah, belum bisa mendarat. Tapi alhamudlillah, tak lama, menjelang zuhur kami mendarat di gerbang Tanah Minang, Tabing, dengan selamat.
Banyak catatan sebenarnya yang dapat diceritakan di sini, baik di airport Soekarno-Hatta, di pesawat maupun pengalaman-pengalaman ketika mendarat di Tabing Padang. Sayang catatan-catatan lengkap itu hilang. Yang sudah diketik di komputer juga terhapus. Jadi saya tulis seingatnya saja.
Bukittinggi
Bukitting adalah salah satu kota di provinsi Sumatera Barat.Kota ini sebelumnya disebut dengan Fort de Kock dan dahulunya pernah juga dijuluki dengan Parisj van Sumatra yang juga pernah menjadi ibukota negara Indonesia.
Kota yang merupakan kota kelahiran salah seorang Proklamator RI yaitu Bung Hatta ini, merupakan kota pusakayang terkenal dengan Jam Gadangnya, yaitu sebuah landmark di ketinggian jantung kota yang berbentuk jam besar, dan menjadi simbol bagi kota yang juga berada pada tepi sebuah lembah yang bernama Ngarai Sianok. kota Bukittinggi juga terkenal sebagai kota wisata yang berhawa sejuk, dan bersaudara (sister city) dengan Negeri Sembilan di Malaysia.
Pada masa pendudukan Jepang, kota Bukittinggi dijadikan sebagai pusat pengendalian pemerintahan militernya untuk kawasan
Kota Bukittinggi berada pada posisi strategis yang dapat terhubung dengan beberapa kota-kota lain termasuk kota-kota yang berada diluar provinsi Sumatera Barat, seperti
Kota ini memiliki terminal angkutan transportasi darat yang bernama Terminal Aur Kuning untuk transportasi dalam kota, tersedia sarana angkutan kota selain taksi berupa mikrolet dan bendi (kereta kuda).
Dari sudut pandang ekonom bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan mengurangi penduduk miskin, hal inilah yang mengenjot pemerintah kota Bukittinggi menelurkan beberapa program dalam mengentaskan kemiskinan diantaranya pelatihan peningkatan deversifikasi dalam bentuk pelatihan peningkatan keterampilan membordir dan pelatihan pembuatan kebaya, serta penumbuhan wirausaha merupakan salah satu pilihan dalam meningkatkan pendapatan perkapita bagi kota ini.
Pusat perdagangan grosir untuk barang-barang konveksi kota Bukittinggi terletak di Pasar Aur Kuning. Sedangkan disekitar kawasan Jam Gadang terdapat juga beberapa pasar enceran seperti Pasar Ateh, Pasar Bawah dan Pasar Lereng, dimana disini juga menjual beberapa hasil kerajinan tangan dan cinderamata khas Minangkabau, selain itu untuk wisata
Masyarakat kota Bukittinggi sangat menyukai olahraga berkuda, dan setiap tahunnya kota ini mengadakan lomba pacu kuda di Bukit Ambacang, yang sudah diselenggarakan sejak tahun
Pembangunan kepariwisataan merupakan salah satu sektor andalan bagi kota Bukittinggi, banyaknya objek wisata yang menarik, menjadikan kota ini dijuluki juga sebagai "kota wisata". Saat ini di kota Bukittinggi telah terdapat sekitar 60 hotel dan 15 biro perjalanan.
Lembah Ngarai Sianok merupakan salah satu objek wisata utama. Taman Panorama yang terletak di dalam kota Bukittinggi memungkinkan wisatawan untuk melihat keindahan pemandangan Ngarai Sianok. Di dalam Taman Panorama juga terdapat gua bekas persembunyian tentara Di Taman Bundo Kanduang terdapat replika. Jembatan penyeberangan Limpapeh berada di atas Jalan A. Yani yang merupakan jalan utama di kota Bukittinggi.
Pasar Ateh berada berdekatan dengan Jam Gadaang yang merupakan pusat keramaian kota. Di dalam Pasar Ateh yang selalu ramai terdapat banyak penjual kerajinan bordir dan makanan kecil oleh-oleh khas Sumatera Barat seperti Karupuk Sinjai (keripik singkong ala daerah Sanjai di Bukittinggi) yang terbuat dari singkong, serta
KE MALANG
DENGAN KIJANG
(Akhir Mei 2008)
Malang adalah kota yang berhawa sejuk dan sering dijuluki sebagai kota pelajar. Baru sebulan yang lalu kami ke sini dengan bus: Jakarta- Semarang, Semarang-Solo, Solo-Surabaya, dan ganti bus lagi Surabaya-Malang. Penat memang gunta-ganti bus. Ya, tapi karena kami hadapi dengan santai, dengan berbagai pengalaman di jalan, penat hilang, munculah bahagia.
Yang lucu, malamnya karena sudah larut, kami tak mendapatkan hotel. Dengan kebaikan supir yang mobilnya kami carter, kami dapat menemukan hotel “ “ yang hanya tinggal sekamar. Saya memohon kepada pengurus hotel agar diperkenankan menempati 1 kamar itu, meski berdesakan berempat: saya, isteri, Riki, dan Awiem, syukurlah boleh. Ternyata kamarnya cukup besar, dengan tempat tidur yang luas, kamar mandi dan ac, di lantai 2. Dari kamar ini dapat dilayangkan pandangan ke gunung yang bertabur lampu pijar, sebelah kiri dan kanan juga terdapat perbukitan yang berlumur cahaya lampu jalan perumahan.
Dengan Kijang
Kini kami akan berangkat lagi dalam rangka pernikahan Riki dangan Anis. Riki dan ibunya telah lebih dahulu dengn bus. Kami akan pergi dengan santai melalui selatan. Kijang milik Khaibar sudah disiapkan, masuk bengkel untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan, sehingga dianggap layak menempuh jalan panjang.
Turut dalam mobil ini: Khaibar, Pak Bono, Pak Tejo, Rizka, Awiem dan saya. Bertiga (Khaibar, Bono dan Tejo) akan bergantian menyetir. Saya belum boleh nyetir, masih khawatir, karena belum pas benar, kata mereka. Sedangkan Bono dan Pak tejo sudah ahlinya, dan keduanyalah beberapa waktu yang lalu, sebagai pelatih saya belajar nyetir.
Saya ditunjuk sebagai penunjuk jalan. Ok, saya tidak menolak, meski dalam hati sudah pasti akan banyak kekeliruan, maklum saya ke Malang lewat Kediri-Belitar dulu, waktu pramuka di Gontor. Jadi cukup lamalah (1972) sampai sekarang, sekitar 36 tahun yang lalu. Waktu itu dengan truk terbuka, badan masih fit, meski kehujanan tidak sakit. Dan sekarang sudah pastilah banyak perubahan.
KE SEMARANG
PULANG KAMPUNG
Entah lebaran atau bukan, secara berkala kita perlu pulang kampung. Pulang mengingatkan kita kepada asal, membangkitkan kembali kenangan masa silam, yang telah membentuk pribadi dan menorehkan rasa sayang dan kerinduan. Semarang, meski terkesan panas dan sumuk, tapi tetap berdaya tarik yang hebat agar sewaktu-waktu kita perlu kembali pulang.
Semarang yang penuh kenangan, sewaktu-waktu memikatku untuk kembali. Banyak yang telah berubah, lebih maju dan lebih indah. Tapi kesan-kesan yang kucari dari sisa-sisa masa muda di sini, mengingatkan kembali alangkah sedih, alangkah bahagia, berpadu dalam cita, rasa cinta dan kebahagiaan, semangat dan harapan, kegagalan, dan kelesuan.
Pasar Johar, meski makin modern, tapi kalau seksama kuperhatikan, masih ada tertinggal kesan-kesan, di sini saya pernah berdiri menanti, di tepi sana saya pernah makan soto kudusnya yang khas, dan di kantor pos besar itu saya selalu berdiri memasukkan surat atau mengambil wesel.
Di pojok jalan-jalan yang luas dan lebar, Pemuda, Gajahmada, dan jalan protokol lainnya, saya sering bediri mengingat-ngingat kembali, seperti saya telah melakukan sesuatu yang berkesan, tapi apa? Tentulah berat untuk mkengingatnya kembali, rasanya baru kemarin, tapi setelah kuhitung waktu berlalu itu cukup lama, 1976, kini sudah tahun 2010-an, sudah lebih dari seperempat abad.
Ke tempat kostku di Puspanjolo, sudah begitu terasa berbeda, tak ada lagi yang kukenal. Penduduk yang dulu mengenalku dengan baik, bertegur sapa jika berjumpa, kini tak ada lagi, sudah lama berpulang. Kini mungkin anak-anak mereka yang menggantikan, atau mungkin sudah dialihmilikkan kepada orang lain. Yang jelas, meski masih sekilas ada bekas-bekas yang dapat kukenal, tapi suasananya telah banyak berubah.
Yang seakan menjadi bukti jejak kaki, menyapa dengan ramah, masih tegar berdiri, Banjirkanal. Di sini, sebuah jembatan lebar yang ramai, tempat biasa saya setiap petang menanti Daihatsu angkutan kota, pergi kuliah sore ke Jalan Gajahmada.
Dan kenangan demi kenangan itu begitu memenuhi relung kalbuku. Saat remaja, masa cinta anak muda membara. Ketika semangat belajar berpadu dengan kerinduan yang syahdu kepada keluarga yang jauh, kepada kekasih yang tak pernah pergi dari pelupuk mata.
Dan kota ini memang tak habis-habisnya melimpahkan kesan, menorehkan berbagai rasa yang tak terlukiskan.
KISAH-KISAH PERJALANAN
1. Enam Malam di Mataram
2. Selayang Pandang Negeri Minang
3. Purworejo
4. Semarang
5. Ke Bali bersama YPI
6. Di Belantara Jakarta
7. Sehari di Kampus UI
8. Kota Agung
9. Ke Utara sampai ke Liwa
10. Dari Krue sampai ke Pugung
11. Enam Malam di Mataram
12. Selayang Pandang Negeri Minang
13. Purworejo
14. Semarang
15. Ke Bali bersama YPI
16. Di Belantara Jakarta
17. Sehari di Kampus UI
18. Kalianda
19. Ke Malang dengan Kijang
20. Melanglang ke Palembang
21. Safari ke Jambi
22. Merantau ke Riau
23. Dari Pesantren ke Pesantren
24. Dari Masjid ke Masjid
25. Solo
26. Yogyakarta
27. Di beranda Jakarta
H-KISA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar