Rabu, 22 Desember 2010

PRIBADI MUSLIM

Dr. Kaelany HD.,MA







PRIBADI
MUSLIM

Rahasia Sukses Seorang Muslim
dalam meningkatkan kualitas pribadi
lancar meniti karier
dengan mengubah diri sendiri
dari dalam





Penerbit
Midada Rahma Press
Jakarta, April 2009





PRIBADI MUSLIM
Rahasia Sukses Seorang Muslim
dalam meningkatkan kualitas pribadi
lancar meniti karier
dengan mengubah diri sendiri
dari dalam


Seri: Akhlak Mulia

Oleh: Dr. Kaelany HD., MA



Diterbitkan oleh:
Midada Rahma Press Jakarta
Cetakan Pertama, April 2009
Cetakan Kedua, Agustus 2010

















KATA PENGANTAR



Di atas bumi ini dihuni oleh lebih dari lima milyar manusia, dan sekitar 1,3 milyarnya adalah muslim. Apakah Anda, apakah kita muslim? Tentu! Tapi, cobalah tengok sejenak ke dalam diri kita, ke dalam pribadi kita, sudahkah kita berperilaku, sudahkah kita bersikap yang minimal seperti digambarkan oleh Nabi, “Muslim itu adalah bila selamat orang lain dari lisan dan tangannya.” Apakah kita telah mnyebarkan kedamaian, apakah kita telah ikhlas beramal, apakah kita masih segan memberi, apakah kita masih suka melakukan kecurangan, apakah kita masih belum mantang berdusta dsb.
Sebagai muslim kita mesti memiliki pribadi, “Pribadi Muslim” Bagaimana pribadi muslim itu? Dalam buku kecil ini, penulis menggambarkannya serba singkat. Meski diyakini di sana sini pasti terdapat banyak kesalahan dan kekeliruan, tapi kita tetap berharap semoga bermanfaat.
Atas segala kesalahan kami mohon maaf dan terima kasih atas koreksiannya.


Jakarta, Awal April 2009

Penulis








Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Yang menguasai di hari Pembalasan
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan
hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang
yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka;
bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan
(pula jalan) mereka yang sesat.
(QS Al-Fatihah, 1:1-7)





DAFTAR ISI


Hal Judul  ii
Kata Pengantar  iii
Daftar Isi  v

1. Jangan yang Lain, Selain Dia, Dia tak Suka  1
2. Siapakah Anda, Siapakah Kita?  5
3. Anda Ingin Beriman Silakan, Ingin Kafir Silakan  6
4. Berpijak pada Iman, Bersumber pada Al-Qur’an, dan As-Sunnah 9
5. Aturan Menampilkan Keindahan  14
6. Muslim itu adalah Bila Selamat Orang Lain dari Lisan dan Tangannya 17
7. Mustahil Dia Islam kalau Dia Bohong  19
8. Suatu Tanda (bagusnya) Islam Seseorang adalah Meninggalkan Apa yang Tidak Berguna  21
9. Luruskan Niat  22
10. Carilah Ilmu sebelum Bekerja  24
11. Kalau Anda berilmu dan Menggunakan ilmu Anda itu Sebaik-baiknya, Anda takkan Tersesat  26
12. Tidak Sama yang Berilmu dengan yang Tidak Berilmu  28
13. Untuk Mempermudah Ciptakan Alat  32
14. Meski Anda Merasa Mampu untuk Melakukan Sesuatu Jangan Lupa Berdoa  35
15. Sekecil Apapun yang Anda Lakukan, Anda akan Mendapatkan Balasannya  37
16. Kalau Anda Melakukan Lebih dari yang Semestinya Anda Lakukan Anda akan Mendapatkan Kelebihan itu  39
17. Awas Virus  43
18. Sedikit yang Bersih Lebih Baik dari Banyak tapi Kotor 44
19. Milikmu adalah Apa yang Anda Berikan bukan Apa yang Anda terima  46
20. Pilih yang Paling Mudah dengan Hasil yang Maksimal 48
21. Kalau Anda telah Berhasil Menyelesaikan Suatu Urusan, Jangan Berpangku Tangan, Kerjakan Urusan yang lain  49
22. Anda Akan Berubah Kalau Anda Mau  50
23. Anda akan Berhasil kalau Anda Sungguh-Sungguh 51
24. Jangan Sepelekan yang Kecil  52
25. Jangan Lakukan Sesuatu yang Bila Orang Lain Lakukan kepada Anda, Anda tak Suka 53
26. Kebesaran Masa Depan Anda Tergantung pada Sebesar Apa Anda telah Berhasil Menghadapi Kesulitan  54
27. Jangan Tunda sampai Besok Apa yang Dapat Anda Lakukan Hari ini  56
28. Bila Ada Peluang untuk Curang Anda tak Lakukan, Anda telah Mengawali Keberhasilan untuk Meraih Keuntungan-Keuntungan  57

Buku Terbitan Midada  60
Buku Tulisan Kaelany HD  62
Midada Center 63
Tentang Penulis  65








JANGAN YANG LAIN, SELAIN DIA, DIA TAK SUKA
Kecemburuan tertinggi adalah kecemburuan Tuhan terhadap makhlukNya. Jangan sampai makhlukNya mengaku-aku menduduki posisi-Nya, mengaku-aku berkedudukan sama dengan Dia, mengaku-aku dapat mengabulkan doa, mengaku-aku dapat memberikan perlindungan dan berkah. Ini adalah hak mutlakNya sendiri, Dia tak ingin bersama orang lain, atau apa dan siapapun selain Dia. Dia adalah dekat, tak mau dikatakan jauh, karena Dia dekat kepada manusia lebih dekat dari urat lehernya sendiri, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS 50:16). Karena itu Dia sangat marah kepada orang yang berdoa dengan perantara, melalui orang alim, kiyai, ulama, ustadz, apalagi melalui kuburan, melalui orang yang sudah mati. Dengan perantaraan Nabi atau malaikat pun, Tuhan tak mau dimediasi, diwasilahi. Kalau mau berdoa langsunglah kepada-Nya, bukankah Dia dekat. Kalau mengambil perantara berarti tak percaya bahwa Dia dekat Adanya. Maka, perintah-Nya, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (Berdoa kepada-Ku) akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina". (QS 40:60).
Dia adalah unik, lain dari segala yang ada, karena Dia memang, “Laisa kamitslihi syai-un” (Tidak ada sesuatu pun yang sama dengan Dia). Dia tak berhajat kepada sesuatu pun, karena Dia Maha Kaya, Maha Kuasa, Maha Berilmu, Maha Hidup, Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Raja di alam ini. “Dan Katakanlah: "Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (QS 17:111).
Karena cemburu-Nya yang paling tinggi ini, Dia sangat marah bila Dia disaingi, malah kemarahan-Nya di tingkat ini adalah kemarahan yang tak ada tandingannya. Maka Dia mengingatkan, “Awas, jangan sampai Anda berbuat ini, menyaingi-Nya dalam kapasitasNya sebagai Tuhan.” Karena, namanya juga manusia, tidak pernah merasa puas dan selalu bertindak sombong. Kalau mendapat kesulitan berkeluh kesah, tapi kalau memperoleh kenikmatan lupa diri. Mendapat harta sedikit merasa paling kaya, mendapat ilmu sedikit merasa paling pintar. Banyak sekali terjadi, orang-orang pintar, tak percaya kepada Tuhan. Malah ada yang mengatakan orang yang percaya kepada Tuhan adalah orang bodoh. Orang-orang primitif, kata mereka, menciptakan Tuhan karena mereka tidak dapat menguasai alam, sehingga apa yang dianggap dahsyat dikatakan Tuhan dan disembah. Sekarang dengan ilmu dan teknologi alam dapat diatasi, yang dulu dianggap dahsyat seperti matahari, gelombang laut, banjir, gempa bumi, dapat dikuasai dan ditundukkan. Jadi buat apa Tuhan, malah ada manusia yang mengatakan Tuhan telah mati.
Yang merasa paling kaya, yang merasa paling berkuasa. karena kesombongannya, karena ketidakpuasan-nya, bukan saja tidak percaya kepada Tuhan, bukan saja menghina Tuhan, malah dia sendiri mengatakan, “Saya inilah Tuhan! Jangan kamu tunduk kepada yang lain, jangan sembah Tuhan yang tak tampak. Sembahlah aku, yang dapat menghidupkan dan mematikan, dengan cara membiarkan orang hidup, atau memenjarakan orang yang tak percaya, dan mebunuh orang yang menyembah selain dia.
Demikianlah manusia, makhluk yang diciptakan oleh Tuhan dengan kelengkapan pancaindra, akal dan kebebasannya, kata Tuhan kadang amat zalim, dan kadang lebih sesat dari hewan, “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak diperguna-kannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak diperguna-kannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (QS 7:179)
Maka mengaku-aku sebagai Tuhan, atau bertindak laksana Tuhan adalah perbuatan syirik, perbuatan zalim, suatu perbuatan yang paling tidak disukai-Nya. “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu memperseku-tukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” Dan lagi kata-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengam-puni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” QS 4:48).
Tuhan Yang Maha Hidup tidaklah memerlukan makan minum dan tidur seperti halnya manusia dan hewan. Karena itu tidaklah pantas Dia diberi sesaji, diiming-imingi dengan makanan dan mainuman. Penyembelihan hewan qurban umpamanya, yang disembelih dengan menyebut nama Tuhan, bukanlah berarti Tuhan menginginkan daging qurban, atau meminta darahnya. Menyembelih dengan nama-Nya, agar penyembelihan itu ikhlas karena-Nya, bukan karena siapa-siapa, tetapi daging diperuntukkan bagi fakir miskin yang amat membutuhkannya. Memberi sesaji kepada Tuhan, kecuali perbuatan syirik yang paling dibenci-Nya, juga menghina Dia. Tuhan tidak sama dengan makhluk-Nya, juga tidak ada yang setara dengan Dia. Karena itu, adalah sangat tidak logis, tidak masuk akal, kalau Tuhan memiliki anak, memiliki isteri, dan membutuhkan makan dan minum, apalagi hanya sekedar seekor ayam atau seekor kerbau. “Dan mereka berkata: "Tuhan yang Maha Pemurah mempunyai anak. Sesungguhnya kamu telah mendatang-kan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh. Karena mereka menda'wakan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mempunyai anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” (QS 19:88-93).
Lalu dibuatkan patung-patung, dan orang beramai-ramai menyembah patung. Menurut mereka, Tuhan yang Maha Indah, suka berada pada tempat yang indah seperti patung-patung itu.
Anda boleh berkuasa, tapi bukan Paling Kuasa, Anda boleh menolong tapi bukan Maha Penolong, Anda boleh mencari ilmu sebanyak-banyaknya, tapi bukan yang Paling berilmu, Anda boleh memiliki kekayaan, tapi bukan Maha Kaya, dan sebagainya. Apapun kedudukan Anda, setinggi apapun martabat Anda, janganlah mengaku Tuhan, mengabaikan Tuhan, menyepelekan hukum dan aturan-Nya, lupa diri dari mengingat-Nya, sombong dan angkuh tidak memerlukan-Nya, tidak mau memohon pertolongan-Nya, tidak mau berdoa kepada-Nya, karena merasa segala hal dapat diatasi sendiri. Yang Maha, Yang Paling, hanyalah Dia Sendiri-Nya. Segala Sifat dan Nama Tuhan adalah milik-Nya: “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu.” (QS 3:189).

SIAPAKAH ANDA, SIAPAKAH KITA?
Janganlah dulu kita hendak mengetahui rahasia alam, mengetahui yang gaib, mengetahui hakikat Tuhan. Tengoklah dahulu pada diri sendiri, pada fisik, pada yang lebih dalam lagi, pada hati sanubari, pada jati diri pribadi. Maka, kata Tuhan, hendaklah manusia memperhatikan, dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari tulang sulbi dan tulang dada. Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengem-balikannya hidup seudah matinya.” (QS 86: 5-8).
Manusia lahir, lemah dan tidak mengetahui apa-apa. Tapi setelah memiliki kekuatan, memiliki kekuasaan yang kecil saja dia berani menantang Penciptanya. Dia berani menantang dan melawan Tuhan.
Di dalam diri manusia terkandung dua unsur yang ekstrim, fisik tercipta dari unsur-unsur tanah dan air yang hina, dan unsur ruh yang dihembus dari ciptaan yang mulia. Tarik menarik antara dua unsur itu pada diri manusia menampilkannya sebagai makhluk yang unik. Hendak mulia atau hina tergantung manusia itu sendiri hendak ke mana?

ANDA INGIN BERIMAN SILAKAN, INGIN KAFIR SILAKAN
Kata-kata di atas adalah kata-kata Tuhan, “Dan Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS 18:29)
Manusia diciptakan dengan segala potensinya, lalu diberi pula kebebasan, kebebasan memilih; mau pilih yang mana, silakan. Tapi itulah fungsi akal agar manusia berpikir, dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Lain dari hewan dan tumbuhan, yang tidak diberi akal, tidak pula kebebasan, mereka harus tunduk kepada Tuhan dan aturanNya, dan tidak bisa memilih yang disukai, atau berbuat sesuka hati. Tuhan mengatakan bahwa segala yang ada di alam ini adalah Islam (tunduk patuh, taat, berserah diri) kepada-Nya. ”Maka Apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, Padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri (Islam) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka (thau’an) maupun terpaksa (karhan) dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (QS 3:83).
Islam bak permulaan, ibarat rumah baru gerbangnya, laksana buah baru kulitnya, baru sebatas tunduk patuh. Setelah berada di gerbangnya, apakah kita mau masuk ke dalam intinya, ke dalam iman yang hakiki, membangun pondasi, tempat berdirinya bangunan Islam itu. Syahadatain yang berisi, “Aku bersaksi tiada Tuhan yang disembah selain Allah, dan aku bersaksi Muhammad itu utusan Allah,” adalah pernyataan lisan, pernyataan lahir. Ucapan itu akan berarti ketika dibenarkan oleh hati, dan dilaksanakan dengan amal nyata.
Dari ayat-ayat dalam Kitab Suci, kita mendapat informasi, bukan Islam yang menjadi jaminan orang masuk surga maupun masuk neraka. Islam (ketundukan dan ketaatan) itu tidak berfungsi kalau tidak terbukti. Buktinya, harus nyata dalam amal, yaitu amal shaleh. Kalau seseorang menyatakan Islam, tapi amal perbuatan dan prilakunya tidak baik, tidak beramal shaleh, berarti tidak tunduk patuh kepada Tuhan dengan sunguh-sungguh. Maka Tuhan segera menegur Nabi, “Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman." Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk (Islam)', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS 49:14).
Cobalah kita prhatikan ayat-ayat-Nya dalam Kitab Suci, agar janganlah kita menepuk dada dijamin masuk surga karena telah memeluk Islam. Yang akan diperhatikan Tuhan adalah taqwa, yang merupakan bekal sebaik-baiknya. Taqwa yang abstrak, mengandung dua komponen penting yaitu iman dan amal shaleh. Iman, siapakah yang tahu selain diri kita sendiri dan Tuhan. Apakah Anda beriman, apakah kita beriman? Yang tahu persis adalah diri sendiri dan Tuhan. Tuhan menyorot manusia sampai ke dalam lubuk kalbu, ke telaga hati sanubari, tempat bersemayamnya iman itu. Tapi indikasinya, nampak pada amal perbuatan kita, baik atau burukkah? Shalat, puasa, haji dan ibadah-ibadah lain yang kita kerjakan memberi gambaran dari iman, menunjuk indikasi yang berpijak dari hati. Tapi benarkah demikian? Inilah iman, yang tahu persis tentang ini adalah kita sendiri.
Buah dari iman adalah amal shaleh bukan amal buruk. Amal buruk adalah buah dari iman yang tak kokoh, atau boleh jadi tidak beriman. Tapi apakah amal shaleh itu sesungguhnya? Amal shaleh adalah amal yang bermanfaat, utamanya pada diri sendiri, lalu membias kepada orang lain. Shalat, puasa, haji, zakat dan ibadah-ibadah lain merupakan amal shaleh bila dia bermanfaat. Di dalam Kitab Suci umpamanya dikatakan, “Shalat itu mencegah keji dan munkar.” (QS 29:45). Ini salah satu manfaat dari shalat, di samping mungkin ribuan manfaat lainnya. Adakah shalat kita sudah berfungsi, sudah bermanfaat? Kita shalat, tapi keji munkar jalan terus. Nabi mempertegas, “Tidak shalat orang yang shalatnya tidak mencegah keji dan munkar.”
Bisakah shalat bukan amal shaleh? Ya, kita lihat indikasinya, kita lihat dampaknya. Kalau tak bermanfaat, apalagi berakibat buruk, bukanlah amal shaleh. Di masjid sering terjadi jama’ah kehilangan sepatu dan tas. Siapa yang mengambil, tak lain dari antara jama’ah yang pura-pura shalat, tapi sesungguhnya ia melirik-lirik sepatu dan tas. Bukanlah tujuannya untuk shalat sunguh-sunguh.
Apakah kita sudah beriman, akan nampak pada amal shaleh yang kita lakukan. Dan nilai kita sesungguhnya seberapa besar kita sudah bermanfaat. Nabi mengatakan, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain.”

BERPIJAK PADA IMAN, BERSUMBER PADA AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH
Selaku Muslim-mukmin yang bertakwa kita mesti memyakini Al-Qur’an sebagai landasan pijak kita dalam melakukan segala aktivitas hidup ini. Al-Qur’an sendiri memberikan petunjuk bahwa salah satu ciri orang yang takwa adalah meyakini secara penuh akan kebenaran Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai hidayah dan pedoman hidup: “Dzalikal kitabu laaraiba fiihi hudan lil muttaqin”. (QS. 2:1)
Kecuali hudan lilmuttaqin (petunjuk bagi orang taqwa), Al-Qur’an juga merupakan rahmatan lil’ alamin (rahmat bagi sekalian alam) sesuai dengan missi yang dibawa oleh Muhammad SAW, yang diungkap dalam ayat “Wa ma arsalnaka illa rahmat lil ‘alamin.” Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad SAW itu mengan-dung hukum-hukum, merupakan pedoman hidup dan sumber ilmu pengetahuan yang amat luas. Sebagai pencaran ilmu Allah yang Maha Berilmu, Al-Qur’an berlaku objektif, konsisten, dan universal. Siapa saja yang berpegang kepada kaedah-kaedah yang digariskan Al-Qur’an ia akan menemukan kebenaran hakiki dan akan menerima keuntungan-keuntungan besar.
Kesan yang paling releven dari maksud rahmatan lil alamin, ialah rangsangan Al-Qur’an yang amat kuat kepada umat manusia untuk terus mencari ilmu pengeta-huan, gejala-gejala alam yang terbentang luas merupakan rahasia-rahasia kebesaran Allah Yang Maha Berilmu dan Maha Pencipata, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS 3:190-191)’
Allah memang menampakkan Kemaha-Alimannya dengan dua kebenaran ilmu: berupa alam semesta yang terbentang luas sebagai guru, dan Al-Qur’n serta kitab-kitab lainnya yang diturunkan sebagai penerangan dan petunjuk. Pendekatan kepada iman adanya Pencipta yang Maha Agung, bisa dilakukan dengan metoda normatif deduktif, yaitu pengamatan, penelitian dan pengembangan hukum-hukum dan ketentuan yang sudah diungkapkan Al-Qur’an. Boleh juga sebaliknya yaitu dengan matoda empiris-induktif, yaitu pengamatan, penelitian terhadap gejala-gejala alam sebagai sumber penelitian, kemudian disusun teori. Antara pembuktian ilmu melalui dua cara ini tidak mungkin bertentangan, kerena keduanya baik Al-Qur’an yang merupakan pancaran ilmu Allah yang tertulis dan gejala alam sebagai sunnatullah juga adalah ilmu Allah. Ketidak-sesuaian ilmu pengetahuan manusia dengan apa yang tertulis dalam Al-Qur’an menunjukan bahwa pembuktian ilmu manusia itu belum benar dan belum final. Manusia dituntut terus untuk berusaha mencari ilmu sampai ia membuktikan bahwa Allah dan Al-Qur’an yang diturunkan-Nya itu adalah benar, “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap penjuru (alam), dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar, dan apakah tidak cukup Tuhanmu bagimu bahwa Dia sungguh menyaksikan segala sesuatu” ( QS 41 : 53).
Di dalam Al-Qur’an juga Tuhan menyeru, “Hai jemaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (QS 55: 33).
Seruan Allah kepada jin dan manusia itu merupakn tantangan dan sekaligus anjuran. Tantangan, ditujukan kepada siapa saja yang memperoleh penemuan-penemuan agar tidak lupa diri. Janganlah menganggap bahwa akal yang telah berhasil menemukan sesuatu penemuan baru itu dianggap segala-galanya. Lalu muncul sikap yang mendewa-dewakan akal, menafikan hal yang gaib, menjadi atheis. Para ilmuwan, tidaklah patut menepuk dada, lalu mengatakan, “Apa yang tidak dapat dibuktikan oleh pencaindra, atau tidak dapat diserap oleh akal fikirannya dengan mudah dikatakan tidak ada.” Ada memang sesuatu yang belum dapat dibuktikan oleh akal, akan tetapi isyarat-isyarat Al-Qur’an, sebagai ilmu Allah yang tertulis meyebutkan bahwa yang gaib itu mutlak adanya.
Semestinya, dengan semakin luas pengetahuan dan teknologi manusia, dia akan semakin mampu pula mengetahui tanda-tanda kekuasaan Allah. Di segala penjuru alam ini ada tanda-tanda kebesaran dan kebenaran-Nya, bahkan kebenaran itu dapat kita temukan pada diri kita sendiri, dengan banyak hal yang ajaib dan menakjubkan.
Memang diakui banyak sudah, ilmu manusia yang telah mengantarkan manusia ke jenjang kemajuan dunia. Baik mengenai manusia yang berilmu maupun orang-orang yang sedang mencarinya diangkat derajat mereka di tempat yang lebih terhormat, “Allah akan meninggikan orang-orang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 58:11).
Sebaliknya, bagaimanapun majunya ilmu pengetahuan dan teknologi manusia, belumlah seujung kuku dari keluasan ilmu Tuhan. Dia menggambarkan ilmu manusia dengan istilah ”Qalila” (sedikit). Wama uutiitum minal ’ilmi illa qalila (dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit) (QS 17:85). Sebaliknya Dia menggam-barkan ilmunya yang maha luas ibarat ditulis dengan tinta sebanyak laut yang ada, tak akan selesai ditulis, ”Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat (ilmu) Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)". (QS 18:109)
Kepicikan ilmu manusia ini bisa diukur dengan penciptaan yang sepele nampaknya. Bagaimanapun majunya manusia dalam ilmu kedokteran umpamanya, banyak sekali penyakit yang belum tersembuhkan, banyak sekali penyakit yang belum ditemukan obatnya. Dan bila ini lebih ditingkatkan, akan lebih besar tantangannya, sampai kini belum lagi ilmu kedokteran dapat menciptakan spare part pancaindera yang dapat setara dengan aslinya. Di bidang lain umpamanya: biologi, kimia, fisika dll, manusia belum lagi dapat menciptakan: sepucuk daun, seekor semut, atau seekor nyamuk sekalipun. Maka Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah daripada itu…” (QS 2:26).
Perumpamaan yang sepele itu sekaligus menantang manusia, bahwa apapun yang diperoleh manusia dalam ilmu pengetahuan itu, menggiringnya untuk tunduk dan patuh pada hukum Tuhan, baik barupa hukum tertulis maupun tidak tertulis. Meskipun demikian, dari perumpamaan-perumpa-maan yang Allah ciptakan di alam ini, ada kesempatan manusia untuk bebas tidak beriman kepada-Nya, dan ini dianggap sebagai penyimpangan dari fitrah manusia itu sendiri. Karena itu akibatnya pun biar ditanggung sendiri pula, ”Adapun orang-orang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: Apakah maksud Allah menjadikan ini sebagai perumpamaan? Dengan perumpa-maan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan banyak pula orang yang diberikan petunjuk. Dan tiada ada yang disesatkan Allah kecuali orang yang fasik.”(QS 2:26).
Orang-orang yang kufur yang tidak mengenal Tuhannya, adalah orang yang sebenarnya telah menyimpang dari fitrahnya. Fitrah manusia pada hakikatnya percaya akan Tuhan. Kafir atau kufur artinya manutupi, atau ingkar, karena ia telah menutupi fitrahnya dan menyelubungi dengan selubung kebodohan dan kepicikan akal. Al-Qur’an senantiasa menyindir orang-orang yang tidak beriman dengan suatu tanda tanya, “Apala Ta’qilun?” (apakah kamu tidak berakal?). Meskipun sebenarnya orang-orang yang disindir itu memiliki ilmu yang banyak. Zaman Jahiliyah, disebut demikian karena zaman itu kekufuran merajalela. Kufur itu adalah suatu kebodohan! Bahkan kebodohan yang sesungguhnya adalah kekufuran!
Pada semestinya kufur itu tidak perlu terjadi. Kufur adalah suatu kezaliman, bahkan kezaliman yang paling besar dan paling dimurkai. Yang demikian itu adalah karena makna kezaliman, meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya yang layak, atau menggunakan secara paksa sesuatu yang tidak sesuai dengan fitrahnya.

ATURAN MENAMPILKAN KEINDAHAN
Islam datang untuk mengatur atau menata seluruh hidup dan kehidupan manusia dengan sempurna. Dunia akan menjadi indah kalau manusia mau mengikuti peraturan-peraturan Allah dan Rasul-Nya berupa agama Islam. “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah (Islam)...”(QS 4:125).
Orang yang baik dan mantap agamanya, akan selalu patuh dan tunduk kepada peraturan-peraturan Allah dan berusaha menciptakan keindahan dengan selalu beramal baik. Karena memang, setiap yang teratur pasti terlihat indah. Kita lihat segala ciptaan Allah sudah teratur dan indah, “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.” (QS 67:3-4).
Manusia hendaknya tidak merusak keteraturan yang telah diciptakan Tuhan, sehingga hilanglah keindahannya. Keteraturan ciptaan Tuhan berupa alam semesta, diciptakan Tuhan jauh sebelum adanya manusia. Buat apa semua ini diciptakan? Menurut Penciptanya sebagaimana diungkapkan-Nnya dalam Kitab Suci, tidak lain kecuali untuk manusia. “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin...”(QS 31:20).
Agama (Islam) diturunkan agar manusia teratur hidupnya di tengah alam semesta ini, terlindung dan terjamin kemerdekaannya dalam 5 hal pokok, yaitu kemerdekaannya dalam menata hidupnya yang harmonis dengan Pencipta-Nya berupa aturan-aturan dalam berakidah dan beribadah. Maka segala yang merusak agama, merusak tauhid dan meninggalkan ibadah adalah haram hukumnya. Kedua, agar jiwanya terpelihara, supaya kehidupannya harmonis, damai, indah dengan sesamanya dan dengan lingkungannya. Manusia dilindungi jiwanya dengan diharamkan segala bentuk pembunuhan, menghilangkan jiwa, baik diri sendiri, maupun orang lain, kecil dan besar, pria dan wanita. Ketiga, agar manusia bebas melangsungkan keturunannya dengan disyari’atkan pernikahan, dan sebaliknya diharamkan segala bentuk perzinaan. Keempat agar manusia terlindungi kebebasan berpikirnya, sehingga dia dapat mengembangkan kreasi akalnya dalam menemukan ilmu pengetahuan, mengembangkan budaya dan peradaban dengan menciptakan alat dan teknologi. Dan kelima manusia terlindungi harta dan miliknya dengan berbagai aturan mengenai cara-cara memperoleh harta yang halal, dan sebaliknya dilarang memperoleh apapun secara batil dan aniaya.
Islam mengatur dan menata seluruh hidup dan kehidupan dengan sempurna, karena itulah Islam disebut agama kaffah, agama yang lengkap. Manusia diatur cara berpikirnya dengan akidah (tauhid) yang kuat, mengesakan dan beribadah hanya kepada-Nya, kemudian cara beraksi, berinteraksi dan berkreasinya, seperti: 1) Syahadatain, sebagai pondasi iman dan takwa, cara beribadah yang ditata dengan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. 2) Shalat sebagai tiang agama, kunci dan sarana berhubungan dengan Pencipta, alat dan sarana memohon kepada-Nya. 3) Shadaqah, baik yang wajib (zakat) maupun yang sunnat sebagai sarana atau aturan yang mengatur tata ekonomi, sarana menjalin hubungan sosial dengan sesama manusia, instrumen dalam membina kasih sayang antara yang mampu dengan yang tidak mampu. 4) Shaum (puasa), sarana pengaturan emosi dan nafsu yang tidak pernah puas. Dan 5) Haji dan Umrah, sebagai sarana pengaturan pergaulan umat manusia yang melahirkan persatuan dan kesatuan umat manusia di jagad raya ini.
Maka manusia yang tidak mau diatur adalah manusia sampah, itulah manusia pembangkang yang kufur, dan orang-orang kafir adalah calon penduduk neraka: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS 4:56).
Adapun orang yang mau diatur oleh Allah dan Rasul-Nya akan indah hidup dan kehidupannya dan nanti akan berada di syurga, itulah tempat orang yang beriman, yang bertakwa kepada Allah dan selalu berbuat kebaikan untuk menggapai ridha-Nya “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS 16:97).
Islam mengatur hidup dan kehidupan manusia mulai dari pribadi, keluarga, tetangga, masyarakat, bangsa, negara, ekonomi, politik, budaya, sosial, kesucian, disiplin, kemakmuran, keadilan, keselamatan di dunia dan akhirat.

MUSLIM ITU ADALAH BILA SELAMAT ORANG LAIN DARI LISAN DAN TANGANNYA
Ungkapan di atas meminjam kata Nabi. Beliau begitu sederhana melukiskan ciri seorang muslim. Dalam prilakunya yang pasif, muslim tidak menjadi bahaya bagi makhluk sekitarnya, utamanya bagi sesama manusia, juga bagi hewan, tumbuh-tumbuhan dan lingkungannya. Bukankah Islam itu sendiri antara lain berarti damai, selamat, dan sentosa? Dengan menjalankan Islam secara benar, seseorang bukan saja selamat dan damai dirinya sendiri, tapi dia juga membiaskan kedamaian dan keselamatan bagi sekitarnya. Kalau dia bicara, tutur katanya menyenangkan, sejuk-segar, enak didengar. Ungkapan-ungkapannya tidak membuat orang sakit hati atau tersinggung, meskipun kadang lucu dan menggelitik. Kalau dia berbuat, tak berbahaya baik lisan maupun tangannya.
Di waktu perang pun, Nabi mewanti-wanti, agar kaum muslimin tidak membunuh musuh yang menyerah, tidak boleh membunuh orang-orang lemah, orang tua, perempuan, dan anak-anak. Juga dilarang membumihanguskan perkampungan, tidak boleh menebang kayu dan pepohonan sembarangan, tidak boleh membunuh binatang tanpa gunanya. Mengapa? Karena Islam datang dengan damai, karena Islam menjadi rahmat bagi lingkungannya, menjadi pelopor kasih sayang bagi alam semesta. Islam bukan teroris, Islam tidak kejam dan beringas. Tuhan mengingatkan Nabi, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS 3:159). Kalau ada kekejaman, teror, dan pemaksaan yang dilakukan oknum yang mengatasnamakan Islam, apakah dia benar Islam, apakah dia benar-benar muslim? Cocokkah dengan ungkapan Nabi, “Muslim itu bila selamat orang lain dari lisan dan tangannya”?
Dalam sikapnya yang aktif, muslim senantiasa menampilkan kedamaian dan manfaat. Digambarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.
Untuk mengaca diri, apakah kita benar-benar muslim, lihatlah, apakah kata-kata dan perbuatan kita membiaskan kedamaian, bagi orang-orang di sekeliling kita, bagi benda-benda dan lingkungan sekitarnya?
Islam itu damai, apakah dia muslim kalau dia tak damai: dengan Tuhan, dengan manusia? dengan alam lingkungan sekitarnya?

MUSTAHIL DIA ISLAM KALAU DIA BOHONG
Saya tersentak ketika mendengar ungkapan ini dari mahasiswa-i peserta Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi (MPKT) Gd 605 FT UI 2008. Peserta mata kuliah ini terdiri dari mahasiswa-i pemeluk berbagai agama: Islam, Kristen, Protestan, Hindu dan Budha. Mengapa sanggahan ini muncul? Nampaknya seperti ungkapan pembelaan terhadap kemuliaan Islam agar terhindar dari pemeluk-pemeluk agama ini yang telah mencoreng nama baiknya.
Tapi kalau dikaji lebih dalam, agaknya benar juga. “Dapatkah dikatakan muslim jika ia bohong?” Malah kalau dikaitkan dengan peringatan Nabi, “Tiga tanda orang munafiq (yang di luar nampak beriman, tapi sesungguhnya di dalam tidak), yaitu jika bercerita bohong, jika diberi kepercayaan khianat, dan jika berjanji mungkir.” Bukankah ketiga hal ini intinya bohong? Pantaskah orang Islam bohong? Ataukah seseorang dapatkah dikatakan muslim kalau dusta?
Diceritakan, datang kepada Nabi seorang muallaf. Dia mengadu kepada Nabi serta memohon saran, “Ya Rasulullah, berilah saya nasehat, agar saya dapat meninggalkan maksiat, dapat melakukan ibadah dan amal shaleh.” Nabi bertanya, “Hal tu’ahiduni ‘an tarkil kadzibi?” (Apakah Anda mau berjanji kepadaku, untuk meninggalkan bohong?). “OK,” kata Muallaf itu. Lalu bertanya lagi, “Adakah nasehat yang lain ya Rasulullah?” Nabi mengatakan, “Tidak!”
Muaallaf itu pulang dengan gembira, dan berkata dalam hati, alangkah ringannya, dan alangkah sedikitnya syarat untuk menjadi orang baik.
Seperti biasanya, muallaf yang masih terbungkus oleh tindakan-tanduk jahiliyah ini, sewaktu-waktu akan berangkat merampok. Dia berpikir, bukankah saya telah berjanji kepada Nabi untuk tidak bohong? Kalau Nabi bertanya, apakah saya merampok? Jawaban yang benar, “Ya” dan karenanya tangan saya akan dipotong. Tapi kalau saya katakan, “Tidak”, maka saya bohong.
Setiap kali dia akan melakukan maksiat: mencuri, zina, judi, membunuh dan lain-lain, dia ingat janjinya kepada Nabi. Akhirnya, dia menekan kebiasaan jahiliyahnya, dan berangsur-angsur dia berubah, rajin mengikuti shalat jama’ah mendengar ceramah dan pengajian di Masjid Nabi.
Tak lama dari itu, dia telah menjadi orang alim, rajin bribadah dan giat melakukan dakwah. Meninggalkan bohong telah merevolusi pribadi sang muallaf.
Kini kita sudah lama Islam, bukan muallaf, sebagai muslim, masihkan kita terbiasa berkata dusta, tak mantang bohong, sehingga kita masih tergolong dari tiga tanda-tanda orang munafiq tadi? Dan karenanya, kita hendaklah menilik lagi kepada diri kita, kepada pribadi kita yang muslim ini, benarkah kita telah muslim? Takkah kita malu pada ungkapan mahasiswa itu, “Mustahil dia muslim, kalau dia bohong,” karena bohong adalah sumber dari segala sumber kejahatan. Padahal, muslim itu adalah sumber kebaikan, sumber kedamaian, sumber kesejukan bagi lingkungan sekitarnya bagi manusia dan kemanusiaan. “Bohong mungkin dapat mendatangkan keuntungan sementara, tapi sejarah mencatat hampir seluruh kebohongan berujung sangat menyedihkan.”

SUATU TANDA BAGUSNYA ISLAM SESEORANG ADALAH MENINGGAL-KAN APA YANG TIDAK BERGUNA
Baru-baru ini, masyarakat dihebohkan oleh fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang diharamkannya rokok. Fatwa yang kontroversial ini, telah mengundang banyak komentar di masyarakat. Pada berita-berita di koran, ada psantren-psantren bersama kiyainya malah menolak fatwa MUI tersebut. Seperti diketahui banyak Kiyai dan santrinya juga merokok. Masyarakat awam jadi bingung, karena selama ini, masyarakat tak mengerti perbedaan antara Kiyai dan Ulama, kalau dia Kiyai ya Ulama, kalau Ulama ya Kiyai. Tapi kok ada Kiyai yang menolak fatwa MUI, padahal dia sendiri adalah Ulama.
Dilihat dari segi ungkapan di atas, “Suatu tanda (bagusnya) Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak berguna,” kita jadi bertanya-tanya tentang rokok. Adakah gunanya? Adakah manfaatnya? Kalau seseorang mula pertama mengecap rokok, dia akan merasa pait, bahkan akan merasa pening di kepala. Tapi lama-lama, kalau sudah terbiasa, justru mulut akan terasa pait kalau tidak merokok, dan bahkan kepala akan terasa pening. Jadi merokok sesungguhnya adalah hanya soal kebiasaan, kenikmatan rokok dirasakan oleh orang yang telah terbiasa, bagi yang tak biasa, tak ada, tak ada manfaatnya, justru banyak sekali mudharatnya, banyak betul bahayanya. Dilihat dari segi manfaat, segi kegunaan, rokok tak ada, malah menurut kesehatan, banyak sekali penyakit-penyakit sampingan yang akan ditimbulkan oleh bahaya rokok. Maka, yang tak sanggup meninggalkan rokok, adalah termasuk yang tak kuasa meninggalkan hal yang tak berguna.
Kita dapat mengukur diri kita sampai dimanakah harkat dan martabat keislaman kita, akan nampak pada sebesar apa kita telah sanggup menyingkirkan hal-hal yang tak berguna, dan berlomba meraih, menciptakan, dan melakukan hal yang bermanfaat, bagi diri sendiri, bagi masyarakat, bagi manusia sebanyak-banyaknya
Di tingkat yang lebih tinggi, para sufi bertahun-tahun bertobat atas perbuatannya yang sejenak saja lengah melakukan hal yang tak berguna, berbuat sekecil apapun yang melupakannya dari mengingat Tuhannya.

LURUSKAN NIAT
Di dalam kehidupan sehari-hari kita menyaksikan manusia dengan aneka aktivitasnya, mulai dari subuh, seharian sampai tengah malam, tak henti-hentinya orang bergerak dan bekerja mencari kehidupan. Ibu-ibu sejak pagi menyiapkan segala sesuatunya untuk keluarga yang akan berangkat menunaikan tugas, ayah yang hendak bekerja, anak-anak yang hendak pergi sekolah dan kuliah. Pekerjaan ayah sebagai kepala keluarga yang menanggung nafkah keluarganya beraneka macam ragamnya, ada yang menjadi petani, nelayan, pedagang, karyawan swasta, wiraswasta, guru, dosen, pegawai negeri dan sebaginya. Semua nampak senang dan bahagia.
Kebahagiaan dan kesenangan itu tercermin pada wajah yang cerah dan senyum bila berjumpa dengan sesama, tegur sapa dengan sopan dan santun. Kita dapat melihat apa yang terlahir di dalam tingkah laku, di dalam kehidupan sehari-hari.
Yang terlahir itu biasanya menunjuk apa yang tertera di dalam, di lubuk hati yang menjadi motivasi, yang menjadi penggerak dari anggota dan indera. Kalau di dalam keruh, rusuh perasaan, gundah resah karena sesuatu, kusutlah muka, kasarlah tutur kata. Kadang kita menemukan orang serupa ini, meski nampak ia menekan, namun perasaan di dalam itu kadang tak tertahan, mengemuka pada pada muka.
Apa yang menjadi rahasia? Itulah hati, yang menjadi tolok ukur Tuhan dalam menilai. Tuhan memandang manusia bukan saja dari gerak tingkah lahir, tapi jauh mencarinya ke lubuk hati. Dalam agama gerak di dalam yang menggerakkan luar itu disebut niat. Niat baik yang diikuti dengan aplikasi akan dinilai dengan kebaikan sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat atau berlipat-lipat tiada batas. Tapi kalau niat itu tidak terlaksana akan dinilai juga dengan satu kebajikan. Namun bila seseorang berniat akan berbuat yang buruk tapi tidak terlaksana, dia tidak ditulis apa-apa, sedang yang melaksanakan niatnya akan dibalas setara dengan keburukannya. Itu ajaran dalam agama.
Begitu pentingnya niat, maka para ulama bersepakat, bahwa nilai suatu perbuatan senantiasa diukur dari niatnya. Kesepakatan itu berpedoman pada sabda Nabi, “Sesungguhnya perbuatan itu dinilai menurut niatnya.”
Karena itu dalam bekerja, dalam melakukan berbagai aktivitas, hendaklah bertolak pada niat. Luruskanlah niat. Niat yang lurus adalah sesuai dengan apa dan ke mana tujuan hidup. Tujuan hidup muslim adalah mencari keredhaan Tuhan, mengharapkan kerelaan-Nya, dengan meniatkan segala aktivitas untuk mengabdi, atau beribadah semata kepada-Nya. Karena itu di dalam memulai sesuatu pekerjaan, lisan mengucap, ”Bismillahirrahmaanirrahim,” dan di dalam hati menyengaja untuk melakukan pekerjaan itu dengan niat lillahi Ta’ala. Maka selalu kita dapatkan dalam ibadah; shalat, puasa, haji dsb rukun pertamanya adalah niat. Kalau niat tidak ada, apalagi kalau niat sudah salah, lain di luar lain di dalam, maka pekerjaan yang sepintas nampak baik, bila didorong oleh niat buruk, hasilnya akan buruk pula. Ibadah tersebut tidak dihitung atau tidak sah. Begitu juga jika niatnya salah, salah pula hitungannya. Jadi shalat, puasa, haji, kalau niatnya bukan karena Allah, maka termasuk sia-sialah ibadah itu. Sebaliknya, pekerjaan-pekerjaan biasa, makan-minum tidur, bekerja mencari rezeki, dan belajar umpamanya, adalah dihitung ibadah jika diniatkan karena Allah, niat hanya mengharap kerelaan-Nya.

CARILAH ILMU SEBELUM BEKERJA
Ilmu dan amal erat sangat kaitannya. Tanpa ilmu orang bekerja ibarat orang buta yang mencari-cari jalan, meraba-raba ke sana ke mari. Ia kalau tak tersesat, bisa sampai ke tujuan dalam waktu yang lama, malah boleh jadi tak dapat mencapainya.
Berilmu tanpa amal juga ibarat pohon tanpa buah. Tapi yang biasa adalah pohon yang bagus rindang dan rimbun karena subur. Tumbuh di tanah yang pas dengan tanaman. Begitu juga suatu pekerjaan, akan berhasil baik jika dikerjakan oleh orang yang berilmu, yang sesuai ilmu dengan apa yang dilakukan. Tak usahlah yang rumit, kita lihat hal-hal yang sepele saja, seperti memasak umpamanya yang dilakukan oleh ibu-ibu setiap hari di dapur, tentulah beda rasanya, masakan orang yang asal masak dengan masakan orang yang memasak dengan ilmu dan ketrampilan. Masakan mereka, enak dan lezat, karena dibuat dengan bumbu-bumbu yang cocok, tepat ukurannya: asin, manis, pedas, asam, dan aroma yang semerbak, karena dilakukan dengan berdasarkan ilmu.
Islam sesungguhnya suatu agama yang amat menjunjung ilmu, dan amat menghargai kemudahan. Nabi, kalau menghadapi suatu pekerjaan, sedang pekerjaan itu bisa dilakukan dengan dua cara, atau beberapa cara, dia memilih yang termudah. Beliau juga mengatakan bahwa ada pekerjaan-pekerjaan, ucapan-ucapan yang ringan di lisan tapi berat ditimbangan, seperti ucapan: “Subhanallah wal hamdulillah walailah illallah wallahu Akbar.” Sebaliknya ada pekerjaan-pekerjaan yang berat dilakukan tapi nilainya setara atau lebih kecil dari pekerjaan yang sama dilakukan dengan cara yang lebih ringan. Shalat zhuhur qashar (4 rakaat menjadi 2 raka’at) umpamanya, ketika dalam musafir lebih ringan dari shalat 4 raka’at, tapi nilainya setara dengan 4 raka’at.
Bagaiman mengetahuinya, bagaimana caranya? Tentulah ini dengan ilmu. Maka Nabi mengatakan, tidurnya orang yang berilmu (alim) lebih baik dari ibadahnya orang bodoh. Maksudnya, orang berilmu, tidak tidur asal tidur, dia tidur terlebih dahulu membaca doa, dan malah orang-orang alim, meski matanya tidur tapi kalbunya bangun, tak henti mengingat Allah. Sedang orang bodoh, kadang ibadahnya tak benar, syarat dan rukunnya tidak terpenuhi. Dalam melakukan apa saja, ilmu amat penting, maka lakukanlah segala pekerjaan dengan berdasar ilmu, agar apa yang kita kerjakan tidak serampangan, tidak asal-asalan.
Ilmu dapat diperoleh dengan mencarinya. Istilah Arabnya, “Thalabul ilmi”. Thalab artinya mencari atau Smenuntut. Mengapa ilmu harus dicari? Karena, ilmu tidak bisa datang sendiri. Tidak bisa anak minta carikan kepada orang tuanya, dan orang tua juga tak bisa minta kepada anaknya untuk mencarikannya ilmu. Maka orang tua yang tak mau mencari ilmu akan tetap bodoh, dan anak-anak akan terbawa bodoh kalau tak mau belajar.
Secara primitif, manusia mendapatkan ilmu dengan belajar kepada alam. Konon, ketika seseorang anak Adam, bingung bagaimana memperlakukan saudaranya yang telah meninggal, dia melihat burung gagak menguburkan bangkai anaknya, maka tahulah si manusia purba ini caranya menguburkan saudaranya.
Selanjutnya banyak hal dapat dipelajari dari alam lingkungan. Ketika manusia-manusia purba ingin memakan sesuatu entah daun, buah, atau umbi-umbian, mereka lihat terlebih dahulu hewan, bagaimana caranya, dan dari hewan-hewan itu manusia belajar apakah sesuatu boleh dimakan atau tidak.
Manusia juga belajar umpamanya kepada kijang bagaimana berlari kencang, kepada harimau melompat cepat, kepada kera meloncat dari dahan ke dahan, kepada kura cara menyelam, kepada buaya cara berenang dsb.
Belajar adalah salah satu bentuk dari cara mencari ilmu, dan intinya belajar adalah membaca. Maka wahyu pertama yang diterima Nabi, bukanlah shalat, atau ibadah lainnya, melainkan suruhan membaca, “Iqra’”

KALAU ANDA BERILMU DAN MENGGUNAKAN ILMU ANDA ITU SEBAIK-BAIKNYA, ANDA TAKKAN TERSESAT
KH. Iman Zarksyi, Kiyai kami di Gontor dulu, sering sekali mengungkapkan kata-kata di atas setiap kali kesempatan, dalam pidato-pidatonya, dalam pertemuan-pertemuan dengan santrinya. Karena itu, tambahnya, “ Di sini, di Gontor, carilah ilmu sebanyaknya-banyaknya, di sini tempat thalabul ilmi. Jangan pikirkan mau mendapat ijazah atau tidak, mau kerja dimana, mau jadi apa dsb. Kalau Anda benar-benar berilmu buat apa ijazah. Ijazah bisa dibuat sebanyak-banyaknya, tapi kalau tidak punya ilmu apa gunanya.”
Pada tahun 1973 saya ikut kursus mengetik yang diselenggarakan Bagian Sekretariat OPPM. Rencananya peserta mengetik itu akan memperoleh ijazah negara. Tapi setelah minta izin ke Kiyai, Kiyai tak memberi. Alasannya ya itu tadi, kalau Anda benar-benar trampil mengetik, dengan kecepatan tinggi sepuluh jari, bisa pejam mata, buat apa ijazah. Daripada ijazah ada, tapi mengetik lambat, dengan sebelas jari lagi.
Tuhan dalam Kitab Suci memuji orang beriman dan berilmu, “...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat...” (QS 58:11). Pujiannya bukan kepada orang bertitel, atau pemilik ijazah, bukan pula kepada Kiyai atau Professor. melainkan kepada orang berilmu dan beriman. Nabi juga menekankan, “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahad,” – “Menuntut ilmu kewajiban bagi muslim laki-laki-laki dan perempuan.” Dan Saiyidina Ali ditanya oleh para pendeta, apakah kelebihan ilmu dari harta. Sepuluh pertanyaan yang sama diajukan oleh sepuluh pendeta dijawab Ali r.a. dengan jawaban berbeda. Ali, mengatakan, seribu pertanyaan sama diajukan kepadanya tentang ini, akan dijawabnya dengan jawaban berbeda. Dia mengatakan salah satunya, kalau harta diberikan berkurang, tapi kalau ilmu diberikan akan bertambah. Harta harus dijaga pemiliknya, tapi ilmu menjaga pemiliknya.
Ilmu wajib kita cari sebanyak-banyaknya, sepanjang umur kita tak boleh berhenti menuntutnya. Dan jika kita telah berilmu, apapun jenisnya, apapun disiplinnya, kita gunakan dengan sebaik-baiknya, jangan khawatir kita tak bisa menempuh kehidupan, jangan khawatir tidak mendapat pekerjaan, justru dengan ilmu yang kita miliki, kita bisa menciptakan kerja sendiri, malah dapat pula menciptakan kerja buat orang-orang di sekitar kita, buat orang lebih banyak lagi. Itulah salah satu bentuk ilmu yang bermanfaat.

TIDAK SAMA YANG BERILMU DENGAN YANG TIDAK BERILMU
Ungkapan di atas sesungguhnya meminjam kata-kata Tuhan. Dialah yang mengatakan ini, "...Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS 39:9).
Kita sering terkicuh dengan kata-kata orang yang nampak sekilas benar adanya, “Buat apa sekolah tinggi-tinggi, buat apa jadi sarjana kalau akhirnya nganggur juga.” Apa yang salah di sini, sekolah tinggi-tinggi, ataukah jadi sarjana yang menganggur? Banyak hal umpamanya yang telah salah kaprah. Pertama, kita biasa berpendapat, seseorang belum bekerja, masih menganggur, kalau belum bekerja menjadi pengawai atau karyawan. Kedua, perusahaan-perusahaan, atau lembaga-lembaga penerima tenaga kerja, akan menerima kalau calon karyawan itu yang sarjana dan telah berpengalaman, padahal si sarjana dituntut cepat-cepat selesai khusus belajar saja di Perguruan Tinggi agar cepat bekerja. Ketiga biar dia memiliki keterampilan yang sesuai dengan kerjanya kalau belum sarjana tidak akan diterima.
Sebenarnya yang benar, bukan sekolah tinggi-tinggi dan menganggur yang menjadi ukuran, melainkan benarkah seseorang itu telah berilmu atau tidak. Sekolah tinggi dan memiliki gelar belum menjadi jaminan orang dapat memperoleh ilmu yang banyak. Sebaliknya kalau seseorang telah berilmu meski tak sekolah, dan dia amalkan ilmunya, dia pasti berguna, dia pasti berbeda dari yang tidak brilmu. Maka Nabi meminta tentang masanya tidak terbatas, “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahad.” Dan tentang tempatnya, di mana saja, “Tuntutlah ilmu meski di negeri Cina.”
Ilmu akan didapat dengan belajar keras, dengan rajin, sungguh-sunguh dan tekun. Ujian-ujian yang dilaksanakan oleh lembaga pendidikan adalah sebagai sarana agar ilmu anak didik meningkat. Itu kalau anak didik benar-benar belajar sehingga ilmu didapat, nilai pun bagus. Tapi kalau si anak didik (mahasiswa atau siswa) tak mau belajar sungguh-sungguh, hanya ingin nilai yang bagus, sehingga menyontek, maka mungkin dia akan lulus dengan menggondol ijazah, tapi ilmu tak punya. Inilah yang mungkin akan menjadi calon-calon penganggur. Ketika mencari kerja dia akan kesulitan, karena apa? Karena mungkin tak bisa lulus ketika dites. Tapi kalau dia benar berilmu, tak jadi masalah walau dites. Dan kalau tak berhasil bekerja di kantor atau jadi karyawan, mengapa mesti repot. Bukankah tidak sama orang berilmu dengan yang tidak?
Banyak kita temui di Jakarta, orang-orang datang dari kampung tak membawa apa-apa, malah ada yang bercerita hanya membawa sebuah palu. Dengan ilmu dan keterampilannya menukang, tak henti-hentinya dia memperoleh pekerjaan. Meski dengan gaji yang kecil tapi dengan prihatin dan hemat, akhirnya dia dapat bebas dari ngontrak dan bisa memiliki rumah sendiri.
Di tahun 1984-an saya ke Kantor Majalah Panji Masyarakat di bilangan Grogol menemui Sirajuddin AR, kawan saya di Gontor dulu. Di situ saya bertemu pula Afif Hamka juga alumni, dia bertanya apa kabar saya. Saya katakan masih mencari-cari kerja. Maksud saya ingin juga berkerja di Majalah itu. Afif malah mengatakan, “Wah kalau ini,” sambil menunjuk Sirajuddin, “Dia dikejar-kejar kerja.” Sirajuddin memang banyak betul pekerjaannya, antara lain saya dengar dia baru menyelesaikan penulisan teks Al-Qur’an tafsir Kitab Mulia oleh HB Yasin, dengan honor Rp 3juta (catatan: waktu itu ongkos buskota Rp 100,-.
Saya tersentak, Sirajuddin dengan ilmu dan ketrampilan tangannya yang kecil, menghasilkan karya-karya besar kaligrafi. Dia benar-benar berilmu, yang didapat dari bakat dan terus diasah, dilatih dan ditekuni sehingga menjadi besar dan bertaraf internasional. Ketika saya menyaksikan pameran kaligrafinya, yang paling kecil berharga Rp2.5juta, dan yang besar ada yang Rp 30juta.
Saya pikir, bukankah kami sama-sama di Gontor? Sama-sama memiliki ilmu dasar yang sama, hanya mungkin bakat berbeda yang bisa diasah, dilatih, dikembangkan, dan ditekuni. Saya punya kesenangan menulis, mengapa tak saya kembangkan?
Sirajuddin mendorong saya untuk terus mengembangkan bakat. Atas bantuannya saya dapat berhubungan dengan Penerbit Indrajaya di Tanahabang. Dan terbitlah buku saya, “Orang-orang Terkenal dari Abad ke Abad” meski buku itu saya jual lepas Rp100ribu.
Dan setelah itu saya mulai sadar, kalau saya benar berilmu, mengapa repot mencari kerja? Bukankah saya sarjana? Syari’ah dan Publistik. Sementara belum memperoleh kerja tetap, saya akan mempraktekkan ilmu saya. Dalam suatu pelajaran di pulisistik, semua yang kita lihat dapat menjadi berita, dan dengan ketrampilan memakai pena, banyak hal dapat disulap menjadi duit.
Wah, bukan main. Saya mulai dikejar-kejar kerja, dikejar target. Selain menulis di koran, setiap minggu saya dapat menghasilkan satu naskah cerita. Zaman Buku Inpres, banyak penerbit kambuhan, maka setiap naskah cerita banyak yang mau terima dengan uang muka Rp75.000. Cukup untuk hidup sebulan. Di bulan puasa 1985 ada 4 tulisan di koran @ Rp35.000,- dan beberapa naskah cerita @ Rp70.000. Lumayan meski rumah masih ngontrak, tapi dapat turut berbahagia menyambut lebaran.
Setelah saya menjadi dosen UI, Bapak Prof. Daud Ali, pimpinan kami melihat saya ada bakat menulis kaligrafi. Maka ketika ada lomba kaligrafi di DKI, saya diutus. Wah, saya jadi malu, yang menjadi juri adalah Sirajuddin. Dia tersenyum melihat kerjaan saya. Mengapa? Entahlah. Sirajuddin malah menyarankan, kursuslah! Dimana, tanya saya. Di Lemka, katanya, Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an yang dia pimpin. Maka saya mengikuti kursus di situ pada tahun 1987 untuk tingkat dasar dan saya lanjutkan pada tahun 1998 untuk tatawarna. Yang mengajar mahasiswa lulusan Lemka. Tak mengapa, bukankah belajar tak kenal umur, dan guru-gurunya jauh lebih muda. Selain mendapat sertifikat Lemka, hasilnya, ada sekitar 30 kaligrafi karya saya yang sudah laku terjual, dan berapa banyak lagi saya hadiahkan.

UNTUK MEMPERMUDAH CIPTAKAN ALAT
Salah satu perbedaan manusia dengan hewan dan makhluk lainnya adanya akal. Manusia memiliki akal, dan dengan akalnya makhluk ini dapat merumuskan apa yang dia lihat, dengar dan alami menjadi suatu ilmu.
Pengalaman-pengalaman menjadikan manusia dapat meningkatkan diri, apa yang baik dan menguntungkan dia lakukan lagi, tapi yang buruk yang menyakitkan sekali ia mencoba, tak lagi diulangi.
Dari pengalaman-pengalaman itu diciptakanlah alat untuk memudahkan. Ketika seseorang, atau dia dengan rombongan keluarganya menyeberang di kali kecil, turun ke jurang, naik lagi ke tebing, setelah berulang-ulang dirasakan betapa sulitnya. Dengan akalnya dia berpikir, alangkah baiknya jika dibuat jembatan, maka dibawalah sebungkah kayu atau bambu ke situ, dan mereka meniti dengan cepat.
Kalau sungainya lebar, tak mampu membuat jembatan, mereka berpikir alangkah baiknya jika menyeberang dengan sesuatu yang mengambang di air. Mulanya mereka menunggangi sepotong batang, atau bambu, dan selanjutnya dalam perkembangannya disusunlah beberapa bilah bambu menjadi rakit, yang dapat dinaiki beberapa orang.
Pada mulanya orang-orang purba hidup amat tergantung pada pemberian alam lingkungan. Mereka tak banyak berpikir untuk hidup lebih maju. Makan, cukup memetik daun-daun, buah-buah yang tumbuh liar di hutan. Semua makanan mereka santap serba mentah, belum ditemukan cara memasak.
Berabad-abad kemudian baru diketahui bagaiman memantik api, dengan memukulkan dua benda yang keras, batu dengan batu umpamanya. Setelah ditemukan api, manusia purba mulai memakan hewan, dan ikan dengan cara membakar atau memanggangnya di atas bara, belum ditemukan bagaimana memasak air, karena tidak ada alat. Alat yang ditemukan pertama untuk memasak, terbuat dari tanah, dan setelah proses panjang berlalu, ditemukan alat-alat dari perunggu, kemudian besi, aluminium dst.
Di antara orang-orang kuno itu, tampil orang cerdas sebagai pemikir, dan orang kuat sebagai pemimpin. Manusia makin banyak, persaingan muncul antara manusia dengan hewan, kemudian antara manusia dengan manusia. Karena persaingan itu, kehidupan tak bebas lagi untuk mencari hutan dan kemakmuran alam dengan berpindah-pindah. Tak pula dapat hidup beratap gua, kemakmuran di sekitarnya mulai berkurang. Pemimpin yang kuat dan orang cerdas berpikir keras, bagaimana bisa hidup menetap di tempat yang makmur tanpa berpindah-pindah? Maka dibangunlah tempat berteduh sederhana, berupa gubuk kecil dengan tonggak-tonggk tinggi agar terhindar dari terkaman binatang buas, dan bahaya gempa. Mereka mulai berpikir bagaimana mengembangkan hewan dengan berternak, dan mengembangkan buah dan sayur dengan berkebun dan berladang.
Air sebagai sumber kehidupan adalah kebutuhan utama. Maka kita lihat perkembangan pemukiman selalu dimulai dari sekitar kali, danau, atau pantai.
Alat-alat satu persatu ditemukan, utamanya alat-alat pertanian, seperti kapak, golok, arit dan cangkul. Alat memasak, seperti piring, periuk dan wajan. Kemudian alat untuk senjata, seperti tombak, panah untuk berburu, dan senjata untuk mempertahankan diri dari serangan hewan dan manusia.
Dengan alat kita menjadi mudah. Dulu alangkah sulitnya kita melihat waktu. Waktu zuhur umpamanya, adalah ketika tergelincir matahari di siang hari. Kalau cuaca bagus tidak masalah, tapi kalau mendung sejak pagi, bagaimana melihat matahari? Menentukan awal bulan juga dengan melihat posisi hilal. Kalau hilal, atau bulan tsabit tak nampak kita akan sulit. Tapi kini, dengan ilmu falaq yang sudah maju, dengan alat dan teknologi yang canggih, semua bisa diketahui dengan mudah, tanpa melihat langsung pada peredaran matahari dan bulan, alat telah membantu kita mengetahui waktu dan menentukan arah.
Ketika oleh Tuhan dalam Al-Qur’an kita dipanggil untuk berhaji, supaya kita datang dengan jalan kaki dan naik onta, alangkah sulitnya (Lih. QS 22:27). Bagaimana pula kita yang berada di seberang. Kapankah kita akan sampai ke Makkah, dengan jalan kaki atau menunggang onta? Maka alat transportasi telah membantu kita, onta telah diganti dengan garuda, jalan kaki bisa diganti dengan kapal laut dsb.
Tapi adakah kita telah menciptakan alat? Sekecil apapun alat yang kita temukan, yang kita ciptakan untuk manfaat bagi manusia, akan membuahkan pahala amal shaleh yang tak henti-hentinya, bak buah yang tak mengenal musim, bak sungai yang airnya terus mengalir.
Orang-orang besar penemu alat, mereka mulanya kecil tak dikenal, malah ditertawakan ketika mereka gagal. Coba kita baca riwayat mereka yang terukir dengan tinta emas namanya dalam sejarah perdaban manusia, penemu-penemu dan pencipta: jam, telegraf, telepon, radio, pena, kertas, mesin tik, mesin cetak, komputer, roda, sepeda, grobak, sepeda motor, mobil, kereta api, kapal api, kapal terbang, dan kini faksimil, hp, internet, cetak jarak jauh. E-mail, E-book, dsb.
Kalau orang-orang besar dan berjasa itu tidak bekerja keras, alangkah sulitnya kita sekarang ini. Dengan ditemukan roda umpamanya, kita dapat menempuh jalan berkilo-kilo meter hanya beberapa menit, yang dulu bisa dengan berhari-hari dengan jalan kaki. Yang dulu dengan surat, berita mahasiswa ke ayahnya di kampung bisa memakan waktu sebulan, kini dengan sms di hp hanya memerlukan waktu beberapa detik.

MESKI ANDA MERASA MAMPU UNTUK MELAKUKAN SESUATU JANGANLAH LUPA BERDOA
Berdoa adalah salah satu sarana menjalin hubungan dengan Tuhan, kalau hubungan dengan-Nya terputus, ingat peringatan-Nya, “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah.” (QS 3:112).
Berdoa bukan saja pengakuan ketidakmampuan kita sebagai makhluk yang lemah di hadapan Tuhan, tetapi juga merupakan ibadah, malah dikatakan dalam hadits sebagai mughghul ibadah (otak atau inti ibadah). Bukankah bacaan-bacaan dalam shalat juga penuh dengan doa?
Dalam berdoa, kecuali mengharap rahmat, berkah, dan ridha-Nya, kita bebas memohon kepada-Nya apa saja untuk kepentingan dunia dan akhirat. Jangan khawatir, Dia tak mengabulkannya, karena Dia sendirilah yang menjanjikan, “Berdoalah niscaya akan Aku perkenankan (QS 40:60). Janganlah khawatir Dia akan kehabisan kalau kita banyak meminta kepada-Nya, karena Dia Maha Kaya dan Maha Pemilik segala yang ada di alam ini.
Jangan pula kita meninggalkan berdoa karena merasa mampu melakukan sesuatu. Karena merasa kuat fisik, dan otak cerdas, karena merasa banyak duit dan punya alat canggih. Banyak hal yang kita anggap sepele ternyata sulit terlaksana. Tetapi, banyak urusan yang nampaknya sulit, dapat kita atasi dengan kerja keras, dan pertolongan-Nya, karena sebagai orang beriman kita mesti mengakui, “La haula walaa quwata illa billahil ‘aliyil azhiiim.” (Tiada daya upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia).
Itulah sebabnya kita selalu diwanti-wanti, bacalah “Bismillah” sebelum bekerja, “Menyebut nama Tuhan adalah juga doa, agar Tuhan tidak meninggalkan kita sendirian, agar Dia menolong kita dalam kesulitan. Karena menurut Nabi, siapa yang mengerjakan sesuatu yang tak dimulai dengan “bismillahirrahmanirrahim” akan terputus, akan terputus keberkahannya, dan mungkin juga akan terputus rangkaiannya sehingga tujuan tak tercapai dan gagal.
Berdoa boleh dengan kalimat-kalimat yang ada dalam Al-Qur’an seperti dengan Al-Fatihah. Bukankah Nabi mengatakan bahwa sebaik-baik doa adalah Alhamdulillah, padahal kalimat tersebut ada dalam Al-Fatihah. Juga dalam Al-Fatihah ada kata “Iaka na’budu wa iyaka nasta’in” (KepadaMu kami menyembah dan kepadaMu pula kami mohon prtolongan).
Dalam memohon doa, seperti kata Hamka, kita harus cerdik, maksudnya, tau diri, dan yakin akan pertologan-Nya, karena itu kita tidak boleh mendekte-Nya, memohon sekarang-sekarang juga harus dikabulkan, besar kecilnya sudah ditentukan, umpamanya saya minta uang sekarang juga sekian juta dsb.
Ingat doa Nabi Yunus ketika dia dalam perut ikan. Tak ada kalimat meminta dalam doanya, “Tiada Tuhan melainkan Engkau, Maha Suci Engkau, sesunguhnya aku termasuk orang yang aniaya.” (QS 21:87). Berdoa boleh pula dengan membaca Ayat Kursi, Yasin dan sebagainya. Coba kita simak betapa tingginya arti dan besarnya doa yang dapat kita sampaikan kepada Tuhan dalam Ayat Kursi, “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS 2:255).

SEKECIL APAPUN YANG ANDA LAKUKAN ANDA AKAN MENDAPAT-KAN BALASAN-NYA
Ini sebenarnya bagian dari inti iman. Kita yang beriman harus yakin bahwa Tuhan melihat dan mencatat apa saja perbuatan kita. Ungkapan ini sudah biasa kita dengar, mudah pula kita ucapkan, ibaratnya sudah di ujung lidah. Tapi, cobalah kita tilik dalam-dalam kepada sanubari kita, pada hati kecil kita, ke dalam lubuk kalbu yang dalam, ke dalam fuad kita yang tak pernah dusta, seberapa besarkah kita percaya hal ini. Kalau kita sungguh-sungguh percaya, tidaklah kita akan berbuat yang tidak berguna, tidaklah ada kita yang berbuat buruk, karena kita yakin pasti buruk pula yang akan kita terima. Siapakah dari kita yang ingin memperoleh hal yang buruk?
Di waktu kecil saya pernah mendengar guru saya di SR, guru Badri, dia mengatakan, kalau kita menemukan sesuatu barang milik orang lain, kita ambil dan kita tidak berusaha mengembalikannya kepada si empunya, malah mengambilnya untuk dimiliki sendiri, pastilah kita akan kehilangan sesuatu yang nilainya sama atau lebih, tapi biasanya lebih besar.
Nah ini kalau menemukan, bagaimana kalau mengambil dengan mencuri, dengan menipu, dengan korupsi, dengan cara yang lebih halus atau lebih kasar lagi. Balasannya pasti! Sebaliknya, kalau kita pernah menolong orang lain, sekecil apapun, nanti suatu waktu kita akan mendapatkan balasannya, mungkin kita akan ditolong orang yang pernah kita tolong, mungkin orang lain yang akan menolong kita, bisa sama bentuk pertolongannya, bisa pula berbeda, tapi nilainya minimal sama, dan boleh jadi lebih.
Di dalam setiap agama hal ini dipercaya. Pada suatu agama disebut karma, yaitu suatu kepercayaan bahwa segala pekerjaan dan perbuatan pasti akan mendapat balasan yang setimpal. Ibaratnya kalau kita melakukan plus 1 kita akan mendapatkan plus 1 itu mungkin spontan, mungkin nanti, dan mungkin pada masa nanti lebih lama lagi, tapi itu pasti. Begitu sebaliknya, kalau kita melakukan minus 1 maka kita akan dapatkan minus 1 itu mungkin sekarang, mungkin nanti, tapi itu pasti.
Apakah Anda percaya ini, apakah kita yakin ini? Apakah juga orang tua kita, guru kita mengajarkan ini. Keyakinan bahwa sekecil apapun yang kita lakukan akan mendapatkan balasan? Kalau kita percaya sungguh-sungguh akan hal ini pastilah tidak ada yang koruspi, tidak ada maling, dan tidak ada yang berbuat jahat. Karena, tidak adalah kita yang ingin rugi, yang mau mendapat hal yang buruk apalagi lebih buruk lagi dari yang telah kita perbuat. Padahal, inilah kata-kata Tuhan yang amat dahsyat, amat logis dan amat adil dan bijak “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS 99:7-8).
Suatu ketika Jibril datang kepada Nabi dan mengingatkannya, “Anda boleh hidup sesuka Anda tapi ingat Anda pasti akan mati, Anda boleh mencintai sesuatu sesuka Anda, tapi ingat Anda pasti akan berpisah dengannya, Anda boleh berbuat sesuka Anda tapi ingat perbuatan Anda pasti akan ada balasannya...” (HR. Baihaqi dari Jabir).

KALAU ANDA MELAKUKAN LEBIH DARI YANG SEMESTINYA ANDA LAKUKAN ANDA AKAN MENDAPATKAN KELEBIHAN ITU
Sering kali kita berhadapan dengan tugas-tugas. Tugas-tugas itu kita lakukan apa adanya, sekedar memenuhi tugas, kita telah terbebas, dan di luar tugas, meski itu baik, bermanfaat, buat apa melakukannya? Toh kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Ini kebanyakan dari prinsip kerja kita, mau mengerjakan sesuatu kalau jelas imbalannya di depan mata. Dalam tugas sehari-sehari, sering kita segan memberikan pelayanan, pertolongan atau apapun di luar yang semestinya kita lakukan. Pekerjaan selalu kita ukur dengan imbalan yang mesti kita terima, bila perlu yang spontan, yang instan, sehingga kalau tak jelas apa imbalannya, kita segan pula melakukannya. Padahal, tidakkah kita percaya, bahwa apa saja yang kita lakukan akan mendapatkan balasan. Jangan khawatir kita akan merugi melakukan sesuatu (yang baik) lebih dari yang mesti kita lakukan. Hal ini sesungguhnya juga bagian dari iman, karena Tuhanlah yang mengatakan bahwa dia tidak akan menyia-nyiakan segala amal umat-Nya, “Masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).“ (QS 2:281.
Nabi mengingatkan, “Janganlah Anda angkuh terhadap kebaikan, walau sekedar Anda menuangkan air dari timbamu ke dalam bejana orang lain, atau sekedar Anda tersenyum, berwajah ramah terhadap orang yang Anda jumpai.”
Di kereta atau bus umum, ada pemuda-i, pelajar atau mahasiswa-i yang masih kuat berdiri, duduk dengan manis di kursi, padahal ada orang-orang tua, ibu yang menggendong anaknya yang berdiri dengan lunglai di depannya. Tidakkah ada ketulusan untuk memberikan kursinya kepada mereka yang nampaknya lebih pas untuk duduk dari orang-orang muda yang masih kuat berdiri ini. Di zaman yang serba diukur dengan imbalan materi yang serba instan ini, kita sering berpikir, apalah gunanya berpayah-payah berdiri untuk menolong orang-orang yang tak dikenal, kalau kita bisa duduk dengan santai? Masihkah kita tidak percaya, bahwa kebaikan yang kita lakukan sekecil apapun pasti akan mendapatkan imbalan? Kalau kita melakukan yang lebih dari yang mesti kita lakukan, kita akan mendapatkan kelebihan itu.
Baru-baru ini (Maret 2009), saya, isteri dan dua anak saya ke kota Malang. Dengan taksi tengah malam kami mencari rumah saudara. Supir taksi yang membawa kami ke tempat yang masih asing bagi kami ini begitu ramah, tidak mau melepas kami sampai tuntas kami menemukan apa yang kami tuju. Hati kami bahagia, bersyukur atas kebaikan supir taksi ini. Isteri ketika membayar, memberi tambahan dari ongkos yang semestinya, dan saya dengan suka pula menambahkan lagi uang tip lain, karena kami sangat berterima kasih atas kebaikannya. Ini mungkin balasan spontan dari suatu kebaikan sang supir yang mungkin melakukannya tanpa pamrih.
Suatu ketika lagi, saya berkunjung ke rumah saudara di Semarang. Ketika pulang saya kesulitan memperoleh kendaraan umum, setiap yang lewat sudah penuh. Akhirnya, saya menyetop ojek. Setelah saya tanyakan berapa ongkosnya, dia mengatakan bahwa dia bukan tukang ojek, tapi dengan sukarela membawa saya dari bukit Manyaran ke simpangan Kalibanteng. Dalam obrolan di jalan dia mengatakan bahwa dia adalah anggota Brimob yang tinggal di Ngalian. Saya mengucapkan terima kasih kepadanya sambil memberi dia kartu nama dan menawar-kan kepadanya mampir jika ke Jakarta.
Di dalam perjalanan, saya berpikir, kok persis banget dengan apa yang telah saya lakukan beberapa tahun lalu, di tahun 1990-an, ketika saya lewat di kompleks Kopassus Cijantung, beberapa kali saya distop tentara, mungkin juga disangka ojek, saya antarkan ke bundaran Graha, dia mau bayar, tapi saya menolak. Nah, apakah pengalaman saya di Semarang itu sebagai balasan dari yang telah saya lakukan terhadap sang tentara 15 tahun sebelumnya? Yang jelas kita yakin, setiap kebaikan yang kita lakukan pasti ada imbalannya, Tuhan tak akan menyia-nyiakan kebaikan kita sedikitpun.
Pak Syahrial, seorang dosen, kawan saya di UI yang baik ini, sering memberikan pertolongan spontan, memberi pinjaman, apalagi yang sangat membutuhkan. Saya sering ditolongnya, dan beberapa kali ada orang lain diberi pinjaman, melewati saya. Kepadanya saya terbuka tentang ini, karena kami saling mengerti di masa-masa sulit dulu, di masa masih ngontrak rumah, di masa anak-anak masih kecil, sebagai pegawai negeri yang sering minus. Kami sering mengingat-ngingat, betapa baiknya tetangga atau kenalan, yang mau memberi pinjaman, untuk sekedar melepaskan ongkos, atau keperluan mendesak dapur. Pengalaman-pengalaman itu memberikan gemblengan kepada kita untuk merasakan apa yang orang lain rasakan, membalas budi, atau menumpahkan simpati pada orang yang kesulitan.
Dalam melakukan kebaikan, haruslah ikhlas, tidak meminta balasan spontan kepada yang kita tolong, atau menagih Tuhan untuk membalas segera apa yang telah kita lakukan. Tapi kalau kita beriman, kita pasrahkan saja kepadaNya, percayalah, dan jangan khawatir, pasti Dia akan memberikan balasan, di balik kebaikan yang telah kita lakukan pasti akan kita dapatkan balasannya. Ada malaikat-malaikat yang aktif mendeteksi apa yang kita lakukan, setiap perbuatan setiap ucapan ada catatan lengkap di sisi-Nya, “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS 50:18).

AWAS VIRUS
Di zaman komputer ini, sering kita dibuat jengkel oleh virus yang menggrogoti file yang telah payah-payah kita tulis. Siapakah yang buat? Tentulah tidak diketahui, tapi konon, ada orang-orang tertentu, yang tidak berakhlak mulia, yang kecuali membuat penangkal, secara berkala menciptakan virus. Virus akan menyebar melalui disket, flashdish, CD dan sebagainya. Mengapa menjengkelkan? Ya, karena merusak!
Tapi tahukah kita bahwa di dalam diri kita ada benih-benih virus yang lebih merusak dari hanya merusak file? Istilah agamanya “al-kaba-ir” (dosa-dosa besar). Dosa besar akan merusak iman, dan memakan amal perbuatan kita, malah yang baik-baik sekalipun. Apa itu dosa besar? Dosa besar bertingkat-tingkat, yang paling besar, adalah perbuatan syirik, menyekutukan Tuhan (termasuk di dalamnya kafir, munafiq, fasiq dsb.), Perhatikan firman-Nya, “Dan Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu Termasuk orang-orang yang merugi.” (QS 39:65) – “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS 4:48). Di bawah dosa syirik, adalah membunuh baik diri sendiri maupun orang lain, firman-Nya,
“Dan Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS 4:93). Dosa-dosa urutan berikutnya, zina, durhaka kepada orang tua, minum atau makan yang memabukkan, memakan harta riba, harta anak yatim, meninggalkan shalat, dan banyak lagi yang akan menjadi virus dari amal perbuatan kita. Untuk mengimbangi perbuatan-perbuatan dosa yang terpaksa kita lakukan, bertobatlah, dan perbanyak amal kebajikan. Dia mengingatkan, “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS 11:114). -- “Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 25:68-70).

SEDIKIT YANG BERSIH LEBIH BAIK DARI BANYAK TAPI KOTOR
Sedikit yang baik dan halal lebih baik dari banyak tapi kotor. Kadang-kadang kita tidak yakin ini. Mengapa kita tak yakin, karena, sesungguhnya kita tidak yakin benar kepada yang mengatakannya. Siapakah Dia? Dialah Tuhan yang berfirman, “Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu.” (QS 45:100). (lihat QS 5:103)
Sebagai manusia, kita seringkali tidak menyadari hal ini. Banyak dari kita yang memperoleh harta yang bertimbun-timbun, tetapi didapat dengan tidak halal. Ada yang dengan menipu, ada yang mencuri, merampok, merampas, mengicuh timbangan, berdagang dengan tidak jujur, meminjamkan uang dengan mengganda-gandakan bunga, atau meminjam dengan tidak berniat bayar, dsb. Dan yang paling popular akhir-akhir ini adalah dengan korupsi, dengan menyulap atau memark-up angka-angka di depan angka yang sesungguhnya, sehingga terjadilah kelebihan yang dapat diperoleh untuk mengisi kantong sendiri, mulai dari jumlah kecil puluhan ribu, sampai milyaran dan triliunan rupiah. Inilah cara-cara mendapatkan harta yang kotor, harta yang tidak halal. Akibatnya, karena memakan yang kotor pertumbuhan fisik dan darah berlumur dengan kotoran, pikiran dan prilaku juga kotor.
Kita lihat akhir dari kehidupan orang-orang yang tak jujur, harta mereka yang didapat dengan cara-cara yang tak halal itu habis juga. Ada yang karena sakit berkepanjangan, sehingga harta yang dikumpulkan habis terkuras untuk berobat, tapi sakit tak sembuh juga, sedang dosa tak terampuni karena begitu banyak tempat berdosa, begitu banyak orang yang telah tertipu, begitu banyak orang yang telah terniaya.
Ada juga orang yang telah menguras uang rakyat, akhirnya habis juga digunakan untuk biaya biaya mendapatkan jabatan, menjadi calon anggota suatu badan; legislatif, atau eksekutif umpamanya, jabatan tak berhasil diraih, uang sudah habis, dan bahkan masih juga tersisa utang di sana sini.
Ada juga hartanya sebagian besar dipergunakan menyogok jaksa dan hakim agar hukumannya ringan, agar terbebas dari tuntutan, tapi keputusan hakim tetap mengenainya. Orang-orang yang mengumpulkan harta-harta kotor itu, di usianya yang senja, kasihan, berada dalam penjara. Apalah gunanya harta banyak tapi tak bisa dinikmati, apalah nimatnya menumpuk harta, tapi tak bermanfaat.
Bekerja sungguh-sungguh dengan memperhatikan halal dan haram, akan dapat menghasilkan harta yang berkah. Berkah, adalah bermanfat dan berkembang. Berkembang, karena umpamanya harta itu diperdagang-kan, memiliki keuntungan yang halal. Halal, ibarat makanan yang bersih dan bergizi, meski sedikit tapi berguna, bagi kesehatan, bagi kehidupan. Yang tidak halal, ibarat makanan, meski banyak tapi bercampur dengan kotoran. Tak baik untuk kesehatan, dan tak sedikit menimbulkan penyakit.

MILIKMU ADALAH APA YANG ANDA BERIKAN BUKAN APA YANG ANDA TERIMA
Kita sering sekali merasa segan untuk memberi, apalagi suatu yang didapat itu dengan kerja keras. Kalau ada orang datang untuk meminta, atau memohon bantuan, atau ingin meminjam, alangkah beratnya kita untuk memberi. Dalam hati, atau malah terungkap dalam kata, kekesalan, “Enak aja, kita setengah mati kerja, dia hanya minta.”
Apapun parofesi kita, kesempatan untuk menyimpan terbuka lebar. Menyimpan di sini dalam arti yang sesungguhnya. Apa yang kita dapatkan, seringkali hanya numpang lewat.
Hewan apabila telah kenyang perutnya, dia akan terus tidur, istirahat. Tetapi manusia, walaupun telah kaya, bertambah kaya, bertambah tidak senang hidupnya. Bahkan bertambah tamak dan loba, bertambah sayang akan bercerai dengan hartanya. Sebab itu dapat kita saksikan orang yang lebih terjauh dari kesenangan hati, ialah orang yang banyak hartanya. Mereka lebih banyak was-was dan lebih jauh dari ketenteraman.
Tidakkah kita tertarik untuk memperoleh yang lebih banyak, berlipat-lipat dari apa yang telah kita berikan. Kurang yakinkah kita, kurang percayakah kepada ungkapan-Nya dalam Kitab Suci yang tidak diragukan lagi kebenarnya, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.” (QS 2:261).
Tidakkah kita tertarik, untuk memberikan umpamanya Rp1000,- yang akan dikembalikan oleh Yang Maha Kaya Rp700.000,- (sekitar tujuh ratus kali lipat)? Tetapi itulah kita, manusia, yang sering tak yakin, tak sabar untuk menanti, tak percaya yang kita berikan itulah sesungguhnya milik kita. Karena yang kita berikan pasti akan kembali, tak perlu kita mencatatnya, karena Tuhan memiliki malaikat-malaikat yang siap mencatat apa yang kita perbuat.
Pemberian-pemberian yang kita sumbangkan untuk kepentingan manusia, untuk kepentingan masyarakat, untuk kepentingan fi sabilillah, dalam istilah yang lebih khusus, Tuhan mengatakan Dialah yang pinjam. Dia Maha Kaya, mengapa Dia pinjam? Bukan Dia yang butuh, tapi Dialah yang menanggung mengembalikan derma yang telah dipinjamkan kepada-Nya, “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nyalah kamu dikembali-kan.” (QS 2:245).

PILIH YANG PALING MUDAH DENGAN HASIL YANG MAKSIMAL
Rasulullah SAW kalau menghadapi pemecahan masalah beliau pilih yang paling mudah. Ini sesungguhnya salah satu karakteristik dari agama kita (Islam). “Agama itu mudah, malah Tuhan mengatakan bahwa dia tidak mau mempersulit, sebaliknya Dia menginginkan kemudahan dan tidak ingin memberatkan.” (QS 2:185).
Dari prinsip ini sesungguhnya tidak ada ajaran agama yang sulit. Ketika kita berhadapan dengan kesulitan segera agama memberi kelonggaran dan keringanan yang disebut “rukhshoh”.
Ini juga bagian dari pentingnya ilmu dalam menjalan-kan agama, kecuali kita melaksanakan pekerjaan kita secara benar dan syah, kita juga perlu mengetahui strategi; bagaimana dapat bekerja mudah dan ringan dengan hasilnya berat dan besar. Bukanlah bermaksud meringan-ringankan agama, tidak! Tetapi memang, banyak sekali kita temukan hal-hal yang nampaknya ringan tapi bobotnya berat. Dalam kehidupan sehari-hari kita lihat orang dengan susah payah bekerja tapi hasilnya kecil, seperti orang-orang yang berkerja mengandalkan kekuatan fisiknya. Sebaliknya ada yang nampak ringan bekerja, hasilnya besar, karena mungkin dia melakukannya dengan ilmu dan keterampilan yang tinggi. Nabi juga menggambarkan ada ucapan-ucapan seperti, “Subhanallah wal hamdulillah wala ilaha illallah wallahu Akbar,” adalah ucapan yang ringan di lisan tapi berat ditimbangan (khafifan fil lisan bal tsaqilan fil mizan).

KALAU ANDA TELAH BERHASIL MENYELESAI-KAN SUATU URUSAN JANGAN BERPANGKU TANGAN, KERJAKAN URUSAN YANG LAIN
Kita sering disusahkan oleh keadaan kita yang menganggur, tak ada pekerjaan, baik yang sudah sekolah, berpendidikan tinggi sekalipun, tak ada kerjaan. Sudah melamar ke sana ke mari tapi belum juga berhasil, dan karenanya menganggur saja di rumah. Kok, kita kalah dengan orang-orang dahulu, orang-orang di desa, mereka hidup dan tak menganggur, mereka hidup tanpa bekerja dengan orang lain, bukan karyawan dan bukan pegawai. Masing-masing berkreatif menciptakan kerja sendiri.
Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, sesungguhnya banyak hal bisa kita lakukan untuk menghasilkan rezki. Asal kita berkreatif, asal kita berkemauan keras banyak jalan untuk mendapatkan kehidupan. Tapi yang ada pada kita adalah keinginan yang tinggi untuk menjadi pegawai, kalau tak jadi pegawai, karyawan dari suatu perusahaan yang sebenarnya diciptakan oleh orang lain, kita lebih baik berpangku tangan di rumah, dari hari ke hari menanti lowongan kerja. Dan ijazah yang kita peroleh, gelar yang kita sandang, dengan bersusah payah, baru dalam tahap kebanggaan di atas kertas. Kasihan orang tua yang telah mengeluarkan biaya yang besar, sedang kita masih menganggur.


ANDA AKAN BERUBAH KALAU ANDA MAU
Manusia adalah makhluk istimewa. Keistimewaan manusia yang utama, dan membedakannya dengan makhluk lainnya adalah karena adanya beberapa potensi: 1. Instink (instink sesungguhnya juga diberikan kepada hewan dan tumbuh-tumbuhan, seperti naluri makhluk hidup untuk memepertahankan hidupnya dengan kebutuhan bernafas dengan adanya udara yang segar, makan dan minum). 2. Pancaindra (yang diberikan kepada manusia dan hewan). Tumbuhan tidak memiliki pancaindra. Dengan pancaindra itu manusia bisa melihat, mendengar, mengecap, meraba dan sebagainya, demikian pula hewan.
Akal (khusus diberikan kepada manusia). Inilah keistimewaan manusia dari makkhluk hidup lainnya. Dengan akalnya itu manusia dapat berpikir, apa yang dilihat, didengar dan dialami dipikirkannya, dan dari buah berpikir itu dirumuskan teori yang menjadi cikal bakal ilmu pengetahuan. Dengan pengetahuannya manusia terus berpikir, menciptakan alat sederhana untuk membantu dan mempermudah manusia dalam melakukan pekerjaannya.
Dengan ketiga potensi ini manusia terus berkembang, berbudaya dan berperadaban. Beda dari hewan dan tumbuhan yang statis, yang hidup tanpa perubahan.
Tuhan tidak akan mengubah nasib manusia sebelum manusia itu sendiri yang mengubahnya, adalah karena Tuhan telah memberikan potensi sebagaimana disebut di muka. Potensi itu, yang mengandung kekuatan dahsyat berupa semangat, tekad, dan kesungguhan. Maka tergantung pada yang bersangkutan, apakah ia ingin memperguna- kan potensinya atau tidak. Kalau seseorang mau mempergunakan potensinya secara maksimal, maka hasil (nasib)nya akan maksimal, Kalau dia mau berubah pasti bisa. Dan Anda, kita, semua akan berubah jika kita mau. Pepatah lama mengatakan, “Dimana ada mau di situ ada jalan.” Di dalam Al-Qur’an Suci Tuhan mengatakan, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri….” (QS 13:11).

ANDA AKAN BERHASIL KALAU ANDA SUNGGUH-SUNGGUH
Seringkali kita mengeluh dan sering pula mendengar keluhan kawan, mengapa usaha selalu gagal, dasar nasib selalu sial. Kalau sudah berbicara nasib, ujungnya terpulang kepada Tuhan, bila Tuhan telah menghendaki, “Untung tak bisa diraih, malang tak bisa ditolak.” Ungkapan itu benar adanya, tapi apa itu nasib? Nasib artinya bagian atau hasil. Apakah hasil itu? Ingat Tuhan mewanti-wanti dalam Kitab Suci, “…Bagi orang laki-laki ada bahagian (nasib) dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian (nasib) dari apa yang mereka usahakan…” (QS 4:32).
Di dalam diri kita telah dianugerahkan Tuhan potensi yang dengan potensi itu jika kita sunguh-sunguh mempergunakannya, melaksanakannya secara maksimal, banyak hal akan dapat kita capai.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (QS 2:286).


JANGAN SEPELEKAN YANG KECIL
Satu milyar rupiah itu tidak akan genap kalau tidak ada satu rupiah. Karena itu jangan menyepelekan satu rupiah. Begitu pula hal-hal lain apapun rupa, apapun bentuknya, harus dimulai dari yang kecil. Yang besar dimulai dari yang kecil, yang banyak dimulai dari sedikit. Dalam menempuh jalan umpamanya ribuan langkah ke depan harus dimulai dari langkah pertama.
Nabi mengatakan, “Jangan sombong terhadap kebaikan meskipun kecil, meski sekedar Anda menuang-kan air dari timbamu ke bejana saudaramu. Jangan Anda segan memberi walaupun kecil. Nabi menggambarkan, selamatkan dirimu dari api neraka, meski dengan sebiji kurma.
Yang baik meski kecil lama-lama bila dihimpun akan menjadi besar dan berguna, sebaliknya yang buruk meski kecil kalau ditumpuk lama-lama akan bahaya.
Karena itu Nabi mewanti-wanti, pupuklah iman dengan mengumpulkan amal baik sekecil apapun, dan singkirkanlah keburukan walau sedikit. Dia menggambar-kan bahwa iman itu 70 cabangnya (maksudnya banyak) contoh terkecilnya adalah menyingkirkan duri dari jalan. Kalau kita menemukan paku kecil atau beling di jalan singkirkanlah, karena boleh jadi amat berbahaya. Bisa dibayangkan kalau Anda sedang tegesa ingin kuliah atau bekerja, tiba-tiba kendaraan Anda bocor karena paku kecil yang terinjak ban kendaraan Anda. Berapa kerugian yang Anda alami karena bahaya benda kecil itu?
Maka benarlah sabda Nabi tadi. Dan adalah tak beriman jika kita menemukan duri atau paku dan membiarkannya saja di jalan. Lebih-lebih tidak beriman orang-orang yang sengaja menyebarkan paku, duri, atau membuat perangkap di jalan umum.

JANGAN LAKUKAN SESUATU YANG BILA ORANG LAIN LAKUKAN KEPADA ANDA, ANDA TAK SUKA
“Apakah Anda suka dicubit?” Jawabannya tentu tidak. Janganlah Anda mencubit orang lain, kalau Anda tak suka dicubit. Pepatah lama mengatakan, “Cubit paha sendiri dulu, baru cubit paha orang lain.” Yang lain-lain, yang sakit, yang sulit, yang tak enak pada diri sendiri, jangan lakukan pada orang lain.
Falsafah yang sederhana ini, sesungguhnya mengandung akibat-akibat yang luas. Kalau Anda seorang pemuda, punya pacar yang sudah lengket dengan Anda, apapun yang Anda lakukan kepadanya dia hanya pasrah. Ingat, bahwa pacar Anda itu seorang wanita, anak ayah dan ibunya, adik atau kakak saudara-saudaranya. Anda punya ibu, punya adik atau kakak perempuan? Sukakah Anda jika saudara perempuan Anda itu diperlakukan tidak menyenangkan seperti Anda melakukannya pada pacar Anda? Kalau Anda tak suka, janganlah pula lakukan itu kepada orang lain.
“Hukum karma” (hukum balasan setimpal) yang ada pada agama lain, sesungguhnya bersifat universal, karena semua agama mengajarkan demikian, “Kama tadinu tudan.” (Bagaimana Anda memperbuat begitulah Anda akan diperbuat)). Agama kita (Islam) tegas sekali menyatakan, ”Dan barangsiapa yang melakukan kejahatan seberat atom pun, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS 99:8).
Seorang kawan mengeluh, dia tak bisa memelihara ayam. Setiap kali sudah besar entah jago atau betina hilang. Ada yang mencurinya? Entahlah katanya. Lalu ada kawan mengingatkannya, “Masih ingat dulu? Di masa muda, Anda senang sekali mengambil ayam orang lain, entah untuk dimakan atau dijual?” Dia tertawa dan sadar, hukum karma itu telah berlaku pada dirinya.
Sebaliknya kalau Anda suka yang menyenangkan, suka sesuatu yang orang lain lakukan kepada Anda, lakukanlah pula kepada orang lain. Mulailah dengan hal yang ringan-ringan. Anda suka kalau kenalan Anda bertemu dengan Anda, dia tersenyum? Senyumlah, atau sapalah orang-orang yang Anda kenal. Anda suka kalau ada orang yang memperhatikan Anda, atau bahkan menolong Anda ketika Anda dalam kesulitan? Tolonglah orang lain, mungkin dia tidak minta, tapi orang yang terlatih, mudah sekali mengerti tentang orang yang butuh pertolong.
Nabi mengatakan, “Tidak beriman seseorang sampai dia mencintai saudaranya, seperti dia mencintai dirinya sendiri.” -- “Tidak beriman seseorang yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya tidak bisa tidur karena kelaparan.” Mengapa dia tak tahu tetangganya lapar? Iman akan mengajarkan kepada kita kepekaan, dan kepedulian terhadap orang lain, terutama saudara dan tetangga.

KEBESARAN MASA DEPAN ANDA TERGAN-TUNG PADA SEBESAR APA ANDA TELAH BERHASIL MENGHADAPI KESULITAN
Abu Nawas yang lucu, konon tertawa ketika menanjaki bukit dan menangis ketika menuruni tebing. Ketika ditanya mengapa? Dia menjawab, “Kalau kini menanjak, pasti suatu ketika akan menurun, dan kalau menurun pasti nanti akan menanjak.” Benarkah ada Abu Nawas? Dan benarkah Abu Nawas mengatakan demikian? Benar atau tidak tak masalah. Yang jelas kata-kata ini mengandung ajaran tinggi, yang dipetik dari kalam Ilahi. Bukankah Dia (Tuhan) yang mengatakan dengan tegas, ” Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS 94:5-6).
Ayat ini sebagai bagian dari Surat Alam Nasyrah, yang menggambarkan kesuksesan Nabi Muhammad SAW dalam berjuang menyampaikan dakwah Islam. Kesuksesan itu diraihnya setelah melewati masa-masa sulit yang hebat, selama tak kurang dari 20 tahun berjuang. Mulai dari diintimidasi, diboikot, disekap, dilempari dengan kotoran, dan malah akan dibunuh, sampai Nabi dan sahabat-shabatnya berhijrah, meninggalkan rumah, harta, karib kerabat dan kampung halaman. Di penghujung kesulitan ada kelapangan, kemuliaan, dan kebahagiaan.
Kita sering mendengar, sering menyaksikan sendiri orang-orang sukses. Cobalah kita lihat perjalanan hidupnya. Hampir tak ada kita temukan orang yang sukses spontanitas, kesuksesan datang tiba-tiba, keberhasilan diterima tanpa kesulitan. Prinsip orang-orang sukses adalah, “Keberhasilan, kebesaran, dan kemuliaan tergantung pada sebesar apa kita berhasil menghadapi kesulitan.”
Jadi apapun profesi Anda, apapun bakat dan kesukaan Anda, kembangkan dan mulai dengan melakukan hal yang kecil-kecil terlebih dahulu. Jangan mudah menyerah pada kegagalan. Bagi orang yang berkemauan keras, berhati baja, tak ada kamus kegagalan. Mereka berprinsip, “Ketidak berhasilan, adalah kesuksesan yang tertunda.”
Orang-orang besar, orang-orang mulia meniti karier dari bawah, menghadapi aneka kesukaran dengan kerja keras, memupuk ketekunan, menghimpun kesungguhan, tanpa putus asa, meski kadang nyaris merenggut nyawa. Ketika telah dilakukan upaya maksimal, kerja keras sampai hampir tak terbatas, dan ketika menurut logika tak mungkin lagi berhasil, di waktu itu sering datang keajaiban, pertolongan tiba dari Yang Maha Penolong. Demikian yang dilakukan para Nabi seperti digambarkan dalam Kitab Suci, “Sehingga apabila Para Rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada Para Rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada orang-orang yang berdosa.” (QS 12:110).
Anda ingin besar di masa depan, Anda ingin mulia di masa nanti, Anda ingin sukses, terkenal, dan hidup senang bahagia, bersakit-sakitlah dahulu. Berlatihlah menghadapi kesulitan, belajarlah memecahkan kesukaran. Pepatah mengatakan, “Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersugi tembako jawa – Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, merugi dahulu baru melaba).

JANGAN TUNDA SAMPAI BESOK APA YANG DAPAT ANDA LAKUKAN HARI INI
Ada falsafah yang dipetik dari ajaran agama, “Janganlah kita sama atau lebih buruk dari kemarin. Tetapi, jadilah hari ini lebih baik dari kemarin, dan esok lebih baik dari hari ini.” Mereka yang maju, adalah mereka yang mau
menghargai waktu. Negara-negara yang terkemuka, masyarakatnya sangat menghargai waktu, dari segi ekonomi umpamanya, mereka menyebutnya, “Time is money.” (Waktu adalah uang). Dalam pepatah Arab dikenal, “Waktu ibarat pedang, kalau tak pandai memakainya bisa melukai diri sendiri, tapi dengan pandai mempergunakannya banyak hal dapat dicapai.”
Tuhan juga demikian, mengapa dia sering bersumpah dengan waktu, demi masa, demi pagi, siang, petang, dan malam? Karena, Dia sangat menghargai waktu. Meski Dia tidak terikat oleh ruang dan waktu, tapi untuk mengajar makhluknya, mengajar kita, gunakan waktu sebaik-baiknya, jangan sia-siakan umur. Berbuat baiklah, beramal shalehlah sebanyak-banyaknya, “Don’t put till tomorrow what you can do today.” (Jangan tunda sampai besok apa yang dapat Anda kerjakan hari ini). Jangan tumpuk pekerjaan, sehingga akhirnya Anda akan sulit melakukannya. Dalam melakukan pekerjaan yang nampak bertumpuk, kerjakan satu persatu, mulai dari yang termudah atau lakukakanlah apa yang paling mungkin dilakukan. Menumpuk perkerjaan dapat membuat stress dan kesehatan terganggu.

BILA ADA PELUANG UNTUK CURANG ANDA TAK LAKUKAN, ANDA TELAH MENGAWALI KEBERHASILAN MERAIH KEUNTUNGAN-KEUN-TUNGAN
Dalam buku muthala’ah (buku bacaan dalam bahasa Arab) ada suatu kisah sederhana: Seorang anak pengembala, berpekik meminta tolong dengan keras, “Tolong...tolong... tolong ...! Ada serigala memangsa kambing saya.” Orang-orang berkumpul mau menolongnya, ternyata dia hanya main-main. Dia senang melihat orang berduyun-duyun datang. Sementara orang-orang dibuatnya kesal, dia hanya nyengir gembira.
Suatu hari serigala benar datang, dia berpekik meminta tolong. Ah, pikir orang-orang yang mendengar, dia hanya main-main. Maka beberapa kambingnya dimangsa serigala, tanpa ada yang datang menolong. “Itulah akibatnya,” kata seseorang, “Sekali berbuat tak jujur selama hidup orang takkan percaya.”
Lain lagi kisahnya, konon Umar r.a, Khalifah ke-2, suatu hari pergi ke ujung kampung di sisi padang pasir. di suatu padang rumput disaksikannya ribuan domba, putih lapangan dan perbukitan itu dibuatnya. Dia mencari-cari siapa pengembalanya? Oh Ilah, hanya seorang anak usia 15 tahunan. Dia dekati anak itu, dan membisikkan, “Bolehkah dia membeli seekor, toh, tuan si empunya gembala itu takkan tahu.” “Tidak,” jawabnya dengan tegas, “Memang tuannya mungkin tak tahu, tapi dia tak bisa menyembunyikan perbuatannya dari Yang Maha Melihat.” Umar menitikkan air mata mendengar jawabannya, tak disangka, ditemukan mutiara di tempat yang terpencil itu. Andai dunia ini dihuni oleh orang-orang seperti anak ini, alangkah makmurnya, pikirnya.
Ketika ditanyakan kepada seseorang kawan, yang maju pesat usahanya di bidang pendistribusian komputer dan alat kantor. Bagaimana dia membangun usahanya itu bagaimana mengelola dan darimana modalnya. Dia hanya jawab, “Cuma tiga,” katanya. “Pertama, berkata jujur. Kedua, kalau ada peluang pun untuk curang, saya tak lakukan. Dan ketiga kerja keras.”





Buku-Buku Terbitan Midada Rahma Press
Jalan Rahayu No. 52 Kalisari Pasarebo Jakarta 13790
Telp. 870 2381, HP. 081384149016



1. Mr. H.Burhanuddin Takko, Konsep Kepemilikan dan Kuasa di Wajo Sulawesi Selatan (Dalam Hukum Adat Kepemilikan dan Kekuasaan), Editor: Dr. Kaelany HD., MA, Maret 2005 (ISBN 979-25-0990-9)

2. Dr. Bunyana Sholihin, M.Ag., Istihsan sebagai Dalil dalam Sejarah Perkembangan Hukum Islam, Editor: Dr. Kaelany HD. MA., Nopember 2005 (ISBN 979-25-0991-7).

3. Dr. Bunyana Sholihin, M.Ag., Mengapa Asy-syafi’ie Menolak Istihsan, Editor: Dr. Kaelany HD. MA., Nopember, 2005. (ISBN 979-25-0993-3).

4. Dr. Bunyana Sholihin, M.Ag., Qias As-Syafi’ie dan Teori Interpretasi Aturan Pidana Indonesia, Editor: Dr. Kaelany HD. MA., Nop 2005. (ISBN 979-25-0992-5).

5. Hepi Reza Zen, S.H., M.H., Pembuktian Tindak Pidana Korupsi, Editor: Dr. Bunyana Sholihin, M.Ag., Desember 2005 (ISBN 979-25-0995-X).

6. Hepi Reza Zen, S.H., M.H., Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Amdal), Editor: Dr. Bunyana Sholihin, M.Ag., Desember 2005 (ISBN 979-0994-1).

7. Dr. Kaelany HD., MA., Islam Agama Universal, Editor: Drs.Syaharial, M.Ag.Maret 2006. (ISBN 979-25-0996-8).

8. Drs. H. Bas Yuni TH. Kahuripan, Pendidikan Agama Islam, Editor: Dr. Kaelany HD. MA., Juni 2006. (ISBN 979-1077-01-0).

9. Drs. H. Bas Yuni TH. Kahuripan, Baitul Mal dan Kontribusinya dalam Pembangunan Masyarakat, Editor: Dr. Bunyana Sholihin, M.Ag.Juni 2006 (ISBN 979-1077-02-9).

10. Drs. H. Bas Yuni TH. Kahuripan, Pengembangan Pendidikan Islam di MI., Editor: Dr. Bunyana Sholihin, M.Ag., Juni 2006 (ISBN 979-1077-03-7).

11. Drs. H. Bas Yuni TH. Kahuripan, Problematika Siswa Drop Out dan Solusinya, Editor: Dr. Kaelany HD. MA., Juni 2006 (ISBN 979-1077-04-5).

12. Drs. H. Bas Yuni TH. Kahuripan, Metodologi Pembelajaran KBK, Editor: Dr. Bunyana Sholihin, M.Ag., Juni 2006 (ISBN 979-1077-X).

13. Dr. Bunyana Sholihion, M.Ag., Sepuluh Dalil Kontroversial dalam Islam, Editor: Dr. Kaelany HD. MA., Juni 2006 (ISBN 979-1077-05-3).


14. Mr. H.A. Burhanuddin Takko, Kapita Selekta Hukum dan Pengetahuan Masyarakat, Editor: Dr. Kaelany HD. MA., Juni 2006 (ISBN979-25-0998-4).

15. Prof. Drs. H. Darwis Abdullah, Kapita Selekta Organisasi, Pendidikan dan Dakwah, Editor: Dr. Kaelany HD. MA., Juli 2006 (ISBN 979-1077-06-1).

16. Dr. Kaelany HD., MA dkk., Studi, Mengabdi, dan Berprestasi – Kesan dan Pesan Para Sahabat untuk Setengah Abad Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H. Maret 2007 (ISBN 979-25-0997-6).

17. Drs. Bulizar Buyung, MM, Kepemimpinan Menuju Masyarakat Damai Sejahtera, Juli 2006 (ISBN 979-1077-08-8).

18. Mr. C. Dr. H. A.Burhanuddin Takko, Kapita Selekta Hukum dan Etos Filsafati Bugis Indonesia Bersatu, Editor: Prof. Drs. H Darwis Abdullah dan Dr. Kaelany HD., MA., (ISBN 979-1077-09-6).

19. Prof. Drs. H. Darwis Abdullah, Pilar-Pilar Peradaban Islam – Agama, Iptek, Ekonomi dan Etos Kerja, Editor Dr. Kaelany HD., MA, Nopember 2006 (ISBN 979-1077-10-X).

20. Prof. Drs. H. Darwis Abdullah, Jejak-Jejak Kehidupan Usia 80 tahun – Kesan dan Kenangan Pengalaman dan Pengabdian terhadap Agama, Bangsa dan Negara (Dari Guru Kecil sampai Guru Besar dan Anggota Veteran RI), Editor: Dr. Kaelany HD., MA. (Seri: Biografi).

21. Dr. Kaelany HD., MA, Jaya Karena Membaca – Melesat Maju Karena Buku, Januari 2007 (ISBN 979-25-0999-1)

22. Dr. Kaelany HD., MA., Alam Terkembang sebagai Guru, Mei 2007 (ISBN 979-1077-00-2).

23. Dr. Kaelany HD., MA., Buku Guruku, Mei 2007 (ISBN 979-25-0999-2).

24. Dr. Safri Nurmantu, MSi, Budaya Organisasi – Dari Chester I Barnard ke Michael E. Porte, Agustus 2007 (ISBN 978-979-1077-11-8)

25. Prof. Dr. Darwis Abdullah, Bunga Rampai Kehidupan (MRP, April 2008).

26. Prof. Dr. Darwis Abdullah, Berfokus Iman Menggapai Masa Depan, (MRP, Juli 2008)







Buku-buku tulisan Dr. Kaelany HD., MA
Dosen MPK Agama Islam Universitas Indonesia
& Direktur Midada Center.

1. Kependudukan di Idons & Berbagai Aspeknya, Mutiara, 1981~ Rp 30.000,-
2. Dunia Kecil, Mutiara, 1984 ~ Rp 12.000,-
3. Iwat Batin, Mutiara, 1984 ~Rp 9000,-
4. Orang-Orang Terkenal dari Abad ke
Abad, Indrajaya, 1984 ~ Rp 12.000,-
5. Turut Ayah ke Pulau Timah, Mutiara, 1985 ~ Rp 11.000,-
6. Air Kawan Kita, Karya Indah, 1986 ~ Rp 11.000,-
7. Peluang di Bidang Pariwisata, Mutiara, 1987 ~ Rp 15.000,-
8. Petunjuk Praktis Belajar Membaca Al- Qur’an, Mutiara 1986 ~ Rp 10.000,-
9. Berkunjung ke Lampung, Genuska, 1997 ~ Rp 13.000,-
10. Islam dan Aspek-Aspek Kemasyarakatan, Bumi Aksara, 1993 ~ Rp 31.000,-
11. Islam Kependudukan dan Lingk. Hidup, Renika Cipta, 1996 ~ Rp 17.000,-
12. Islam, Iman dan Amal Shalih, Renika Cipta, 1997 ~ Ep 31.000,-
13. Islam Kasih dan Damai bagi Alam, Restu Agung, 2003 ~ Rp 16.000,-
14. Pandangan Islam tentang Pariwisata, Misaka Ghaliza, 2003 ~ Rp 20.000,-
15. 15. Gontor dan Kemandirian, Pedoman Ilmu, 2003 ~ Rp 23.000,-
16. Islam Agama Universal, Midada Rahma Press, 2006 ~ Rp 31.000,- Edisi Revisi Rp 44.000,- (Februari 2009).
17. Tobat Nashuha, Midada Rahma Press, 2006 ~ Rp 10.000,-
18. Buku Guruku, Midada Rahma Press, 2006 ~ Rp 11.000,-
19. Aku Suka Buku dan Gemar Membaca, MRP, 2006 ~ Rp 8.000,-
20. Alam Terkembang sebagai Guru, Midada Rahma Press, 2006 ~ Rp 15.000,-
21. Kisah-Kisah Perjalanan, Midada Rahma Press, 2006 Rp 25.000,-
22. Selamatkan Bangsa dari Narkoba, Midada Rahma, 2005 ~
Rp 20.000,-
23. Shalat Kebutuhan Hidup, Restu Agung, 2006 ~ Rp 18.000,-
24. Hajji Perjalan Spiritual Menuju Ilahi, MRP, 2006 ~
Rp 15.000,-
25. Menggapai Taqwa dengan Puasa, MRP, 2006 ~ Rp 15.000,-
26. Ujung kehidupan, MRP, 2006 ~ Rp 25.000,-
27. Mereka yang Kukenal, Mereka yang Kukenang, MRP, 2006 ~ Rp 40.000,-
28. Jaya Bangsa karena Membaca, MRP, 2007 ~ Rp 20.000,-
29. Studi, Mengabdi dan Berprestasi (Biografi Jimly Asshiddiqi Ketua Mahkamah Konstitusi), Mikdada Rahma Press, 2007 ~ Rp 40.000,-
30. Menapak Zaman Berpijak pada Iman, Midada Rahma Press, 2007~ Rp 95.000,-
31. Semarang dalam Kenangan, (MRP, 2008) Rp 25.000,-
32. Sejarah Perkembangan Adat Bandakhlima
33. Petatah Petitih Lampung








MIDADA CENTER
Jalan Rahayu No. 52 Kalisari Pasarebo Jakarta 13790
Telp. (021) 8702381 HP 081384149016
Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LP2M)
Lembaga Pendidikan, Pelatihan dan Seminar (LP2S)
Lembaga Penulisan dan Penerbitan Midada Rahma Press (LP2MRP)
Lembaga Gerakan Gemar Membaca dan Perpustakaan (LG2MP)
Lembaga Pengelolaan dan Penyaluran Beasiswa (LP2B)
Toko Buku, Distributor Midada (TBDM)
Percetakan Midada (PM)




Midada Center
siap memfasilitasi, mengedit
dan menerbitkan tulisan yang tercecer,
makalah, catatan harian, biografi
Bapak Ibu Dosen
dan Guru Besar
dalam bentuk buku
lengkap dengan ISBN

Cepat dan biaya terjangkau
Hubungi kami
Lembaga: Penulisan dan Penerbitan
Midada Rahma Press
Jalan Rahayu No. 52 Kalisari
Pasarebo Jakarta 13790
Telp. (021) 8702381 HP 081384149016







MIDADA CENTER
mengajak masyarakat untuk meningkatkan
Gerakan Gemar Membaca
Giat Menulis dan Mencintai Buku




Motto:


Membaca Mengubah Dunia
dari Era Primitif ke Era Modern

Jaya Bangsa karena Membaca




Buku Jendela Dunia
Buku adalah Guru
Dunia Maju karena Buku
Jangan Duduk Sendirian tanpa Buku





Pena Kadang Lebih Tajam dari Pedang
Dunia terhenti tanpa pena
Menulis Bisa Sembuhkan Banyak Penyakit







Tentang Penulis


Dr. Kaelany HD., MA, lahir di Putihdoh, Lampung, 21 Juni 1953. Ia adalah Direktur Midada Center dan Presiden Direktur Media Opportunity. Sejak tahun 1986 diangkat menjadi staf pengajar (kini Lektor Kepala) mata kuliah Agama Islam di FIB, FKM, FMIPA, FT, FISIP, FIK, FK, Fasilkom UI Depok. Dia juga mengajar Fikih Mu’amalah pada Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam UI Salemba. Sebelumnya pernah bekerja sebagai Guru SMP-SMA di Semarang (1976-83); Bagian Telex dan Radio Operator PT BHPI Belitung; Subbag Allergi-Immunologi RSCM, dan Wartawan Bisnis Indonesia.
Gelar Doktor diperoleh di UIN Jakarta (2001) dengan disertasi: “Pariwisata dalam Perspektif Islam”. Alumnus Gontor (1975) ini menyelesaikan sarjana (1982) di Fakultas Syari’ah IAIN Semarang dengan skripsi: “Prinsip-prinsip Islam dalam Masalah Kependudukan”. Waktu bersamaan ia mengikuti kuliah sore di Akademi Publisistik Pembangunan Dipanagara (APPD) selesai tahun 1981 dengan skripsi “Kedudukan Make up Foto pada Harian Suara Merdeka Semarang”.
Pemenang ke-3 Lomba Menulis Tingkat Nasional Depag (2001) ini giat menulis baik di surat kabar maupun berbentuk buku. Buku karangannya yang telah terbit ada sekitar 20 buku untuk tingkat SD sampai SMA. Sedang tulisan untuk mahasiswa dan umum antara lain: “Kependudukan di Indonesia dan Berbagai Aspeknya (Mutiara, Jakarta,1981); “Peluang di Bidang Priwisata” (Mutiara, Jakarta, 1986); “Islam dan Aspek-Aspek Kemasyarakatan, (Bumi Aksara, Jkt, 1992, cet. ke-2, 2000); “Islam, Kependudukan dan Lingkungan Hidup” (Renika Cipta, Jakarta, 1996); “Islam Iman dan Amal Shalih” (Renika Cipta, Jakarta, 1997); “Pandangan Islam tentang Priwisata” (Misaka Galiza, Jakarta, 2002);“Gontor dan Kemandirian” (Bina Utama, Jakarta, 2002); “Islam Kasih dan Damai bagi Alam” (Restu Agung, 2004); “Islam Agama Universal” (Midada Rahma Press, Jakarta, 2006); “Kisah-Kisah Perjalanan” (Midada Rahma Press, Jakarta, 2006); “Alam Terkembang sebagai Guru” (MRP, Jakarta, 2006); “Studi Mengabdi dan Berprestasi”, (Biografi Prof. Dr. Jimly Ash-shiddiqie, MRP, 2006). “Semarang dalam Kenangan” (MRP, 2008). Beberapa lagi sedang sedang diproses penerbitannya.






















Bersambung uraian tentang:

ANDA AKAN MENAWAN KARENA KELEMAH-LEMBUTAN, BUKAN KARENA KEKERASAN
“Janganlah anda bersikap kasar,” tegoran Tuhan lepada Nabi, “karena mereka akan berlari menghindar.”
Justeru bersikaplah lemah lembut, karena kelemah-lembutan akan amat besar pengaruhnya bagi umat dalam menerima Islam. Kenyataan yang terjadi, kesuksesan dakwah Nabi karena mereka tertarik oleh kelemah lembutan, dan sifat pemaafnya yang tinggi.

BUKAN SUATU KEHINAAN MENGERJAKAN SENDIRI URUSAN PRIBADI
Nabi merupakan tauladan yang sempurna dan lengkap. Contoh-contoh kehidupan mulai dari yang terkecil sampai ke tingkat yang paling tinggi, raja dan panglima umpamanya. Tapi Nabi tidak segan mengerja-kan sendiri urusan pribadi yang kecil-kecil, seperti mengesol sandalnya dan menjait pakainnya yang robek.
Ketika pembanntunya pulang kampung, Deliar Noer, seorang professor te3rsohor, saya saksikan mencuci piringnya sendiri, dan menyetir mobilnya ketika supirnya berhalangan.



LATIHLAH DIRI ANDA UNTUK BERSIKAP DENGAN SIFAT TERPUJI



BIJAKSANA; MELAKUKAN SESUATU DENGAN MEMPERHATIKAN SIKON
Pepatah lama kita, “Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung.” Mengjaarkan bahwa dalam melakukan sesuatu kita perlu memperhatikan sikon. Situasi dann kondisi, tempat, dan wakatu. Kita diwajibkan mnegerjakan dann melaksanakan islam harus memperhatikan sikon. Dalam keadaan normal, kita w2ajib melaksanaknsanakan shalat secar sempurna, tetapi dlammkondisi yang tidak normal, umpamanya karena sakit, dlam keadaan sulit, dalam perjalanan, kita diberikan keringanan-keringanan untuk melaksanakannya secara khusus. Yang sesuai dengan sikonnya. Begitu pula kewajiban-kewajiban lain sesuai dengan ajaran agama kita.

ADIL, SEIMBANG DAN TAK BERAT SEBELAH


PEMAAF; TAK SEORANG PUN YANG TAK PERNAH BERSALAH. KALAU ADA YANG MEMOHON MAAF, BERIKANLAH
,
PEMURAH; MEMBERI ADALAH SUATU KENIKMATAN
Pernahkah kita mendengar ada orang yang merawa berbahagia dengan memberi? Sebaliknya ada pula orang yang meras gusar kalau dimintai. Nabi SAW adalah contoh terbaik bagaimana beliau sangat pemurah. Pernah beliau suatu hari ke pasar ingin membelin pakaian, tapi belaiu tak berhasil membawa puilang pakaiannyang di beli, karena setiap dia beli, dei t3ngha jalan dia menemuaia orang meminta pakaiana, lalyu beliau berikan apa nyang baru dia beli itu.

DISIPLIN: TEPAT WAKTU DAN TEPAT APA YANG ANDA KATAKAN

MALU; TERASA SEGAN UNTUK MELAKUKAN YANG BURUK DAN TAK PERLU

MENJAGA KESEHATAN, MENJAGA KEHIDUPAN

TUHAN SUKA, SEKELILING ANDA PUN SUKA KALAU ANDA BERSIH

NABI SANGAT MEPERHATIKAN: ORANG TUA, PEREMPUAN, ANAK-ANAK, ORANG LEMAH DAN FAKIR MISKIN

KALAU ANDA TAK SUKA, JANGAN MENGHINA DAN MENGOLOK-OLOK

ATAS NIKMAT BERSYUKURLAH DAN ATAS COBAAN BERSABARLAH

PANDANG KE DEPAN, BERKACA MASA SILAM

TABAH: BILA GAGAL ATAU KALAH, ULANGI LAGI JANGAN MENYERAH

KEPADA SEMESTA ALAM SEBARKAN KASIH SAYANG

HADAPI KEHIDUPAN; SILIH BERGANTINYA NAIK DAN TURUN

HORMATI ORANGTUA, SAYANGI KELUARGA

HORMATI YANG TUA SAYANGI YANG MUDA

HORMATI DAN HARGAI GURU

BERGURULAH KEPADA ALAM BERGURU PADA BUKU

BIASAKAN MATA MEMBACA, LATIHLAH TANGAN MENULIS


HATI-HATI UTANG
Zaman sekarang zaman kredit, zaman utang. Banyak kesempatan untuk berhutang, dan piutang disebarkan untuk bukan lagi sarana tolong menolong tapi sudah menjadi ajang kekuatan kolusi dan korupsi telah menghempaskan kehidupan ekonomi masyarakat di suatu pihak, dan memberikan keuntungan yang besar bagi segelintir orang. bisnis. Satu pihak mengulurkan kemudahan, tapi satu sisi lagi mengeruk keuntungan. Kalau kedua belah pihak sama-sama jujur dan beriktikad baik, terbitlah kemudahan, dan saling mencintai, saling menghormati antara yang mampu pemberi piutang, dan yang berhajat penerima piutang. Yang memberi piutang mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah, malah lelbijhbesar lagi dari pahal bersedekah. Tapi kalau satu pihak tidak tentang saudaranya yang meninggal dunia yang memiliki hutang
Rasulullah SAW bersabda. Hutang itu menjadi borgol atau penjara baginya, sehingga ruhnya tidak bebas dalam kehidupannya di alam barzakh, karena itu segeralah lunasi hutangnya. Ya Rasulullah kata orang itu, sudah saya bayar semua, kecuali dua dinar (kira-kira Rp 50 ribu rupiah). Sabda Rasulullah, lunasilah!
Diriwayatkan lagi, ada seseorang bertanya, Ya Rasulullah, apakah kalau saya pergi berjihad dengan jiwa dan harta, saya akan masuk syurga? Nabi menjawab, ya, sampai 3 kali. Konon setelah pemuda itu pergi, Jibril meralat dan memberi infromasi, keculi kalau ia memiliki utang. Rasulullah SAW memperingatkan hal ini dengan keras berkali-kali. Ketika beliau ditanya lebih jelas lagi, apa maksudnya. Beliau bersabda:

Tentang hutang, dan saya bersumpah demi Allah yang diriku dalam gemgamaىNya, sekiranya ada seseorang terbunuh fi sabilillah (mati syahid) kemudian dihidupkan kembali, kemudian terbunuh Maka tidak heran , kalau Kompas, Rabu, 31 Maret kemarin, memberitakan banyak orang-orang kaya Indonseia membeli rumah di Singpura yang harga Rp 500 milyar perunit.

lagi fi sabilillah, kemudian dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi (tiga kali mati syahid), ”ma dakhalal jannah hatta yaqdhia dainahu”. Tidak masuk syurga sehingga ia melunasi hutangnya.”
(lihat Fiqh Sunnah, III, hal185)

Padahal pahala mati syahid adalah pahala yang amat besar, yang dapat menebus dosa-dosa. Namun dosa hutang yang tidak dibayar, karena sengaja tidka mau membayarnya, tidak dapat ditebus dengan pahala mati syahid sekalipun.
Dalam suatu riwayat lagi, oleh Abi Salmah bin Abdirrahman dari Jabir bin Abdillah: Didatangkan kepada Rasulullah SAW janazah. Nabi bertanya: A ‘alaihi dainun? (apakah dia punya utang?). Jama’ah menjawab, Ia, hanya dua dinar! Beliau bersabda: “Silakan kalian shalatkan sendiri. Nabi tidak akan ikut menshalatkan.
Untung segera Abu Qatadah Al-Anshari menjamin hutangnya. Kata Abu Qatadah, Saya yang menanggungnya ya Rauslullah. Barulah Nabi ikut menshalatkannya.
Maka inilah satu ajaran yang baik buat kita. Kalau ada keluarga kita yang meninggal, terutama orang tua kita, kita ambil alih hutangnya. Apalagi ia meninggalkan harta. Jangan rebutan hartanya, atau mengadakan upacara-upacara yang mubazzir, sedang hutang almarhum belum terlunasi. Ia seyogyanya jangan dimakamkan sebelum tanggung jawab hutang piutangnya kita ambil tannggungjawabnya, supaya ruh dan kehidupannya di alam barzakh menjadi lancar dan tidak terhambat menerima pahala di sisi Tuhan.
Kalau kita memperhatikan peringatan Nabi tentang hutang piutang, yaitu berhutang dengan niat tak mau melunasinya, tentang memakan harta orang lain dengan jalan tidak halal, merupakan haqqul Adam yang tidak bisa dibayar dengan hanya memohon ampun kepada Tuhan. Kalau kita sama-sama menyadari bagaimana dosa memakan harta yang bukan hak kita, kita tidak akan terlepas dari siksa Tuhan, mungkin di dunia ini akan terbebas dari hukum manusia, tapi Pengadilan yang seadil-adilnya di akhirat nanti akan memberikan balasan yang setimpal bagi orang-orang yang telah berbuat aniaya.
Seakan kita akan menangis mendengar khutbah yang lalu, yang menyebutklan bahwa negara kita Indonesia ini adalah negara yang terkaya di dunia, tidak ada sumber alam yang tidak ada di sini, semuanya ada di sini. Baik kekayaan mineral, minyak, kekayaan dalam tanah, hutan, laut, dan segala macam kekayaan yang dilimpahkan Tuhan kepada negeri ini.Tapi mengapa kita masih hidup miskin.
Malaysia yang sepuluh tahun lalu masih bercermin kepada kita, sekarang ini sudah jauh meloncat meninggalkan kita. Ada yang menyebutkannya karena SDM kita yang masih tertinggal, arah pendidikan kita masih belum benar. Lulusan lulusan pendidikan kita belum siap untuk bekerja mandiri, belum mampu untuk menciptakan lapangan kerja sediri.
Tapi ada pula yang mengatakan karena kita banyak hutang dan merajalelanya korupsi di segala lapisan penyelenggara negara, baik legislatif, eksekutif, dan malah di lingkungan BUMN yang lebih parah lagi.
Republika 11 Nopember 2003 yang lalu mencatat, baahwa sekitar 444 triliun uang negara telah dikorupsi. Kasus terparah, berupa bunga pajak yang tidak diserahkan kepada negara. Selain itu kebocoran APBN 74 triliun, bank bermasalah 24 triliun, korupsi hasil kayu, ikan dan pasir 9 triliun. Jadi jumlah seluruhnya 527 triliun.
Alangkah makmurnya kita jika uang tersebut digunakan dengan semestinya. Satu triliun bukanlah jumlah yang sedikit. Dari bunganya saja kalau 1% saja satu bulan, tiap 1 triliun, bunganya 10 milyar (10.000 juta rupiah) perbulan. Bunga sebanyak itu akan dapat memberikan subsidi bagi sejuta orang miskin, 10 ribu rupiah perbulan. Bagaimana kalau 527 triliun, artinya dari bumnganya yanmg 1 % saja, dapat diberikan subsidi Rp 5,27 triliun perbulan. Yang dapat mengentaskan kemiskinan bagi 50 juta orang dengan mendapat masing-masing Rp 527 ribu rupiah perbulan.
Janganlah kita melihat jauh ke negara-negara kaya, di Qatar, negara kecil di Teluk umpamanya, telah melimpahkan kekayaan negaranya untuk kemakmuran rakyatnya. Anak-anak yang sekolah selain memperoleh beasiswa, orang tuanya pun mendapat tunjangan karena anaknya yang sekolah. Di negeri kita yang sudah lebih dari setengah abad merdeka, jangankan mendapat subsidi biaya pendidikan, malah biayanya terus meningkat. Anak angkat saya tingkat SLTP yang memperoleh subsidi Rp 25.000 rupiah perbulan, yang mulanya hanya membayar Rp 50.000,- malah sekarang bayar Rp 76.000. Jadi mendapat subsidi bukan berkurang pembayarannya, malah naik. Memang kehidupan yang layak yang kit idamkan masih jauh dari yang kita harapkan.
Pegawai negeri karena menjadi pelayan negara, tidak boleh menjadi caleg. Sementara anggota legislatif dengan segala fasilitas, gaji dan tunjangan yang berlipat-lipat dari pegawai negeri, tak pernah membela dan memperjuangkan kesejahteran pegawai negeri yang telah memilihnya. Seorang professor yang sudah 40 tahun mengabdi, menceritakan, gajinya yang hanya Rp 2,3 juta tidak dapat memenuhi kehidupan keluarganya yang sesederhana mungkin sekalipun. Tagihan rekening listerik dan teleponnya beserta ongkos transportasinya sehari-hari dia dan keluargaanya saja tak bisa tercover. Maka wajarlah ia meskipun sudah umur senja masih pontang-panting mencari tambahan.
Dan akhir-akhir ini, tidak aneh kalau kita dengar banyak dosen-dosen yang tugas belajar di luar negeri tidak kembali ke tanah air, mereka mengajar di luar negeri dengan jaminan kesejahteraan yang lebih wajar, malah berlipat-lipat dari sini. Gatra pada salah satu edisinya menceritakan bagaimana kehidupan yang wajar bagi staf pengajar di negeri-negeri yang memperhatikan kehidupan rakyatnya, seperti di Amerika, Eropa dan Australia. Di Brunei gaji dosen pemula, sekitar Rp 40 jutaan, yaitu 20 kali lipat dari gaji dosen senior di sini. Ini tidak termasuk tunjangan bagi keluarga dan dan anak-anaknya yang sedang menempuh pendidikan.
Kapan kita akan adil dan makmur, kita masih berharap dari caleg-caleg yang hendak kita pilih dalam pemilu tangal 5 April nanti. Apakah mereka benar-benar akan memperjuangkan kehidupan rakyat yang lebih adil makmur dan sejahtera atau tidak, kita masih bertanya dan berharap. Semoga calon-calaon wakil kita itu setelah kita pilih benar-benar memperhatikan kesejahteraan hidup rakyat Indonesia yang kaya raya ini.









Saya tersentak ketika mendengar ungkapan ini dari mahasiswa-i peserta Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi (MPKT) Gd 605 FT UI 2008. Peserta mata kuliah ini terdiri dari mahasiswa-i pemeluk berbagai agama: Islam, Kristen, Protestan, Hindu dan Budha. Mengapa sanggahan ini muncul? Nampaknya seperti ungkapan pembelaan terhadap kemuliaan Islam agar terhindar dari pemeluk-pemeluk agama ini yang telah mencoreng nama baiknya.
Tapi kalau dikaji lebih dalam, agaknya benar juga. “Dapatkah dikatakan muslim jika ia bohong?” Malah kalau dikaitkan dengan peringatan Nabi, “Tiga tanda orang munafiq (yang di luar nampak beriman, tapi sesungguhnya di dalam tidak), yaitu jika bercerita bohong, jika diberi kepercayaan khianat, dan jika berjanji mungkir.” Bukankah ketiga hal ini intinya bohong? Pantaskah orang Islam bohong? Ataukah seseorang dapatkah dikatakan muslim kalau dusta?
Diceritakan, datang kepada Nabi seorang muallaf. Dia mengadu kepada Nabi serta memohon saran, “Ya Rasulullah, berilah saya nasehat, agar saya dapat meninggalkan maksiat, dapat melakukan ibadah dan amal shaleh.” Nabi bertanya, “Hal tu’ahiduni ‘an tarkil kadzibi?” (Apakah Anda mau berjanji kepadaku, untuk meninggalkan bohong?). “OK,” kata Muallaf itu. Lalu bertanya lagi, “Adakah nasehat yang lain ya Rasulullah?” Nabi mengatakan, “Tidak!”
Muaallaf itu pulang dengan gembira, dan berkata dalam hati, alangkah ringannya, dan alangkah sedikitnya syarat untuk menjadi orang baik.
Seperti biasanya, muallaf yang masih terbungkus oleh tindakan-tanduk jahiliyah ini, sewaktu-waktu akan berangkat merampok. Dia berpikir, bukankah saya telah berjanji kepada Nabi untuk tidak bohong? Kalau Nabi bertanya, apakah saya merampok? Jawaban yang benar, “Ya” dan karenanya tangan saya akan dipotong. Tapi kalau saya katakan, “Tidak”, maka saya bohong.
Setiap kali dia akan melakukan maksiat: mencuri, zina, judi, membunuh dan lain-lain, dia ingat janjinya kepada Nabi. Akhirnya, dia menekan kebiasaan jahiliyahnya, dan berangsur-angsur dia berubah, rajin mengikuti shalat jama’ah mendengar ceramah dan pengajian di Masjid Nabi.
Tak lama dari itu, dia telah menjadi orang alim, rajin bribadah dan giat melakukan dakwah. Meninggalkan bohong telah merevolusi pribadi sang muallaf.
Kini kita sudah lama Islam, bukan muallaf, sebagai muslim, masihkan kita terbiasa berkata dusta, tak mantang bohong, sehingga kita masih tergolong dari tiga tanda-tanda orang munafiq tadi? Dan karenanya, kita hendaklah menilik lagi kepada diri kita, kepada pribadi kita yang muslim ini, benarkah kita telah muslim? Takkah kita malu pada ungkapan mahasiswa itu, “Mustahil dia muslim, kalau dia bohong,” karena bohong adalah sumber dari segala sumber kejahatan. Padahal, muslim itu adalah sumber kebaikan, sumber kedamaian, sumber kesejukan bagi lingkungan sekitarnya bagi manusia dan kemanusiaan. “Bohong mungkin dapat mendatangkan keuntungan sementara, tapi sejarah mencatat hampir seluruh kebohongan berujung sangat menyedihkan.”


SEKECIL APAPUN YANG ANDA LAKUKAN ANDA AKAN MENDAPAT-KAN BALASAN-NYA
Ini sebenarnya bagian dari inti iman. Kita yang beriman harus yakin bahwa Tuhan melihat dan mencatat apa saja perbuatan kita. Ungkapan ini sudah biasa kita dengar, mudah pula kita ucapkan, ibaratnya sudah di ujung lidah. Tapi, cobalah kita tilik dalam-dalam kepada sanubari kita, pada hati kecil kita, ke dalam lubuk kalbu yang dalam, ke dalam fuad kita yang tak pernah dusta, seberapa besarkah kita percaya hal ini. Kalau kita sungguh-sungguh percaya, tidaklah kita akan berbuat yang tidak berguna, tidaklah ada kita yang berbuat buruk, karena kita yakin pasti buruk pula yang akan kita terima. Siapakah dari kita yang ingin memperoleh hal yang buruk?
Di waktu kecil saya pernah mendengar guru saya di SR, guru Badri, dia mengatakan, kalau kita menemukan sesuatu barang milik orang lain, kita ambil dan kita tidak berusaha mengembalikannya kepada si empunya, malah mengambilnya untuk dimiliki sendiri, pastilah kita akan kehilangan sesuatu yang nilainya sama atau lebih, tapi biasanya lebih besar.
Nah ini kalau menemukan, bagaimana kalau mengambil dengan mencuri, dengan menipu, dengan korupsi, dengan cara yang lebih halus atau lebih kasar lagi. Balasannya pasti! Sebaliknya, kalau kita pernah menolong orang lain, sekecil apapun, nanti suatu waktu kita akan mendapatkan balasannya, mungkin kita akan ditolong orang yang pernah kita tolong, mungkin orang lain yang akan menolong kita, bisa sama bentuk pertolongannya, bisa pula berbeda, tapi nilainya minimal sama, dan boleh jadi lebih.
Di dalam setiap agama hal ini dipercaya. Pada suatu agama disebut karma, yaitu suatu kepercayaan bahwa segala pekerjaan dan perbuatan pasti akan mendapat balasan yang setimpal. Ibaratnya kalau kita melakukan plus 1 kita akan mendapatkan plus 1 itu mungkin spontan, mungkin nanti, dan mungkin pada masa nanti lebih lama lagi, tapi itu pasti. Begitu sebaliknya, kalau kita melakukan minus 1 maka kita akan dapatkan minus 1 itu mungkin sekarang, mungkin nanti, tapi itu pasti.
Apakah Anda percaya ini, apakah kita yakin ini? Apakah juga orang tua kita, guru kita mengajarkan ini. Keyakinan bahwa sekecil apapun yang kita lakukan akan mendapatkan balasan? Kalau kita percaya sungguh-sungguh akan hal ini pastilah tidak ada yang koruspi, tidak ada maling, dan tidak ada yang berbuat jahat. Karena, tidak adalah kita yang ingin rugi, yang mau mendapat hal yang buruk apalagi lebih buruk lagi dari yang telah kita perbuat. Padahal, inilah kata-kata Tuhan yang amat dahsyat, amat logis dan amat adil dan bijak “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS 99:7-8).
Suatu ketika Jibril datang kepada Nabi dan mengingatkannya, “Anda boleh hidup sesuka Anda tapi ingat Anda pasti akan mati, Anda boleh mencintai sesuatu sesuka Anda, tapi ingat Anda pasti akan berpisah dengannya, Anda boleh berbuat sesuka Anda tapi ingat perbuatan Anda pasti akan ada balasannya...” (HR. Baihaqi dari Jabir).

KALAU ANDA MELAKUKAN LEBIH DARI YANG SEMESTINYA ANDA LAKUKAN ANDA AKAN MENDAPATKAN KELEBIHAN ITU
Sering kali kita berhadapan dengan tugas-tugas. Tugas-tugas itu kita lakukan apa adanya, sekedar memenuhi tugas, kita telah terbebas, dan di luar tugas, meski itu baik, bermanfaat, buat apa melakukannya? Toh kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Ini kebanyakan dari prinsip kerja kita, mau mengerjakan sesuatu kalau jelas imbalannya di depan mata. Dalam tugas sehari-sehari, sering kita segan memberikan pelayanan, pertolongan atau apapun di luar yang semestinya kita lakukan. Pekerjaan selalu kita ukur dengan imbalan yang mesti kita terima, bila perlu yang spontan, yang instan, sehingga kalau tak jelas apa imbalannya, kita segan pula melakukannya. Padahal, tidakkah kita percaya, bahwa apa saja yang kita lakukan akan mendapatkan balasan. Jangan khawatir kita akan merugi melakukan sesuatu (yang baik) lebih dari yang mesti kita lakukan. Hal ini sesungguhnya juga bagian dari iman, karena Tuhanlah yang mengatakan bahwa dia tidak akan menyia-nyiakan segala amal umat-Nya, “Masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).“ (QS 2:281.
Nabi mengingatkan, “Janganlah Anda angkuh terhadap kebaikan, walau sekedar Anda menuangkan air dari timbamu ke dalam bejana orang lain, atau sekedar Anda tersenyum, berwajah ramah terhadap orang yang Anda jumpai.”
Di kereta atau bus umum, ada pemuda-i, pelajar atau mahasiswa-i yang masih kuat berdiri, duduk dengan manis di kursi, padahal ada orang-orang tua, ibu yang menggendong anaknya yang berdiri dengan lunglai di depannya. Tidakkah ada ketulusan untuk memberikan kursinya kepada mereka yang nampaknya lebih pas untuk duduk dari orang-orang muda yang masih kuat berdiri ini. Di zaman yang serba diukur dengan imbalan materi yang serba instan ini, kita sering berpikir, apalah gunanya berpayah-payah berdiri untuk menolong orang-orang yang tak dikenal, kalau kita bisa duduk dengan santai? Masihkah kita tidak percaya, bahwa kebaikan yang kita lakukan sekecil apapun pasti akan mendapatkan imbalan? Kalau kita melakukan yang lebih dari yang mesti kita lakukan, kita akan mendapatkan kelebihan itu.
Baru-baru ini (Maret 2009), saya, isteri dan dua anak saya ke kota Malang. Dengan taksi tengah malam kami mencari rumah saudara. Supir taksi yang membawa kami ke tempat yang masih asing bagi kami ini begitu ramah, tidak mau melepas kami sampai tuntas kami menemukan apa yang kami tuju. Hati kami bahagia, bersyukur atas kebaikan supir taksi ini. Isteri ketika membayar, memberi tambahan dari ongkos yang semestinya, dan saya dengan suka pula menambahkan lagi uang tip lain, karena kami sangat berterima kasih atas kebaikannya. Ini mungkin balasan spontan dari suatu kebaikan sang supir yang mungkin melakukannya tanpa pamrih.
Suatu ketika lagi, saya berkunjung ke rumah saudara di Semarang. Ketika pulang saya kesulitan memperoleh kendaraan umum, setiap yang lewat sudah penuh. Akhirnya, saya menyetop ojek. Setelah saya tanyakan berapa ongkosnya, dia mengatakan bahwa dia bukan tukang ojek, tapi dengan sukarela membawa saya dari bukit Manyaran ke simpangan Kalibanteng. Dalam obrolan di jalan dia mengatakan bahwa dia adalah anggota Brimob yang tinggal di Ngalian. Saya mengucapkan terima kasih kepadanya sambil memberi dia kartu nama dan menawar-kan kepadanya mampir jika ke Jakarta.
Di dalam perjalanan, saya berpikir, kok persis banget dengan apa yang telah saya lakukan beberapa tahun lalu, di tahun 1990-an, ketika saya lewat di kompleks Kopassus Cijantung, beberapa kali saya distop tentara, mungkin juga disangka ojek, saya antarkan ke bundaran Graha, dia mau bayar, tapi saya menolak. Nah, apakah pengalaman saya di Semarang itu sebagai balasan dari yang telah saya lakukan terhadap sang tentara 15 tahun sebelumnya? Yang jelas kita yakin, setiap kebaikan yang kita lakukan pasti ada imbalannya, Tuhan tak akan menyia-nyiakan kebaikan kita sedikitpun.
Pak Syahrial, seorang dosen, kawan saya di UI yang baik ini, sering memberikan pertolongan spontan, memberi pinjaman, apalagi yang sangat membutuhkan. Saya sering ditolongnya, dan beberapa kali ada orang lain diberi pinjaman, melewati saya. Kepadanya saya terbuka tentang ini, karena kami saling mengerti di masa-masa sulit dulu, di masa masih ngontrak rumah, di masa anak-anak masih kecil, sebagai pegawai negeri yang sering minus. Kami sering mengingat-ngingat, betapa baiknya tetangga atau kenalan, yang mau memberi pinjaman, untuk sekedar melepaskan ongkos, atau keperluan mendesak dapur. Pengalaman-pengalaman itu memberikan gemblengan kepada kita untuk merasakan apa yang orang lain rasakan, membalas budi, atau menumpahkan simpati pada orang yang kesulitan.
Dalam melakukan kebaikan, haruslah ikhlas, tidak meminta balasan spontan kepada yang kita tolong, atau menagih Tuhan untuk membalas segera apa yang telah kita lakukan. Tapi kalau kita beriman, kita pasrahkan saja kepadaNya, percayalah, dan jangan khawatir, pasti Dia akan memberikan balasan, di balik kebaikan yang telah kita lakukan pasti akan kita dapatkan balasannya. Ada malaikat-malaikat yang aktif mendeteksi apa yang kita lakukan, setiap perbuatan setiap ucapan ada catatan lengkap di sisi-Nya, “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS 50:18).

AWAS VIRUS
Di zaman komputer ini, sering kita dibuat jengkel oleh virus yang menggrogoti file yang telah payah-payah kita tulis. Siapakah yang buat? Tentulah tidak diketahui, tapi konon, ada orang-orang tertentu, yang tidak berakhlak mulia, yang kecuali membuat penangkal, secara berkala menciptakan virus. Virus akan menyebar melalui disket, flashdish, CD dan sebagainya. Mengapa menjengkelkan? Ya, karena merusak!
Tapi tahukah kita bahwa di dalam diri kita ada benih-benih virus yang lebih merusak dari hanya merusak file? Istilah agamanya “al-kaba-ir” (dosa-dosa besar). Dosa besar akan merusak iman, dan memakan amal perbuatan kita, malah yang baik-baik sekalipun. Apa itu dosa besar? Dosa besar bertingkat-tingkat, yang paling besar, adalah perbuatan syirik, menyekutukan Tuhan (termasuk di dalamnya kafir, munafiq, fasiq dsb.), Perhatikan firman-Nya, “Dan Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu Termasuk orang-orang yang merugi.” (QS 39:65) – “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS 4:48). Di bawah dosa syirik, adalah membunuh baik diri sendiri maupun orang lain, firman-Nya,
“Dan Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS 4:93). Dosa-dosa urutan berikutnya, zina, durhaka kepada orang tua, minum atau makan yang memabukkan, memakan harta riba, harta anak yatim, meninggalkan shalat, dan banyak lagi yang akan menjadi virus dari amal perbuatan kita. Untuk mengimbangi perbuatan-perbuatan dosa yang terpaksa kita lakukan, bertobatlah, dan perbanyak amal kebajikan. Dia mengingatkan, “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS 11:114). -- “Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 25:68-70).

SEDIKIT YANG BERSIH LEBIH BAIK DARI BANYAK TAPI KOTOR
Sedikit yang baik dan halal lebih baik dari banyak tapi kotor. Kadang-kadang kita tidak yakin ini. Mengapa kita tak yakin, karena, sesungguhnya kita tidak yakin benar kepada yang mengatakannya. Siapakah Dia? Dialah Tuhan yang berfirman, “Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu.” (QS 45:100). (lihat QS 5:103)
Sebagai manusia, kita seringkali tidak menyadari hal ini. Banyak dari kita yang memperoleh harta yang bertimbun-timbun, tetapi didapat dengan tidak halal. Ada yang dengan menipu, ada yang mencuri, merampok, merampas, mengicuh timbangan, berdagang dengan tidak jujur, meminjamkan uang dengan mengganda-gandakan bunga, atau meminjam dengan tidak berniat bayar, dsb. Dan yang paling popular akhir-akhir ini adalah dengan korupsi, dengan menyulap atau memark-up angka-angka di depan angka yang sesungguhnya, sehingga terjadilah kelebihan yang dapat diperoleh untuk mengisi kantong sendiri, mulai dari jumlah kecil puluhan ribu, sampai milyaran dan triliunan rupiah. Inilah cara-cara mendapatkan harta yang kotor, harta yang tidak halal. Akibatnya, karena memakan yang kotor pertumbuhan fisik dan darah berlumur dengan kotoran, pikiran dan prilaku juga kotor.
Kita lihat akhir dari kehidupan orang-orang yang tak jujur, harta mereka yang didapat dengan cara-cara yang tak halal itu habis juga. Ada yang karena sakit berkepanjangan, sehingga harta yang dikumpulkan habis terkuras untuk berobat, tapi sakit tak sembuh juga, sedang dosa tak terampuni karena begitu banyak tempat berdosa, begitu banyak orang yang telah tertipu, begitu banyak orang yang telah terniaya.
Ada juga orang yang telah menguras uang rakyat, akhirnya habis juga digunakan untuk biaya biaya mendapatkan jabatan, menjadi calon anggota suatu badan; legislatif, atau eksekutif umpamanya, jabatan tak berhasil diraih, uang sudah habis, dan bahkan masih juga tersisa utang di sana sini.
Ada juga hartanya sebagian besar dipergunakan menyogok jaksa dan hakim agar hukumannya ringan, agar terbebas dari tuntutan, tapi keputusan hakim tetap mengenainya. Orang-orang yang mengumpulkan harta-harta kotor itu, di usianya yang senja, kasihan, berada dalam penjara. Apalah gunanya harta banyak tapi tak bisa dinikmati, apalah nimatnya menumpuk harta, tapi tak bermanfaat.
Bekerja sungguh-sungguh dengan memperhatikan halal dan haram, akan dapat menghasilkan harta yang berkah. Berkah, adalah bermanfat dan berkembang. Berkembang, karena umpamanya harta itu diperdagang-kan, memiliki keuntungan yang halal. Halal, ibarat makanan yang bersih dan bergizi, meski sedikit tapi berguna, bagi kesehatan, bagi kehidupan. Yang tidak halal, ibarat makanan, meski banyak tapi bercampur dengan kotoran. Tak baik untuk kesehatan, dan tak sedikit menimbulkan penyakit.

MILIKMU ADALAH APA YANG ANDA BERIKAN BUKAN APA YANG ANDA TERIMA
Kita sering sekali merasa segan untuk memberi, apalagi suatu yang didapat itu dengan kerja keras. Kalau ada orang datang untuk meminta, atau memohon bantuan, atau ingin meminjam, alangkah beratnya kita untuk memberi. Dalam hati, atau malah terungkap dalam kata, kekesalan, “Enak aja, kita setengah mati kerja, dia hanya minta.”
Apapun parofesi kita, kesempatan untuk menyimpan terbuka lebar. Menyimpan di sini dalam arti yang sesungguhnya. Apa yang kita dapatkan, seringkali hanya numpang lewat.
Hewan apabila telah kenyang perutnya, dia akan terus tidur, istirahat. Tetapi manusia, walaupun telah kaya, bertambah kaya, bertambah tidak senang hidupnya. Bahkan bertambah tamak dan loba, bertambah sayang akan bercerai dengan hartanya. Sebab itu dapat kita saksikan orang yang lebih terjauh dari kesenangan hati, ialah orang yang banyak hartanya. Mereka lebih banyak was-was dan lebih jauh dari ketenteraman.
Tidakkah kita tertarik untuk memperoleh yang lebih banyak, berlipat-lipat dari apa yang telah kita berikan. Kurang yakinkah kita, kurang percayakah kepada ungkapan-Nya dalam Kitab Suci yang tidak diragukan lagi kebenarnya, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.” (QS 2:261).

Tidak ada komentar: