
Midada Center adalah yayasan yang didirikan pada 24 Desember 2005, oleh Dr. Kaelany HD., MA dan keluarga (Kaelany HD., Harlina, Wahdaka Syuherli, Tasyriqi Muna dan Asyraful Umam) dengan Badan Hukum Akta Notaris Ratna Djatnika, SH (2 Desember 2009), SK Menteri Hukum dan HAM, No. AHU-1466.AH.01.04.Tahun 2010.
Yayasan ini memiliki misi turut serta mencerdaskan bangsa melalui kegiatan-kegiatan yang digerakkan dan dilaksanakan dalam berbagai aktivitas lembaga-lembaganya: Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LP2M); Lembaga Pendidikan, Pelatihan dan Seminar (LP2S);Lembaga Penulisan dan Penerbitan Midada Rahma Press (LP2MRP); Lembaga Gerakan Gemar Membaca dan Perpustakaan (LG2MP); Lembaga Pembinaan Minat dan Bakat (LPMB); Lembaga Pengelolaan dan Penyaluran Beasiswa (LP2B); Toko Buku, Distributor Midada (TBDM); Percetakan Midada (PM).
Ke depan pendiri memiliki visi melalui berbagai aktivitasnya itu, dengan berbagai fasilitas yang maju, dapat melahirkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, beriman, bertakwa, jujur, berilmu, berketerampilan tinggi, dan kecuali dapat bekerja mandiri, juga dapat menciptakan lapangan kerja untuk kesejahteraan masyarakat luas.
“Midada” diambil dari kata “Midadan li kalimaati Rabbii…” (QS 18:109) yang berarti “tinta” sebagai lambang keluasan ilmu Tuhan. “Katakanlah: “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat (ilmu Tuhanku), niscaya habislah lautan itu sebelum selesai dicatat ilmu Tuhanku, meski ditambahkan lagi (lautan) sebanyak itu.”
☼MIDADA CENTER
Jalan Rahayu No. 52 Kalisari,Pasarebo Jakarta 13790
Telp/Fax. (021) 8702381 - HP 081384149016
E-mail: kaelany@ymail.com
Website: kaelany.blogspot.com
mengajak masyarakat untuk meningkatkan
gerakan gemar membaca, giat menulis,
dan mencintai buku
MIDADA CENTER
Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LP2M)
Lembaga Pendidikan, Pelatihan dan Seminar (LP2S)
Lembaga Penulisan dan Penerbitan Midada Rahma Press (LP2MRP)
Lembaga Gerakan Gemar Membaca dan Perpustakaan (LG2MP)
Lembaga Pembinaan Minat dan Bakat (LPMB)
Lembaga Pengelolaan dan Penyaluran Beasiswa (LP2B)
Toko Buku, Distributor Midada (TBDM)
Percetakan Midada (PM)
Jaya Bangsa karena Membaca
Melesat Maju karena Buku
Motto:
Membaca Mengubah Dunia
dari Era Primitif ke Era Modern
Buku Jendela Dunia
Buku adalah Guru
Dunia Maju karena Buku
Jangan Duduk Sendirian tanpa Buku
Pena Kadang Lebih Tajam dari Pedang
Dunia terhenti tanpa pena
Menulis Bisa Sembuhkan Banyak Penyakit
Midada Center
siap memfasilitasi, mengedit dan menerbitkan
tulisan yang tercecer, makalah, catatan harian, skripsi, disertasi, biografi, Bapak Ibu Dosen dan Guru Besar
dalam bentuk buku lengkap dengan ISBN
Cepat dan biaya terjangkau
Hubungi kami
Lembaga: Penulisan dan Penerbitan
Midada Rahma Press
Jalan Rahayu No. 52 Kalisari - Pasarebo Jakarta 13790
Telp/Fax. (021) 8702381 HP 081384149016
☼MIDADA CENTER
mengajak masyarakat untuk meningkatkan
gerakan gemar membaca, giat menulis,
dan mencintai buku
Bacalah dengan (menyebut ) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam.
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS Al-Alaq, 96:1-5)
☼
Membaca Mencerdaskan Bangsa
Belajar wajib bagi manusia, dan menjadi syarat utama bagi setiap orang yang ingin meningkatkan derajat dan taraf hidupnya, sedangkan inti dari belajar adalah membaca. Karena itulah, perintah pertama dalam kitab Suci: “Iqra’!” (Bacalah!).
Budaya baca perlu ditumbuhkan kepada anak-anak sejak dini. Kalau anak sudah gemar, membaca bukan lagi sebagai beban, malah membaca sudah jadi kebutuhan, membaca begitu menyenangkan. Orang yang gemar membaca, tak mau duduk sendirian tanpa buku atau apa saja di tangannya; koran, majalah atau novel. Membaca kalau sudah menjadi kegemaran, akan menempatkan seseorang pada kedudukan yang lebih baik, dan derajat terhormat. Membaca anjuran pertama, yang tetap relevan sepanjang masa.
Para ahli pendidikan akhir-akhir ini merasa cemas terhadap masa depan bangsa. Kalau kita mau maju tidak bisa tidak kita harus meningkatkan pendidikan rakyat. Dan salah satu modal dan kunci mencerdaskan bangsa adalah membaca. Ada yang menyebutkan bahwa budaya generasi kita sekarang ini adalah budaya yang melompat dari budaya dongeng menjadi budaya audio-visual. Malah Sarlito, Guru Besar Psikologi UI menyebutnya sebagai Budaya Omdo (Omong Doang), ini mungkin kalau dikaitkan dengan kebiasaan kita lebih cekatan ngomong dari nulis.
Negara-negara maju, mulanya melalui budaya dongeng yang menyebarkan informasi dan ilmu pengetahuan melalui lisan dan cerita dari mulut ke mulut. Pada perkembangan berikutnya setelah ditemukan aksara, mereka mencari dan menyampaikan informasi dengan tulis-baca. Budaya baca itu begitu mendarahdaging sejak kecil. Tak ada waktu senggang yang terlewatkan tanpa baca. Maka ketika ditemukan alat audio-visual (TV dan sejenisnya) mereka masih tetap gemar membaca.
Lain dari kita, anak-anak begitu segannya membaca. Tapi cobalah kalau di depan TV, mereka betah duduk berjam-jam sejak subuh sampai petang. Yang disaksikan, film kartun yang diselingi iklan, yang sedikit sekali pendidikan dan ilmunya. Anak-anak kita malas membaca dan terbawa-bawa sampai tua. Jadi kapan kita mau maju?
☼ Pensil yang Tumpul lebih Baik
dari Ingatan yang Tajam
Ungkapan di atas adalah pepatah kuno yang menggambarkan betapa pentingnya tulisan. Orang-orang cerdas sekalipun, yang dapat menghafal dan mengingat begitu banyak ilmu dan pengalaman, sekali-sekali ada juga terkena lalai dan lupa. Bukankah ada juga ungkapan bahwa manusia tempat lalai dan lupa? Untung Tuhan mengajar manusia dengan qalam. Pena, membantu kita mengingat yang terlupa. Memori otak manusia memang takkan mampu menampung segala pengalaman.
Gemar Menulis
Menulis kalau sudah terbiasa dapat meningkat menjadi kesenangan. Kegemaran menulis dapat digandengkan dengan kesenangan membaca. Malah ada yang mengatakan menulis tanpa kesenangan membaca akan sulit berkembang. Sebaliknya tidaklah selalu orang yang senang membaca senang pula menulis, karena menulis memerlukan keterampilan yang dimulai dari kebiasaan, kesenangan dan banyak berlatih.
Orang yang gemar menulis tangannya tak dapat berhenti. Geli rasanya tangan kalau tidak menulis, maunya menulis apa saja, baik dengan pensil, pena, mesin tik maupun dengan komputer. Kalau sudah gemar, menulis dapat menghasilkan banyak karya yang dapat dijadikan sumbangan bagi kehidupan.
Tuhan mengajar manusia ilmu pengetahuan atau apa-apa yang tidak ia ketahui dengan alat tulis (qalam). Maka perkembangan pengetahuan, kita lihat maju pesat ketika orang-orang berilmu dan orang pandai aktif menulis. Mulanya dalam suatu bahasa, kemudian diterjemahkan dalam berbagai bahasa, sehingga ilmu seseorang dapat dibaca banyak orang dan menyebar tidak lagi dalam lingkup kecil melainkan dalam lingkup nasional maupun internasional.
Tulisan berupa buku atau apa saja dapat menjembatani masa dan tempat yang dekat maupun jauh. Sebaliknya tanpa tulisan ilmu pengetahuan akan terhenti. Sekarang ini kita banyak belajar dari orang-orang terdahulu, para ulama, ilmuwan, filsuf, sufi, pujangga, penyair, yang meninggalkan banyak tulisan meski dengan tulisan tangan. Maka kita sekarang hendaklah pula banyak menulis untuk dibaca oleh orang-orang sekarang maupun anak cucu kita yang akan datang.
Revolusi:
☼Tulisan Mengubah Dunia
Ada yang membagi peradaban dunia atas dua bagian: peradaban primitif dan peradaban modern. Kapan itu terjadi? Peradaban primitif telah melalui kurun waktu yang amat panjang, yaitu pra sejarah dan kurun-kurun manusia-manusia purba yang telah punah, masyarakat-masyarakat yang telah hilang.
Proses panjang pun berlalu begitu lama yang tersia tak tercatat, sampai saat orang mulai menemukan dan menciptakan aksara sederhana. Tak semua orang pandai menulis dan membaca. Tradisi dari masyarakat atau agama tertentu, hanyalah orang-orang ningrat, bangsawan dan para pendeta saja yang boleh pandai menulis-baca. Revolusi terjadi ketika Tuhan memerintahkan manusia untuk membaca dan menulis. Al-Qur'an dengan wahyu pertamanya memerintahkan ini: Iqra’ (bacalah), dan Tuhan mengajar manusia dengan qalam (tulisan).
Nabi SAW penerima wahyu ini, sangat konsen terhadap tulis baca. Meskipun ia sendiri buta huruf, tapi ia memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk menulis dan belajar menulis. Setelah Nabi wafat, setiap kaum muslimin harus melek huruf, pandai membaca dan terampil menulis.
Dunia mencpai kejayaan di Timur ditandai oleh terbitnya buku-buku yang ditulis oleh para ilmuwan dan ulama, beribu-ribu buku dalam perpustakaan “Baitul Hikmah“. Sayang serangan yang tak beradab Hulagu Khan telah memusnahkan khazanah keilmuan yang tak ternilai harganya itu. Dan di Barat menyusul setelah ditulisnya buku-buku yang menantang dogma gereja. Revolusi pemikiran, politik dan industri.
Kini peradaban manusia berada pada puncak modernisasi, setelah ditemukan berbagai alat tulis modern, dan sarana komunikasi yang luas dan dahsyat.
☼Membaca dan Menulis
Hubungan antara membaca dan menulis sangat erat. Para ahli mengatakan bahwa untuk dapat menulis kita harus banyak membaca. Membaca adalah sarana utama agar pandai menulis. Ibarat seorang pesilat, membaca adalah memberikan tenaga dalam baginya. Membaca memberikan spirit dan dorongan yang amat kuat bagi penulis untuk terus menulis.
Tenaga dalam dimaksud di antaranya adalah berupa bahan bacaan yang menyumbangkan latar belakang informasi yang luas. Penulis yang memiliki latar belakang informasi yang luas akan lebih banyak bahan untuk ditulis, dan merasa mudah meramu tulisannya dengan berbagai ramuan sehingga tulisannya luas, mendalam, segar dan enak dibaca. Sebaliknya tanpa dibantu membaca, tulisan seseorang akan berputar-putar di sekitar masalah itu ke itu saja, yang kerdil, sempit dan tak enak dibaca.
Dengan bacaan yang luas dari bidang apa saja seorang penulis dapat tampil bercitra mirif bola yang bulat sempurna. Ia dapat bergulir ke mana saja. Maksudnya, seorang penulis harus mengetahui serba sedikit mengenai apa saja, di samping pengetahuannya yang luas di bidangnya sendiri.
Bagaimana menciptakan tulisan yang enak dibaca? Ini harus melalui latihan-latihan. Seorang penulis haruslah memiliki serangkaian kepekaan tertentu, yang dikumpulkan, dilatih, diasah tajam-tajam ketika memabaca. Kita dapat menemukan tulisan-tulisan yang enak dibaca, ada kalimat-kalimat yang pas benar rasa bahasanya dalam melukiskan sesuatu. Ini merupakan bagian dari hasil ketelitian ketika membaca kemudian dipraktekkan pula dalam menulis, sehingga tepat menempatkan tanda-tanda baca, meletakkan paragraf dsb.
Bacaan juga dapat dijadikan sebagai master dalam latihan menulis. Penulis pemula dapat mencontoh tulisan-tulisan tertentu. Tentu saja yang ditulis tidak persis dengan model yang ditiru. Yang dicopi kerangkanya, atau idenya, teknik atau caranya, bukan dicopi secara keseluruhan bulat-bulat. Ini bisa dikategorikan membajak atau plagiat.
☼Mengapa Mereka Menulis
Penulis-penulis terdahulu dengan segala keterbatasan alat, tetap gigih menulis. Karya mereka masih lestari dan sangat berarti bagi perkembangan ilmu dan peradaban dewasa ini.
Tradisi di zaman lalu, para murid dari ulama-ulama besar menulis kembali pendapat dan pemikiran guru-gurunya. Maka ditemukan syarh (komentar dan penjelasan lebih terperinci) dari suatu kitab (buku), seperti syarh Hadits Bukhari, syarh Hadits Muslim, yang ditulis oleh murid-murid mereka. Tradisi seperti ini alangkah baiknya jika ditiru oleh para murid, mahasiswa sekarang ini. Bisakah?
Namun bagaimanapun langkanya, tetap saja ada yang muncul menjadi penulis. Tampilnya penulis-penulis (muda) itu didorong oleh berbagai motif. Ada yang menganggap sudah menjadi bakat, tuntutan kehidupan untuk mewariskan pemikiran kepada masyarakat dan anak cucu, ada yang mulanya mencoba-coba, dan ada pula yang memang getol berlatih karena keinginan yang keras untuk menjadi penulis. Sekalipun hampir seluruh penulis merasa kehidupan ekonomi mereka tidak bersandar pada penghasilan dari menulis buku, namun mereka tetap menulis. Jadi apa alasan mereka? Baca buku “Jaya karena Membaca” terbitan Midada Rahma Press, Jakarta.
Di dalam suatu hadits disebutkan bahwa ada tujuh hal yang menjadi amal jariyah, amal yang tak henti-hentinya mengalirkan pahala, seperti pohon yang terus berbuah tak kenal musim, meski yang melakukannya telah berada di alam kubur. Ketujuh orang itu ialah: 1) orang yang mengajarkan ilmu, 2) orang yang membuat aliran sungai (irigasi), 3) orang yang menanam pohon-pohon untuk penghijauan, 4) orang yang menggali sumur untuk umum, 5) orang membangun masjid atau apa saja untuk kegiatan keagamaan, 6) orang yang meninggalkan anak shaleh yang mendoakan orang tuanya, dan 7) orang yang meninggalkan mushaf.
Mushaf (lembaran-lembaran) yang dimaksud di sini mempunyai arti yang luas, termasuk buku-buku, kitab-kitab, majalah, koran, baik ditulis orang lain maupun ditulis sendiri. Koleksi tulisan atau lembaran-lembaran (shuhuf atau mushaf) bisa berupa buku-buku (perpustakaan keluarga) lalu dibaca keluarganya dan orang banyak, atau dia membeli buku-buku yang diwakafkan di masjid atau di perpustakaan, atau dia menulis buku yang dibaca orang banyak. Selama buku-buku itu dibaca dan dimanfaatkan orang ilmunya, selama itu terus mengalirkan pahala bagi yang meninggalkannya.
Maka koleksi buku yang diwariskan kepada anak-cucu atau masyarakat berupa perpustakaan atau taman bacaan, merupakan amal jariyah. Lebih-lebih kalau yang diwariskan itu berupa tulisan sendiri yang mengandung ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Selama buku itu dibaca dan diserap ilmunya oleh pembaca akan terus mengalirkan pahala yang akan berguna bagi penulis di alam kuburnya.
Mengingat ajaran inilah mungkin, mengapa ulama-ulama terdahulu itu begitu getol berkarya, mereka menulis dengan tangan dan alat tulis sederhana. Penanya dari bulu angsa, bambu, atau pelepah kurma, dan tintanya terbuat dari tumbuh-tumbuhan. Waktu malam dengan penerangan yang redup mereka bangun, shalat dan menulis. Bisa kita saksikan hasilnya, umpamanya di pameran tentang Al-Qur’an tulisan tangan. Malah ada hasil tulisan pada kertas daun lontar, kulit kayu atau kulit hewan dsb. Sesederhana apa pun tulisan, pasti ada manfaatnya.
☼Kalau Ilmuwan tidak Menulis
Kita sekarang masih dapat menikmati ilmu-ilmu orang terdahulu, para ulama dan ilmuwan, mengapa? Karena mereka dulu giat menulis. Ulama, ilmuwan, filsof, novelis, sejarawan, semua mereka menulis, bukan saja satu buku tapi ada yang puluhan dan bahkan ratusan jilid. Mereka menulis karena dalam dada telah penuh ilmu dan di kepala penuh pemikiran, lalu dituangkan melalui tangan, pena, dan tinta ke atas kertas.
Orang yang tak biasa menulis kalau ilmunya banyak, dia akan berusaha menyampaikan pesan-pesan kepada orang lain dengan lisan. Tapi kemampuan orang berbicara, dan kesanggupan orang mendengar terbatas, sehingga penyebaran ilmu terhambat dan tidak lancar. Lain halnya dengan ilmuwan yang bisa menulis, yang akan menuangkan pikiran dan ilmunya dengan pena ke lembaran-lembaran kertas pada saat orang lain mungkin sedang tidur atau istirahat. Sebaliknya, meski si penulisnya sedang tidur, atau sudah wafat sekalipun, buku-buku tulisannya masih dapat dibaca orang, yang terus berfungsi sebagai nara sumber.
Tak bisa kita bayangkan dalam usia yang relatif pendek, para ilmuwan, ahli tafsir, pengumpul hadits, ahli fikih, menulis berjilid-jilid buku dengan huruf yang kecil-kecil tulisan tangan. Mereka memang meluangkan sebagian besar waktu mereka untuk menulis daripada tidur atau ngobrol yang tak bermanfaat. Malam pun kadang-kadang mereka tidur hanya sebentar. Tanpa tulisan ulama-ulama dan ilmuwan terdahulu itu tentulah perkembangan ilmu tidak akan berlanjut, dan kita sekarang tidak dapat mengetahui ilmu pengetahuan yang tinggi yang telah mereka gali.
Kalau kita mencoba menulis dan betapa sulitnya, kita akan tertegun kagum bagaimana mereka dahulu itu telah menulis begitu banyak karangan yang tebalnya sampai mencapai puluhan jilid, 30 jilid tafsir umpamanya, yang bila dijejer bisa setebal satu meter atau lebih, padahal umur mereka tidak begitu panjang. Jadi kapan mereka tidur.
Di negara-negara maju salah satu bukti kemajuannya adalah bagaimana pemerintahnya menghargai para penulis. Hasil-hasil tulisan dengan berbagai bahasa dikumpulkan di perpustakaan yang luas dan lengkap. Malah ada perpustakaan di negara-negara maju itu yang buka 24 jam.
Di negara kita para ilmuwan terdahulu sudah banyak pula menulis seperti Hamka dalam bidang sastra, novel, dan kemudian sejarah, dakwah, agama, dan yang monumental adalah tafsi Al-Azhar. Penulis-penulis lain dapat kita catat umpamanya: Deliar Noer, Quraish Shihab, H. Oemar Bakri, Ajip Rosidi, Hassan Shadily, Harun Nasution, Kuntjaraningrat, Mansur Samin, Jenderal A.H. Nasution, dan banyak lagi yang tak dapat disebutkan satu persatunya di sini. Tidak terhitung pula mulai muncul penulis-penulis muda yang terus berkarya. Maka alangkah suramnya masa ini dan masa depan anak cucu kita kalau para ilmuwan tidak menulis.
☼Buku sebagai Guru
Orang-orang yang senang membaca melahap banyak buku. Ia berkembang terus lewat membaca, terkadang melampaui orang-orang yang berpendidikan tinggi, dan orang-orang yang memiliki gelar akademik sekalipun. Perintah belajar yang wajib bagi orang mukmin dan siapa saja yang ingin meningkatkan derajat dan martabatnya, pada hakekatnya adalah perintah membaca. Membaca, membaca, membaca dan janganlah duduk sendirian tanpa membaca.
Baik orang yang belajar dan yang mengajarkan ilmu adalah orang-orang yang mulia. Mereka akan diberi Allah pahala yang besar di akhirat, dan di dunia mendapatkan martabat dan kedudukan yang terhormat.
Karena itu banyak ilmuwan muncul dari orang-orang yang masa mudanya giat dan sungguh-sungguh belajar. Setelah dadanya penuh dengan ilmu, kepala sarat dengan pemikiran, ia terus mengajar dan menumpahkan ilmunya itu melalui pena, menggoreskannya dengan tinta ke atas kertas. Beribu-ribu halaman ia tulis dengan qalam (pena) sederhana.
Mereka menciptakan buku dan ketika mereka sudah meninggalkan dunia pun buku yang mereka tulis masih dapat kita baca. Para guru menulis dan mengajar, lalu murid muridnya menjadi guru pula dan menulis. Begitu seterusnya ilmu-ilmu disebarkan dan diabadikan dalam buku-buku, oleh ilmuwan, filsuf, dan pencinta ilmu dari berbagai kalangan.
Buku menjadi guru, menjadi nara sumber yang tak kenal waktu. Kapan pun kita boleh bertanya dan berguru kepadanya tak akan ditolaknya, baik tengah malam atau subuh buta. Buku memang perpanjangan tangan dari guru-guru yang terbatas waktunya.
Kita tak akan menyebut satu-persatu buku, tapi di perpustakaan kita dapat menemukan ratusan ribu buku, yang ditulis oleh banyak orang. Ada yang baru, tapi ada pula yang lama, yang ditulis ribuan tahun yang lalu masih lestari sebagai guru. Buku, terkadang lebih jelas informasinya dari pembicaraan guru yang menulisnya, atau yang berbicara di depan kelas. Mengapa? Karena buku diproduksi melalui proses yang panjang, dengan pemikiran yang diulang-ulang, ditulis, dikoreksi, diedit, dan diteliti kembali, agar dapat diterima di berbagai kalangan pembaca sebagai guru, yang lebih jelas dan dapat dipahami.
Para guru dan ilmuwan memperpanjang dan memperluas lingkup muridnya dengan menulis. Buku perpanjangan tangan dari guru. Orang yang langsung atau tidak langsung bertemu dengan mereka dapat menjadi murid dengan membaca bukunya. Maka guru berganti dengan buku, dan murid berguru pada buku. Karena buku memang guru.
Kalau guru itu bisa kita bawa ke kamar dan ke mana-mana, mengapa kita susah-susah ke kelas, sekolah atau kuliah. Artinya duduk di rumah membaca lebih baik dari datang ke kelas tapi tak pernah membaca. Banyak orang tak pernah mengenyam bangku kuliah tapi membacanya banyak, ilmunya pun lebih banyak dari orang-orang yang mempunyai gelar akademik dan berpendidikan tinggi tapi membacanya kurang.
Dan penulis-penulis, yang sudah lama wafat pun yang meninggalkan buku adalah guru-guru yang terus mengajar murid-murid sepanjang waktu.
Sekarang ini banyak penemuan yang nampaknya akan menyisihkan buku. Inseklopedi yang dipajang berderet rapi di lemari cukup disimpan di sekeping CD, atau di flashdish sebesar jari. Tapi bagaimanapun buku tetap lebih praktis untuk dibawa kemana saja sebagai guru, teman tiduran atau duduk santai di bawah pohon atau pantai.
Buku Gerbang Ilmu
Banyak ungkapan tentang buku. Buku dalam bahasa Arab disebut “kitab”. Kitab dalam arti khusus “Al-Kitab” merupakan kumpulan dari perintah Suci Tuhan (berupa suruhan dan larangan). Tapi buku dalam arti umum adalah semua bentuk dari lembaran-lembaran berjilid tipis maupun tebal.
Buku menurut suatu ungkapan lain adalah Jendela Dunia. Dari tingkapnya dapat dipandang dunia yang terhampar luas, yang menyajikan aneka benda, makhluk hidup, fauna dan flora, daerah-daerah, desa-desa, kota-kota, adat-istiadat, bahasa, dan etnis masyarakat yang beraneka.
Buku merupakan “Teman duduk yang terbaik,” kata ungkapan lain. Karena duduk menyendiri, termenung atau hanya merokok tak banyak manfaatnya dibanding dengan duduk bersama buku. Buku memberi kita ilmu yang setiap saat harus kita tingkatkan. Nabi mengatakan, “Belajarlah sejak dari buaian sampai ke liang lahad,” karena “Belajar kewajiban sepanjang hayat.”
Ungkapan lama mengatakan bahwa al-ilmu fish shudur laa fil kutub (ilmu itu di dalam dada bukan dalam buku) memang cocok waktu dulu. Kini ilmu kecuali di dalam dada yang sudah dihapal di luar kepala, banyak lagi yang tak dapat tersimpan dalam ingatan, sehingga perlu ditulis dalam buku. Sewaktu-waktu buku bisa dibuka kalau lupa, karena itu buku itu perlu untuk membantu ingatan yang bersifat lemah, yang tak cukup memorinya untuk meyimpan begitu banyak masalah. Dahulu memang orang berlatih menghapal, menghapal banyak ilmu sehingga benar-benar segala di luar kepala. Tapi dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat sekarang ini, sistem pemindahan ilmu dari guru ke murid tak dapat lagi tertampung dengan menghapalnya.
Oke
Menurut seorang kawan, kegemaran menulis adalah anugerah khusus Tuhan yang diberikan kepada orang-orang tetentu berupa bakat. Menjadi penulis tidak bisa dipaksa-paksa dan dipelajari. Kalau orang tak memiliki bakat, janganlah bermimpi menjadi penulis. Tapi realita membuktikan, banyak pula orang menjadi penulis karena kesungguhan berlatih, walaupun tidak mempunyai bakat. Sebaliknya, bakat saja tanpa getol berlatih, apalagi agak malas, tidaklah akan membuat seseorang menjadi penulis.
Nah, setuju tidak kalau ada yang mengatakan, “Menulis Nggak Perlu Bakat.” Demikian judul buku yang ditulis oleh Among Kurnia EBO. Di cover depan, sebagai anak judul tertulis, “Menulislah, karena tidak seorang pun yang bisa melarang Anda untuk menjadi seorang penulis.”
Kalau ada yang mengatakan menulis itu gampang, atau menulis itu tidak memerlukan bakat, ada juga benarnya asal rajin melakukan latihan. Ibarat orang yang pandai berenang, dimulai dari tempat yang cetek, lama-lama ke tengah, ke tempat yang dalam. Mungkin sekali-sekali tenggelam. Demikian juga menulis, mulailah, nanti pandai sendiri, yang penting kemauan keras dan kesungguhan berlatih. Kalau sudah menjadi kebiasaan, menulis itu akan memberikan kenikmatan tersendiri.
Nah, setuju enggak dengan pendapat seorang dosen dalam suatu pelatihan menulis, “Menulis itu gampang kok, yang sulit justru mengatasi malas.” OK!
Dunia Maju karena Buku
Untuk Maju perlu Buku
Indonesiaku Kurang Buku
Bisakah Maju?
Buku-Buku Terbitan Midada Rahma Press
Jalan Rahayu No. 52 Kalisari Pasarebo Jakarta 13790
Telp. 870 2381, HP. 081384149016
1. Mr. H. Burhanuddin Takko, Konsep Kepemilikan dan Kuasa di Wajo Sulawesi Selatan (Dalam Hukum Adat Kepemilikan dan Kekuasaan), Editor: Dr. Kaelany HD., MA, MRP, Maret 2005 (ISBN 979-25-0990-9)
2. Dr. Bunyana Sholihin, M.Ag., Istihsan sebagai Dalil dalam Sejarah Perkembangan Hukum Islam, Editor: Dr. Kaelany HD. MA., MRP, Nopember 2005 (ISBN 979-25-0991-7).
3. Dr. Bunyana Sholihin, M.Ag., Mengapa Asy-Syafi’ie Menolak Istihsan, Editor: Dr. Kaelany HD. MA., MRP, November, 2005. (ISBN 979-25-0993-3).
4. Dr. Bunyana Sholihin, M.Ag., Qias As-Syafi’ie dan Teori Interpretasi Aturan Pidana Indonesia, Editor: Dr. Kaelany HD. MA., MRP, November 2005. (ISBN 979-25-0992-5).
5. Hepi Reza Zen, S.H., M.H., Pembuktian Tindak Pidana Korupsi, Editor: Dr. Bunyana Sholihin, M.Ag., MRP, Desember 2005 (ISBN 979-25-0995-X).
6. Hepi Reza Zen, S.H., M.H., Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Amdal), Editor: Dr. Bunyana Sholihin, M.Ag., MRP, Desember 2005 (ISBN 979-0994-1).
7. Dr. Kaelany HD., MA., Islam Agama Universal, Editor: Drs. Syaharial, M.Ag., MRP, Maret 2006 (ISBN 979-25-0996-8).
8. Drs. H. Bas Yuni TH. Kahuripan, Pendidikan Agama Islam, Editor: Dr. Kaelany HD. MA., MRP, Juni 2006. (ISBN 979-1077-01-0).
9. Drs. H. Bas Yuni TH. Kahuripan, Baitul Mal dan Kontribusinya dalam Pembangunan Masyarakat, Editor: Dr. Bunyana Sholihin, M.Ag., MRP, Juni 2006 (ISBN 979-1077-02-9).
10. Drs. H. Bas Yuni TH. Kahuripan, Pengembangan Pendidikan Islam di MI., Editor: Dr. Bunyana Sholihin, M.Ag., MRP, Juni 2006 (ISBN 979-1077-03-7).
11. Drs. H. Bas Yuni TH. Kahuripan, Problematika Siswa Drop Out dan Solusinya, Editor: Dr. Kaelany HD. MA., MRP, Juni 2006 (ISBN 979-1077-04-5).
12. Drs. H. Bas Yuni TH. Kahuripan, Metodologi Pembelajaran KBK, Editor: Dr. Bunyana Sholihin, M.Ag., MRP, Juni 2006 (ISBN 979-1077-X).
13. Dr. Bunyana Sholihion, M.Ag., Sepuluh Dalil Kontroversial dalam Islam, Editor: Dr. Kaelany HD. MA., MRP, Juni 2006 (ISBN 979-1077-05-3).
14. Mr. H.A. Burhanuddin Takko, Kapita Selekta Hukum dan Pengetahuan Masyarakat, Editor: Dr. Kaelany HD. MA., MRP, Juni 2006 (ISBN 979-25-0998-4).
15. Prof. Drs. H. Darwis Abdullah, Kapita Selekta Organisasi, Pendidikan dan Dakwah, Editor: Dr. Kaelany HD. MA., MRP, Juli 2006 (ISBN 979-1077-06-1).
16. Drs. Bulizuar Buyung, MM, Kepemimpinan Menuju Masyarakat Damai Sejahtera, MRP, Juli 2006 (ISBN 979-1077-08-8).
17. Mr. C. Dr. H. A. Burhanuddin Takko, Kapita Selekta Hukum dan Pengetahuan Masyarakat, Editor: Prof. Drs. H Darwis Abdullah dan Dr. Kaelany HD., MA., MRP, 2006, (ISBN 979-25-0998-4).
18. Prof. Drs. H. Darwis Abdullah, Pilar-Pilar Peradaban Islam – Agama, Iptek, Ekonomi dan Etos Kerja, Editor Dr. Kaelany HD., MA, MRP, November 2006 (ISBN 979-1077-10-X).
19. Dr. Kaelany HD., MA dkk., Studi, Mengabdi, dan Berprestasi – Kesan dan Pesan Para Sahabat untuk Setengah Abad Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H. MRP, Maret 2007 (ISBN 979-25-0997-6).
20. Mr. C. Dr. H. A.Burhanuddin Takko, Kapita Selekta Hukum dan Etos Filsafati Bugis Indonesia Bersatu, Editor: Prof. Drs. H Darwis Abdullah dan Dr. Kaelany HD., MA., MRP, 2007, (ISBN 979-1077-09-6).
21. Prof. Drs. H. Darwis Abdullah, Jejak-Jejak Kehidupan Usia 80 tahun – Kesan dan Kenangan Pengalaman dan Pengabdian terhadap Agama, Bangsa dan Negara (Dari Guru Kecil sampai Guru Besar dan Anggota Veteran RI), Editor: Dr. Kaelany HD., MA. MRP, (Seri: Biografi).
22. Dr. Kaelany HD., MA, Jaya Karena Membaca – Melesat Maju Karena Buku, MRP, Januari 2007 (ISBN 979-25-0999-1)
23. Dr. Kaelany HD., MA., Alam Terkembang sebagai Guru, Mei 2007 (ISBN 979-1077-00-2).
24. Dr. Kaelany HD., MA., Buku Guruku, MRP, Mei 2007 (ISBN 979-25-0999-2).
25. Dr. Safri Nurmantu, MSi, Budaya Organisasi – Dari Chester I Barnard ke Michael E. Porte, MRP, Agustus 2007 (ISBN 978-979-1077-11-8).
26. Drs. Bulizuar Buyung, MM, Pancasila Dasar dan Ideologi RI, MRP, Maret 2008, (ISBN 978-979-1077-15-6)
27. Prof. Dr. Darwis Abdullah, Bunga Rampai Kehidupan (MRP, April 2008). (ISBN 979-1077-9-3).
28. Prof. Dr. Darwis Abdullah, Berfokus Iman Menggapai Masa Depan, (MRP, Juli 2008).
29. Prof. Dr. Darwis Abdullah, Cinta Kasih Sayang dan Keikhlasan, MRP, Oktober 2008, (ISBN 9788-979-1077-13-2).
30. Drs. H. Elwas Amran, SH, Islam Agama Global, MRP, Oktober 2008 (ISBN 978-979-1077-20-0).
31. Dra. Noviati Muis, Pendidikan Agama Islam, SMA, MRP, April, 2008, (ISBN 978-979-1077-22-4).
32. Fatma Herawati Darwis, Zubaidah (Kesejukan dan Ketegaran Hati Ibuku), MRP, Okt. 2008
33. Prof. Dr. Darwis Abdullah, Berfokus Iman, Menggapai Masa Depan, MRP, Juni 2008, (ISBN 978-979-1077-18-7).
34. Dr. Kaelany HD., MA, Ekonomi Syari’ah, MRP, Juni 2008, (ISBN 978-979-1077-19-4).
35. Kaelany HD, Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur’an, MRP, 25 Januari 2008, (SBN 978-979-1077-12-5).
36. Prof. Dr. Darwis Abdullah, Muhammadiyah, Dulu dan Sekarang, MRP, 25 Januari, 2008, (ISBN 978-979-1077-13-2).
37. Datuk Maharajo, Minangkabau dan Sejarahnya, MRP, 25 Januari, 2008 (ISBN 978-979-1077-14-9).
38. Dr. Azhari A Samudra, M.Si. Desentralisasi Fiscal di Indonesia, Mei 2009, (ISBN 978-979-1077-26-2).
39. Dr. Azhari A Samudra, M.Si. Administrasi Perpajakan & Retrebusi Daerah di Indonesia, MRP, Mei 2009, (ISBN 978-979-1077-27-9).
40. Dr. Azhari A Samudra, M.Si., Administrasi Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan, MRP, Mei 2009, (ISBN 978-979-1077-28-6).
41. Dr. Azhari A Samudra, M.Si., Kinerja Instansi Publik, MRP, Mei 2009, (ISBN 978-979-1077-29-3).
42. Dr. Kaelany HD., MA, Pribadi Muslim, MRP, April 2009, (ISBN 978-979-1077-21-7).
43. Dr. Wilman Dahlan, Model Proses Stress dengan Tiga Strategi Coping (Studi Mengenai Hubungan antara Proses Stres dengan Faktor Psikologis dalam Diri Individu), MRP, September 2010, (ISBN 978-979-1077-34-7).
44. Dra. S. Mangkin, Suku Dayak Ngaju (Potret Kekayaan Budaya, Sosio-Religi dan Adat Istiadat), MRP, September 2010, (ISBN 978-979-1077-35-4).
2 komentar:
Sangon haku dinana
Sikam wat kaset lagu lampung.
Ki kuti haga, beno kukekhem via email.
Posting Komentar